Senin, 23 Mei 2011

Bukan Jaminan (Sebuah Catatan mengikuti Fun Bike)



Selama ini, aku dan keluarga belum pernah sekalipun mengikuti fun bike. Biasanya kami bikin fun bike sendiri. Ngowes sekeluarga. (meski cuma bertiga, aku, ayah Ridho dan Kresna, tetep aja sekelurga kan ? )
Nah, pagi kemaren. Minggu 22 Mei 2011, iseng, kami pingin nyoba rasanya ikut fun bike. Seneng sih. Soalnya rame. Bayangkan saja. Pesertanya 12 ribu lebih.
Berangkat jan 05.30 WIB kami sekeluarga berangkat bersama satu pasang/keluarga teman komunitas penggemar radio yang tertular ‘virus’ sepedahan, yang sama-sama belum pernah ikut fun bike. Di titik kumpul (Start-Finish) parkir timur Plasa Surabaya, ternyata sudah rame buanget. Setelah daftar dan lain-lain. Akhirnya di berangkatkan juga, meski waktunya molor. Rencana jan 06.00 WIB, ternyata jam 06.15 WIB. Sudah lumayan panas. Tapi karena ruame ( 12.000 an peserta) jadi ya… rame buanget…..
Nah sepanjang perjalanan yang kurang lebih 25 km itu, ada beberapa hal yang sangat menganggu ‘mata’ aku sebagai seorang ibu dan seorang pesepeda.
  1. Sepertinya, (semoga saya salah) panitia kurang koordinasi atau bahkan tidak koordinasi dengan polisi lalu lintas. Terbukti kemacetan puanjang terjadi. Keluar dari start, kita tidak ngegowes. Tapi nuntun sepeda. Trus jalan merambat. Disetiap persimpangan, ada 1-2 orang panitia, tapi tidak ada polantas. Sehingga panitia yang ‘bukan petugas lantas’ terlihat sulit mengurai kemacetan dan seperti lebih memilih diam menghadapi buanyaknya peserta dan pengguna jalan lain yang saling berebut saling mendahului dan melupakan kondisi traffic light yang sedang warna merah. Bahkan ada Om yang berkomentar “terus aja wong kita mbayar kok”. Kresna sampai berkata “ Bunda, enak ya.. kalo ikut fun bike bisa menangan. Ngak perlu antri”. Nah lo…..bagaimana ini ?
  2. Pada saat kemacetan di jalur yang lain, ada beberapa Om (mungkin dari komunitas pesepeda) yang menggunakan atribut bersepeda (helm dan jersey) bukannya sabar mengikuti antrian, tapi malah mengangkat sepeda mereka dan memindahkannya ke jalur yang berlawanan arah. Pertanyaan Kresna saat itu, “ Bunda, memangnya kalau sepeda boleh ya melawan arah ?” Nah lo…. Piye iki….
  3. Di jalur yang lain, kita melewati pintu perlintasan kereta api double track. Saat pintu perlintasan di tutup karena ada kereta yang melintas.Setelah sebuah kereta melintas, pintu perlintasan belum juga di buka. Ternyata ada satu kereta lagi yang melintas dari arah berlawanan. Mungkin karena kelamaan nunggu, ada juga beberapa Om (kayaknya juga dari komunitas pesepeda) yang nekat membuka pintu perlintasan, mungkin karena melihat kereta masih jauh. Dengan muka heran, jagoan saya juga berkata “ Lho jangan nekat. Ada kereta. Bunda kan gak boleh nerobos palang pintu kereta” untung saja ada Om yang di deket Kresna langsung jawab “ Bener Dek. Gak boleh. Jangan ditiru ya… Bahaya”
  4. Saya dan Kresna sempat menjumpai seorang ibu yang (mungkin) mengalami kecelakaan, karena di pelipis kanan mengucur darah dan seorang anak perempuannya menangis kesakitan sambil memegangi kakinya. Eh seorang panitia hanya terlihat mondar mandir kontak via HT sementara si korban di diamkan saja. Untung beberapa peserta ada yang sigap dan membawa obat untuk pertolongan dasar. Pertanyaannya, Tim kesehatan bagaimana ini ….. ?
  5. Selama perjalanan, ada sedikitnya 5 titik kemacetan yang membuat peserta harus menuntun sepedahnya dan berjalan perlahan atau bahkan diam jegreg. Sepertinya (maaf) panitia kurang mempertimbangkan kondisi jalan/rute yang dilalui.  Sampai harus dialihkan masuk jalan perumahan yang berimbas warga protes karena jalan perumahan mereka macet total karena pesepeda. Nah Lo…..bagaimana ini ?
  6. Selesai acara, kita pulang. Eh masih ada catatan juga. Saat melewati TL di perempatan jalan Dr.Soetomo, saya sempat di potong dari arah kanan oleh seorang Om yang beratibut lengkap bersepeda.( pake helm dan sepedanya ada lampu sign). Karena mencoba untuk ‘mengamankan’ Kresna, yang persis di sebelah kiri saya, saya rem sekuat tenaga  sampai ban belakang terangkat. Masya allah…. Kok bisa ya…  si Om melenggang santai sementara dia hampir saja mencelakaan seorang ibu dan anaknya.
Alhasil, nyampe rumah juga. Setelah bebersih. Sambil makan siang, kami coba evaluasi hasil ikut fun bike. Aku dan suami tanyakan pendapat Kresna. Jawabannya :
“Aku ngak mau ikut fun bike lagi. Banyak yang ngak sopan”
Sambil mendekat ke aku, kresna juga berkata “ lihat, Bunda sampai jatuh.Ayah harus cek sepeda Bunda.tadi ada suara ‘thek’ keras banget.mungkin ada yang patah”
“laen kali kita sepedahan sendiri aja.ngak usah ikut fun bike”
Aku dan ayahnya hanya saling lirik sambil mesam-mesem."ada tugas 'pencerahan' ne..."

Selasa, 17 Mei 2011

Tantangan Liburan Waisak



Seperti biasa, libur di luar minggu (jadwal CFD) sering aku dan keluarga maksimalkan. Touring misalnya. Touring kecil-kecilan seh…..  Nah, pas libur  Waisak, langsung  jadwal touring disiapkan. Sidoarjo jalur memutar. Secara kasat mata sih lumayan jauh. Jadi, sementara Kresna off dulu. Agak ‘remex’ setelah nyepeda libur hari ‘kecepit’ kemaren.
Setelah menyiapkan sarapan buat Kresna karena dia bakal ditinggal di rumah sendirian, mulailah aku dan suami menyiapkan perlengkapan Touring atau tepatnya Ngowes jarak jauh.
Masih pagi.5.00 WIB. Dari rumah di kawasan Gunungsari Surabaya, kita bergerak ke Selatan. Jalur pertama langsung naik Tol depan percetakan Jawa Pos. Lanjut menuju arah Selatan, arah jalur Sukodono atau jalur barat menjadi pilihan. Karena masih pagi, udara seger buanget.ketemu banyak komunitas sepeda, onthel khususnya. Saling tebar senyum dan kring-kring.
Setelah kurang lebih 13 km, di pom bensin sempat berhenti dulu. Ngetap..hehehehe….. si ayah harus buang air kecil dulu. Nah di pom bensin ini lah…kita jadi tontonan. Sepeda angin masuk pom bensin gak beli bensin tapi numpang pipis….. hahahaha
Beberapa supir tuck ada juga yang nyapa….” Olah raga bu….?”  Dengan senyum yang coba dibuat semanis mungkin,  jawabku  “….Nggih pak…monggo.”
Sampai di Alun-alun Kabupaten Sidoarjo, ternyata buanyak banget orang pada kumpul. Yang bersepeda sih gak seberapa banyak jika di banding pas CFD di Surabaya. Telisik punya telisik ada jalan sehat “Mengapai Mimpi” jalan sehat bareng Bupati Sidoarjo.
Karena sudah di Sidoarjo, kita mampir di rumah Saudara di Perum Magersari. Disinilah ternyata beban nyepedaku jadi berat. Sadel si Biru memang terasa kurang pas. Terus di betulkan.Setelah diukur pas datarnya (tanpa tes di naiki) di kencengi lah tuh sadel. Ngobrol sana-sini sebentar, kami pamitan.Perjalanan diteruskan. Mengarah ke Surabaya, di jalan Pahlawan sedikit menanjak (tol tengah kota depan museum Mpu Tantular).Wah di sini mulai terasa pantat aq gak nyaman banget. Usut punya usut,  pas membetulkan  sadel tadi aku lupa kalo sepedaku adalah sepeda emak-emak yang sadalnya ada pernya di bagian belakang. Jadi kalo pas di diduduki, justru njomplang ke belakang. Payah dech…! Di kuat-kuatin dech dengan kondisi pantat gak nyaman.
Begitu nyampai Surabaya lagi, langsung ambil jalur lewat Ketintang karena ada janji sama teman yang mau betulin wifi di tempat kerja. Karena nunggu agak lama, dengkul da kaku lagi. Begitu ngowes pulang yang hanya berjarak 2 km, masya allah beraaaaat banget. Mana naik jembatan Tol lagi. Nyampe rumah, lengkaplah sudah remex nya badan ini… tapi dengan santai suami aku bilang  “ kalo gak ada rasanya, gak ada kenangannya”    Masalahnya, emang bener begitu ?

Nb. Jangan tiru keteledoran aku ya….. sumpah. Jangan !!!!

Kamis, 05 Mei 2011

Stadium 2



‘Gowes kelap-kelip’ waduh sepedahan model apalagi itu…..buka direktori note..baca sana, baca sini. Oooooo gowes malam hari ! perlu dicoba ne….
Begitu dapet rejeki lebih….mulai hunting lampu depan dan belakang. DAPAT !!
Tapi, ya kapan nyobanya…setiap mentari tenggelam, rembulannya tetep aja gak mau bangun. Tetep berselimut mendung tebal. Trus nanggis dech….. wah kapan nyobanya ni lampu…..
Tadi sore langit terang bertabur cahaya bintang…(hehehehe)
Senyum sambil nyolek lengan suami, mataku mengarah ke langit. Dan terjadilah…….
Ternyata gowes malam hari enak juga… rada extra hati-hati sih karena kendaraan laen pada ngebut kenceng-kenceng. Mungkin da lelah kerja pingin cepet nyampe rumah trus istirahat.
Untuk ngowes kelap-kelip perdana, lumayan lah….gak panas kena matahari tapi lumayan dingin kena angin malam.
Dan ternyata, aq dan suamiku kini positif terkena virus stadium 2.

My Bike My Story


…………………………………..
1980
Gadis kecil itu hanya mampu diam sambil memandang lurus ke depan. Pandangan matanya nanar ke arah sepeda jengki cantik dengan rumbai pita di stang kanan dan kirinya. Pikiran gadis itu melayang membayangkan apa yang mungkin terjadi jika saja ayahnya tidak berkata: “bisa bersekolah saja alhamdulillah nDuk. Bersyukurlah”. Gadis kecil itu tersenyum kecut dan hanya mampu bilang: “ Nggih Pak.

Usianya baru 8 tahunan.tapi ia sudah harus ikut merasakan beratnya beban hidup keluarga mereka. Hanya lauk rebusan daun ketela plus sambel terasi teman makan setiap harinya.Tapi, Dia tetap tertawa.Tetap ceria.

…………………………………..
 
1987
Grubyak….
Bibir abg itu meringis menahan perih luka berdarah di lututnya….pikirannya langsung melayang membayangkan kemarahan yang bakal diterimanya. Sepeda reyot pinjaman itu, terlihat bengkok stirnya. Jalanan depan gang sempit rumahnya memang belum beraspal. Iapun menerawang jauh. Pikirannya melayang “entah sampai kapan bebatuan kecil tajam ini, menghias sepanjang jalan rutenya belajar sepeda” Apakah mungkin ia memang ditakdirkan tak bisa naik sepeda ?.

………………………………..

1988
Dukuh menanggal – pangesangan – bebekan sepanjang
Alhamdulillah sepeda balap milik tetangga yang baik hati,  sudah membuat mata gadis abg itu berpendar cahaya. Sambil terus tersenyum, ia kayuh pedal sepeda balap itu kembali menuju rumahnya. Semoga si empunya sepeda selalu baik hati meminjamkan sepeda untuknya, dihari – hari berikutnya.
Dukuh menanggal – pagesangan – bebekan sepanjang
Dukuh menanggal – pagesangan – bebekan sepanjang
…………..meski rutenya selalu sama….tetap saja, alhamdulillah………….

……………………………………….
 
1992
Dia sudah bukan lagi abg. Dia sudah menjelma menjadi gadis yang cantik. Tapi tetap saja dia gadis yang jauh dari assesoris mewah. Setiap sore, dia rela mengejar bis kota menuju kampusnya. Uang sakunya hanya 500 rupiah. Naik bis 250 rupiah sekali jalan. Meski seorang wanita dia tetap saja rela berlari mengejar mimpinya…
Pikirannya menerawang lagi : “Oh andaikan aq punya sepeda, aq juga ngak butuh 500 rupiah itu. Aq bisa naik sepeda ke kampusku…..” Dug ! telinganya seolah kembali mendengar suara tegas ayahnya “ Bersyukurlah nduk. Karena kamu bisa kuliah”

.....................................
2004
Bibir wanita muda itu tersunging senyuman. Matanya menatap takjup pada deretan angka yang tertulis di buku tabungan yang ada ditangannya. Meski pelan terdengar juga mulutnya berkata; “ alhamdulillah. Sepertinya cukup “ semangatnya semakin menguat.
Keesokan harinya, dengan bersenandung kecil, kaki-kakinya mengayuh pedal sepeda wanita menuju tempatnya bekerja. Semangatnya semakin membaja.


2011
Hai…
Namaku Arum. Umurku 38 tahun. Aku seorang ibu dengan satu orang putra.yang kini berusia hampir 9 tahun. Aku tinggal di kawasan Surabaya Selatan. Selain mengurus keluargaku, alhamdulillah aku juga punya kesempatan berkarya. Selain bekerja sebagai staff perijinan sebuah organisasi hobby, aku juga pernah bekerja sebagai penyiar radio berita di salah satu stasiun radio milik salah satu instansi di kawasan jalan A.Yani Surabaya. Beberapa tahun belakangan, aku juga mulai belajar membuat coklat praline yang biasanya banyak pesanan menjelang lebaran atau hari besar lainnya.

Sudah beberapa tahun ini aku sering melakukan aktifitas bersama sepedaku. Sepeda warna biru berkeranjang di bagian depan dan boncengan di belakang.. . Ya.. sepedaku adalah sepeda jenis sepedanya emak-emak. Tapi aku seneng banget. Sepeda yang sangat aku inginkan. Dan akhirnya aku dapatkan dengan keringatku sendiri. Maka mulailah aktifitas bersepedaku. Mulai dari belanja ke pasar, mengantar anak sekolah, menjenguk orang tua di desa sebelah, sampai berangkat dan pulang ke kantor yang juga kebetulan juga di wilayah Surabaya Selatan, Sempat sih beberapa orang memandang rendah padaku. Kesannya miskin banget. Saat orang lain berlomba saling berganti-ganti sepeda motor bermerk yang berharga belasan juta rupiah, aku hanya menggunakan sepeda angin, yang harganya nggak sampai sejuta. Tapi jujur, aku bangga bersepeda.

Sayangnya, ketika aku bisa membeli sepeda, bapak aku sudah meninggal. Padahal aku ingin menunjukkan kalau aku berhasil membeli sepeda impianku. Dulu  sewaktu kecil, aku ingin punya sepeda jengki seperti teman-teman semasa kecilku. Sampai saat menginjak bangku sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, aku juga hanya mampu bersepeda jika ada teman yang mau meminjamkan sepedanya untukku. Sampai aku lulus kuliahpun, aku belum mampu memiliki sepeda sendiri. Meski saat itu belum ada program bike to campus, rasanya pingin sekali bersepeda ke kampus. Apalagi kampusku juga sangat hijau…(dekat dengan sawah maksudnya hehehehe  )



Sepertinya sepeda adalah awal buat kesehatan aku dan keluargaku.
lho..kok begitu…..?
Ketika masih menjadi penyiar, aku sering tiba-tiba merasa sesak nafas. Bahkan ketika siaran, sesak di dada itu sering datang. Setelah sempat diperiksakan ke dokter, ternyata penyebabnya ada efek hormon KB dan kurang olahraga. Alhasil olahraga bersepedalah yang membuat aku sehat kembali.

Saking seringnya aku bersepeda, jagoan kecilku mulai tertarik punya sepeda juga. Mengingat bagaimana rasanya “ngidam” sepeda saat aku kecil, aku dan suami berusaha mewujudkan keinginanya. Bersepeda jenis MTB, membuat Kresna putraku, mulai rutin menemani aku bersepeda. Minimal seminggu sekali, kami berdua bersepeda dari rumah tempat tinggal kami ke rumah orang tuaku di seputaran bundaran waru.


Saat aku dan kresna anakku mulai senang bersepeda, Polwiltabes Surabaya (sebelum melebur menjadi polrestabes) meluncurkan program Car free day…..setiap minggu di jalan raya Darmo,  program itu berlangsung mulai pukul 06-00 sampai 09-00 WIB. Aku dan anakku mulai bertanya-tanya, Kapan ya bisa ikutan car free day …..?
Kayak mimpi dech…..(?)

Putraku belum berani bersepeda di jalan raya…..aku ? berani sih… tapi apa ya mungkin aku bersepeda sendirian ke wilayah car free day…… bisa diomeli keluarga, teman dan …..bagaimana caranya ya……..

Harapan dan impian bersepeda di kawasan car free day… membuat aku dan anakku mulai mengatur stategi….(hehehehe kayak mau perang saja )
Diam-diam. Kresna mulai belajar berani bersepeda di jalan raya.
Diawali dari jalan a yani jarak pendek. Menanggal – Injoko.
Minggu berikutnya dari Menanggal – PJB ketintang baru.
Minggu berikutnya dari Menanggal – Royal ketintang.
Akhirnya.
Car Free day……Kami datang !!   (hahahaha gokil yaa…..)

Dan hasilnya …………
Bla…bla….bla……
Omelan deras dari kiri dan kanan…..
Aku dan anakku……?    hehehehehe kami berdua serempak cengar-cengir saja.
Anakku bilang, buktinya kami baik-baik saja….. bahkan anakku dengan lantang mulai menantang ayahnya untuk ikut bersepeda dengan kami…..


Suami aku, Ridho berusia 40 tahun, agak tidak suka olahraga. Mendengar cerita aku dan kresna tentang nyamannya bersepeda, membuat dia diam-diam brousing tentang olahraga bersepeda. Beberapa situs tentang sepeda mulai dikunjungi. Bahkan Ridho juga mulai bertanya-tanya sepeda macam apa yang cocok untuk lelaki seusia dia dan berpostur tubuh kurus seperti dia. Alhasil, sebuah sepeda MTB nekat dibelinya untuk mendampingi kami, istri dan anaknya bersepeda.
Lalu bagaimana tanggapan jagoan kami, kresna ?

“….. hahahaha ayah pasti gak kuat ikut car free day…..ayahkan gak pernah latihan……”





Kini di 11 tahun usia perkawinan  kami, hampir setiap minggu pagi atau hari libur, kami bertiga selalu menjaga kekompakan dengan bersepeda. Kadangkala kami juga berenang atau bermain bola. Menuju ke lokasi latihan selalu ditempuh dengan bersepeda. Bahkan, dengan tiga sepeda dari merk yang sama, helmet yang sama dan bahkan seragam yang sama, harapan kami pun sama. Kami selalu sehat dan selalu harmonis sampai kapan pun.

Terimakasih sepeda biruku ……..
Setelah sepanjang hidupku aku mengharapkan kamu,
Sekarangpun aku juga tetap mengharapkanmu,
Menjadi jembatan pemersatu anggota keluarga ku……
Amien.

Jumat, 29 April 2011

Menyebarkan 'Virus' ah...


Beberapa hari kemaren catalog promosi Tupperware tiba2 saja menarik perhatian Kresna, jagoanku. Sengaja aku diam saja saat melihat dia membolak-balik catalog itu. Nah kemaren, dia ganti acara… nulis terus di kamarnya. Yang ini agak aneh…. Dan jawaban yang diberikan cukup menggagetkan aku…. Aku mau nulis kayak bunda. Menyebarkan virus ah…….(doeng….???? ) virus apaan…..
Usut punya usut, ternyata di catalog promosi itu ada lomba menulis untuk kategori anak-anak. Temanya gaya hidup sehat. Yang bikin aku rada kaget, dia menulis tentang kebiasaan keluarga kami bersepeda untuk aktifitas keluarga. Ikut Car Free Day dan juga Touring pas liburan. Menariknya lagi dia juga menulis :
….aku yang masih kelas 4 SD aja sudah pengen perduli pada lingkungan. Menjaga udara tetap bersih dan belajar hidup sehat dengan membawa bekal setiap hari. Ngak jajan sembarangan. Memilih berolahraga sepeda yang murah meriah tapi bermanfaat besar. Kenapa kalian tidak ?
Ayo jaga bumi kita dengan bersepeda yang tidak menimbulkan polusi dan membawa bekal sehat setiap hari. gampang kan……

NAH LO……

Jumat, 22 April 2011

Hebatnya Si Biru

Mungkin kalo si Biru bisa protes,  dia akan memaki-maki aku. Tapi aku sih berharap si Biru bakal berterima kasih kepada aku dan suamiku.. kenapa begitu…. Libur Paskah hari ini, seakan menantang aku dan suamiku untuk membuat acara gowes romantis  ( idih… malu sama umur mak…..)
Sepakat, kami berdua bergerak menuju ke Perumahan Kencana Asri Driyorejo Kota Gresik. Bayangkan 20an km lebih dari tempat tinggalku (karah Surabaya).Selain sebagai rute persiapan ke Mojokerto, buat jenguk paman aku, kita juga mau kasih anakan hamster (hasil ternak si Kresna, jagoanku) buat anak sahabat yang tinggal di Driyorejo itu. Wah ternyata jalannya menanjak. Meski gak tajam, tapi lumayan lah…. Si Biru Kembang kempis, sama ngos-ngosannya kayak aku.
Trus gimana pulangnya..
Nekat kami cari rute lain…
Petualangan di mulai. (hahahaha…..)
Jalan panjang berkapur ada. Jalan panjang berlumpur iya. Jalan panjang berbatu....apalagi. lengkap sudah. Yang paling menarik, kami menjumpai dua waduk cantik. Wah…melihat airnya, hijau tanaman di sekelilingnya…. Capeknya hilang.
Melihat kondisi jalan yang baru kami lewati aku dan suami betul-betul gak nyangka. Ketawa terus sepanjang jalan. Tentunya sambil berdoa, semoga si Biru aman-aman saja. Bayangkan saja… Sepeda emak-emak di pake offroad.
Driyorejo-Menganti(Gresik) menuju Karah Surabaya 30an km. Total pagi ini si Biru menemani aku dan suami 50an km.
Tenang aja Biru…. Nyampe rumah kita mandi bareng-bareng. Hahahaha….

Kamis, 29 November 2001

Sepeda Sepanjang Masa

Siang itu, detak jantungku terasa berdentum lebih cepat dari biasanya. Maklum saja, siang itu gaji penuh pertamaku sebagai seorang penyiar berita sebuah radio swasta bakal aku terima. Pasti lebih banyak dibanding gaji tiga bulan lalu dimasa training.Bismillah.

“Bunda, kalo Bunda sudah punya uang, jangan lupa belikan perlengkapan sekolahku ya…”
Wadauw… Kerlingan mata jagoan kecilku, Kresna, membuyarkan konsentrasiku menatap sepeda emak-emak yang cantik berwarna biru. Ach…. Sabar ! suatu hari, kamu pasti aku bawa pulang Biru !

“Cie … Bunda lagi kaya ni….. beli sepeda besar sekali….. nanti antarkan aku sekolah ya Bunda !”
Alhamdulillah setelah sekian lama menabung, si Biru  berhasil juga aku bawa pulang. Sepeda emak-emak ini insya allah bisa menjadikan aku lebih sehat. Semoga dadaku tak lagi sesak.
Dan tujuh tahunpun berlalu…..

“Selamat Ulang Tahun ayah…. Sepedahnya jangan cuma dipajang ya….. sekarang ayah bisa sepedahan bareng sama aku dan bunda”
“Insya Allah keluarga kita akan semakin sehat”
‘Amien”
…………………………
.

Bersepeda bersama suami dan anak tercinta memang tak terkatakan sensasinya. Kadangkala bertiga kami keliling kota. Namun tak jarang, jika Kresna tak bisa ikut sepedahan karena kesibukannya di sekolah, aku dan suami nekat bersepeda ke luar kota. Banyak memang saudara dan teman yang memandang sinis kemampuan fisikku saat bersepeda. Maklum saja, aku tergolong perempuan dengan ukuran ekstra big. Bayangkan berat badanku saat itu, lebih dari 90 kilogram Saking “beratnya” saat si Biru aku rem mendadak atau kena lubang, sering kali spoke si Biru patah.. Tak jarang juga, mereka bilang, “terima nasib saja bertubuh gendut. Bersepeda tak akan membuatmu langsing !”. Namun buatku…. Biarlah mereka terus mengonggong. Aku akan terus gowes. Dan yang membuatku lega, suami tercinta selalu membesarkan hatiku. “Santai saja Dek, aku ndak minta kamu kurus kok. Yang penting olah raga. Biar sehat dan gak sesek lagi dadanya. Kalo nanti jadi sedikit kurus, itu bonus. Jadi kalo gak kurus ya gakpapa”
Duh senengnya punya suami kayak gini !

Dengan sepeda emak-emak aku memang sering nekat. Jalur naik turun di wilayah Driyorejo kearah Menganti Gresik, sudah aku dan suami taklukkan.  Seorang teman dari ARCC Tuban, bahkan bilang kalau jalur yang kami lalui itu masuk kategori offroad. Kasihan sepedanya. Kemudian yang tak kalah nekatnya, aku dan suami juga pernah bersepeda kearah Pacet. Wuih super nekat. Kali ini bukan cuma teman-teman yang menginggatkan, ayah angkatku juga protes.”wong wedok kok gak ileng wedoke” mbok yo dieman awak e” (permpuan kok gak ingat bagaimana bersikap perempuan. harus bisa jaga diri)
Reaksiku ?
Aku cuek aja. Lha wong punyanya cuma sepeda emak-emak gini. Mo gimana lagi…?. Yang penting aku hati-hati. Meski deg-degan, tapi aku yakin pasti terlampaui. Nanti kalau ada rejeki, pasti bisa dapet sepeda MTB. Dan ajrut-ajrutannya akan semakin ok.
Akhirnya kegiatan peringatan hari bumi 5 Juni 2011 lalu, menjadikan mimpiku terwujud. Saat itu, si Biru adalah sepeda emak-emak satu-satunya yang mengikuti susur sungai edukasi. Dan hasilnya, aku mendapatkan hadiah sepeda, si Blue MTB. Ajrut-ajrutan yang semakin ektrim pun membayang di depan mata.

Mengikuti komunitas bersepeda semacam Distrik Ronggeng (Distro) dan Gowes Tetap Semangat (GTS) menjadikan aku dan suamiku semakin KOPLAK. Wanawisata Mangrove membawaku merasakan sensasi bersepeda diantara tambak ikan. Gunung Bajul Karangpilang, memberikan sensasi downhill, meski jarak pendek. Dan yang tak kalah hebohnya perjalanan dari Taman Dayu Pandaan menuju Taman Safari Prigen II. Wuiiih, sensasinya tak terkatakan…..! Bukan berarti semua itu hanya senang-senang semata, banyak juga deg-degannya karena kondisi sepedahku. Bayangkan saja.. sewaktu perjalanan offroad di Menganti Gresik, headset sepedaku hampir copot karena stelan kuncinya gak kuat/gak rapat. Sewaktu perjalanan dari Taman Dayu ke Taman Safari Prigen II, rante sepedaku los dan kejepit karena settingan RDnya gak bener. Tidak bisa dipake ngoper gir.
Kadangkala memang ada perasaan minder melihat kondisi sepeda goweser lainnya. Mulai dari merk sepedanya, kelengkapan sepedahnya dan lain-lain. Tapi suamiku dengan santai bilang, “memangnya pake sepeda bermerek mahal tidak capek apa ? semuanya tergantung dengkulnya. Kalo dengkulnya gak XTR, pake sepeda apapun ya tetep aja capek. Yang penting tuh niatnya. Apapun sepedanya, yang penting sepedahan”.
Jiaaah… Love you Jek !

Bersepeda sudah aku lakukan sejak bertahun yang lalu, tapi bersepedah berdua dengan suami dan keluarga secara intens, baru sekitar lima bulan yang lalu. Namun sensasi yang di timbulkan tak terlukiskan. Semakin banyak saudara yang aku dapat, semakin banyak pengalaman yang aku kumpulkan, semakin banyak juga rejeki yang aku rasakan. Bahkan hal-hal yang tak terduga seringkali datang tanpa di duga-duga. Sebagai contoh, meski kondisi sepedaku dan sepeda suami pas-pasan, kami mampu mengawal perjalanan Om Yang Bambang Irianto. Om Yang melakukan perjalanan dari Probolinggo ke Jakarta. Bersama Distro, aku ‘hanya’ mampu mengawal dari pintu masuk Surabaya sampai menjelang masuk Lamongan. Selain itu, ada juga aktifitas lain yang membahagiakan. Suamiku, om Ridho, bukanlah tipe lelaki yang romantis.Tapi bersepeda bersama dengan GTS menjadikan dia lelaki yang ‘sedikit’ romantis.Bahkan dengan bantuan sodara-sodara dari GTS, kami mampu membuat foto berdua super romantis di tengah hutan mangrove. (monggo dibaca kumpulan note saya ya&hellipwink
Dari semua yang sudah terjadi, menjadikan aku semakin yakin, jika melakukan sesuatu dimulai dengan niat yang baik, hasilnya juga akan menjadi lebih baik. Minimal kebaikan buat diri sendiri dan keluarga.
Jangan pernah merasa kurang dengan apa yang kita miliki, karena sesungguhnya setiap dari kita memiliki kelebihan dan keistimewaan.

Salam Berjuta Sepeda !