Kamis, 05 Mei 2011
My Bike My Story
…………………………………..
1980
Gadis kecil itu hanya mampu diam sambil memandang lurus ke depan. Pandangan matanya nanar ke arah sepeda jengki cantik dengan rumbai pita di stang kanan dan kirinya. Pikiran gadis itu melayang membayangkan apa yang mungkin terjadi jika saja ayahnya tidak berkata: “bisa bersekolah saja alhamdulillah nDuk. Bersyukurlah”. Gadis kecil itu tersenyum kecut dan hanya mampu bilang: “ Nggih Pak.
Usianya baru 8 tahunan.tapi ia sudah harus ikut merasakan beratnya beban hidup keluarga mereka. Hanya lauk rebusan daun ketela plus sambel terasi teman makan setiap harinya.Tapi, Dia tetap tertawa.Tetap ceria.
…………………………………..
1987
Grubyak….
Bibir abg itu meringis menahan perih luka berdarah di lututnya….pikirannya langsung melayang membayangkan kemarahan yang bakal diterimanya. Sepeda reyot pinjaman itu, terlihat bengkok stirnya. Jalanan depan gang sempit rumahnya memang belum beraspal. Iapun menerawang jauh. Pikirannya melayang “entah sampai kapan bebatuan kecil tajam ini, menghias sepanjang jalan rutenya belajar sepeda” Apakah mungkin ia memang ditakdirkan tak bisa naik sepeda ?.
………………………………..
1988
Dukuh menanggal – pangesangan – bebekan sepanjang
Alhamdulillah sepeda balap milik tetangga yang baik hati, sudah membuat mata gadis abg itu berpendar cahaya. Sambil terus tersenyum, ia kayuh pedal sepeda balap itu kembali menuju rumahnya. Semoga si empunya sepeda selalu baik hati meminjamkan sepeda untuknya, dihari – hari berikutnya.
Dukuh menanggal – pagesangan – bebekan sepanjang
Dukuh menanggal – pagesangan – bebekan sepanjang
…………..meski rutenya selalu sama….tetap saja, alhamdulillah………….
……………………………………….
1992
Dia sudah bukan lagi abg. Dia sudah menjelma menjadi gadis yang cantik. Tapi tetap saja dia gadis yang jauh dari assesoris mewah. Setiap sore, dia rela mengejar bis kota menuju kampusnya. Uang sakunya hanya 500 rupiah. Naik bis 250 rupiah sekali jalan. Meski seorang wanita dia tetap saja rela berlari mengejar mimpinya…
Pikirannya menerawang lagi : “Oh andaikan aq punya sepeda, aq juga ngak butuh 500 rupiah itu. Aq bisa naik sepeda ke kampusku…..” Dug ! telinganya seolah kembali mendengar suara tegas ayahnya “ Bersyukurlah nduk. Karena kamu bisa kuliah”
.....................................
2004
Bibir wanita muda itu tersunging senyuman. Matanya menatap takjup pada deretan angka yang tertulis di buku tabungan yang ada ditangannya. Meski pelan terdengar juga mulutnya berkata; “ alhamdulillah. Sepertinya cukup “ semangatnya semakin menguat.
Keesokan harinya, dengan bersenandung kecil, kaki-kakinya mengayuh pedal sepeda wanita menuju tempatnya bekerja. Semangatnya semakin membaja.
2011
Hai…
Namaku Arum. Umurku 38 tahun. Aku seorang ibu dengan satu orang putra.yang kini berusia hampir 9 tahun. Aku tinggal di kawasan Surabaya Selatan. Selain mengurus keluargaku, alhamdulillah aku juga punya kesempatan berkarya. Selain bekerja sebagai staff perijinan sebuah organisasi hobby, aku juga pernah bekerja sebagai penyiar radio berita di salah satu stasiun radio milik salah satu instansi di kawasan jalan A.Yani Surabaya. Beberapa tahun belakangan, aku juga mulai belajar membuat coklat praline yang biasanya banyak pesanan menjelang lebaran atau hari besar lainnya.
Sudah beberapa tahun ini aku sering melakukan aktifitas bersama sepedaku. Sepeda warna biru berkeranjang di bagian depan dan boncengan di belakang.. . Ya.. sepedaku adalah sepeda jenis sepedanya emak-emak. Tapi aku seneng banget. Sepeda yang sangat aku inginkan. Dan akhirnya aku dapatkan dengan keringatku sendiri. Maka mulailah aktifitas bersepedaku. Mulai dari belanja ke pasar, mengantar anak sekolah, menjenguk orang tua di desa sebelah, sampai berangkat dan pulang ke kantor yang juga kebetulan juga di wilayah Surabaya Selatan, Sempat sih beberapa orang memandang rendah padaku. Kesannya miskin banget. Saat orang lain berlomba saling berganti-ganti sepeda motor bermerk yang berharga belasan juta rupiah, aku hanya menggunakan sepeda angin, yang harganya nggak sampai sejuta. Tapi jujur, aku bangga bersepeda.
Sayangnya, ketika aku bisa membeli sepeda, bapak aku sudah meninggal. Padahal aku ingin menunjukkan kalau aku berhasil membeli sepeda impianku. Dulu sewaktu kecil, aku ingin punya sepeda jengki seperti teman-teman semasa kecilku. Sampai saat menginjak bangku sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, aku juga hanya mampu bersepeda jika ada teman yang mau meminjamkan sepedanya untukku. Sampai aku lulus kuliahpun, aku belum mampu memiliki sepeda sendiri. Meski saat itu belum ada program bike to campus, rasanya pingin sekali bersepeda ke kampus. Apalagi kampusku juga sangat hijau…(dekat dengan sawah maksudnya hehehehe )
Sepertinya sepeda adalah awal buat kesehatan aku dan keluargaku.
lho..kok begitu…..?
Ketika masih menjadi penyiar, aku sering tiba-tiba merasa sesak nafas. Bahkan ketika siaran, sesak di dada itu sering datang. Setelah sempat diperiksakan ke dokter, ternyata penyebabnya ada efek hormon KB dan kurang olahraga. Alhasil olahraga bersepedalah yang membuat aku sehat kembali.
Saking seringnya aku bersepeda, jagoan kecilku mulai tertarik punya sepeda juga. Mengingat bagaimana rasanya “ngidam” sepeda saat aku kecil, aku dan suami berusaha mewujudkan keinginanya. Bersepeda jenis MTB, membuat Kresna putraku, mulai rutin menemani aku bersepeda. Minimal seminggu sekali, kami berdua bersepeda dari rumah tempat tinggal kami ke rumah orang tuaku di seputaran bundaran waru.
Saat aku dan kresna anakku mulai senang bersepeda, Polwiltabes Surabaya (sebelum melebur menjadi polrestabes) meluncurkan program Car free day…..setiap minggu di jalan raya Darmo, program itu berlangsung mulai pukul 06-00 sampai 09-00 WIB. Aku dan anakku mulai bertanya-tanya, Kapan ya bisa ikutan car free day …..?
Kayak mimpi dech…..(?)
Putraku belum berani bersepeda di jalan raya…..aku ? berani sih… tapi apa ya mungkin aku bersepeda sendirian ke wilayah car free day…… bisa diomeli keluarga, teman dan …..bagaimana caranya ya……..
Harapan dan impian bersepeda di kawasan car free day… membuat aku dan anakku mulai mengatur stategi….(hehehehe kayak mau perang saja )
Diam-diam. Kresna mulai belajar berani bersepeda di jalan raya.
Diawali dari jalan a yani jarak pendek. Menanggal – Injoko.
Minggu berikutnya dari Menanggal – PJB ketintang baru.
Minggu berikutnya dari Menanggal – Royal ketintang.
Akhirnya.
Car Free day……Kami datang !! (hahahaha gokil yaa…..)
Dan hasilnya …………
Bla…bla….bla……
Omelan deras dari kiri dan kanan…..
Aku dan anakku……? hehehehehe kami berdua serempak cengar-cengir saja.
Anakku bilang, buktinya kami baik-baik saja….. bahkan anakku dengan lantang mulai menantang ayahnya untuk ikut bersepeda dengan kami…..
Suami aku, Ridho berusia 40 tahun, agak tidak suka olahraga. Mendengar cerita aku dan kresna tentang nyamannya bersepeda, membuat dia diam-diam brousing tentang olahraga bersepeda. Beberapa situs tentang sepeda mulai dikunjungi. Bahkan Ridho juga mulai bertanya-tanya sepeda macam apa yang cocok untuk lelaki seusia dia dan berpostur tubuh kurus seperti dia. Alhasil, sebuah sepeda MTB nekat dibelinya untuk mendampingi kami, istri dan anaknya bersepeda.
Lalu bagaimana tanggapan jagoan kami, kresna ?
“….. hahahaha ayah pasti gak kuat ikut car free day…..ayahkan gak pernah latihan……”
Kini di 11 tahun usia perkawinan kami, hampir setiap minggu pagi atau hari libur, kami bertiga selalu menjaga kekompakan dengan bersepeda. Kadangkala kami juga berenang atau bermain bola. Menuju ke lokasi latihan selalu ditempuh dengan bersepeda. Bahkan, dengan tiga sepeda dari merk yang sama, helmet yang sama dan bahkan seragam yang sama, harapan kami pun sama. Kami selalu sehat dan selalu harmonis sampai kapan pun.
Terimakasih sepeda biruku ……..
Setelah sepanjang hidupku aku mengharapkan kamu,
Sekarangpun aku juga tetap mengharapkanmu,
Menjadi jembatan pemersatu anggota keluarga ku……
Amien.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar