Hari itu, kamis 17 Mei 2012. Tanggal merah libur Kenaikan Isa Almasih. Sebetulnya buanyak agenda kegiatan namun aq terpaksa gak ikut karena ada rencana luar kota urusan kantor. Eh ternyata ditunda. Terpaksa bikin acara berdua saja. Karena gak punya tujuan pasti, akhirnya kami berdua memutuskan gowes kemana roda mengelinding. Maksudnya sih lebih pada bergerak aja toh kalo kesasar ‘kentongannya’ bisa dibunyiin.
Keluar dari garasi tepat pukul 05.30 (siangan kerena harus nyiapin masakan buat Jagoan kecilku yang ditinggal di rumah). Perjalanan dimulai dari arah Gunungsari Ke Wiyung. Lurus aja kearah barat sampai masuk wilayah Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik. Notok tok pertigaan, belok kiri kearah Kedamean. Wah mulai bertemu banyak kendaraan besar, maklum didaerah ini banyak pabrik. Sampai akhirnya sebelum Polsek Kedamean, kami ambil jalur ke kanan. Waduh….. pemandangannya makin ciamik !
Belum berapa lama, pemandangan cantik waduh Kedamean menghadang. Walah, seger bener. Rasanya pengen cangrukan lama di situ. Apalagi ada warung kecil di dekatnya. Cuma karena masakannya belum mateng, terpaksa bergerak lagi sambil mencari tempat serapan. Baru 2 menitan dari Waduk Kedamean eh, ketemu lagi dengan waduk yang gak kalah cantiknya Waduk Tanjung. Nah disebelahnya ada lagi waduk. Namanya Waduk Belahanrejo. Total kami ketemu 3 waduk ciamik hanya dengan jarak yang relative dekat di wilayah Kedamean Gresik.
Berhenti hanya foto-foto saja, perjalanan kami lanjutkan kembali. Mulai asyik ketemu hutan jati. Sayangnya pohon jatinya relative masih muda. Nah…. Karena sepanjang perjalanan gak ketemu warung buat sarapan, akhirnya kami nekat berhenti di tengah hutan ini. Buka bekal roti manis dan alhamdulillah ternyata tempat kita berhenti ini tempat jualan es tebu hijau. Penjualnya baru datang. Jadi lumayan lama nunggu es tebunya siap di minum. Ah… segernya sepadan dengan lamanya menunggu.
Lanjut…..
Mulai perjalanan dengan bayak tanjakan dan turunan meski gak ekstrim. Asyik. Ketemu tegalan penuh dengan tanaman lombok. Juga petani yang memanen hasil ladang. Mulai dari ketela, labu, bengkuang dan lain-lain. Stttt…. Sambil bergaya seperti fotografer, aku juga sempat ngobrol dengan mereka. Banyak curhatan yang bikin sesek juga sih…. Bayangkan, saat panen melimpah jayak begini, harga lombok Cuma Rp. 3.000,- perkilonya. Akibatnya banyak hasil panen mereka yang dijemur saja.
Sampai akhirnya sampai di perempatan pasar Dawar Blandong. Mulai agak kebinggungan. Lanjut atau balik ya….. akhirnya mampirlah ke Polsek Dawar Blandong yang kebetulan bersebelahan dengan kantor kecamatan Dawar Blandong. Alhamdulillah setelah ngobrol ngalor-ngidul dengan petugas SPK ada beberapa arah pulang dengan masing-masing konsekuensi rutenya. Kami memilih melintasi Hutan jati yang lebih eksotik. Pilihan itu dilakukan dengan pertimbangan jalur dalam dan tidak bertemu banyak kendaraan besar. Selain itu jalur ini juga ada hutan kayu putih termasuk pabrik penyulingan minyak kayu putih. Jiah…pasti pesonanya tak tergantikan. Selain keindahan jalur Hutan Jati, pak Nur petugas SPK Polsek Dawar Blandong ini juga mengambarkan kondisi jalanan yang rusak. Tapi ah… gak papa lah… anggap aja offroad. Hahahaha…..
Dan ternyata benar… jalananannya rusak dan sempit. Terpaksa kami bergantian dengan truck, mobil pribadi dan juga sepeda motor. Berkali-kali berhenti untuk foto-foto. Akibatnya pengguna jalan lainnya sempat bingung melihat tingkahku dan suami. Soalnya memfotonya juga sampe nungging-nungging juga. Hahahaha…..
Wah pemandangan dari atas bukit ternyata sangat indah, meski tidak setinggi Sumber Tetek Pasuruan. Jalur yang kami lalui untuk kembali ke Surabaya memang lebih jauh. Memutar. Tapi ndak apalah, yang penting nyampai rumah dengan pengalaman yang takkan terlupakan. Akhirnya jalur yang kami lalui adalah wilayah Wringin Anom Gresik yang tembus sampai Karangpilang Surabaya. Karena bawa lombok buanyak, kami sempat mampir di rumah nTe Iin untuk berbagi informasi. Saya dan suami bercerita Hutan Dawar Blandong, sementara nTe Iin dan suaminya om Huda, bercerita hasil survey di Nongkojajar-Pananjakan, yang insya allah menjadi target GTS berikutnya.
Wah total 85,75 km lengkap dengan teparnya suamiku tercinta. Hahahahahaha tepar lagi-tepar lagi….. kurang sepedahannya tuh Yang…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar