Minggu, 25 Maret 2012

36 jam bersama GTS dan DISTRO dalam jalinan SAHABAT SEPEDA di event Sambang Sahabat


Tak ada ungkapan yang tepat untuk mengambarkan bagaimana rasanya bersepeda dengan rute Surabaya – Batu Malang PP, selain Luar Biasa.
 
Berdua dengan suami tercinta, Om Ridho Tjahjono, sabtu pagi itu, aku bergerak menuju taman Pelangi Surabaya. Di tikum ini sudah ada Om Edi Zulkarnaen. Berikutnya Om Riza Putra ‘RCM’ dan Om Cakakpid Celu’ane. Berlima dengan semangat pejuang kemerdekaan (hahahaha) meluncurlah kami menuju Alun-alun Kabupaten Sidoarjo. Di wilayah Aloha, bertemu Om Sapto Wibowo dan Om Muhamad Afirin ( PIC Distro yang masuk kategori ‘siaga 1’. Sehingga tidak bisa ikut gowes sambaing sahabat). Akhirnya sampai di Alun-alun Kabupaten Sidoarjo sisi Timur. Satu persatu peserta Sambang Sahabat berdatangan. Om Jonis Jo, Om Sandi San, Om M.Guruh Hanafia, dan Om Haho Iki Susanto. Setelah berdoa demi kelancaran perjalanan Touring Sambang Sahabat, bergeraklah kita kearah tujuan, Batu Malang. Sampai di Tangulangin, rombongan kembali bertambah, Om Aris Rusdianto dan Om Ratna Tri Martono. Om Muhamad Arifin, balik kanan. Ber-dua belas, dengan Marshall Om Edi Zulkarnaen, semangat mengebu menuju Batu Malang.

Pemberhentian pertama adalah RM Mojorejo Pandaan. Sarapan bersama untuk peserta yang belum sarapan pas berangkat. Sementara yang sudah sarapan dengan setia menanti di Mushola setempat. Setelah sarapan, kembali kita melanjutkan perjalanan. Saking semangatnya. Om Marshall Edi Zulkarnaen sampai kelupaan membawa tas rangselnya. Untung ada Om Haho yang tanggap langsung di canklong sambil menggoda si empunya tas rangsel.
Perjalanan semakin asyik. Mulai dengan tanjakan alus sampai tanjakan kasar. Menjelang Lawang Malang, otot paha Om Ridho mulai bermasalah. Maka, sebelum kram parah, Om Ridho mulai berhati-hati gowesnya. Dan karena gak mau kehilangan seperti kasus Touring Jolotundo, aku tetap setia menemani suami tercinta. (hahahaha). Tapi aku tidak hanya dengan Om Ridho. Kami juga di temani Om Haho dan Om Sapto. Sampai akhirnya tas rangsel yang berisi Tool Kit berpindah pundak, ke Om Haho. Di masjid Al Ihklas depan Rumah Bersalin Siti Miriam, kita beristirahat sambil sholat dhuhur. Selesai istirahat, perjalanan dilanjutkan. Sempat berhenti di sebuah warung makan sederhana dengan menu rumahan, Sop dan ayam goreng. Wuih… nyam-nyam…. Sayang Om Hanafi terlanjur ngebut. Jadi kelewatan dan gak ikut makan siang. Lumayan, perjalanan berikutnya ada bonus turunan yang lumayan panjang. Sampai pertigaan Bentoel, kami ambil jalan ke kanan. Langsung menuju Batu. Wuih sejenak jalanan datar, kembali kami dihajar tanjakan. Baik tanjakan mesra maupun tanjakan kurang ajar. Buat aku dan Om Ridho, tanjakan sangat-sangat menghajar kami. Kalau awalnya hanya om Ridho yang tepar, kali ini aq juga mulai ngos-ngosan. Gowes sedikit trus istirahat. Ada juga yang terpaksa nuntun. Sampai akhirnya sampai juga di pintu masuk Kota batu. Wuih….. Lega banget. Tapi ternyata kelegaan itu hanya sesaat. Tanjakan semakin mengila. Semakin berat rasanya kaki ku. Dengan terpaksa aku merelakan (meminta) Om Sapto dan Om Haho untuk meninggalkan kami berdua. Dengan tegas aku meyakinkan mereka bahwa kita akan ngumpul lagi di Alun-alun Batu. Ternyata keinginan ini, terpaksa harus kami, aku dan Om Ridho kubur. Dengan rasa malu yang ku pendam dalam-dalam, aku sms Om Bonnie Meidianto yang saat itu sudah berada di Finish karena berangkat Loding dengan nTe Santy, Om Dimaz Zamid dan Om Paulus Djoko, untuk mengevakuasi kami berdua. Di pikiranku terngiang kuat pesan Om Sapto, ‘jangan memaksakan diri. Jika memang yakin harus di evakuasi, ndak papa di evakuasi. Harus bisa mengukur kemampuan diri sendiri’
Setelah beberapa waktu menunggu, tim evakuasi datang. Om Bonnie dan Om Dimaz senyum melihat aku yang ndosor di pinggir jalan. Ndak terasa menangis aku melihat kedatangan dua sodara dari GTS mengevakuasi kami. Sambil terus membesarkan hatiku, Om Bonnie membawa kami ke Finish ( villanya di Batu). Saat melewati Rombongan Sambang Sahabat yang sudah sampai Alun-alun Batu, rasanya pengen turun dan bergabung dengan mereka. Tapi aku cuma sempat melihat Om Jonis memberi kode agar langsung saja menuju finish dan istirahat.
Setelah sampai di finish, senyum nTe Santy dan Om Djoko melegakan hati kami. Kurang dari satu jam, rombongan Sambang Sahabat nyampai finis. Om Sandi San yang terakhir datang karena kesasar.Maklum bujangan satu ini sekalian observasi.
Malam itu, kami gak bisa langsung tidur. Buka karena gak ngantuk atau gak ada tempat. Tempat sih buanyak. Ada enam kamar besar-besar. Ada sofa besar-besar juga. Kami juga sudah ngantuk. Tapi ngobrol sambil tukar cerita sambil saling gojlok membuat kami sedikit melupakan rasa capek dan njaremnya tanjakan yang baru saja tertaklukan. Akhirnya seakan masih kurang melahap tanjakan, diputuskan NR ke Alun-alun Batu sambil nyari makan malam. Trus bagaimana dengan aku dan Om Ridho ? hehehehehe ternyata ada dua sepeda motor yang bisa kami manfaatkan. Aku dan Om Ridho berboncengan. Di sepeda motor satunya ada Om Hanafi dan Om Sandi. Lainnya bersepeda. Setelah kenyang makan malam, kami langsung kembali ke Villa. Aku sempat nyeret Om Sapto. Suhuku ini juga ‘sedikit’ tepar. Kecapekan ngawal aku dan Om Ridho kali…. Maap ya Om Sapto.

Akhirnya, pagi-pagi seusai semalaman istirahat, kami mulai siap-siap meluncur ke CFD Kota Malang. Pasukan Sambang Sahabat siap berangkat. Ternyata satu orang tidak ada ditempat. Om Paulus Djoko. Selinya ada tapi orangnya gak ada. Tim SAR pun di terjunkan. Setelah menyisir seluruh areal Villa yang lumayan gede, akhirnya si Om yang imut ini ditemukan dalam kondisi tidur pulas. (hahahaha untung gak ilang beneran) Setelah narsis-nasis, meluncurlah Full Rombongan Sambang Sahabat. Nah pas pulang inilah satu dari anggota Sambang Sahabat, Om Haho pamit pulang lebih dulu karena ada kabar putranya sakit. Semoga adek sudah sehat lagi ya…..Suhu gowes dengan dengkul XTR inipun melenggang sendirian kembali ke Surabaya. Ketemu lagi di event berikutnya ya Om….
Ternyata benar. Setiap ada tanjakan pasti ada turunan. Werrrr….. nyampe jalan Ijen Kota Malang lokasi CFD hanya dalam waktu tak lebih dari 30 menit. Gak sumbut sama lama nanjaknya. Meski tidak banyak yang bersepeda dan lebih banyak yang jalan kaki, tapi  suasananya asyik banget. Ketemu juga dengan sahabat dari alumni SMAN 16 Surabaya, teman-temannya Om Bonnie dan Om Jonis. Bukan Sahabat Sepeda kalo ngak bernarsis ria. Naik panggunglah kita. Bercerita tentang aktifitas bersepeda dan Touring Sambang Sahabat. Dan lagi dapat sahabat baru juga. Pasukan bersepeda dan Pasukan bersepatu roda dari jajaran Satlantas Polres Malang. Kembali berfoto bersama. Sampai akhir waktu di CFD Malang, kami hanya bertemu dengan Om Tito, Goweser dari Malang. Makasih ya udah nyempatin ketemu kita di CFD Malang. Bergerak wisata kuliner dengan sponsor sahabat dari alumni SMAN 16 Surabaya yang tinggal di Malang. Jalan Kawi menjadi tujuan. Nasi Bok khas Madura. Wuih Kenyang Jek. Makasih ya Om dan Tante alumni SMAN 16 Surabaya.
Perjalanan kembali dilanjutkan. Kembali ke Surabaya. Tapi insiden yang seharusnya bisa tak terjadi, harus terjadi. Sepedahku oleng ketika tidak dalam keadaan digowes. Lho kok ? saat menyebrang, mungkin karena bagasiku keberatan, ban belakang ngobit dan ban depan keangkat. Karena posisi kakiku juga gak stabil, ngulinglah aku kearah kiri. Gubrak….! Alhasil dengkul kiriku lecet-lecet. Gak parah sih lecetnya, tapi efeknya nyeri dan sakit buanget. Untung para Arjuna siap siaga. Om Aris langsung angkat bagasiku dan Om Jonis langsung memeriksa kondisi sepedahku. Om Sapto dengan obat-obatan. Mantap sekali kesiagaan para Arjuna ini. Setelah aman, perjalanan dilanjutkan kembali. Eh ternyata fisikku kembali menjadi penghambat perjalanan. Hanya tanjakan mesra yang tidak terlalu tajam di wilayah Lawang. Tapi ternyata tak mampu aku taklukan. Dengan tenang, Om Jonis memberikan dorongan. Itu juga belum memberi hasil maksimal. Aku sampai merasa malu banget sudah merepotkan. Tapi semua masih memberiku semangat dengan tulus. Akhirnya sepedahku di preteli sama Om Jonis. Bagasiku dipindahkan ke sepeda Om Jonis. Sebetulnya kasihan Om Jonis. Dengkul kanannya juga sudah njarem tapi dengan santai, Arjuna satu ini bilang ‘tenang aja nTe. Setelah ini, njenengan pasti lebih banter. Kalo saya masih kuat kok bawa bagasi ini’. Wuih…. Dengkul XTR  Jek.

Ternyata benar. Begitu bagasiku berpindah, beban genjotan kakiku jadi ringan dan werrrr …. Aku bisa mengikuti irama bersepeda tim Sambang Sahabat. Tak terasa, saatnya berhenti di sebuah masjid yang masih dalam tahap pembangunan. Namanya Masjid 10 Nopember di wilayah  Purworejo. Disini kami istirahat sak blengere. Sampai tidur-tidur segala. Sempat melahap semangkok bakso Granat. Wuih baksonya guede….. kenyang. Lanjut perjalanan…… Setelah turunan habis, saatnya jalanan datar. Tapi karena irama sudah ketemu… tetap saja kecepatan penuh. Tiba di masjid Cheng Ho. Bertemu lagi dengan Om Paulus Djoko. Istirahat dan narsis jaya lagi. Sayangnya Cakapid sudah meluncur ke Gempol Porong karena mampir kerumah keluarga. Om Bonnie juga belum bisa bergabung karena masih baru meluncur turun dengan mobil evakuasi. Alhasil foto narsis kami kurang lengkap personilnya. Lanjut, dengan irama gowes yang mulai seirama, akhirnya sampai di wilayah kekuasaan Om Aris, Tanggulangin. Istirahat minum es degan yang sudah jadi kelapa. Hahahaha… eh Om Dimaz dan Om Ridho saat pulang ini kayak jadi soulmate dech…. Saling tukar sepeda. Akhirnya berdua jadi juru kunci. Om Ridho lututnya agak nyeri dan Om Dimas keberatan sepeda. Sepedanya Om Ridho kan abot banget. Megap-megap dech si Om Dimaz. Tapi Tetap Semangat !
Setelah cukup istirahat, perjalanan dilanjutkan kembali. Om Aris belok kiri menuju rumah. Yang lain menuju finish Alun-alun Sidoarjo. Berikutnya di wilayah Candi, Om Ratna Tri Martono belok kanan, menuju kediaman. Si Om yang pendiam ini ternyata juga memiliki dengkul XTR. Diam-diam jago tanjakan juga. Tanpa megap-megap melahap habis setiap tanjakan. Mungkin karena bekal yang di siapkan nTe Tio ya Om Tri….. Salam buat keluarga ya……
Dengan irama yang semakin solid, tim Sambang Sahabat berhasil mencapai finish di Alun-alun Sidoarjo. KEREN !
Sambil beristirahat, akhirnya dimulailah proses loding untuk sahabat sepeda yang tinggal paling jauh. Om Edi Zulkarnaen, nTe Santy dan Om Paulus Djoko. Dengan didukung sponsor tunggal Om Bonnie. Makasih ya Om Bonnie…. Sampaikan juga ke nTe Lia dan anak-anak.
Setelah selesai evaluasi dan doa. Meluncurlah kami pulang. Om Jonis menuju kearah timur dari Alun-alun Sidoarjo Karena bagasi  sudah kembali bertengger di sepedaku… lajuku mulai sedikit berkurang.ditambah kondisi yang sudah lumayan capek. Om Sapto, Om Hanafi, Om Dimaz, Om Riza dan Om Sandi meluncur di depan. Saya dan Om Ridho di belakang. Akhirnya tinggallah empat personil. Om Hanafi dan Om Sapto menunggu kami di depan Giant Waru. Setelah itu kita mulai berpencar. Om Sapto kearah timur menuju Rewwin. Om Hanafi kearah barat menuju Kletek. Aku dan Om Ridho tetap meluncur kearah Utara. Lepas bundaran Waru, kami memilih lewat jalur dalam..Dukuhmenanggal, masjid Agung Al-Akbar, Kebonsari, Jambangan dan finish di rumah Karah. Menjelang perempatan Pagesangan kami sempat berhenti, karena ada penjual boneka Shaun The Sheep. Hehehehe Om Ridho sengaja beliin buat pengobat capekku katanya. Sip. Buat nambahin koleksi bonekaku. Disini, kami juga jadi           artis lagi. Si Penjual boneka tertarik dengan penampilan kami dan mulai bertanya-tanya soal harga sepeda yang dipake Om Ridho. Jadi tebar racun dech…. Alhasil dapet bonekanya jadi lebih murah. Lumayan. Setelah selesai ‘ramah tamah’ perjalanan dilanjutkan. Sempat juga mbungkus makan malam sebelum akhirnya sampai dirumah tepat pukul 17.40 menit. Bangga rasanya dengan total 198 kilometer, lengkap dengan tanjakan, turunan, nuntun, tepar, evakuasi dan indahnya persahabatan Sahabat Sepeda !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar