
Lama rasanya aku dan suamiku ndak gowes jarak jauh… ( sampai lupa rasanya….hehehe Setelah aku sampaikan ke teman-teman baik di GTS ( Gowes Tetap Semangat ) atau di DISTRO ( Distrik Ronggeng ), akhirnya ada beberapa pilihan. Candi Belahan/Sumber Tetek-Gempol Pasuruan, Jolotundo-Seloliman Trawas Mojokerto, Pantai Delegan-Panceng Gresik, dan lain sebagainya. Banyak juga teman-teman yang siap mengawal. ( hehehe ….begini lho enaknya jadi perempuan semata wayang ).Karena banyaknya pilihan, akhirnya aku dan suami putuskan melaksanakan banyaknya pilihan tujuan gowes tersebut secara bertahap. Dan minggu 22 Januari 2012, kami meluncur ke Sumber Tetek atau Candi Belahan di wilayah Gempol Kabupaten Pasuruan. Dari Surabaya sih estimasi jarak tempuhnya 47 kilometer. Jadi kemungkinan pulang pergi 94 kilometer.
Minggu 22 Januari, akhirnya kami berangkat dengan semangat mengebu. Dengan total sebelas personil (gabungan dari Distro, GTS, Arbatros (bener gini ejaannya ?) dan B2W Sidoarjo) kami berangkat dari titik kumpul Alun-Alun Sidoarjo sekitar pukul 6 pagi. Setelah doa bersama, langsung kita meluncur dengan marshall Om Ardimini Distro. Selama awal perjalanan sih asyik-asyik aja. Masuk Jalan Raya Porong/Tanggul Lapindo lumayan padat (maklum liburan). Lepas Jembatan Porong, ternyata Om Ardimini Distro belok kanan dan kami lurus. (hahaha ….terpisah dech..). untungnya ada Om Ilul dari Distro dan teman-teman dari Arbatros yang sudah pernah ke TKP. Jadi kami tetap meluncur ke tujuan. Terpisah dengan Om Ardimini Distro juga baru kita sadari, setelah kita akan belok kanan menuju TKP. Sempat ketemu Om Samsul Huda dari Mujahidin, yang nyusul kita karena telat ketemuan di titik kumpul. Tapi ternyata Om Samsul terlalu asyik sama musik di earphonenya. Jadi sekuat apa kita teriak manggil, Om Samsulnya ya gak denger. (wkwkwk….)
Begitu belok kanan masuk wilayah Dusun Jeruk Purut, aku sempat tanya, jalanannya mulai nanjak ya…. Eh semua pada koor menjawab “….TIDAK…” ternyata jalan paving semakin menanjak dan menanjak. Sampai pavingnya habis. Begitu sampai di jalanan berbatu baru kami sadar, anggota rombongan hilang dua orang lagi. Om Haho dan Om Jonis. Tapi biarlah…udah gede juga. Lagian mereka da senior banget. (hahaha …..). Sepanjang perjalanan, penuh dengan narsis-narsis, mancal dan nyurung/nuntun berjamaah. Hahaha ….. para seniorku mbohongi aku…medan menuju Candi Belahan sangat-sangat ektrim. Berbatu-batu lagi. Akhirnya di pertigaan habisnya jalan yang sedikit bagus dan harus melewati jalan berbatu yang hancur banget, disinilah tim ketemu dan lengkap kembali sebelas orang. Cuma Om Jonis dan Om Haho sempat sesasar tiga kilometer. Nanjak lagi. Mereka juga bilang jalur yang harus mereka lalui uedan tenan. Tebing curam yang sewaktu-waktu siap longsor karena pasirnya di tambang. Dan dua raja jalanan itupun harus menyerah pada alam. Nuntun di tanjakan yang mereka lewati. (hahaha ……..)
Di sini kembali aku bertanya, “…Om masih tajemnya nanjaknya…?” eh dijawab lagi…”TIDAK” “cuman dikit kok nTe, depan itu da nyampai..?” senyum manis om Pri dari Arbatros meluluhkan rasa capekku.
Eit, ternyata aku dibohongi lagi. Masih juauuuh banget !. Dan terjadilah nuntun berjamaah lagi. Di jalur hampir akhir ini, suami tercintaku, Om Ridho tepar juga. Paha kanannya kram. Sempat hampir jatuh menjelang finish di Candi Belahan. Tapi akhirnya nyampai dengan selamat semuanya.
Setelah cukup istirahat, cukup makan minum dan cukup narsis-narsis, akhirnya kita persiapan pulang. Eh beberapa teman menyarankan kita lewat jalur cocacola (karena lewat pabriknya).”….cuman nanjak dikit kok nTe…trus turun terus…”
Yo wes. Wong sudah sepakat kok… nancal lagi dan nuntun lagi. Tapi eits…. Tanjakanya gak cuma satu…..bertanjak-tanjak…. Waduh dibohongi lagi ni…..(sambil geleng-geleng). Sampai tanjakan habis-bis dan kita ada diujung paling atas dan bisa memandang jauh dibawah sana ada pemandangan yang subhanallah….. ciamik soro !
Nah saatnya turun, saatnya timbul masalah. Waduh….
Jujur diantara semua sapidah yang ikut touring kali ini, sepedaku salah satunya yang tidak pake rem cakram. Akhirnya dengan tekat membaja dan kedua tangan terus menekan rem sambil sesekali melepasnya, aku meluncur dengan sesekali berteriak kegirangan. Bayangkan, sekitar 50an km/jam kita meluncur turun dan berbelok-belok. Rombongan terpisah. Aku, Om Pri dan Om Sapto. Aman sampai akhir tanjakan setan itu. Nah rombongan berikutnya, harus mengevakuasi Om Wawan yang sedari awal sudah tidak safe !.
Bayangkan, kondisi rem sepeda om Wawan gak bagus blas. Gak pakem. Trus Om Wawan juga gak pake Helmet !. karena melaju turun dengan kencang, rem gak pakem, ndlosorlah si Om ini, mbabat ladang singkong lebih dari lima meter. Om Wawan mengalami “bocor tipis” dikepalanya dan si sebagian besar punggungnya lecet-lecet. Untung gak masuk jurang (kok masih untung ya…?) Si Om pun dinaikkan truck untuk dibawa ke lokasi pengobatan. Wuih….darah segar bok…! Untungnya aman. Om Wawan tidak sampai muntah dan maksa melanjutkan perjalanan pulang dengan tetep gowes. Dengan kondisi rem yang gak layak, roda yang sleat-sleot karena peleg bengkong dan gir depan hanya berfungsi yang paling kecil, pelan banget perjalanan pulang kita. Oalah alamat sampai sore nyampai rumah. Dan rombongan pun terpisah-pisah lagi. Om Pri sendirian karena tidak tau adanya musibah yang menimpah Om Wawan, rombongan kedua, Om Haho, Om Jonis Jo, Om Zul dan Om Arie. Trus terakhir rombongan ketiga, Om Sapto, aku, Om Ridho, Om Ardimini, Om Ilul dan Om Wawan. Jiah rombongan terakhir ini terseok-seok. Om Wawan kecelakaan dan Om Ridho kram kedua pahanya. Selama perjalanan sampai rumah hanya 15an kilometer perjam.
Wadah cuma 86 km perjalanan PP dari rumah dan Candi Belahan, tapi kondisi medannya benar-benar sensasional. Naik-turun dan ajrut-ajrutan. Dan edisi Sumber Tetek/Candi Belahan ini aku, nTe Arum serasa benar-benar jadi Om Umar. (hahaha ………….) Tapi tetap saja selalu ada afterwed, keren kan.....
Berikutnya tunggu note petualangan Jolotundo bersama B2C UNESA minggu depan, Minggu 29 Januari 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar