Senin, 31 Oktober 2011

Ups…Malunya…..

Katanya orang pinter, kalo memulai sesuatu itu harus bener niatnya. Kalau gak bener, hasilnya juga ndak akan bagus.

Kalimat diatas ternyata berlaku untukku… begini ceritanya :
Sabtu malam 29 Oktober 2011, bundaku, bunda Arum bertanya apakah benar aku mau ikut ke Car Free Day Sidoarjo… aku jawab. Beneran Bunda. Nah masalahnya, Bundaku nggak tau kalo niatku cuma supaya aku dapet  pinnya edisi perdananya B2W Sidoarjo. Soalnya meski aku anaknya Bunda dan Bunda sendiri yang membawa pin itu, nggak bakalan Bunda kasih cuma-cuma. Kata Bunda, pin kegiatan itu bukan cuma buat gaya-gayahan. Harus ada perjuangan untuk mendapatkannya.

Akhirnya minggu pagi, 30 Oktober 2011, sebelum jam 5 pagi, aku, ayah Ridho dan bunda Arum berangkat ke CFD Sidoarjo. Nah niatku yang kurang jelas ini mengakibatkan aku kurang konsentrasi dijalan. Baru 3 kilometer dari rumah, GUBRAK. Aku jatuh. Nggak berdarah-darah sih.. tapi baju, kaki dan tanganku jadi hitam semua. Kotor karena semalam habis hujan.Jalanan jadi sedikit berlumpur. Ih malu dan perih rasanya. Bunda dan Ayah sudah nanya apakah aku masih kuat melanjutkan perjalanan. Soalnya perjalanan masih sangat jauh. Dari rumah ke CFD Sidoarjo kurang lebih 23 kilometer. PP jadi 46 kilometer. Wah aku sudah terlanjur pingen pinnya. Jadi  aku jawab terus aja Bunda, gak papa.(Nggak jujur lagi ni…)
Karena aku jalannya pelan banget, Bunda agak stress kali, karena Bunda bawa nasi bungkus buat om dan tante B2W Sidoarjo yang memberikan service sepeda gratis di area CFD, maka Bunda langsung memberi aku “dorongan”. Alhasil aku cuma duduk manis di sadel sepedaku dan bunda yang ngos-ngosan.(hihihi maaf Bunda).Pulangnya juga begitu, karena melihat Bunda sudah kecapekan “mendorong” aku pas berangkat, ayah Ridho yang menggantikan posisi bunda. Jadilah aku pulang pergi mendapatkan “dorongan”. Maap ya Ayah dan Bunda. Tapi terima kasih buat pinnya. Meski cuma gowes sedikit, Bunda tetep kasih aku pin B2W-Sidoarjo. Sayang aku nggak ketemu Om Jengkol (Om Gogiek) padahal aku juga pengen berteriak “ASOLOLE” (hahahahahahaha)

Stttt. Om dan Tante tau ngak….. aku gak mau ngulang lagi ! kasihan Bundaku. Pulang CFD langsung mandi, makan dan tidur. Tidurnya pules banget. Mungkin Bunda kecapekan “mendorong” aku. I Love You Bunda.

Senin, 24 Oktober 2011

Gunung Bajul. Ajrut-Ajrutan. Wow Ini Virus Keempat


Sejak menjadikan sepeda menjadi bagian dari aktifitas kami sekeluarga, kami sering mencari beragam bentuk bersepeda. Mulai dari ikut CFD sampai bersepeda jarak jauh. Nah bentuk lainnya ya mencoba medan offroad. Meski masih dalam kategori newbie, kami memasukan mental bonek untuk urusan ini.
Dengan mengandalkan skok hasil upgrade bulan lalu, kami berdua langsung menyatakan ikut ketika GTS (Gowes Tetap Semangat) mengshare kegiatan ajrut-ajrutan ke Gunung Bajul. Ohya, Gunung Bajul itu adalah sebuah wilayah pebukitan di wilayah Karangpilang Surabaya Selatan yang di sebagian wilayahnya digunakan kegiatan anggota marinir. Tak heran dalam perjalanan kami menemukan areal lapangan upacara dan lapangan tembak disana. Nah cerita lengkapnya begini.

Minggu pagi, 23 Oktober 2011. Dini hari setelah menyiapkan bekal sarapan dan makan siang buat Kresna jagoan kami, kami berangkat ke tengah kota. Ada teman kerja yang kasih tiket fun bike yang eman kalo jerseynya gak diambil (lumayan buat nambah koleksi, hahahahaha). Setelah jersey dan snack ditangan, dengan cueknya kami berdua meninggalkan lokasi funbike dan melenggang menuju tikum satu di depan BNI 46 Raya Darmo. Eh ternyata masih nomor satu. Kemudian Om Zul datang disusul Om Yan, nTe Ai, nTe Ryana, nTe Dini dan nTe Santy. Setelah cukup menunggu dan tidak ada yang datang lagi, bergeraklah kita menuju tikum dua (Jembatan Baru Karangpilang). Disana sudah menunggu Om Bonnie. Nah dedengkotnya GTS inilah yang didapuk jadi Marshallnya. Dan ternyata gak salah pilihan kami. Si Om yang satu ini, membawa kita ngetrek dengan “manis” di jalur offroad Gunung Bajul.

Dimulai dari menyusuri tanah retak karena musim kemarau berkepanjangan, sampai bertemu ular sebesar lengan orang dewasa. Wuih……tak terkatakan kagetnya. Tapi aman ularnya berbagi jalan dengan kami. Hahahahaha
Akhirnya melewati jalur teriak, bagaimana tidak berteriak, kami yang baru mencoba jalur offroad harus naik  tanjakan dan menuruni turunan curam.serasa terbang. Weeerrrrrr. Untung skok udah di upgrade. Meski rasanya kurang sip. (moga-mogaan ada rejeki lagi buat upgrade lagi. Xixixixi)

Akhirnya bertemu dengan lokasi aktivitas marinir. Setelah melewati lapangan yang kayaknya dipersiapkan untuk upacara (karena ada tiang bendera di tengah-tengahnya) kami juga melintasi lapangan tembak. Untung lagi tidak latihan menembak jadi kami bisa bernarsis ria di antara sasaran tembaknya.
Lanjut….
Nanjak lagi dan melewati ilalang. Waduh. Karena memakai celana pendek, betis ku sempat mendapat kenang-kenang kegores rumput liar. Begitu kena keringat, wadaow perihnya….

Terakhir, kami menuju perkampungan penduduk. Asyik… meski jalanan agak goyang karena tatanan batakonya gak padat. Di wilayah Sumur Welut, kami ketemu bagunan cantik dengan gaya klasik. Narsis dech…. Lihat tingkah pola para “Darma Wanita” GTS di albumku (Ajrut-ajrutan Gunung Bajul). Akhirnya perjalanan mengarah kerumah Om Huda di kawasan Kebonsari. Ini asyiknya, kami Nambang ! Naik perahu kayu yang menyebrangkan kami dari wilayah Kebraon ke wilayah Kebonsari,. Dan ternyata, Om Huda dan nTe Iin sudah menyiapkan es buah !!. Uih…. Sueger. Eh gado-gado juga muncul. Waduh enak tenan. Makasih Om dan Tante. Pangeran yang mbales ya…..hehehehehe

Kurang dari 40 km PP dari Rumah, tapi sensasinya….. Woooow…Lebih baik coba sendiri dech… Insya allah di ulang lagi….Sstttt, kata Om Yan napak tilas. (tapi lebih baik tidak ditulis kenapa)… Cuma peserta Ajrut-ajrutan Gunung bajul yang tau.hahahahahaha… Karena sudah “lulus” Gunung Bajul, kita tunggu pin nya. GTS Ajrut-Ajrutan Gunung Bajul.

Minggu, 09 Oktober 2011

Gowes Wisata Mangrove Wonorejo


Refresing bersepeda sepertinya sudah menjadi harga mati buat keluargaku. Ya, Aku dan suamiku, Om Ridho serta jagoan kami Kresna, selalu berusaha menjadikan sepeda untuk mengeratkan rasa cinta dan sayang diantara kami bertiga. Meski kadangkala Kresna terpaksa tidak ikut serta karena kesibukannya di sekolah. Maklum sudah kelas V SD. Mulai banyak tugas dan tambahan pelajaran.Seperti yang kami alami minggu 09 Oktober 2011 kemaren.Kresna terpaksa tidak ikut gowes karena ada latihan tambahan Paduan Suara untuk tampil di TVRI Surabaya.Akhirnya hanya aku dan suami yang brangkat gowes.

Minggu pagi itu sengaja, kami, aku dan suami tidak ikut mengawal CFD Sidoarjo karena ingin merasakan sensasi lain. Sahabat Sepeda dari Gowes Tetap Semangat menawarkan agenda Gowes ke Mangrove Wonorejo di kawasan Surabaya Timur. Gayung bersambut. Berangkatlah kami ajrut-ajrutan di kawasan Wanawisata Mangrove Wonorejo. Berangkat jam 6 pagi, memang tidak menjadikan kami bertemu matahari terbit. Tapi suasana hangat matahari pagi menjadikan kami sangat-sangat bersemangat.Tidak banyak anggota GTS yang ikut meramaikan Gowes pagi itu, tapi tetep saja suasana ruame banget. Maklum, sudah menjadi rahasia umum kalo goweser pada narsis semua. Setiap ada pemandangan yang indah, mejeng dulu. Cekrik-cekrik. Hahahahahaha.

Beruntungnya semalam tidak turun hujan, jadi jalur menuju Dermaga Wanawisata Mangrove tidak becek. Bayangkan kalau habis diguyur hujan, jalanan yang lebarnya kurang dari semeter itu pasti menjatuhkan banyak korban.masuk ke tambak.tapi kata Om Bonnie, Om Zul dan juga Om Yan,  pastinya lebih asyik kalo pas hujan atau habis hujan. Sensasi ajrut-ajrutannya lebih berasa.
Di sepanjang perjalanan banyak juga kita bertamu rombongan pesepeda lain, ada yang dari Surabaya ada juga yang dari luar kota.

Sensasi asyik muncul lagi ketika sampai di pintu masuk lokasi dermaga. Kita harus meniti bambu yag menjorok ke tengah kolam. Beruntung bambunya kuat. Bayangkan bagaimana malunya jika badan size besarku ini terjatuh karena bambunya gak kuat menahan berat badan ku. Belum habis sensasinya. Meski, para sapidah harus diparkir di pintu masuk dermaga, jalan kaki melintasi jembatan bamboo di tengah hutan mangrove gak kalah romantisnya. Ini yang membuat aku dan suami rodo nekat bernasis ria. Dengan bantuan Om Yan sang juru Sotretnya GTS, mulaikah kami bikim foto afterwedding. (hahahahaha) soalnya udah gak mungkin bikin prewedding kan…..hasilnya, wah sangat-sangat tidak mengecewakan.

Setelah puas menikmati Wanawisata Mangrove Wonorejo, ada keinginan kami untuk bikin Gathering di sana. Melibatkan semua keluarga besar GTS, semoga saja keinginan ini bisa terwujud dan semakin memesrakan hubungan keluarga kami secara individu juga.
Akhirnya, PP hanya 56 kilometer. Tapi sensasinya tak terkatakan.
Untuk gambar-gambarnya, bisa dilihat di album aku, Wanawisata Mangrove Wonorejo.