Bersepeda, semua orang pasti bisa. Bersepeda di gunung,
semua orang juga pasti bisa asal ada kemauan dan kemampuan. Tapi bersepeda di
pegunungan sekaligus peduli dengan lingkungan, butuh nyali besar.
Djombang Bikecamp#1 yang di gelar pesepeda kota Jombang pada 1-2 Desember 2012, kemaren
benar-benar mengingatkanku pada kalimat sinergi yang diucapkan presiden
B2W-Indonesia, Om Toto Sugito. Ada
air, ada pohon, ada kehidupan. MANTAP !
Awal muncul keinginan mengikuti gelaran Djombang Bikecamp#1
adalah karena event tersebut sejalan dengan misi kami di Gowes Tetap Semangat.
Kami sudah mentasbihkan bahwa kami lebih senang dan bangga di sebut sebagai
pesepeda lingkungan. Bersama dengan keluarga kami masing-masing kami ingin
lebih menyatu dengan alam.
Rencana berangkat dengan menumpang truck karena ingin
membawa sejumlah jagoan cilik GTS terpaksa kami batalkan karena banyaknya
peserta yang mundur (karena mendadak tugas akhir tahun). Dengan semangat yang
tak berkurang sedikitpun. Kami bertiga (aq, Om Edi Zul dan te Santy) berangkat
dengan diantar Om Bonnie. Sayangnya Om Bonnie harus langsung balik kanan
kembali ke Surabaya
karena ada tugas keluarga yang tidak bisa diwakilkan.
Setelah regristrasi dan berkenalan dengan panitia dan
peserta yang lain, berangkatlah semua peserta ke lokasi BikeCamp. Barang bawaan
seperti tenda, bagasi dan lain-lain diangkut dengan mobil panitia. Awal sih
hanya bisa menebak-nebak saja seperti apa ya… medannya…
Awal perjalanan, country road yang mantap. Setelah isirahat
pertama, medan
semakin menantang. Jalanan tanah pegunungan yang jelas tidak rata dan naik
turun. Benar-benar dihajar dengan uphill dan downhill. Pegunungan Pucangan di
wilayah Jombang ini benar-benar berbeda dengan foto yang pernah di upload
panitia di Fb Jombang bersepeda. Benar-benar memacu emosi jiwa. Sesekali
berteriak “ Panitia Gila !”
Sensasi nyungsep juga
sempat aku rasakan. Setelah tanjakan setan dimana sepedaku harus dibantu
panitia karena kemiringan lebih dari 45 derajat, aq harus mengalah pada alam.
Nyungsep diantara tanaman perdu. Wah gila abis pokoknya. Jempol untuk Om
Robert, salah satu tim acrobat yang mensurvey jalur gila ini. Setelah melahap
habis tanjakan, turunan yang eksotik sudah menanti. Sudah di rem juga,
sepedahku tetap melaju. Sambil teriak “maaaantap”, meluncur indah sapidahku.
Sampai di Base Djombang Bikecamp, sensasi berlanjut. Pasang tenda !
Melihat megahnya tenda pasukan yang sudah di dirikan
panitia, rodo minder juga sih. Tendaku super imut karena hanya cukup untuk 2
orang. Tapi tetap semangat. Selesai dengan urusan tenda, langsung menata barang
bawaan. Dan siap-siap bebersih diri alias mandi. Nah ini dia masalah
berikutnya.
Om Robert salah satu tim acrobat menjelaskan, ada dua
tempat, yang satu di air sumber dan yang satu air bersih pdam. Pilih air sumber
aja dech, biar pas dengan suasana pegunungannya. Berjalanlah aku dan nte Santy
menuju lokasi mandi yang disiapkan oleh panitia. Dan begitu melihat
kondisinya….. Wadau…. Mantap abis. Berada di tengah hutan, berupa dua bangunan
(lubang bertembok) yang mungkin dulunya penuh dengan air, jadi mirip kolam
renang. Nah sekarang kondisinya ndak ada airnya. Kering. Hanya ada air yang
keluar dari bambu dan kecil sekali. Gemricik. Kiri kanannya tidak ada pengaman
dari pandangan mata-mata jahil. Hanya geber kain yang justru malah bercelah dan
bisa terlihat dari atas. Hahahahahaha Mantap. Sontak aq dan te Santy
terbahak-bahak melihat kondisi ini. Spontan kami memilih gantian mandinya, yang
satu mandi, yang lainnya berjaga-jaga agar tidak ada jaka tarup yang mengintai…
dengan bekal kemben sarung. Jadilah kami mandi dengan sesekali tertawa
terpingkal-pingkal. Mantap habis pokoknya. Kembali dua jempol untuk tim
acrobatic.
Selesai mandi, persiapan sholat. Dengan bekal mukenah
darurat, sujud syukur tetap bisa ku panjatkan. Semoga nanti malam tidak hujan
dan tidak ada binatang buas datang.
Acara berikutnya adalah jaduman di tenda pasukan. Sambil
makan malam dengan menu nasi empok (nasi jagung tapi yang halus), sambel ijo
dan sambel teri yang kubawa dari rumah diserbu habis oleh seluruh peserta. Wuih
seneng sekali bisa saling berbagi. Selesai makan, saatnya bertukar pengalaman
dengan Om Ndlahom dan sahabat dari Eco Wisata. Tak terasa, waktu sudah semakin
berkejaran dengan pertandingan sepakbola antara Timnas Indonesia dan Timnas Malaysia, jadi Nobarlah kita.
(Benar-benar mantap tim acrobatic. Disaat signal Hp pada padam. Kita bisa
nonton tv di tengah hutan. Jempol lagi ah…)
Sayangnya heboh nonton bola tidak berlangsung lama,
kebobolan 2 gol di menit-menit awal, membuat banyak peserta keluar dari tenda
utama dan kembali ke tenda masing-masing. Termasuk aku. Sambil duduk-duduk di
atas matras, langsung buka kompor dan nesting. Bikin kopi untuk menghangatka
badan. Mantap. Apalagi pake ngobrol dengan pesepeda peserta Bikecamp lainnya.
Serasa di warung kopi. Jaduman yang sangat gayeng terpaksa berhenti karena
hujan mulai turun. Panitia, meminta semua peserta pindah tidur di tenda panitia
saja, karena lebih aman. Herannya. Meski
di tengah hutan yang jelas di dataran tinggi dan kondisi hujan, hawa nya panas
sekali. Hal ini yang menyebabkan aku dan beberapa peserta tidak bisa tidur.
Akhirnya setelah lepas pukul 11 malam dan hujan sudah reda, akupun memilih
kembali ke tenda egoisku. Karena te Santy sudah pulas tertidur di tenda panitia,
aku hanya sendiri saja boyongan matras dan sleeping bag. Mungkin karena tenda
sendiri, rasanya seperti hommy juga. Sempat bisa berkirim sms dengan jagoan
kecilku di rumah dan juga suami yang sedang ad pekerjaan di pedalaman Kalimantan. (kalo sudah dapat signal, ndak boleh bergerak
supaya signalnya gak ilang, hehehehehe). Akhirnya sekitar pukul 00.30, akupun
tertidur dengan aman. Karena di sisi utara tendaku, panitia bidang keamananan.
Berjaga malam disamping api unggun.
Pagi hari, acara dilanjutkan kembali. Sebelum tanam pohon,
panitia bersedia gowes tipis. (bagaimana bisa tipis kalo medannya di atas
gunung ?). setelah makan pagi, narsis-narsis dan saling canda. Loding barang
langsung dilakukan. Sementara kami peserta kembali mengikuti rangkaian acara
tanam bibit pohon dengan perhutani setempat. Ada sekitar 500 bibit yangdi sediakan.
Selesai tanam pohon perjalanan dilanjutkan kembali.
Sempat mampir di situs bersejarah.
Ternyata tempatnya seperti lubang dalam tanah yang saling sambung menyambung.
Di tempat ini ternyata pernah ditemukan sejumlah barang purbakala. Setelah
puas, perjalanan dilajutkan lagi, menuju finish. Dan persiapan pulang kembali
ke Surabaya pun
kami lakukan.
Melihat kondisi badan yang capek setelah dihajar Uphill dan
downhill yang gila habis dan barang bawaan yang lumayan buanyak, sebetulnya
kami ingin loding saja. tapi sulitnya mencari kendaraan yang ternyata biayanya
terlalu mahal untuk ukuran kami, maka kami putuskan gowes pelan-pelan. Dengan
paking yang lumayan menjulang, kembali ke Surabaya
pun kami lakukan dengan mancal pelan-pelan. Sempat berhenti di warung makan
dekat daerah tjiwi kimia.. Panas dan mendung bergantian menemani perjalan
pulang. Sesekai kerkirim sms dan update status agar orang-orang terkasih
mengetahui kondisi terakhir kami. Dan akhirnya sampai rumah sekitar pukul
15.30.
Setelah mengabarkan kepada suami dan panitia kalau kami
sudah sampai rumah dengan selamat, langsung mandi dan istirahat.
Wuih, semoga diberikan kesehatan dan kesempatan mengikuti
Djombang BikeCamp#2 di Wonosalam pada
bulan Juni atu Juli mendatang.
Sukses acaranya. Mantap abis. Jempol untuk tim aktobatic.