Senin, 03 Desember 2012

Aku dan Djombang BikeCamp#1



Bersepeda, semua orang pasti bisa. Bersepeda di gunung, semua orang juga pasti bisa asal ada kemauan dan kemampuan. Tapi bersepeda di pegunungan sekaligus peduli dengan lingkungan, butuh nyali besar.
Djombang Bikecamp#1 yang di gelar pesepeda kota Jombang pada 1-2 Desember 2012, kemaren benar-benar mengingatkanku pada kalimat sinergi yang diucapkan presiden B2W-Indonesia, Om Toto Sugito. Ada air, ada pohon, ada kehidupan. MANTAP !

Awal muncul keinginan mengikuti gelaran Djombang Bikecamp#1 adalah karena event tersebut sejalan dengan misi kami di Gowes Tetap Semangat. Kami sudah mentasbihkan bahwa kami lebih senang dan bangga di sebut sebagai pesepeda lingkungan. Bersama dengan keluarga kami masing-masing kami ingin lebih menyatu dengan alam.
Rencana berangkat dengan menumpang truck karena ingin membawa sejumlah jagoan cilik GTS terpaksa kami batalkan karena banyaknya peserta yang mundur (karena mendadak tugas akhir tahun). Dengan semangat yang tak berkurang sedikitpun. Kami bertiga (aq, Om Edi Zul dan te Santy) berangkat dengan diantar Om Bonnie. Sayangnya Om Bonnie harus langsung balik kanan kembali ke Surabaya karena ada tugas keluarga yang tidak bisa diwakilkan.
Setelah regristrasi dan berkenalan dengan panitia dan peserta yang lain, berangkatlah semua peserta ke lokasi BikeCamp. Barang bawaan seperti tenda, bagasi dan lain-lain diangkut dengan mobil panitia. Awal sih hanya bisa menebak-nebak saja seperti apa ya… medannya… 

Awal perjalanan, country road yang mantap. Setelah isirahat pertama, medan semakin menantang. Jalanan tanah pegunungan yang jelas tidak rata dan naik turun. Benar-benar dihajar dengan uphill dan downhill. Pegunungan Pucangan di wilayah Jombang ini benar-benar berbeda dengan foto yang pernah di upload panitia di Fb Jombang bersepeda. Benar-benar memacu emosi jiwa. Sesekali berteriak “ Panitia Gila !”
Sensasi  nyungsep juga sempat aku rasakan. Setelah tanjakan setan dimana sepedaku harus dibantu panitia karena kemiringan lebih dari 45 derajat, aq harus mengalah pada alam. Nyungsep diantara tanaman perdu. Wah gila abis pokoknya. Jempol untuk Om Robert, salah satu tim acrobat yang mensurvey jalur gila ini. Setelah melahap habis tanjakan, turunan yang eksotik sudah menanti. Sudah di rem juga, sepedahku tetap melaju. Sambil teriak “maaaantap”, meluncur indah sapidahku. Sampai di Base Djombang Bikecamp, sensasi berlanjut. Pasang tenda !

Melihat megahnya tenda pasukan yang sudah di dirikan panitia, rodo minder juga sih. Tendaku super imut karena hanya cukup untuk 2 orang. Tapi tetap semangat. Selesai dengan urusan tenda, langsung menata barang bawaan. Dan siap-siap bebersih diri alias mandi. Nah ini dia masalah berikutnya.
Om Robert salah satu tim acrobat menjelaskan, ada dua tempat, yang satu di air sumber dan yang satu air bersih pdam. Pilih air sumber aja dech, biar pas dengan suasana pegunungannya. Berjalanlah aku dan nte Santy menuju lokasi mandi yang disiapkan oleh panitia. Dan begitu melihat kondisinya….. Wadau…. Mantap abis. Berada di tengah hutan, berupa dua bangunan (lubang bertembok) yang mungkin dulunya penuh dengan air, jadi mirip kolam renang. Nah sekarang kondisinya ndak ada airnya. Kering. Hanya ada air yang keluar dari bambu dan kecil sekali. Gemricik. Kiri kanannya tidak ada pengaman dari pandangan mata-mata jahil. Hanya geber kain yang justru malah bercelah dan bisa terlihat dari atas. Hahahahahaha Mantap. Sontak aq dan te Santy terbahak-bahak melihat kondisi ini. Spontan kami memilih gantian mandinya, yang satu mandi, yang lainnya berjaga-jaga agar tidak ada jaka tarup yang mengintai… dengan bekal kemben sarung. Jadilah kami mandi dengan sesekali tertawa terpingkal-pingkal. Mantap habis pokoknya. Kembali dua jempol untuk tim acrobatic.
Selesai mandi, persiapan sholat. Dengan bekal mukenah darurat, sujud syukur tetap bisa ku panjatkan. Semoga nanti malam tidak hujan dan tidak ada binatang buas datang.
Acara berikutnya adalah jaduman di tenda pasukan. Sambil makan malam dengan menu nasi empok (nasi jagung tapi yang halus), sambel ijo dan sambel teri yang kubawa dari rumah diserbu habis oleh seluruh peserta. Wuih seneng sekali bisa saling berbagi. Selesai makan, saatnya bertukar pengalaman dengan Om Ndlahom dan sahabat dari Eco Wisata. Tak terasa, waktu sudah semakin berkejaran dengan pertandingan sepakbola antara Timnas Indonesia dan Timnas Malaysia, jadi Nobarlah kita. (Benar-benar mantap tim acrobatic. Disaat signal Hp pada padam. Kita bisa nonton tv di tengah hutan. Jempol lagi ah…)
Sayangnya heboh nonton bola tidak berlangsung lama, kebobolan 2 gol di menit-menit awal, membuat banyak peserta keluar dari tenda utama dan kembali ke tenda masing-masing. Termasuk aku. Sambil duduk-duduk di atas matras, langsung buka kompor dan nesting. Bikin kopi untuk menghangatka badan. Mantap. Apalagi pake ngobrol dengan pesepeda peserta Bikecamp lainnya. Serasa di warung kopi. Jaduman yang sangat gayeng terpaksa berhenti karena hujan mulai turun. Panitia, meminta semua peserta pindah tidur di tenda panitia saja, karena lebih aman.  Herannya. Meski di tengah hutan yang jelas di dataran tinggi dan kondisi hujan, hawa nya panas sekali. Hal ini yang menyebabkan aku dan beberapa peserta tidak bisa tidur. Akhirnya setelah lepas pukul 11 malam dan hujan sudah reda, akupun memilih kembali ke tenda egoisku. Karena te Santy sudah pulas tertidur di tenda panitia, aku hanya sendiri saja boyongan matras dan sleeping bag. Mungkin karena tenda sendiri, rasanya seperti hommy juga. Sempat bisa berkirim sms dengan jagoan kecilku di rumah dan juga suami yang sedang ad pekerjaan di pedalaman Kalimantan. (kalo sudah dapat signal, ndak boleh bergerak supaya signalnya gak ilang, hehehehehe). Akhirnya sekitar pukul 00.30, akupun tertidur dengan aman. Karena di sisi utara tendaku, panitia bidang keamananan. Berjaga malam disamping api unggun.
Pagi hari, acara dilanjutkan kembali. Sebelum tanam pohon, panitia bersedia gowes tipis. (bagaimana bisa tipis kalo medannya di atas gunung ?). setelah makan pagi, narsis-narsis dan saling canda. Loding barang langsung dilakukan. Sementara kami peserta kembali mengikuti rangkaian acara tanam bibit pohon dengan perhutani setempat. Ada sekitar 500 bibit yangdi sediakan. Selesai tanam pohon perjalanan dilanjutkan kembali.

Sempat mampir di situs bersejarah. Ternyata tempatnya seperti lubang dalam tanah yang saling sambung menyambung. Di tempat ini ternyata pernah ditemukan sejumlah barang purbakala. Setelah puas, perjalanan dilajutkan lagi, menuju finish. Dan persiapan pulang kembali ke Surabaya pun kami lakukan.
Melihat kondisi badan yang capek setelah dihajar Uphill dan downhill yang gila habis dan barang bawaan yang lumayan buanyak, sebetulnya kami ingin loding saja. tapi sulitnya mencari kendaraan yang ternyata biayanya terlalu mahal untuk ukuran kami, maka kami putuskan gowes pelan-pelan. Dengan paking yang lumayan menjulang, kembali ke Surabaya pun kami lakukan dengan mancal pelan-pelan. Sempat berhenti di warung makan dekat daerah tjiwi kimia.. Panas dan mendung bergantian menemani perjalan pulang. Sesekai kerkirim sms dan update status agar orang-orang terkasih mengetahui kondisi terakhir kami. Dan akhirnya sampai rumah sekitar pukul 15.30.

Setelah mengabarkan kepada suami dan panitia kalau kami sudah sampai rumah dengan selamat, langsung mandi dan istirahat.
Wuih, semoga diberikan kesehatan dan kesempatan mengikuti Djombang BikeCamp#2  di Wonosalam pada bulan Juni atu Juli mendatang.
Sukses acaranya. Mantap abis. Jempol untuk tim aktobatic.

Selasa, 28 Agustus 2012

Amazing Nite Ride B2W-day 2012



Begitu mendapatkan informasi Peringatan Bike2Work-Day 2012 tepat hari kerja pertama setelah libur panjang lebaran, bayanganku pasti ribet. Pertama masuk kerja, pasti disibukan dengan rapat dan rapat pengaturan jadwal/agenda kegiatan selepas libur panjang. Akhirnya, aku hanya bisa menunggu saja, bagaimana eksekusi B2WDay 2012, sambil sesekali selenting kanan-selenting kiri, enaknya bikin acara apa….(mosok yo diem aja…..?)
Sampai akhirnya membaca status di Facebike, bahwa di Jakarta bentuk peringatannya adalah dengan Nite Ride. Kenapa Surabaya gak bikin NR juga. Awalnya keinginan itu hanya aku simpan saja, sesekali aku lontarkan ke beberapa teman pesepeda, namun responnya :
“wah hari kerja nTe… jam segitu pasti juga masih sibuk. Jalanan pasti juga masih macet. Kenapa gak pas minggu aja….”
Bener juga. Wah solusinya piye yo….
Sampai pada saat-saat terakhir, solusi dari Om Ridho, suamiku, muncul. “ wes bikin NR sendiri aja. Kita share, kalo ada yang mau ikut hayo…. Gak ada ya NR sendiri aja… yang penting kan niatnya….”
Yo wes keputusannya NR juga. Cuma biar agak berbeda bentuknya Amazing Race aja. Cuman dikemas jadi Amazing Nite Ride. Bersepeda menyusuri jalanan Surabaya sambil mengunjungi tempat bersejarah. Namun areal eksekusinya mana aja ya…. Surabaya kan guide juga. Nah dari banyaknya pertimbangan akhirnya diputuskan melintasi jalur sepeda di sepanjang kota Surabaya namun diperluas sampai di Tugu Pahlawan sebagai Ikon Utama Kota Surabaya.
Mulailah keinginan itu aku share ke teman-teman di FB. Gayung bersambut. Ada respon yag ingin ikut NR. Pas saat eksekusi ternyata banyak juga halangannya. Mendung mulai bergelayut dengan angin yang bertiup sangat kencang. Alhasil, begitu sampai di tikum start banyak teman yang mundur dengan berbagai kepentingan yang  harus diutamakan. Ndak masalah Show Must Go On.
Sampai dengan detik terakhir, hanya ada 4 orang sahabat sepeda. Aku, Om Ridho suamiku, om Bonnie dan Om Hanafia. Dengan santai Om Han bilang : “ Sip. NR 4sekawan”
“ kog 4 sekawan om..?”
“la kalo 5 kan namanya gangsal “
Hahahahaha bisa saja Destroyer satu ini kasih alasan.

Begitu batas waktu pukul 20.00 terlewati, kami langsung memulai NR dengan foto dulu di depan Monumen/patung SuraBaya di depan KBS. Start dimulai… bergerak menyusuri Jalur sepeda di sepanjang jalan Raya Darmo, lalu lintas memang padat tapi untungnya tidak merayap. Raya Darmo lanjut ke jalan Urip Sumoharjo, waduh mulai dech… lajur sepeda dipenuhi dengan mobil yang parkir ! tidak menyisahkan ruang sedikitpun. Terpaksa kita bersepeda tidak dilajur sepeda. Parahnya, yang parkir bukan saja mobil masyarakat umum yang mungkin tidak tau peruntukan jalur sepeda, namun juga mobil aparat kepolisian. Wadah…..!

Lanjut masuk jalan Basuki Rahmat. Lumayan lega…jalanan lebar dan jalur sepeda bisa dimanfaatkan.tapi begitu masuk Jalan Tunjungan, weh… mulai lagi… parkir berjejer lagi dan sepeda motor si om Polisi juga ikut meramaikan. Wes seng waras ngalah saja dech.
Memasuki Jalan Embong Malang, 4sekawan berhenti sejenak. Biasa, narsis.com dulu. Selesai, kita bergerak lagi menuju Jalan Bubutan. Di jalan ini point pertama, Gedung Nasional dimana ada makam Dr.Soetomo. Sayangnya  disini gelap sekali. Alhasil untuk berfoto kami menggunakan lampu senter dari sepeda om Bonnie. Sip.

Mulai bergerak lagi menuju Jalan Pahlawan. Untungnya pintu pagar terbuka dan kami bisa masuk. Di point kedua ini, kami langsung ambil posisi di depan pagar pintu masuk, jadi photona bisa dengan background Sang Dwitunggal Sang Proklamator. (aneh ya… monument Sang Proklamator kog di Surabaya…. Sampai Sang Tugu Pahlawan gak kelihatan ketutup tiang-tiang di belakang monument Sang Dwitunggal…)

Nah di areal ini aku menemukan satu papan petunjuk peta tempat bersejarah di Surabaya. Menariknya dibagian bawah ada sepasang Ikan Sura dan Buaya sebagai maskot Kota Surabaya. Parahnya, baru saat itu aku tau kalau Ikan Sura tuh simbol laki-laki (Cak Suro) dan Buaya simbol perempuan (Ning Boyo). Dengan guyon, om Ridho bilang : “ ini mencerminkan Suro wani Boyo Utang. Laki-lakinya pemberani, perempuannya berhutang”
Wah gak enak tenan artine….. hahahahahahahahahaha

Puas photo-photo, perjalanan kami lanjutkan kembali dengan mengarah ke Selatan lagi/arah balik. Point ketiga adalah Hotel Yamato atau Hotel Orange atau sekarang lebih dikenal sebagai Hotel Mojopahit yang terletak di Jalan Tunjungan. Gak ketinggalan kami juga photo-photona di lokasi sentral perjuangan arek-arek Suroboyo ini. Saking semangatnya mengabadikan gambar, gak sadar om Bonnie sampe nungging-nungging segala. Semangat 45.

Puas berphoto, lanjut ke point keempat, Monumen Gubernur Suryo di Jalan Pemuda. Jalanan masih cukup ramai. Di kantor Gubernut juga masih sangat ramai. Terlihat banyak mobil dinas terparkis dan aparat kepolisian yang bejaga. Maklum beberapa saat sebelumnya ada tragendi Sampang. “Selamat lembur ya Om-om pejabat…..”

Seperti di point-point sebelumnya, di depan monument Gubernur Suryo ini kami 4sekawan juga photo. Lanjut kembali menyusuri jalur sepeda menuju jalan Panglima Sudirman. Di sinilah point kelima. Monumen Bambu Runcing. Karena Monumennya di tengah jalan dan lalu lintas lumayan rame, kami hanya di sisi sebelah timur dan mengambil foto dari jarak yang sedikit jauh. 

Selesai…. Bergeraklah kami menuju titik finish. Taman Bungkul. Sengaja finish di lokasi yang identik dengan CFD di wilayah Kota Surabaya, karena ada areal makanan juga. Dan langsung kita menuju stand juice jumbo. Jus Alpukat, Jus Jeruk dan Mix Jus Sirsat Stroberry. Mantafffff abis. Setelah cukup beristirahat, kamipun kembali pulang ke rumah masing-masing dengan harapan tahun depan menjadi lebih baik.
B2W-Day 2012 with No Atribute, No Loading at All, No Much People and NO PROBLEMO.

Selasa, 10 Juli 2012

Bersama Presiden B2W (lagi)


Jumat 6 Juli 2012 itu, kembali aq meneguhkan niatku untuk berangkat ke event Gathering B2W se-Jatim di Kota Jombang, kepada sebagian anggota GTS (Gowes Tetap Semangat). Dengan dukungan sodara-sodara GTS, kami (aq, Om Ridho dan Om Edi Zul) memutuskan berangkat seusai subuh esok hari dengan harapan bisa sampai di Jombang lebih awal untuk bisa istirahat terlebih dulu sebelum mengikuti rangkaian acara yang begitu padat.
Bersama Sahabat Sepeda (B2W Sidoarjo), pagi itu Sabtu 7 Juli 2012, kami membelah dinginnya udara pagi. Dari tikum 1, Rolak Gunungsari Surabaya, aq, Om Ridho dan Om Edi Zul berangkat menuju tikum 2, Pospol Kletek. Di tikum 2 ini sudah menunggu Om Hanafi dan Om Ardimini. Langsung lanjut menuju sasaran sarapan pagi. Wilayah kekuasaan Om Bonnie (Citra Harmoni) untuk sarapan pagi dengan beliaunya. Ternyata Tante Cantik Yulia ikut juga. Mantafffff !

Lepas sarapan bubur ayam yang lezatto abis, perjalanan kami lanjutkan kembali. Di Pom bensin Trosobo, rombongan semakin gemuk. Om Alfan, Om Mahbub, Om Lutfi, Om Tito dan Om Yoyon sudah menunggu kami.
Weeerrrr Jombang we’re coming…….
Suasana mendung terus menyelimuti perjalanan kami. Akhirnya, bertemu Kaha B2W Sidoarjo Om Jonis Jo yang sedang loding perut. Nimbrunglah kami untuk istirahat, ngopi dan ngeteh. Cukup, perjalanan kami lanjutkan ber-sebelas orang. Namun sayangnya, cuaca mulai tak bersahabat. Puanas dan angin kuenceng banget. Dengan bagasi yang penuh dengan materi untuk paparan B2W, mulai abis nafasku. Megap-megap. Untung Om Ridho dan Om Edi Zul setia menemani bergantian. Sampai akhirnya masuk kota tujuan, Jombang. Namun angin semakin kencang dan cuaca juga semakin panas. Menjelang finish aq sempat mendapat’dorongan manis’ dari Om Ridho dan hasilnya sepedaku tetap meluncur dengan manis juga. Sekitar pukul 11 siang, ke-sebelas pesepeda ini, masuk halaman Cempaka Mas HomeStay dengan selamat. Sambutan hangat Om Anang dengan senyum manisnya wuiiiih lega banget.

Berikutnya bertemu dengan Presiden dan Mendagri B2W Indonesia, saling gojlok, cerita-cerita dan ketawa lepas di Joglo depan tempat menginap.

Setelah cukup istirahat, langsung dihajar persiapan rangkaian kegiatan. Bersama Om Poetoet, aq dapat tugas mengawal jalannya acara. Lumayan, hobby ngomong jadi tersalurkan. Wah…. Puadet banget paparan materi B2W. selain materi yang di bagikan fotocopyannya kami juga sempat mencermati film tentang bersepeda di negara-negara lain di luar sana. Cantik banget. Semoga suatu saat nanti di negara ini juga ramah terhadap pesepeda. Peserta gathering juga mendapatka kesempatan untuk berbagi pengalaman bersepeda di masing-masing kotanya. Akhirnya sekitar pukul 10 malam, acara berakhir dan semua peserta berkesempatan istirahat untuk memulihkan stamina, karena esok hari agenda Indonesia Bersepeda menanti.

Minggu subuh 8 Juli 2012. sesuai paparan Om Jalal sang ketua Akrobatik, acara pagi itu akan dimulai pukul 5.30, karena kegiatannya di Mapolres Jombang. Dengan harapan bisa bangun pagi tepat waktu, aq nyalakan alarm cellular pukul 4.00. eh ternyata begitu bangun sesuai rencana, kondisinya masih sepi banget. Akhirnya siap-siap dan nunggu sambil leyeh-leyeh di depan tv nonton film.

Setelah semua siap, berangkatlah rombongan B2W ke Mapolres Jombang untuk ikut meramaikan Indonesia Bersepeda dalam rangkaian Hari Bhayangkara ke-66. Sebelum di lepas untuk FunBike-nya, kami diajak ikut serta melihat proses pemusnahan Barang Bukti Narkoba dan Miras. Narkobanya di bakar dan mirasnya di lindas oleh buldoser.

Nah masalahnya, mirasnya banyak miras oplosan. Begitu dilindas roda buldoser bau spirtusnya menyenggat banget. Nah ini, mau sepedahan tapi menghirup bau menyenggat dan memabukkan. Ngliyeng dech……..

Jalur yang kami lewati saat funbike ini lumayan menantang. Jalur pendek namun lengkap. Ada jalanan datar beraspal, berbatu, tanah, naik turun dan juga jalanan sawah habis panen yang kering kerontang. Struktur tanahnya pecah-pecah yang kalau ban sepeda kita masuk/terperosok, sulit untuk dikeluarkan. Mantaf dech buat tim pencari jalurnya.
Dievent funbikenya inilah, sensasi bersepeda kami dapatkan. Khususnya aq dan om edi Zul. Sejak awal aq dan om edi zul sudah sepakat untuk mengawal Sang presiden B2W, Om Toto Sugito. Pertanyaannya trus kenapa gak Om Poetoet. Soalnya Om Poetoet orang Madiun. Sudah hafal dia jalan pulang. Nah kalo Om Toto, kalo hilang bisa dimarahi Om Teti ….(hahahahahaha…..)
 Ternyata, Om Toto ini gilanya sudah stadium 4. Gila bener. Naik sepedanya gak pake ngerem lagi. Pancal terus. Jalanan padat merambatpun tidak turun tuh kaki dari pedal. Kalo memungkinkan, tetap digowes sesuai jalurnya. Namun jika sebaliknya, sepeda turun ke jalur sawah dan tetap digowes dengan kecepatan yang heemmmm….. Mantaffff. Bahka ada sekali waktu, sang sepeda di panggul melintasi jalur yang tak bersahabat itu. Jujur, keteteran aq mengikuti kayuhan Mr President.

Sampai akhirnya aq harus menyerah pada tanjakan menjelang makam cina. Gantian Om Edi Zul yang mengawal Om Toto. Saya…? Sedikit melambat dengan om Sidik dari Mojokerto. Lalu dimana GTSer lainnya. Ternyata sodaraku lainnya berkumpul membantu Om Bonnie yang ban sepedanya purik dan buang angin sembarangan. Akibatnya harus ganti ban dalam.

Wah Salut dengan Tim Akrobatik yang menghelat acara ini. Om Jalal, Om Robert dan Om Anang. 4 jempol buat njenengan bertiga.
Sampai di finish lagi, Om Toto langsung balik kanan menuju penginapan. Kata beliau langsung loding dan menuju bandara Juanda, karena ada tugas lain yang menanti. Jadilah aku, Om Edi Zul, Om Ardimini dan Om Lutfi yang menanti teman-teman lain. Karena lama ditunggu gak datang-datang juga, aq memutuskan untuk menunggu tim di penginapan saja sekaligus istirahat. Nah, perjalanan menuju penginapan ini yang ciamik. Ketemu PK5 yang jualan minuman khas Jombang. Es degan durian. Mantaffff. Murah lagi. Seger tenan.
Akhirnya semua tim sudah berkumpul kembali di penginapan dan kamipun siap-siap kembali pulang dengan segudang pengalaman dan cerita seru. Perjalanan pulang ini terpaksa tim terbagi dua. Loding dan tetap macal. Aq, Om Ridho, Om Edi Zul dan Om Bonnie, loding dengan mobilnya Om Bonnie. Sementara Om Jonis Jo, Om Hanafi, Om Alfan, Om Lutfi,Om Mahbub, Om Ardimini, Om Tito dan Om Yoyon tetap mancal menuju Surabaya dan Sidoarjo. Sempat berhenti dan bergabung dengan Om Jonis Jo di rumah makan Arema di daerah Mojoagung. Wah kelaparan kabeh. Untung menunya Sop Buntut mantap tenan. Seger lagi dech.

Sampai Surabaya, perjalanan ke rumah kami lanjutkan dengan Gowes. Sempat mampir di rumah Om Huda untuk cerita-cerita. Om Huda dengan tebar benih ikan di Taman Prestasi Surabaya, dan kami dengan acara gathering pengurus B2W se-Jatim. Seru-seru !
Akhir, gimana Om President…. Coklatnya mantaff kah ?

Selasa, 26 Juni 2012

Gowes to Bromo with GTS



Saat Om Bonnie memposting photo-photo daerah Nongkojajar sampai Pananjakan di wall GTS beberapa waktu lalu, mataku langsung terbelalak. Wah alangkah asyiknya jika bisa ikut mengekseskusi jalur tersebut.  Namun ada juga terselip keraguan, bisa ikut gak ya… apalagi saat itu, aku sedang mempersiapkan acara khitan untuk jagoan semata wayangku. Kresnanda. Pertimbangan lain lagi, si Blue yang selalu setia ku tunggangi, sudah di minta Kresna untuk mengantikan sepedanya yang sudah kekecilan. Dalam hati aku cuma berharap, emoga masih ada sisa dana dari acaranya Kresna. Jadi aku bisa beli sepeda buat ikut eksekusi Nongkojajar – Bromo with GTS. Hahahahahahaha
Begitu jadwal pasti eksekusi di posting, walah…. Kog Cuma berjarak 5 hari setelah acara khitannya Kresna toh…. Bisa ikut gak ya….. Meski penuh dengan keraguan, aku berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa aku bisa ikut touring ini. Dua hari setelah dikhitan, luka khitan Kresna sudah mengering sebagian. Akhirnya bersama Om Ridho, suamiku, aku mulai mempersiapkan segala tetek-bengek kebutuhan touring, termasuk didalamnya sepeda baru.(Alhamdulillah masih ada sisa dana.hahahahahahahaha)

Akhirnya hari H pun tiba. Sabtu, 23 Juni 2012. sejak jam 15.00 aku dan om Ridho sudah siap di kantor ORARI Lokal Surabaya Selatan. Di kantor ini semua tim eksekusi Bromo with GTS akan berkumpul dan berangkat sekitar pukul 17.00. Loding menuju penginapan di daerah Purwodadi Pasuruan dan esok harinya baru menuju sasaran.
Alhamdulillah, Om Dimaz bawa nasi kotak dengan menu ayam panggang, wah makan malam dulu sebelum berangkat, karena perjalanan terpaksa di mundurkan 2 jam menunggu mobil loading. Sekitar pukul 10.00 malam, kami sampai di penginapan. Langsung istirahat mempersiapkan diri untuk eksekusi esok hari.
Minggu, 24 Juni 2012. setelah berbenah dan sarapan nasi goreng sosis plus telur ceplok, minum the manis hangat, perjalanan dimulai. Masih loading lagi menuju titik awal gowes di daerah Krajan Lor. Jalanannya asyik sekali. Naik dan berkelok-kelok. Lumayan jauh sih, sekitar 20km-an. Sampai langsung rakit sepeda lagi dan Bromo we’ll be Coming !!

Bertujuhbelas kami mulai perjalanan.  Begitu start, kami langsung dihajar tanjakan. Agak keteteran juga sih. Tapi gak haram ka di tuntun. ( Om Aris bilang, kayak anggon E*****a, hahahahahahaha) Setelah cukup mengenal medan, perjalanan lancar jaya. Sayangnya kali ini, aku masih belum mampu menjadi pesepeda sejati ( karena pesepeda sejati adalah seberapa dekat ia dengan teman yang paling belakang). Bukan karena sok kuat sih tapi kali ini aku bersepeda dengan sepeda baru yang sama sekali belum aku kuasai sistemnya. Sepeda lamaku, si Blue menggunakan operan putar sementara yang baru, si Adek, pake tekan. Kemudian si Adek juga menggunakan megagir dan rangka alumunium. Jadi ringan banget. Aku yang biasa bawa sepeda berat jadi rada kaget. Alhasil suamiku, Om Ridho tertinggal jauh di belakang. Bersama nTe Siti, Om Ratna Tri, Om Haho dan Om Samsul Huda, aku melaju pelan-pelan. Jalanan penuh tantangan harus dihadapi. Mulai Aspal yang mengelupas, batu gunung yang tajam-tajam hingga jalanan berpasir yang membuat aku harus ektra konsentrasi. Bagaimana tidak, sisi jalan sebagian adalah tebing yang sangat curam. Meleng sedikit saja, wuuuuus bisa pulang tinggal nama. Menjelang turunan ke lautan pasir, kami sempat naik ke satu bukit kecil yang tanjakannya ciamik tenan. Tapi naiknya gak pake sepeda. Aku jalan kaki. Dan di puncaknya aku sempat foto lo… tapi pakai sepeda sang Suhu Om Haho. (foto-fotonya bisa lihat di album aku ya…) Alhadulillah setelah melahap 3-4 bukit yang sangat eksotik, sampai juga di padang pasir menjelang Gunung Batok yang bersebelahan dengan Gunung Bromo. Walah, Capek dan lapar terbayar sudah. Subhanalloh, Indah banget. Tak terkatakan betapa indah pemandangan gunung Batok dan lautan pasirnya. Sayangnya Bojoku, Om Ridho tertinggal jauuuuuuuuh banget. Semakin sedih rasanya, begitu datang lagi rombongan berikutnya, kekasih hati ini tak terlihat juga. Bahkan aku sempat terteguh saat om Bonnie bilang, “mungkin om Ridho gak sampai finish nTe. Soalnya tadi menemani nTe Siti dan om Yan yang kecapekan”. Walah, dalam hatiku rasanya ada yang hilang. Dulu sewaktu eksekusi Jolotundo, mantan pacarku ini juga tidak sampai finish. Jadi aq ditemani teman-teman Distro, Om Sapto, Cak Hanafi dsb. Sekarang harus terulang lagi. Tapi ya sudahlah, munkin foto-foto di lautan pasir bisa mengobati kekecewaannya nanti. Sebagai gantinya, aku sempat membuat foto dengan Om Haho, sang Suhu yang selalu menyemangatiku sepanjang perjalanan. Suwun ngih Om…..

Sempat hendak melanjutkan perjalanan ke gunung Bromo, namun sayangnya nafsu besar kami harus dimasukan kulkas. Badai pasir meski tidak terlalu besar terjadi. Dan Subhanallah, kami melihatnya dari kejauhan. Sungguh besar kuasa Allah. Indahnya tarian Pasir dengan koreografer Sang maha Kuasa.

Dengan rasa syukur yang tak berkurang sedikitpun, kami balik kanan kembali menyusuri jalan datang. Dan ternyata kejutan untukku menggema….Suara Om Huda menyibak dinginnya udara. “ nTe Arum, Yayangmu datang tuh……..”
Subhanallah, Suamiku nyampe juga di Finish. Bersama Om Yan dan nTe Dini, mereka bertiga dengan senyum kecapekan menyambut senyum kami. Ya allah, pelukan hangat sangat melegakan rasaku. Nte Dini spontan berkata, “makasih ya nTe… maaf Om Ridhonya tak paksa nemani aku…” Sueneng banget. Lengkaplah Tim GTS gowes ke Bromo. Langsung narsis-narsis. Dan seperti biasa, aku dan suamipun bikin foto afterwedding.

 Wah sueneng tenan. Setelah di rasa cukup. Kamipun kembali menyusuri jalur Midodareni. Dihajar tanjakan berpasir yang membuat sepeda kami selayaknya barang berdebu yang tidak terjamah bertahun lamanya. Penuh debu pasir. Kembali ke bace camp awal dan mulai menikmati jalanan menurun. Ini dia asyik dan nyamannya. Tapi tetap harus konsentrasi tingkat tinggi. Jalananan berbatu tajam dan menurun. Apalagi kabut mulai turun Wadau…. serasa ajrut-ajrutan yang akan merobek ban sepeda kami. Tak terasa telapak tanganku melepuh, padahal aku sudah memakai sarung tangan. Dan akhirnya sampai kembali di lokasi mobil loading terparkir. Total 20an kilometer dari titik awal sampai kembali. Dan kecepatan rata-rata hanya 5,81km/jam. Namun jalurnya… Alamaaaaak sesuatu banget !

GTS, terima kasih ya…. Om Bonnie makasih mobil loadingnya, Om Zul makasih penginapannya, Om Dimaz, makasih makan malamnya, Om Ratna Tri Martono dan Om Teuku Suwandi, terima kasih foto-foto ciamiknya. Nte Santy, nTe Siti, nTe Dini, Om Huda, Om Haho, Om Yan, Om Aries, Om Samsul, Om Djoko, Cakapid, suwun sanget ngeh. Special my hubby, Om Ridho, Love U Full Jek !.


Senin, 28 Mei 2012

Bersama Tanam mangrove di 917 tahun Surabaya


Kembali bersama GTS (Gowes Tetap Semangat), aku dan keluargaku belajar mencintai alam. Minggu itu, 27 Mei 2012, tiga hari menjelang hari H, Ulang Tahun Kota Surabaya tercinta, 30 Mei. Hari itu ada gelar rangkaian peringatan Ultah Surabaya. Tanam mangrove di areal bantaran sungai sekitar Ekowisata Mangrove Wonorejo. Ada sekitar 12 ribu pohon mangrove yang siap untuk kami tanam.

Karena acara tanam mangrove ini adalah event pemkot Surabaya, maka bisa dipastikan ibu walikota hadir. Meski terlambat karena padatnya rangkaian acara peringatan hari jadi kota Surabaya, akhirnya Bu Tri Risma Harini datang juga. Wah meski kami ini pesepeda tangguh karena sering kepanasan di jalan, namun kalo kepanasannya sambil diam mematung ya lumayan juga rasanya. 

Lepas apel pembukaan, mulailah acara tanam mangrove. Dengan diawali nyebang sungai dengan perahu karet tanam bibit mangrove yang sedemikian serunya menjadikan kami bahu membahu saling tolong menolong. Inilah bukti kebersamaan kami mendukung terciptanya alam yang hijau. 

Usai tanam mangrove, giliran makan siang. Wadah, panitianya minta di slentik ne…. masak peduli lingkungan tapi kotak makannya dari stereofoam. Please jangan di ulangi lagi ya….kan gak bisa di daur ulang. Membahayakan lingkungan tuh !

Eh ternyata ada rejeki lagi lo… kita bergeser ke sisi lebih dalam. Ada syukurannya Om Wawan Sumbawa dari Komunitas Nol Sampah. Tapi sebelumnya sempat juga istirahat diantara tambak dan rimbunnya tanaman mangrove. Wah keren abis. Makasih ya… udah ngajak kita tanam mangrove. Pengalaman yang tak kan kami lupakan.



Jumat, 18 Mei 2012

Gowes Nekat (Hutan Jati Dawar Blandong Mojokerto)



Hari itu, kamis 17 Mei 2012. Tanggal merah libur Kenaikan Isa Almasih. Sebetulnya buanyak agenda kegiatan namun aq terpaksa gak ikut karena ada rencana luar kota urusan kantor. Eh ternyata ditunda. Terpaksa bikin acara berdua saja. Karena gak punya tujuan pasti, akhirnya kami berdua memutuskan gowes kemana roda mengelinding. Maksudnya sih lebih pada bergerak aja toh kalo kesasar ‘kentongannya’ bisa dibunyiin.

Keluar dari garasi tepat pukul 05.30 (siangan kerena harus nyiapin masakan buat Jagoan kecilku yang ditinggal di rumah). Perjalanan dimulai dari arah Gunungsari Ke Wiyung. Lurus aja kearah barat sampai masuk wilayah Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik. Notok tok pertigaan, belok kiri kearah Kedamean. Wah mulai bertemu banyak kendaraan besar, maklum didaerah ini banyak pabrik. Sampai akhirnya sebelum Polsek Kedamean, kami ambil jalur ke kanan. Waduh….. pemandangannya makin ciamik !

Belum berapa lama, pemandangan cantik waduh Kedamean menghadang. Walah, seger bener. Rasanya pengen cangrukan lama di situ. Apalagi ada warung kecil di dekatnya. Cuma karena masakannya belum mateng, terpaksa bergerak lagi sambil mencari tempat serapan. Baru 2 menitan dari Waduk Kedamean eh, ketemu lagi dengan waduk yang gak kalah cantiknya Waduk Tanjung. Nah disebelahnya ada lagi waduk. Namanya Waduk Belahanrejo. Total kami ketemu 3 waduk ciamik hanya dengan jarak yang relative dekat di wilayah Kedamean Gresik.

Berhenti hanya foto-foto saja, perjalanan kami lanjutkan kembali. Mulai asyik ketemu hutan jati. Sayangnya pohon jatinya relative masih muda. Nah…. Karena sepanjang perjalanan gak ketemu warung buat sarapan, akhirnya kami nekat berhenti di tengah hutan ini. Buka bekal roti manis dan alhamdulillah ternyata tempat kita berhenti ini tempat jualan es tebu hijau. Penjualnya baru datang. Jadi lumayan lama nunggu es tebunya siap di minum. Ah… segernya sepadan dengan lamanya menunggu.
Lanjut…..
Mulai perjalanan dengan bayak tanjakan dan turunan meski gak ekstrim. Asyik. Ketemu tegalan penuh dengan tanaman lombok. Juga petani yang memanen hasil ladang. Mulai dari ketela, labu, bengkuang dan lain-lain. Stttt…. Sambil bergaya seperti fotografer, aku juga sempat ngobrol dengan mereka. Banyak curhatan yang bikin sesek juga sih…. Bayangkan, saat panen melimpah jayak begini, harga lombok Cuma Rp. 3.000,- perkilonya. Akibatnya banyak hasil panen mereka yang dijemur saja. 

Sampai akhirnya sampai di perempatan pasar Dawar Blandong. Mulai agak kebinggungan. Lanjut atau balik ya….. akhirnya mampirlah ke Polsek Dawar Blandong yang kebetulan bersebelahan dengan kantor kecamatan Dawar Blandong. Alhamdulillah setelah ngobrol ngalor-ngidul dengan petugas SPK ada beberapa arah pulang dengan masing-masing konsekuensi rutenya. Kami memilih melintasi Hutan jati yang lebih eksotik. Pilihan itu dilakukan dengan pertimbangan jalur dalam dan tidak bertemu banyak kendaraan besar. Selain itu jalur ini juga ada hutan kayu putih termasuk pabrik penyulingan minyak kayu putih. Jiah…pasti pesonanya tak tergantikan. Selain keindahan jalur Hutan Jati, pak Nur petugas SPK Polsek Dawar Blandong ini juga mengambarkan kondisi jalanan yang rusak. Tapi ah… gak papa lah… anggap aja offroad. Hahahaha…..

Dan ternyata benar… jalananannya rusak dan sempit. Terpaksa kami bergantian dengan truck, mobil pribadi dan juga sepeda motor. Berkali-kali berhenti untuk foto-foto. Akibatnya pengguna jalan lainnya sempat bingung melihat tingkahku dan suami. Soalnya memfotonya juga sampe nungging-nungging juga. Hahahaha…..

Wah pemandangan dari atas bukit ternyata sangat indah, meski tidak setinggi Sumber Tetek Pasuruan. Jalur yang kami lalui untuk kembali ke Surabaya memang lebih jauh. Memutar. Tapi ndak apalah, yang penting nyampai rumah dengan pengalaman yang takkan terlupakan. Akhirnya jalur yang kami lalui adalah wilayah Wringin Anom Gresik yang tembus sampai Karangpilang Surabaya. Karena bawa lombok buanyak, kami sempat mampir di rumah nTe Iin untuk berbagi informasi. Saya dan suami bercerita Hutan Dawar Blandong, sementara nTe Iin dan suaminya om Huda, bercerita hasil survey di Nongkojajar-Pananjakan, yang insya allah menjadi target GTS berikutnya.
Wah total 85,75 km lengkap dengan teparnya suamiku tercinta. Hahahahahaha tepar lagi-tepar lagi….. kurang sepedahannya tuh Yang…..