Minggu, 25 Maret 2012

36 jam bersama GTS dan DISTRO dalam jalinan SAHABAT SEPEDA di event Sambang Sahabat


Tak ada ungkapan yang tepat untuk mengambarkan bagaimana rasanya bersepeda dengan rute Surabaya – Batu Malang PP, selain Luar Biasa.
 
Berdua dengan suami tercinta, Om Ridho Tjahjono, sabtu pagi itu, aku bergerak menuju taman Pelangi Surabaya. Di tikum ini sudah ada Om Edi Zulkarnaen. Berikutnya Om Riza Putra ‘RCM’ dan Om Cakakpid Celu’ane. Berlima dengan semangat pejuang kemerdekaan (hahahaha) meluncurlah kami menuju Alun-alun Kabupaten Sidoarjo. Di wilayah Aloha, bertemu Om Sapto Wibowo dan Om Muhamad Afirin ( PIC Distro yang masuk kategori ‘siaga 1’. Sehingga tidak bisa ikut gowes sambaing sahabat). Akhirnya sampai di Alun-alun Kabupaten Sidoarjo sisi Timur. Satu persatu peserta Sambang Sahabat berdatangan. Om Jonis Jo, Om Sandi San, Om M.Guruh Hanafia, dan Om Haho Iki Susanto. Setelah berdoa demi kelancaran perjalanan Touring Sambang Sahabat, bergeraklah kita kearah tujuan, Batu Malang. Sampai di Tangulangin, rombongan kembali bertambah, Om Aris Rusdianto dan Om Ratna Tri Martono. Om Muhamad Arifin, balik kanan. Ber-dua belas, dengan Marshall Om Edi Zulkarnaen, semangat mengebu menuju Batu Malang.

Pemberhentian pertama adalah RM Mojorejo Pandaan. Sarapan bersama untuk peserta yang belum sarapan pas berangkat. Sementara yang sudah sarapan dengan setia menanti di Mushola setempat. Setelah sarapan, kembali kita melanjutkan perjalanan. Saking semangatnya. Om Marshall Edi Zulkarnaen sampai kelupaan membawa tas rangselnya. Untung ada Om Haho yang tanggap langsung di canklong sambil menggoda si empunya tas rangsel.
Perjalanan semakin asyik. Mulai dengan tanjakan alus sampai tanjakan kasar. Menjelang Lawang Malang, otot paha Om Ridho mulai bermasalah. Maka, sebelum kram parah, Om Ridho mulai berhati-hati gowesnya. Dan karena gak mau kehilangan seperti kasus Touring Jolotundo, aku tetap setia menemani suami tercinta. (hahahaha). Tapi aku tidak hanya dengan Om Ridho. Kami juga di temani Om Haho dan Om Sapto. Sampai akhirnya tas rangsel yang berisi Tool Kit berpindah pundak, ke Om Haho. Di masjid Al Ihklas depan Rumah Bersalin Siti Miriam, kita beristirahat sambil sholat dhuhur. Selesai istirahat, perjalanan dilanjutkan. Sempat berhenti di sebuah warung makan sederhana dengan menu rumahan, Sop dan ayam goreng. Wuih… nyam-nyam…. Sayang Om Hanafi terlanjur ngebut. Jadi kelewatan dan gak ikut makan siang. Lumayan, perjalanan berikutnya ada bonus turunan yang lumayan panjang. Sampai pertigaan Bentoel, kami ambil jalan ke kanan. Langsung menuju Batu. Wuih sejenak jalanan datar, kembali kami dihajar tanjakan. Baik tanjakan mesra maupun tanjakan kurang ajar. Buat aku dan Om Ridho, tanjakan sangat-sangat menghajar kami. Kalau awalnya hanya om Ridho yang tepar, kali ini aq juga mulai ngos-ngosan. Gowes sedikit trus istirahat. Ada juga yang terpaksa nuntun. Sampai akhirnya sampai juga di pintu masuk Kota batu. Wuih….. Lega banget. Tapi ternyata kelegaan itu hanya sesaat. Tanjakan semakin mengila. Semakin berat rasanya kaki ku. Dengan terpaksa aku merelakan (meminta) Om Sapto dan Om Haho untuk meninggalkan kami berdua. Dengan tegas aku meyakinkan mereka bahwa kita akan ngumpul lagi di Alun-alun Batu. Ternyata keinginan ini, terpaksa harus kami, aku dan Om Ridho kubur. Dengan rasa malu yang ku pendam dalam-dalam, aku sms Om Bonnie Meidianto yang saat itu sudah berada di Finish karena berangkat Loding dengan nTe Santy, Om Dimaz Zamid dan Om Paulus Djoko, untuk mengevakuasi kami berdua. Di pikiranku terngiang kuat pesan Om Sapto, ‘jangan memaksakan diri. Jika memang yakin harus di evakuasi, ndak papa di evakuasi. Harus bisa mengukur kemampuan diri sendiri’
Setelah beberapa waktu menunggu, tim evakuasi datang. Om Bonnie dan Om Dimaz senyum melihat aku yang ndosor di pinggir jalan. Ndak terasa menangis aku melihat kedatangan dua sodara dari GTS mengevakuasi kami. Sambil terus membesarkan hatiku, Om Bonnie membawa kami ke Finish ( villanya di Batu). Saat melewati Rombongan Sambang Sahabat yang sudah sampai Alun-alun Batu, rasanya pengen turun dan bergabung dengan mereka. Tapi aku cuma sempat melihat Om Jonis memberi kode agar langsung saja menuju finish dan istirahat.
Setelah sampai di finish, senyum nTe Santy dan Om Djoko melegakan hati kami. Kurang dari satu jam, rombongan Sambang Sahabat nyampai finis. Om Sandi San yang terakhir datang karena kesasar.Maklum bujangan satu ini sekalian observasi.
Malam itu, kami gak bisa langsung tidur. Buka karena gak ngantuk atau gak ada tempat. Tempat sih buanyak. Ada enam kamar besar-besar. Ada sofa besar-besar juga. Kami juga sudah ngantuk. Tapi ngobrol sambil tukar cerita sambil saling gojlok membuat kami sedikit melupakan rasa capek dan njaremnya tanjakan yang baru saja tertaklukan. Akhirnya seakan masih kurang melahap tanjakan, diputuskan NR ke Alun-alun Batu sambil nyari makan malam. Trus bagaimana dengan aku dan Om Ridho ? hehehehehe ternyata ada dua sepeda motor yang bisa kami manfaatkan. Aku dan Om Ridho berboncengan. Di sepeda motor satunya ada Om Hanafi dan Om Sandi. Lainnya bersepeda. Setelah kenyang makan malam, kami langsung kembali ke Villa. Aku sempat nyeret Om Sapto. Suhuku ini juga ‘sedikit’ tepar. Kecapekan ngawal aku dan Om Ridho kali…. Maap ya Om Sapto.

Akhirnya, pagi-pagi seusai semalaman istirahat, kami mulai siap-siap meluncur ke CFD Kota Malang. Pasukan Sambang Sahabat siap berangkat. Ternyata satu orang tidak ada ditempat. Om Paulus Djoko. Selinya ada tapi orangnya gak ada. Tim SAR pun di terjunkan. Setelah menyisir seluruh areal Villa yang lumayan gede, akhirnya si Om yang imut ini ditemukan dalam kondisi tidur pulas. (hahahaha untung gak ilang beneran) Setelah narsis-nasis, meluncurlah Full Rombongan Sambang Sahabat. Nah pas pulang inilah satu dari anggota Sambang Sahabat, Om Haho pamit pulang lebih dulu karena ada kabar putranya sakit. Semoga adek sudah sehat lagi ya…..Suhu gowes dengan dengkul XTR inipun melenggang sendirian kembali ke Surabaya. Ketemu lagi di event berikutnya ya Om….
Ternyata benar. Setiap ada tanjakan pasti ada turunan. Werrrr….. nyampe jalan Ijen Kota Malang lokasi CFD hanya dalam waktu tak lebih dari 30 menit. Gak sumbut sama lama nanjaknya. Meski tidak banyak yang bersepeda dan lebih banyak yang jalan kaki, tapi  suasananya asyik banget. Ketemu juga dengan sahabat dari alumni SMAN 16 Surabaya, teman-temannya Om Bonnie dan Om Jonis. Bukan Sahabat Sepeda kalo ngak bernarsis ria. Naik panggunglah kita. Bercerita tentang aktifitas bersepeda dan Touring Sambang Sahabat. Dan lagi dapat sahabat baru juga. Pasukan bersepeda dan Pasukan bersepatu roda dari jajaran Satlantas Polres Malang. Kembali berfoto bersama. Sampai akhir waktu di CFD Malang, kami hanya bertemu dengan Om Tito, Goweser dari Malang. Makasih ya udah nyempatin ketemu kita di CFD Malang. Bergerak wisata kuliner dengan sponsor sahabat dari alumni SMAN 16 Surabaya yang tinggal di Malang. Jalan Kawi menjadi tujuan. Nasi Bok khas Madura. Wuih Kenyang Jek. Makasih ya Om dan Tante alumni SMAN 16 Surabaya.
Perjalanan kembali dilanjutkan. Kembali ke Surabaya. Tapi insiden yang seharusnya bisa tak terjadi, harus terjadi. Sepedahku oleng ketika tidak dalam keadaan digowes. Lho kok ? saat menyebrang, mungkin karena bagasiku keberatan, ban belakang ngobit dan ban depan keangkat. Karena posisi kakiku juga gak stabil, ngulinglah aku kearah kiri. Gubrak….! Alhasil dengkul kiriku lecet-lecet. Gak parah sih lecetnya, tapi efeknya nyeri dan sakit buanget. Untung para Arjuna siap siaga. Om Aris langsung angkat bagasiku dan Om Jonis langsung memeriksa kondisi sepedahku. Om Sapto dengan obat-obatan. Mantap sekali kesiagaan para Arjuna ini. Setelah aman, perjalanan dilanjutkan kembali. Eh ternyata fisikku kembali menjadi penghambat perjalanan. Hanya tanjakan mesra yang tidak terlalu tajam di wilayah Lawang. Tapi ternyata tak mampu aku taklukan. Dengan tenang, Om Jonis memberikan dorongan. Itu juga belum memberi hasil maksimal. Aku sampai merasa malu banget sudah merepotkan. Tapi semua masih memberiku semangat dengan tulus. Akhirnya sepedahku di preteli sama Om Jonis. Bagasiku dipindahkan ke sepeda Om Jonis. Sebetulnya kasihan Om Jonis. Dengkul kanannya juga sudah njarem tapi dengan santai, Arjuna satu ini bilang ‘tenang aja nTe. Setelah ini, njenengan pasti lebih banter. Kalo saya masih kuat kok bawa bagasi ini’. Wuih…. Dengkul XTR  Jek.

Ternyata benar. Begitu bagasiku berpindah, beban genjotan kakiku jadi ringan dan werrrr …. Aku bisa mengikuti irama bersepeda tim Sambang Sahabat. Tak terasa, saatnya berhenti di sebuah masjid yang masih dalam tahap pembangunan. Namanya Masjid 10 Nopember di wilayah  Purworejo. Disini kami istirahat sak blengere. Sampai tidur-tidur segala. Sempat melahap semangkok bakso Granat. Wuih baksonya guede….. kenyang. Lanjut perjalanan…… Setelah turunan habis, saatnya jalanan datar. Tapi karena irama sudah ketemu… tetap saja kecepatan penuh. Tiba di masjid Cheng Ho. Bertemu lagi dengan Om Paulus Djoko. Istirahat dan narsis jaya lagi. Sayangnya Cakapid sudah meluncur ke Gempol Porong karena mampir kerumah keluarga. Om Bonnie juga belum bisa bergabung karena masih baru meluncur turun dengan mobil evakuasi. Alhasil foto narsis kami kurang lengkap personilnya. Lanjut, dengan irama gowes yang mulai seirama, akhirnya sampai di wilayah kekuasaan Om Aris, Tanggulangin. Istirahat minum es degan yang sudah jadi kelapa. Hahahaha… eh Om Dimaz dan Om Ridho saat pulang ini kayak jadi soulmate dech…. Saling tukar sepeda. Akhirnya berdua jadi juru kunci. Om Ridho lututnya agak nyeri dan Om Dimas keberatan sepeda. Sepedanya Om Ridho kan abot banget. Megap-megap dech si Om Dimaz. Tapi Tetap Semangat !
Setelah cukup istirahat, perjalanan dilanjutkan kembali. Om Aris belok kiri menuju rumah. Yang lain menuju finish Alun-alun Sidoarjo. Berikutnya di wilayah Candi, Om Ratna Tri Martono belok kanan, menuju kediaman. Si Om yang pendiam ini ternyata juga memiliki dengkul XTR. Diam-diam jago tanjakan juga. Tanpa megap-megap melahap habis setiap tanjakan. Mungkin karena bekal yang di siapkan nTe Tio ya Om Tri….. Salam buat keluarga ya……
Dengan irama yang semakin solid, tim Sambang Sahabat berhasil mencapai finish di Alun-alun Sidoarjo. KEREN !
Sambil beristirahat, akhirnya dimulailah proses loding untuk sahabat sepeda yang tinggal paling jauh. Om Edi Zulkarnaen, nTe Santy dan Om Paulus Djoko. Dengan didukung sponsor tunggal Om Bonnie. Makasih ya Om Bonnie…. Sampaikan juga ke nTe Lia dan anak-anak.
Setelah selesai evaluasi dan doa. Meluncurlah kami pulang. Om Jonis menuju kearah timur dari Alun-alun Sidoarjo Karena bagasi  sudah kembali bertengger di sepedaku… lajuku mulai sedikit berkurang.ditambah kondisi yang sudah lumayan capek. Om Sapto, Om Hanafi, Om Dimaz, Om Riza dan Om Sandi meluncur di depan. Saya dan Om Ridho di belakang. Akhirnya tinggallah empat personil. Om Hanafi dan Om Sapto menunggu kami di depan Giant Waru. Setelah itu kita mulai berpencar. Om Sapto kearah timur menuju Rewwin. Om Hanafi kearah barat menuju Kletek. Aku dan Om Ridho tetap meluncur kearah Utara. Lepas bundaran Waru, kami memilih lewat jalur dalam..Dukuhmenanggal, masjid Agung Al-Akbar, Kebonsari, Jambangan dan finish di rumah Karah. Menjelang perempatan Pagesangan kami sempat berhenti, karena ada penjual boneka Shaun The Sheep. Hehehehe Om Ridho sengaja beliin buat pengobat capekku katanya. Sip. Buat nambahin koleksi bonekaku. Disini, kami juga jadi           artis lagi. Si Penjual boneka tertarik dengan penampilan kami dan mulai bertanya-tanya soal harga sepeda yang dipake Om Ridho. Jadi tebar racun dech…. Alhasil dapet bonekanya jadi lebih murah. Lumayan. Setelah selesai ‘ramah tamah’ perjalanan dilanjutkan. Sempat juga mbungkus makan malam sebelum akhirnya sampai dirumah tepat pukul 17.40 menit. Bangga rasanya dengan total 198 kilometer, lengkap dengan tanjakan, turunan, nuntun, tepar, evakuasi dan indahnya persahabatan Sahabat Sepeda !

Senin, 30 Januari 2012

Jolotundo….Semakin Koplak Deh….

Event gowes akhir pekan kemarin memang diluar perkiraan. Berbekal informasi dari broussing internet dan cerita beberapa teman, ternyata medan tidak bersahabat seperti dalam bayangan. Jujur saya sulit menemukan kata atau kalimat yang tepat untuk menggambarkannya. Hanya ada satu keinginan di batin saya, semoga saya ndak semakin koplak saja.

Seperti yang sudah saya tulis di note terdahulu (sumber tetek..wow), minggu 29 Januari 2012 kemaren, aku dan banyak teman bergerak ke pemandian Jolotundo. Lokasi tepatnya, adalah di wilayah sisi barat daya lereng gunung Penanggungan. Pagi itu setelah bertemu teman-teman GTS dan B2C Unesa di Taman Pelangi Surabaya, kami berenam bergerak ke Alun-Alun Kabupaten Sidoarjo. Disini sudah berkumpul juga teman-teman dari B2W Sidoarjo, Distro, Albatros, B2S Candi dan sebagian B2C Unesa. Hampir 30 an orang siap meluncur ke Lokasi Pentirtan Prabu Airlangga. oh ya… di Touring Jolotundo ini aku ndak lagi perempuan semata wayang. Ada Simbok Poncokusumo dan nTe Rizka dari b2C Unesa yang bergabung. Duh senengnya da teman sejenis (hahaha…….) Setelah doa yang dipimpin om Pri dari Albatros, meluncurkah kami menuju lokasi.


Memilih melewati jalur dalam agar tidak banyak bertemu kendaraan besar. Lewat wilayah Krembung dan Ngoro sampai ke PPLH Seloliman. Pada awalnya medan memang sangat bersahabat, kami melalui kebun tebu dan pematang sawah yang hampir panen. Asyik banget.sampai akhirnya sampai jalanan yang terus menanjak. Belum ekstrim tanjakannya. Masih bisa ditaklukan dengan “kesabaran”. Tapi jalur panjang menanjak yang sebarengi kendaraan yang melaju sangat kencang, menjadikan kami harus ekstra hati-hati dan waspada. Di jalur yang seakan tiada habisnya inilah, Om Toni dari B2C Unesa harus menerima kenyataan di sruduk dari belakang pembalap nekat. Bagaimana gak nekat, wong masih usia smp. Wah RD sepeda om Toni patah. Terpaksa dimutilasi rantainya dan di jadikan single speed. Betis kana nom Toni juga mengalami luka robek. Untungnya tidak parah. Perjalanan bisa dilanjutkan kembali. Yang tak kalah menggagetkan, ketika sebagian dari kami beristirahat, ternyata di balik batu ada ulat yang sedang beranak. Waduh ada yang hampir ngigit om Bonnie.(ini cerita om Jonis Jo dan om Ridho. Soalnya aku berada jauh di depan rombongan ini) Di jalur yang belum menanjak ekstrim ini pun, dua sodara sejenis saya, simbok poncokusumo dan nTe Riska, harus menyerah pada alam. Terpaksa banyak nuntun karena gak kuat nanjak. Seandainya aku berbarengan kelompok dengan para Srikandi ini, aku bisa juga tepar. Untungnya aku bersama om Huda, om Edi Zul dan om Aries, menemani adik-adik dari B2S Candi Sidoarjo. Dengan nafas yang hanpir putus, aku tatap gowes  meski tidak lebih cepat dari berjalan kaki. Om Aries bahkan sempat nyengir mengomentari statmenku…”Mosok gak nyampe tah mbasio kalem-kalem”. Doping semangat dari ketiga Arjuna inilah ( Om Huda, Om Aries dan om Edi Zul) yang terus memompa semangatku.  Memang aku sempat berpisah jarak yang lumayan jauh dengan om Ridho, suamiku, jadinya ketika ada moment foto-foto, aku hanya dapat memphoto si blue sepedaku dan pemandangan alam yang sangat cantik.

Setelah sempat istirahat beberapa kali, sekitar pukul sebelas siang, aku, om Huda, om Aries dan om Edi Zul bersama adik-adik B2S Candi sampai juga di pintu masuk PPLH Seloliman. Dari Lokasi ini kurang lebih “hanya” 500 meter sampai di gerbang Candi Jolotundo.tapi Nanjak. Ekstim lagi. Di Lokasi inilah kami bertemu om Pri dan teman teman lain dari B2C Unesa. Hampir satu jam kami menunggu rombongan di belakang kami, tapi tidak datang juga. Karena tidak mendapat signal Hp. Akhirnya kami naik menuju ke Candi Jolotundo dengan harapan nantinya bisa berkumpul di atas. Sayangnya sampai dengan selesai berendam dan photo-photo, aku tidak menemukan om Ridho suamiku sampai finish. Akhirnya aku hanya bisa membawakan air dari sumber Jolotundo yang konon (jika percaya) bisa membuat orang awet muda buat om Ridho. Oh ya, di pemandian Jolotundo ini aku sempat berendan juga lho… meski tidak membawa baju ganti, akhirnya aku nekat pinjam sarungnya Om Sapto. Wuh sueger baget. Semoga bisa awet muda. Seperti mitosnya. (Amien)

Akhirnya pulang, turunan yang sangat ekstrim menjadikan kami tidak melakukan DownHill. Bisa-bisa pulang tinggal nama. Begitu sampai di gerbang masuk Candi, ternyata ada Simbok Poncokusumo dan Suami tercintaku menunggu di situ… weh leganya melihat semua aman. Setelah sempat berfoto bersama dan bahkan bikin foto prewed lagi dengan bantuan om Huda, meluncurlah kami pulang. Masih harus di tuntun lagi sepedahnya, karena medan masih sangat ekstrim. Setelah dirasa jalur sudah bisa di turuni, meluncur para pesepeda nekat ini. Sayangnya ditengah perjalanan, hujan yang sangat deras menemani perjalanan. Dengan berselimutkan jas hujan kami terus membela jalanan menuju rumah masing-masing. Rombonganku ( Om Huda, Om Edi Zul, Om Ridho (kali ini aku ndak melepaskan suamiku sendirian, bisa ilang dia. Wkwkwkwk…..) dan om Hanafi sempat berhenti di sebuah warung di wilayah Jasem. Sempat memberhentikan om Sapto dan seorang anggota b2C Unesa. Makanlah kita…. Luaper banget. Dan rejekinya, masya allah, sudah enak. Murah lagi. Sepiring makan porsi besar di tambah segelas teh manis panas, Cuma 6.000 rupiah. Joss dech.
Selesai makan-makan dan istirahat, masih di iringi hujan, kami bergerak pulang. Beriringan. Setelah berpisah dengan om Sapto karena harus menunggu rombongan B2C Unesa yang lain. Setelah hanya berlima dan menerobos jalan persawahan, aku jadi ingat sebuah kelompok detektif, lima sekawan. Tingkah kami berlima persis kayak petualangan lima sekawan. Setelah sampai di wilayah Puspa Agro, aku baru sadar om Ridho suamiku tertinggal jauh. Tanpa diketahui teman yang lain, aku berhenti dan menunggu. Ternyata om Ridho tepar. Kelelahan yang teramat sangat. Akhirnya hanya kami berdua berjalan pelan-pelan. Akhirnya pas bedug Isya, kami berdua sampai depan garasi rumah karena sempat berhenti dulu mbungkus makan malam.

Sampai rumah, mbersihkan sepeda, merendam baju yang penuh lumpur, mandi dan makan, trus istirahat. Total 97 kilomenter. Berangkat dari rumah jam 5 pagi pulang jam 18.30. wuih….. meski  ‘Lulus’ Jolotundo, aku  tidak keberatan untuk mengantar suamiku, om Ridho, buat ‘perbaikan nilai’. Bukan begitu pak dosen, Om Sapto Wibowo….?

Terima kasih GTS, terima kasih Distro, terima kasih B2W Sidoarjo, terima kasih Albatros, terima kasih B2S Candi, Specially Thanks to B2C Unesa. Petualangan Sehari yang Sangat Berkesan.

Minggu, 22 Januari 2012

Sumber Tetek…..WOW

Lama banget aku gak nulis. Setiap kali aku pengen nulis, jagoan kecilku, Kresna, selalu bilang,  “Bunda, kali ini biar Kresna yang tulis notenya ya…” Masak royokan ma bocahku sendiri…gak lucukan….(hehehe &hellipwink Nah sekarang waktunya aku yang nulis, karena event kali ini, si Bocah gak ikutan.

Lama rasanya aku dan suamiku ndak gowes jarak jauh… ( sampai lupa rasanya….hehehe  Setelah aku sampaikan ke teman-teman baik di GTS ( Gowes Tetap Semangat ) atau di DISTRO ( Distrik Ronggeng ), akhirnya ada beberapa pilihan. Candi Belahan/Sumber Tetek-Gempol Pasuruan, Jolotundo-Seloliman Trawas Mojokerto, Pantai Delegan-Panceng Gresik, dan lain sebagainya. Banyak juga teman-teman yang siap mengawal. ( hehehe  ….begini lho enaknya jadi perempuan semata wayang ).Karena banyaknya pilihan, akhirnya aku dan suami putuskan melaksanakan banyaknya pilihan tujuan gowes tersebut secara bertahap. Dan minggu 22 Januari 2012, kami meluncur ke Sumber Tetek atau Candi Belahan di wilayah Gempol Kabupaten Pasuruan. Dari Surabaya sih estimasi jarak tempuhnya 47 kilometer. Jadi kemungkinan pulang pergi 94 kilometer.

Minggu 22 Januari, akhirnya kami berangkat dengan semangat mengebu. Dengan total sebelas personil (gabungan dari Distro, GTS, Arbatros (bener gini ejaannya ?) dan B2W Sidoarjo) kami berangkat dari titik kumpul Alun-Alun Sidoarjo sekitar pukul 6 pagi. Setelah doa bersama, langsung kita meluncur dengan marshall Om Ardimini Distro. Selama awal perjalanan sih asyik-asyik aja. Masuk Jalan Raya Porong/Tanggul Lapindo lumayan padat (maklum liburan). Lepas Jembatan Porong, ternyata Om Ardimini Distro belok kanan dan kami lurus. (hahaha  ….terpisah dech..). untungnya ada Om Ilul dari Distro dan teman-teman dari Arbatros yang sudah pernah ke TKP. Jadi kami tetap meluncur ke tujuan. Terpisah dengan Om Ardimini Distro juga baru kita sadari, setelah kita akan belok kanan menuju TKP. Sempat ketemu Om Samsul Huda dari Mujahidin, yang nyusul kita karena telat ketemuan di titik kumpul. Tapi ternyata Om Samsul terlalu asyik sama musik di earphonenya. Jadi sekuat apa kita teriak manggil, Om Samsulnya ya gak denger. (wkwkwk….)
Begitu belok kanan masuk wilayah Dusun Jeruk Purut, aku sempat tanya, jalanannya mulai nanjak ya…. Eh semua pada koor menjawab “….TIDAK…” ternyata jalan paving semakin menanjak dan menanjak. Sampai pavingnya habis. Begitu sampai di jalanan berbatu baru kami sadar, anggota  rombongan hilang dua orang lagi. Om Haho dan Om Jonis. Tapi biarlah…udah gede juga. Lagian mereka da senior banget. (hahaha  …..). Sepanjang perjalanan, penuh dengan narsis-narsis, mancal dan nyurung/nuntun berjamaah. Hahaha  ….. para seniorku mbohongi aku…medan menuju Candi Belahan sangat-sangat ektrim. Berbatu-batu lagi. Akhirnya di pertigaan habisnya jalan yang sedikit  bagus dan harus melewati jalan berbatu yang hancur banget, disinilah tim ketemu dan lengkap kembali sebelas orang. Cuma Om Jonis dan Om Haho sempat sesasar tiga kilometer. Nanjak lagi. Mereka juga bilang jalur yang harus mereka lalui uedan tenan. Tebing curam yang sewaktu-waktu siap longsor karena pasirnya di tambang. Dan dua raja jalanan itupun harus menyerah pada alam. Nuntun di tanjakan yang mereka lewati. (hahaha  ……..)

Di sini kembali aku bertanya, “…Om masih tajemnya nanjaknya…?” eh dijawab lagi…”TIDAK” “cuman dikit kok nTe, depan itu da nyampai..?” senyum manis om Pri dari Arbatros meluluhkan rasa capekku.
Eit, ternyata aku dibohongi lagi. Masih juauuuh banget !. Dan terjadilah nuntun berjamaah lagi. Di jalur hampir akhir ini, suami tercintaku, Om Ridho tepar juga. Paha kanannya kram. Sempat hampir jatuh menjelang finish di Candi Belahan. Tapi akhirnya nyampai dengan selamat semuanya.
Setelah cukup istirahat, cukup makan minum dan cukup narsis-narsis, akhirnya kita persiapan pulang. Eh beberapa teman menyarankan kita lewat jalur cocacola (karena lewat pabriknya).”….cuman nanjak dikit kok nTe…trus turun terus…”
Yo wes. Wong sudah sepakat kok… nancal lagi dan nuntun lagi. Tapi eits…. Tanjakanya gak cuma satu…..bertanjak-tanjak…. Waduh dibohongi lagi ni…..(sambil geleng-geleng). Sampai tanjakan habis-bis dan kita ada diujung paling atas dan bisa memandang jauh dibawah sana ada pemandangan yang subhanallah….. ciamik soro !

Nah saatnya turun, saatnya timbul masalah. Waduh….
Jujur diantara semua sapidah yang ikut touring kali ini, sepedaku salah satunya yang tidak pake rem cakram. Akhirnya dengan tekat membaja dan kedua tangan terus menekan rem sambil sesekali melepasnya, aku meluncur dengan sesekali berteriak kegirangan. Bayangkan, sekitar 50an km/jam kita meluncur turun dan berbelok-belok. Rombongan terpisah. Aku, Om Pri dan Om Sapto. Aman sampai akhir tanjakan setan itu. Nah rombongan berikutnya, harus mengevakuasi Om Wawan yang sedari awal sudah tidak safe !.

Bayangkan, kondisi rem sepeda om Wawan gak bagus blas. Gak pakem. Trus Om Wawan juga gak pake Helmet !. karena melaju turun dengan kencang, rem gak pakem, ndlosorlah si Om ini, mbabat ladang singkong lebih dari lima meter. Om Wawan mengalami “bocor tipis” dikepalanya dan si sebagian besar punggungnya lecet-lecet. Untung gak masuk jurang (kok masih untung ya…?) Si Om pun dinaikkan truck untuk dibawa ke lokasi pengobatan. Wuih….darah segar bok…! Untungnya aman. Om Wawan tidak sampai muntah dan maksa melanjutkan perjalanan pulang dengan tetep gowes. Dengan kondisi rem yang gak layak, roda yang sleat-sleot karena peleg bengkong dan gir depan hanya berfungsi yang paling kecil, pelan banget perjalanan pulang kita. Oalah alamat sampai sore nyampai rumah. Dan rombongan pun terpisah-pisah lagi. Om Pri sendirian karena tidak tau adanya musibah yang menimpah Om Wawan, rombongan kedua, Om Haho, Om Jonis Jo, Om Zul dan Om Arie. Trus terakhir rombongan ketiga, Om Sapto, aku, Om Ridho, Om Ardimini, Om Ilul dan Om Wawan. Jiah rombongan terakhir ini terseok-seok. Om Wawan kecelakaan dan Om Ridho kram kedua pahanya. Selama perjalanan sampai rumah hanya 15an kilometer perjam.

Wadah cuma 86 km perjalanan PP dari rumah dan Candi Belahan, tapi kondisi medannya benar-benar sensasional. Naik-turun dan ajrut-ajrutan. Dan edisi Sumber Tetek/Candi Belahan ini aku, nTe Arum serasa benar-benar jadi Om Umar. (hahaha   ………….) Tapi tetap saja selalu ada afterwed, keren kan.....

Berikutnya tunggu note petualangan Jolotundo bersama B2C UNESA minggu depan, Minggu 29 Januari 2012.

Jumat, 16 Desember 2011

Mercusuar Socah

“Masya Allah…”
“Banyak perempuan yang buang duit buat mutihin kulit, kamu kok malah mbakar kulit toh nDuk-nduk. Lihat itu paha dan lenganmu… belang ! seperti iklan di TV itu…!’
Sore itu, tampilan ku emang kuyu banget !. Capek setelah seharian gowes Socah jilid 2 bersama GTS (Gowes Tetap Semangat).


Minggu pagi itu, aku dan suami (Om Ridho) memang dibakar semangat gowes ke Socah Madura. Disana ada mercusuar peninggalan jaman Belanda. Menurut foto-foto Gowes to Socah jilid 1 yang pernah di share di FB nya GTS, sepertinya jarak dan medan ke Socah cukup menarik hati. Meski sebetulnya kondisi tubuh kurang fit, karena semalaman nyelesaikan pesanan coklat yang lumayan banyak, bayang-bayang Socah seakan membuang rasa capek itu.
Sampai di titik kumpul, Masjid Mujahidin Perak, masih kepagian. Pukul 05.45 WIB. Padahal, menurut rencana, kita kumpul jam 6 pagi. Eh ternyata jam 7 pagi, baru semuanya lengkap. Tidak banyak yang ikut. Cuma berlima. Aku, Om Ridho, Om Jonis Jo, Om Bonnie dan Om Edy Zul.
Setelah persiapan selesai, meluncurlah kami berlima ke penyebrangan Ujung, dengan pelepasan dari Om Samsul Huda yang gak bisa ikut gowes karena baru sembuh dari sakit dan di iringi gerimis rapat. Ah biarlah hujan, pokoke Socah, We are coming !

Naik kapal penyebrangan. Banyak mata melirik aneh. Mungkin karena aku rada norak. Maklum terakhir naik kapal feri, saat aku masih smp. Jadi ya begitulah… narsis.com dengan camera hp, Om Ridho membantuku jeprat-jepret. Eh Om Jonis  bawa kamera digital. Tambah Narsis dech……(hahaha) sampai di Kamal, perjalanan sesunguhnya dimulai. Awal sedikit menanjak.  Tapi kemudian weeerrr. Meluncur ! dalam hati aku sudah berfikir, wah nanti pulangnya pasti ‘nanjak’ sedikit juga. Walah……!

Menjelang pertigaan patung pejuang Socah, medannya lumayan nanjak. Rodo ngos-ngosan juga seh….. tapi lumayanlah. Apalagi denger komentar om Bonnie, “ Kayaknya boleh ni berikutnya jalur Cangar jilid 3” (Waduh kuat gak ya…….) lanjut sampai pasar Socah….masih dengan pandangan aneh dari orang yang bertemu di jalan, tetep dengan pede yang yakin, ku gowes sepedahku…. Eh om Bonnie kasih semangat asyik lho….. “Kayaknya Tim ini  cocok ne….. 5 Om siap Cangar jilid 3” (stttt om Bonnie lupa kali ya ada satu tante di sini…..)
Medan berikutnya lumayan kotor. Tanah kapur yang abis diguyur hujan semalaman. Blethok sana blethok sini. Walah….nyiprat semua ! Tapi kata ‘iklan’, offroad itu semakin kotor semakin baik…hahaha
Nah disinilah rekor kembali diukir oleh om Jonis. Setelah awal berangkat selalu menjadi yang terdepan, di medan nyiprati ini, om Jonis menjadi yang paling belakang. Karena ban sepedanya jenis yang kecil kayak buat sepeda balap (ukuran 125), jadi nyepedanya ati-ati banget. Sementara om Bonnie, om Edy Zul, om Ridho nyantai aja karena ban sepedanya emang buat offroad. Kalo aku ? Cuek juga….mananya juga emak-emak narsis, melihat ada kubangan malah di lewati dengan harapan semakin kotor. Hahaha
Diperjalanan, tetap saja narsis.com. ketemu anak-anak mencari ikan, berhenti foto-foto. Tapi anehnya mereka takut lihat kita ! ato tepatnya lihat aku kali ya….. wong difoto kok malah dorong-dorongan.Takut ada Lemboek kali ya…..(Lemboek itu tokoh perempuan yang biasanya muncul bersama punokawan, Bagong,Petruk,Gareng dan Semar. Badannya besar kayak aku….hahaha)
Akhirnya, sampai di Mercusuar Socah. Wah om Jonis  langsung pesan rujak petis khas Madura. Dan kami bertiga, om Ridho, om Edy Zul dan aku ikut juga. Cuma om Bonnie yang pesan rujak manis…nyidam ya om….(xixixixi)
Setelah narsis-narsis sambil nungguin om Edy Zul “jualan” Durian… perjalanan wisata kuliner dimulai. Warung Matus menjadi sasaran kami. Tapi sebelum sampai di Matus, mata elang om Jonis mendapatkan objek foto yang asyik banget…. Kita berlima dan sepeda kita ‘turun’ ke laut.

Narsis abis…..perjalanan dilanjutkan. Bersepeda dan makan-makan. Ehmmmmmm Ikan gurame dan kakap bakar plus sambel pencit dengan minum es jeruk kelapa dan susu soda n mega mendung. Waduh…..kenyang dech……
Setelah cukup istirahat, perjalanan pulang dimulai. Beda dengan perjalanan berangkat yang ditemai mendung dan gerimis mengundang, perjanan pulang kita diiringi teriknya sinar mentari. Walah… capek, kenyang, panas….teparkah aku.
Kalo pada saat berangkat, aku masih bisa stabil bersepeda diantara 4 orang Arjuna-nya GTS, pulangnya terpaksa paling belakang dan hanya ditemai om Ridho. (mana berani ni om ninggalin bininya sendirian. Hehehe)
Tapi begitu sampai di pintu masuk penyerangan kamal, om Edy Zul juga terlihat pucat. Tepar juga ni Om…… (kekenyangan yang berakibat pada perut yang yang terasa perih.orang Jawa bilang Suduk-en)
Akhirnya, kembali naik feri pulang ke Surabaya dengan harapan bisa beristirahat di kapal. Eh ternyata gak kebagian tempat. Sepanjang perjalanan kita berdiri di samping sepeda masing-masing. Walah……capek tenan. Sampai-sampai Om Jonis merelakan kaos putihnya jadi alas duduk. Dan tertidur pulaslah dia di tengan cuaca panas….(kok bisa ya…..? xixixixi)

Sebetulnya sudah muncul keinginan untuk beristirahat sejenak di Basecamp-nya om Edy Zul (Mujahidin) tapi kayaknya kalo berhenti ngowes bakal semakin terasa capek. Akhirnya sepakat langsung pulang ke rumah masing-masing.
Om Jonis yang menuju ke Sidoarjo langsung nyepit…. Om Bonnie juga. Tinggallah aku dan om Ridho…nyantai aja ah….. lewat jalur yang sedikit sepi….(Perak, Tugu pahlawan, Pasar Turi, Semarang, Pasar kembag, Diponegoro, Dr.Soetomo, Indragiri, Kodam (berhenti beli es tebu dan siomay buat oleh-oleh Kresna) langsung Karah)
Eh iya, pas lewat jalan Pasar Kembang, ada om dan tante berkerudung yang membunyikan klakson mobil yang melambai-lambakan tangan. (siapa ya…kayaknya kenal dech…..xixixixi)

Akhirnya nyampai rumah…. Eh Cuma 68 kilometer. Tapi WOW….plus narsisnya heboh

 Kenangannya takkan terlupakan. Terima kasih GTS.

Kamis, 24 November 2011

Bukan “Cuma” Bersepeda


“Bisa mbongkar BB gak Om”
Walah…. Baru juga sepedahan, sudah ditanya yang sulit begini……”Kalau sekarang jawabannya pasti gak bisa. Tapi beri saya waktu belajar. Lain waktu saat kita ketemu lagi, insya allah saya bisa mbongkar BB”

Istriku cuma cengar-cengir mendengar ceritaku sepulang dari CFD di Sidoarjo hari minggu itu. Dan senyumnya berubah masam ketika mendengar rencanaku mencoba membongkar BB sepeda emak-emaknya. Tapi setelah ku pastikan bahwa apapun yang terjadi aku akan bertanggungjawab, spontan senyumnya berubah jadi manis. “gak papa Yah. Bongkar aja. Kudoakan gak bisa pasang lagi. Tapi boleh reques selli gak ya…..” Doeng ! Tekor dong !!!!

Semenjak aktif bersepeda, permintaan isriku memang semakin aneh-aneh saja. Saya yang notabene berlatarpendidikan akuntansi, diharuskan belajar jadi tukang service sepeda angin. Katanya, “Malu Yah, kalo sepedahannya jarak jauh, tapi sepeda bocor aja gak bisa nambal”. Tapi masalahnya bukan hanya bagaimana menambal ban bocor. Kini tuntutannya beralih pada seluruh perawatan dan perbaikan sepedah kami bertiga. Saya, istri saya dan Kresna, putra semata wayang kami. Tapi ini memang sebuah tantangan baru yang harus bisa saya taklukkan.
Setelah awalnya hanya memiliki pompa tangan ukuran kecil, ternyata istriku justru nekat membelikan toolkit sepeda yang lumayan lengkap. Satu tas kecil, tapi berisi alat buat bongkar ban, tip-top, kunci pas, kunci L, tang, obeng, pemotong rante dan kunci spoke. “Gak mahal ni Dek ?”  dengan serius dia menjawab, “ Diskon 50 persen Yah. Mumpung murah. Belum tentu kebeli kalau gak diskon”
Nah ini masalahnya, sejak punya toolkit, saya yang kelabakan belajar sana-sini. Maklum, istri dan anak saya langsung mendaulat saya sebagai penanggungjawab beres tidaknya sepeda kami. Alasannya, berbagi tugas !. Istri menyiapkan seragam dan bekalnya. Sementara si Kresna menyiapkan tenaga. Biasanya sambil cekikikan dengan Bundanya, Kresna bilang, “Tenang Yah. Kalau pulang sepedahan tak bantu nyuci sepedahnya. Aku yang nyemprot air, ayah yang nyabun”. Kalau sudah begini dengan terpaksa ya harus diterima. Tapi tetap dengan senyum.
Profesi baru saya menjadi “Tukang Service Tiban”, sedikit banyak menjadikan saya harus rajin “belajar”. Karena ilmu baru, kadangkala ketika bersepeda bersama GTS (Gowes Tetap Semangat) atau DISTRO (Distrik Ronggeng) saya bilang saya bawa toolkit tapi gak bisa menggunakannya. (Benar saya berusaha belajar, .kadang via video di internet. Tapi kalau harus memperbaiki sepeda orang lain, walah…. Saya sama sekali tidak berani)
Beruntungnya saya, di komunitas DISTRO ada beberapa pakarnya bongkar pasang sepeda. Ada Cak Arifin dan Cak Ardimini. Termasuk juga adanya kegiatan workshop bongkar-pasang sepeda yang pernah dilakukan bersama adik-adik B2S  Candi Sidoarjo. Saya jadi bisa belajar gratis bersama ahlinya.
Ternyata tidak itu saja, Om Huda Muhamad dari GTS juga sangat berperan dalam proses belajar saya. Ketika saya curhat susahnya bongkar BB, Om Huda langsung menunjukan alat khususnya untuk membuka crank. Dengan senyum om Huda berkata, “ Tanpa membuka crank, gak mungkin bisa buka BB Om”. Alhamdulillah banyak teman banyak manfaat. Nah setelah dapat alat buka crank dan BB, ternyata ada lagi alat yang harus disiapkan, kunci pas dan kunci inggris.
Dengan senyum nakalnya kembali Kresna menggodaku, “Garasinya masih longgar lo Yah…. Buka Bengkel sekalian aja”

Ketika event Mojosuro 2011 lalu, manfaat membawa toolkit dalam perjalanan panjang benar-benar terasa. Banyak teman PESERTA Mojosuro yang harus menyetel ulang sepedahnya karena terkena hujan atau juga penyebab lain. Atau juga melakukan tambal ban karena bocor. Sekarang, kalau kami bersepeda dengan jarak yang lumayan jauh, kami berbagi tugas. Saya bawa semua perlengkapan/toolkit dalam rangsel saya, istri bawa bekal dan sejenisnya dalam bagasinya, Kresna tetep, bawa tenaga dan semangat.

Apapun masalahnya kalau kita mau belajar dan benar-benar belajar, insya allah akan ‘dimudahkan”

Minggu, 20 November 2011

Bersama Sang Presiden

“Hormat Grak”
Tiba-tiba saja serentak enam orang pesepeda dari Distri Ronggeng (B2W Sidoarjo) mengangkat tangan memberi hormat kepada mereka yang berada diatas panggung pelepasan peserta Mojosuro 2011. Dengan sertamerta Om Toto Sugito, sang Presiden B2W-Indonesia, dengan senyum khasnya, menyambut pemberian hormat tersebut.

Hari itu, Sabtu, 19 Nopember 2011.
Pagi hari Om Susantomo menelponku untuk siaran live mensosialisasikan kegiatan Gowes PP Mojosuro di Sindo Radio (dulu Trijaya FM), dengan harapan para pengguna jalan tidak kaget melihat adanya pesepeda yang gowes menuju Mojokerto. Ya,hari itu memang ada jadwal gerak jalan Mojokerto-Surabaya. Dan kami dari B2W ikut serta meramaikan dengan gowes. Bukan hanya gowes dari Mojokerto ke Surabaya, tapi juga Surabaya ke Mojokerto. B2W Sidoarjo sepakat gowes PP Mojosuro. Narsis di radio selesai, selanjutnya  mengecek ulang barang bawaan, berangkatlah kami, Om Ridho, Om Zul dan aku ke titik kumpul Gowes PP Mojosuro (depan Komp Brimob K-9 Medaeng Waru Sidoarjo). Diperjalanan bergabung juga Om Tjahyo. Sampai di lokasi tikum masih sangat pagi. Belum ada sahabat sepeda yang datang. Berikutnya satu persatu peserta mulai berdatangan. Yang mengembirakan, Presiden dan Menteri Dalam Negeri B2W-Indonesia mampir dulu (sebelum menyimpan barang bawaan dan dilanjutkan gowes bareng ke lokasi start Mojosuro)

Beriring-iringan kami meninggalkan Sidoarjo menuju Mojokerto, karena beberapa alasan, terpaksa rombongan kami bagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah semua goweser yang berkumpul di tikum Medaeng. Dan yang kedua adalah kelompok Distroyer (Distro) yang memberikan pengawalan khusus kepada Presiden dan Menteri Dalam Negeri B2W Indonesia. Alhasil semua peserta gowes PP Mojosuro baru berkumpul lengkap di wilayah Krian Sidoarjo. Kasihan Om Toto, karena ulah sopir mikrolet yang ugal-ugalan, hampir saja presiden kita ini keserempet. Untungnya Aman-aman saja.Setelah menghilangkan kaget dengan minum es tebu hijau, perjalanan kami lanjutkan namun kali ini di iringi hujan yang lumayan lebat. Untungnya jas hujan sudah dipersiapkan. Lanjut sampai di Mojokerto. Sayangnya, kami sempat muter-muter menuju kantor Indosat (tikum sebelum ke lokasi pemberangkatan/start Mojosuro). Istirahat dan registrasi. Eh makan siang juga. Makasih Om Jay buat hidangan makan siangnya Cuma satu yang kurang, minumnya telat. Keselek aq. (Wkwkwkwkwk piss Om )

Registrasi selesai. Meluncurlah semua peserta gowes bareng Mojosuro ke titik pemberangkatan. Tumplek Blek. Mulai sepeda onthel, Fixie, BMX dan MTB. Pengaturan pemberangkatan dan werrrrr Surabaya We’re Coming…..
Peserta dilepas oleh Panitia dari atas panggung kehormatan, termasuk ada Om Toto Sugito (Presiden B2W) dan Om nDlahom (Mendagri B2W). dari atas panggung itulah Om Toto menerima penghormatan dari teman-teman B2W Sidoarjo yang mengawal perjalanan Om Toto dan om nDlahom dari Sidoarjo menuju Mojokerto.

Perjalanan panjang tahap 2 dimulai
Tidak lagi diguyur hujan. Cuaca bersahabat dan mulai ada penyuntik semangat. Masyarakat di sepanjang jalan/rute Mojosuro yang menonton perjalanan kami, (emangnya badut di tonton….?) menambah semangat kami untuk keep gowes.
Sayangnya, sponsor yang memberikan minuman ringan selama perjalanan menjadikan banyak diantara kami peserta mojosuro “terpaksa” meninggalkan sampah gelas minuman di sepanjang perjalanan. (semoga tahun depan tidak terjadi lagi)

Lepas by pass Krian, menjelang Magrib. Kamipun beristirahat di Masjid Darussalam. Di sini kami mendapatkan waktu sholat Magrib dan menyantap snack. Istirahat sebentar dan kembali melanjutkan perjalanan.
Waduh ….Setelah mendapatkan istirahat, ternyata menjadikan tenaga kami seperti kembali dari awal. Dan Werrrrrrrrrrrrdalam kondisi jalanan sepi, speedometer menunjukan angka 27 km/jam. Dan sampai di Finish/Tugu pahlawan Surabaya, sekitar jam 8 malam.
Setelah sempat joget sebentar (hehehehe) meluncurkan rombongan B2W ke lokasi yang lebih “Sepi”. Panitia menyiapkan lokasi depan kantor DPRD jalan Indrapura. Nah ini acara yang ditunggu-tunggu. Makan malam plus minum es susu kedelai. Dan satu plus lagi, Bagi-bagi Door Price.

Makan malam itu, di iringi banyak aktifitas menarik dari para goweser. Ada yang mencari suaminya karena terpisah dalam perjalanan, ada yang berebut beli es krim, ada yang berebut pijetan Om Hasan, dan ada juga yang berebut minyak Gondopuro. Hahahahahaha lengkap sudah kebahagian dan kecapekan. Selesai sudah Mojosuro 2011, para Distroyer dan anggota B2W Sidoarjo pulang dengan wajah puas. Gowes PP Mojosuro bersama Presiden dan Mendagri B2W Indonesia sukses. Sesukses banyaknya doorprice yang kami bawa pulang.(wkwkwkwkwkwk)
Malam itu kami istirahat dengan senyum kemenangan. Menang setelah menaklukan diri sendiri di event Mojosuro.

Terima kasih buat semua peserta Gowes PP Mojosuro, terima kasih buat panitia. Terima kasih juga buat Om Toto dan Om nDlahom. Suntikan semangat buat kami saat bersepeda bersama kalian berdua sangat berkesan. Total jarak tempuh 110,52 km. total dari rumah, 130 km. (lihat foto-fotonya di album Gowes PP Mojosuro)
Sampai jumpa di event deklarasi B2W Sidoarjo. Semoga bisa gowes di Tanggul Lapindo.

Senin, 31 Oktober 2011

Ups…Malunya…..

Katanya orang pinter, kalo memulai sesuatu itu harus bener niatnya. Kalau gak bener, hasilnya juga ndak akan bagus.

Kalimat diatas ternyata berlaku untukku… begini ceritanya :
Sabtu malam 29 Oktober 2011, bundaku, bunda Arum bertanya apakah benar aku mau ikut ke Car Free Day Sidoarjo… aku jawab. Beneran Bunda. Nah masalahnya, Bundaku nggak tau kalo niatku cuma supaya aku dapet  pinnya edisi perdananya B2W Sidoarjo. Soalnya meski aku anaknya Bunda dan Bunda sendiri yang membawa pin itu, nggak bakalan Bunda kasih cuma-cuma. Kata Bunda, pin kegiatan itu bukan cuma buat gaya-gayahan. Harus ada perjuangan untuk mendapatkannya.

Akhirnya minggu pagi, 30 Oktober 2011, sebelum jam 5 pagi, aku, ayah Ridho dan bunda Arum berangkat ke CFD Sidoarjo. Nah niatku yang kurang jelas ini mengakibatkan aku kurang konsentrasi dijalan. Baru 3 kilometer dari rumah, GUBRAK. Aku jatuh. Nggak berdarah-darah sih.. tapi baju, kaki dan tanganku jadi hitam semua. Kotor karena semalam habis hujan.Jalanan jadi sedikit berlumpur. Ih malu dan perih rasanya. Bunda dan Ayah sudah nanya apakah aku masih kuat melanjutkan perjalanan. Soalnya perjalanan masih sangat jauh. Dari rumah ke CFD Sidoarjo kurang lebih 23 kilometer. PP jadi 46 kilometer. Wah aku sudah terlanjur pingen pinnya. Jadi  aku jawab terus aja Bunda, gak papa.(Nggak jujur lagi ni…)
Karena aku jalannya pelan banget, Bunda agak stress kali, karena Bunda bawa nasi bungkus buat om dan tante B2W Sidoarjo yang memberikan service sepeda gratis di area CFD, maka Bunda langsung memberi aku “dorongan”. Alhasil aku cuma duduk manis di sadel sepedaku dan bunda yang ngos-ngosan.(hihihi maaf Bunda).Pulangnya juga begitu, karena melihat Bunda sudah kecapekan “mendorong” aku pas berangkat, ayah Ridho yang menggantikan posisi bunda. Jadilah aku pulang pergi mendapatkan “dorongan”. Maap ya Ayah dan Bunda. Tapi terima kasih buat pinnya. Meski cuma gowes sedikit, Bunda tetep kasih aku pin B2W-Sidoarjo. Sayang aku nggak ketemu Om Jengkol (Om Gogiek) padahal aku juga pengen berteriak “ASOLOLE” (hahahahahahaha)

Stttt. Om dan Tante tau ngak….. aku gak mau ngulang lagi ! kasihan Bundaku. Pulang CFD langsung mandi, makan dan tidur. Tidurnya pules banget. Mungkin Bunda kecapekan “mendorong” aku. I Love You Bunda.