Senin, 07 Mei 2012
Family Gathering GTS (Gowes Tetap Semangat)
Pagi itu masih jam 4 pagi. Tapi Bundaku sudah ribut banget. ‘Bangun…bangun… hayo bangun semua …’. Wah pokoknya berisik banget. Aku masih ngantuk. “Na, jadi ikut gak…Bunda tinggal lo”. Suara Bunda melengking berbarengan pintu kamarku dibuka dari luar.
Eits,
“Ikutlah. GTS gitu lo…”
Langsung loncat dari tempat tidur, meraih handuk dan lari ke kamar mandi. Eh jangan salah, aq gak mandi. Masih dingin banget. Cuma cuci muka, sikat gigi dan pipis. Hahaha.
Setelah bantu Bunda memasukan bekal ke dalam bagasinya sepeda. Aq langsung siap-siap. Baju seragam GTS dan kaos ganti jika nanti dibutuhkan. La… lupa. Hari ini ada Family Gatheringnya GTS Om dan Tante. Acaranya di Delta Fishing Sidoarjo. Jaraknya dari Surabaya hanya sekitar 18 km saja. kita bersepeda ke sana. Dan agendanya banyak. Om-omnya (bapak-bapaknya) mancing. Tante-tantenya (ibu-ibunya) nyiapin sarapan dan rujakan. Anak-anaknya (kayak aku) main Outbond. Asyik khan…..
Berangkat ke Delta Fishing langsung menuju tikum di Taman Pelangi (Dolog). Menunggu sebentar datanglah keluarga Om Huda. Te Iin, kakak Inam dan adek Idos. Wah seru… sambil menunggu anggota GTS lainnya, aku langsung main dengan kakak In’am. Sayangnya adek Idos ndak diturunkan dari boncengan sepedanya Te I’in. Akhirnya lengkap dan kami bergerak ke Delta Fishing.
Sampai di Delta Fishing sudah rame banget. Setelah beli tiket masuk (Rp.3.000 /orang) kita langsung menvari tempat untuk basecamp-nya. Dapat 2 joglo yang berdekatan nomor 5-6. aku dan kakak In’am dan adek Idos langsung minta main Outbond. Tapi kami harus beli tiket terusan. Harganya Rp. 20.000/orang. Asyik. Main Flying Fox, Meniti Jembatan Gantung, Sepeda Air, Berenang dan buanyak mainan lainnya. Setelah capek main, kami bertiga langsung kembali ke basecamp. Sarapan. Bunda Arum bawakan aku bekal nasi dengan lauk mie goreng, nugget, telur, sosis dan scallop. Pake saus sambal dan tomat lagi. Wuih kenyang. Trus makan rujak juga. Tapi aku gak pake sambel. Makan buahnya aja. Trus maen lagi. Mancing juga. Tapi aku dapetnya ikannya kueciiiiiil banget. Mungkin aku masih kecil ya… jadi dapatnya ikan kecil juga. Ayah Ridho dapat ikan besar seh. Lumayan kalo dibakar pasti enak.
Pas lagi asyik main, datang juga nTe Lia dan adek Malrvel dan adek Bagas. Ada juga adek Habil dan ibunya, Simbok Poncokusumo. Wuih ruame tenan. Setelah capek semua. Mulai siap-siap pulang. Ternyata setelah keluar dari Delta Fishing, kita gak langsung pulang. Berhenti dulu di warung dekat tempat parkir. Ikan hasil pancingannya dibakar disana. Wuih enaaaaak. Makan lagi. Setelah kenyang dan capeknya hilang, baru kami bersepeda kembali pulang. Wah pengalaman liburan bersepeda bersama keluarga yang tidak akan terlupakan. Terima kasih Ayah Ridho dan Bunda Arum. Terima kasih kakak In’am, adek Idos, om Huda dan tante I’in. Terima kasih juga om dan tante semua. Terima kasih GTS. Denger-denger Family gathering berikutnya sepedahan ke camping ground ya….. jangan lupa aku diajak ya… aku punya tenda dom, sleepingbag, nesting dan lampu darurat. Pasti gak ngerepotin kok. Asal sama kakak In’am dan adek Idos juga.
Senin, 30 April 2012
1000 Pohon untuk Gelora Bung Tomo
Hari minggu, 29 April 2012 adalah hari yang melelahkan. Hari itu adalah hari dimana aku, Ayah Ridho dan Bunda Arum bersama GTS bersepeda ke GOR Bung Tomo. Oh ya Om dan Tante, Gor Bung Tomo atau kalo disingkat menjadi GBT (kayak GBK ya&hellip
Berangkat dari rumah jam 05.40, aku, ayah dan bunda ngumpul dulu di tikum BNI 46 Raya Darmo Surabaya. Sempat melewati CFD juga sih. Trus setelah semua peserta sepedahan ke GBT ngumpul, kita berangkat. Wuih… ternyata juauh banget. Untungnya aku bersepedahnya sama kakak In’am anaknya om Huda. Jadi sambil becanda-becanda dan jadi gak terasa jauhnya.
Perjalanan di mulai dengan melewati Jalan Banyu Urip. Sampai di GBT wah sudah rame sekali. Ada Bonek. Tapi Bonek yang ini namanya Bonek hijau. Mereka memang supporternya Persebaya, tapi mereka juga peduli lingkungan. Kapan hari mereka juga ikut acara cabut paku di pohon-pohon di areal CFD. Dan sekarang mereka ikut tanam mangrove di lingkungan GBT, sama kayak aku dan kelompok bersepedaku. Gowes Tetap Semangat. Pas nanam mangrove ini, kakiku sempat kena duri (kata Bunda telusupen). Meski durinya kecil tapi suakit banget. Tapi untungnya biasa dikeluarkan sama ayah. Trus sama om Huda bekas kena durinya itu juga dikasih obat.
Setelah menanam tanaman Mangrove, kami istirahat sambil foto-foto. Untung bunda bawakan aku bekal makan. Langsung aku makan karena sudah laper banget. Setelah itu perjalanan pulang. Eh mampir ke rumah makan buat sarapan. Aku makan lagi dech…. hahahaha. Terus perjalanan pulang dilanjutkan.Nah pas pulang ini kami lewat jalan Kupang Indah. Walah, jalanannya nanjak-nanjak. Gak kuat aku. Untung ayah dan bunda gantian mengawal aku. Jadi meski pelan, aku tetap bergerak. Pas bedug Dhuhur aku sampai rumah. Kata ayah sih Cuma 45 km sih. Tapi kok kayaknya juauuuuh banget. Apa karena cuaca panas ya…..
Oh ya om dan tante, kasihan dech GBT-nya…. Kayak Gedung Besar yang gak disukai. Kesepian di tengah-tengah tambak. Semoga nantinya banyak di gunakan berolahraga ya…. soalnya selain lapangan bola. Ada juga yang latihan sepatu roda di sana. Sayangnya aku gak bisa masuk ke lapangan bolanya. Jadi gak bisa foto di hamparan rumput lapangan bola. Cuma bisa foto di depan GBT nya saja. Kalau ke Surabaya, jangan lupa gowes ke GBT ya…..
Sabtu, 28 April 2012
Pesepeda Tiga Generasi
Aku memang sudah ndak punya akung. Akung dari Bunda sudah meninggal sebelum aku lahir. Akung dari ayah sudah meninggal juga saat aku masih TK. Tapi sejak kecil aku punya akung lain yang juga sayang aku. Ini Namanya Akung Baskoro dan Ati Selly. Kami sering bersepeda bersama. Asyik lo... abis sepedahan, biasanya Akung ajak aku maen di kolam depan rumahnya. Nangkep ikan, trus bunda dan ati yang masak. trus sarapan rame-rame. Kadang aku juga panen cabe, tomat, terong, mangga bahkan anggur. Kolamnya nya gak besar sih tapi dipinggir-pinggirnya ada banyak tanaman lainnya. Hayo om dan tante kalo maen ke Surabaya tak ajak ke rumah Akung Bas ku.... pasti senang. teman-teman bunda dan ayah juga sering mampir ke rumah Akung ku lo.....
Selasa, 17 April 2012
One Day Cycling at Dalegan Beach
Seperti yang pernah aq tulis bebarapa waktu lalu, ada bebarapa saran sahabat sepeda untuk sasaran bersepeda jarak jauh. Pemandian Sumber Tetek, Petilasan Jolotundo, Cangar dan Pantai Dalegan. Sumber Tetek dan Jolotundo sudah tertaklukan. Cangar masih dipikir-pikir dulu. Sasaran Cangar, sudah tergantikan dengan sasaran gowes ke Batu. Nah sekarang saatnya memaparkan agenda One Day Cycling at Dalegan Beach.
Pantai Dalegan. Terletak di wilayah Kabupaten Gresik yang berbatasan dengan Kabupaten Lamongan. Dari Surabaya, medan menuju pantai ini lumayan menantang. Panas, berdebu, angin dan jalanan dipenuhi kendaraan besar pengangkut material pabrik. Ya… wilayah Kabupaten Gresik memang identik dengan pabrik besar. Mulai dari Semen, Petrokimia, Maspion dan lain sebagainya. Tapi aq tidak akan memaparkan pabrik-pabrik itu. Aq akan coba mengambarkan bagaimana eksekusi One Day Cycling at Dalegan Beach.
Minggu pagi 15 April 2012.
Dengan persiapan semampu aq dan om Ridho, suami q, kami meluncur menuju titik kumpul eksekusi touring kami hari itu. Monumen SuraBaya. Masih lumayan pagi. Pukul 05.00. aq dan suami sengaja datang lebih awal karena menjalankan amanah sebagai koordinator event ini. Touring Pantai Dalegan ini memang bukan event pribadi kami, event ini pada awalnya disepakati sebagai event pemanasan sebelum eksekusi LDC (Long Distance Cycling) – nya Distro, sebuah komunitas bersepeda yang kami ikuti. LDC Distro sendiri rencana akan di gelar sebulan setelah Dalegan dan sasaran tembaknya adalah wilayah Lumajang. Sementara itu Eksekusi One Day Cycling at Dalegan Beach ini di dukung oleh Distro sendiri dan juga semua sahabat sepeda, khususnya dari Gowes Tetap Semangat (GTS). Jempol buat dukungan GTS.
Suasana mendung dengan udara segar menemani aq dan suami di Tikum KBS ini. Satu persatu peserta mulai berdatangan. Om Tjahja, Om Haho, Om Hanafia, Om Edy Zul, Om Dimaz, nTe Santy, Om Huda, Om Yoga, dan banyak lagi laennya. Simbok Poncokusumo juga datang menyemangati kami. Kali ini Simbok tidak ikut eksekusi Dalegan, karena harus mengikuti latihan gowes diwilayah pebukitan. Akhirnya sampai batas waktu yang ditentukan. Pukul 06.00 WIB. Ternyata masih banyak peserta yang belum datang. Dengan kesepakatan kelonggaran waktu 15 menit, akhirnya dimulai brefing peserta dan perjalanan dimulai. Terpaksa kami meninggalkan 6 peserta yang tidak berhasil kami hubungi via hp. Keputusan ini diambil juga karena kesepakatan mengingat sasaran touring kali ini lumayan jauh dan akan ditempuh PP dalam waktu sehari. Ohya, disaat breffing, juga disampaikan bahwa perjalanan pulangnya nanti tidak di pancal full. Sebagian akan di loding untuk menghemat waktu dengan harapan sampai kembali ke rumah sebelum larut malam.
Setelah berdoa dan penjelasan jalur yang akan kami tempuh, perjalanan dimulai. Om Huda Muhammad seperti biasa bertindak sebagai Marshall. Om Sapto swepper sekaligus pembawa obat-obatan. Jalan Diponegoro lanjut jalan Banyuurip. Di perjalanan bertemu Om Riza dan Om Erry. Masuk jalan Margomulyo. Di jalan ini seharusnya kami bergabung dengan Bike to Campus UNESA. Ada Srikandinya juga. Namanya nTe Lusi. Ternyata sampai akhir jalan Margomulyo kami tidak betemu rombongan ini. Perjalanan terus berlanjut. Jalan tambak Oso Wilangun dan masuk jalan Veteran Gresik. Mulai tanjakan. Sebagian mulai ngos-ngosan. Alhasil om Edi Zul yang biasanya 'giras', karena hari itu belum sembuh total, harus takluk pada alam. Si Om ini gowes paling belakang. Akhirnya jalan RA Kartini dan belok kanan menuju arah pasar Gresik. Di wilayah inilah kami berhenti untuk sarapan (nasi krawu khas Gresik). Disini pula kami bertemu dengan peserta yang tertinggal. Om Jonis, Om Bonnie, Om Ardimini dan juga Pasukan B2C UNESA. nTe Lusi, Om Toni,Om Ganis. Sementara satu lagi Om Lintang langsung lanjut bersama 4 orang temannya. Di sini juga, peserta terjauh kedua (dari wilayah candi) Om Ratna Tri Martono bertanya: ‘dari sini masih jauh ya nTe ?’
‘Wadah, masih juauh buanget Om’
(hahahahaha sekali-sekali ngerjain Om Tri. Kapan lagi…. Hahahaha)
Selesai sarapan, perjalanan dimulai lagi. Ini dia tantangan sesungguhnya. Jalanan panjang di hiasi debu dan angin kencang serta kendaraan besar pengangkut material. Wadah teriknya mentari tikam jiwaku…..hahahaha kayak lirik lagu aja.
Diperjalanan ini Om Edi Zul mulai terlihat pucat. Om 'Ademin' GTS ini mulai dibujuk Om Bonnie untuk bersedia naik mobil evakuasi. Alhamdulillah si Om mau juga di evakuasi. Jalanan tidak terlalu nanjak. Cenderung Flat. Hanya saja panas, debu dan angin kencang benar-benar menguras tenaga kami. Setelah sempat beberapa kali istirahat, sampailah kita di belokan UjungPangkah. Wuih disinilah kesenangan dan halusinasiku bereaksi. (….?.....) senangnya karena ini adalah daerah terakhir menuju Pantai Dalegan yang pemandangannya adalah tepian pantai. Halusinasi-nya, aq seakan melihat ada anggota rombongan yang ambil jalur lurus dan tidak belok kanan menuju Ujung Pangkah. Eh.. Halusinasi q disambar dengan kencang oleh Om Jonis Jo. Si Om dengkul XTR ini langsung tancap pedal mengejar peserta dalam halusinasiku. Setelah sekian lama tidak kembali, aq langsung telp om Jo. Jawabannya : ‘njenengan langsung brangkat aja nTe. Biar aq susur lewat jalur ini. Qt ketemu di Dalegan”
Wuih…. Mulai muncul rasa bersalah q. jangan-jangan tidak ada yang lewat jalur lurus itu. Waduh…. Om Jo maap ya….
Perjalanan dilanjutkan kembali
Setelah menikmati jalanan panjang di tengah panas menyengat dan angin pantai yang kencang sampai juga kami sepinggiran pantai. Wah ciamik banget. Air laut masih sangat biru kehijauan. Bukan coklat buthek kayak air laut di pantai Kenjeran. Sempat juga kita narsis di sini. Setelah dirasa cukup, kami kembali melanjutkan perjalanan. Dan weeeeer sampai juga di Pantai Dalegan yang keren banget. Meski tidak bisa bebas melahap indahnya pasir putihnya, karena berbarengan adanya event di sana, tetap saja asyik. Di Finish ini juga mulai berkumpul semua rombongan. Om Lintang yang membawa empat orang temannya, di tambah Om Alfan, Om Lutfi, Om Sandi dan pastinya Om Jonis Jo. Untungnya meski harus menempuh jalur lebih panjang Om Jo dengan senyum manisnya bilang : “ wah di bujuk-i nTe Arum aq. Terpaksa nanjak lewat gunung Penyu”. Waduh rasanya makin bersalah saja aq. Tapi karena Om Jo menyampaikannya dengan senyum, rasanya ‘dosa’ q da dimaafin dech. Makasih ya Om Jonis.
Di Pantai inilah, sisi liar sahabat sepeda muncul. Dengan telanjang dada, para goweser pria langsung nyebur dan narsis-narsis. Walah tak terkatakan hebohnya…. Sebuah rasa yang tak kan tergantikan meski touringnya di ulang. Terima Kasih Sahabat.
Oh ya.. di sini juga ada ‘tuan rumah’ yang buaik pollll. Om Bahrul dari B2C UNESA. Dia tinggal di Lamongan dan datang ke Pantai Dalegan dengan segepok buah tangan. Jeruk, Pisang dan juga air mineral. Wah…. Suip tenan.
Selesai istirahat dan narsis-narsis, akhirnya persiapan untuk loding pulang. Namun sebelumnya menyisir pantai mencari tempat makan siang. Karena kendaraan Loding tidak terlalu besar (truck engkel) maka eksekusi loding pulang dibagi dua bagian. Pertama khususnya untuk peserta yang benar-benar harus di dahulukan. Akhirnya 14 orang terpilih. Loding kedua untuk sisanya. Setelah Loding pertama berangkat, kami melanjutkan makan siang. Wuih menunya mantap Lontong Kare Ayam. Puedes tenan. Langsung melek. Tapi suamiku, om Ridho dapat menu yang lumayan rodo gak enak. Soto ayam, tapi kondisinya da dingin. Gak enak katanya. Maaf ya…sayang. Tapi foto afterwednya ok kog....
Istirahat dirasa cukup. Perjalanan dilanjutkan kembali. Lho kok gak menunggu mobil evakuasi. Nah ini juga pilihan. Kami sepakat gowes pelan-pelan sampai ketemu dengan mobil loding yang akan kembali menjemput rombongan kedua. Wuih sangar benar. Bersepeda dalam kondisi kenyang, capek dan dihajar panas serta angin yang kencang. Di wilayah Ujung Pangkah, ternyata terjadi insiden yang tidak mengenakkan. Ban belakang sepeda om Lutfi meletus. Terpaksa dievakuasi/ditarik sama sepeda motor om Bahrul. Baru diwilayah Bungah, kami bertemu mobil evakuasi yang siap mengangkut kami pulang. Nah disini kembali kebersamaan kami di uji. Ada beberapa sahabat sepeda yang memilih tetap mancal sampai rumah. Semoga perbedaan pilihan ini tidak dinilai sebagai sebuah tindakan tidak setia kawan dan mengurangi arti dari kebersamaan. Karena keputusan adanya loding untuk pulang adalah keputusan bersama.
Akhirnya yang mancal tetap dengan keputusannya dan yang loding juga tetap dengan keputusannya. Di mobil evakuasi kedua ini juga 14 orang. Sementara yang mancal pulang 6 orang. Dua jempol untuk para dengkul XTR ini. Sepanjang perjalanan pulang rasanya asyik banget. Kalau loding pertama di antar sampai Terminal Tambak Oso Wilangun, maka untuk loding kedua mengikuti arah truck pulang kearah wilayah Klampis Surabaya. Alhasil, ada yang turun di jalan Margomulyo, dan di Jalan Banyu Urip. Aq, Om Ridho suami q, Om Erry, Om Huda dan Om Sapto langsung tancap gas pulang. Melewati wilayah Dukuh Kupang Barat sampai tembus Villa Bukit Mas dan sampai di Gunungsari. Belok sedikit sampai sudah di rumah dikawasan Karah. Tepat 18.30 dengan lelah dan rasa gembira yang tak terhingga sampai rumah dan di sambut dengan senyum Kresna putra semata wayang kami.
Wow… total 104 km lebih bersama 33 orang Sahabat Sepeda. Sungguh kebersamaan yang tak terbantahkan.
Terima kasih sahabat.
Minggu, 25 Maret 2012
36 jam bersama GTS dan DISTRO dalam jalinan SAHABAT SEPEDA di event Sambang Sahabat
Tak ada ungkapan yang tepat untuk mengambarkan bagaimana rasanya bersepeda dengan rute Surabaya – Batu Malang PP, selain Luar Biasa.
Berdua dengan suami tercinta, Om Ridho Tjahjono, sabtu pagi itu, aku bergerak menuju taman Pelangi Surabaya. Di tikum ini sudah ada Om Edi Zulkarnaen. Berikutnya Om Riza Putra ‘RCM’ dan Om Cakakpid Celu’ane. Berlima dengan semangat pejuang kemerdekaan (hahahaha) meluncurlah kami menuju Alun-alun Kabupaten Sidoarjo. Di wilayah Aloha, bertemu Om Sapto Wibowo dan Om Muhamad Afirin ( PIC Distro yang masuk kategori ‘siaga 1’. Sehingga tidak bisa ikut gowes sambaing sahabat). Akhirnya sampai di Alun-alun Kabupaten Sidoarjo sisi Timur. Satu persatu peserta Sambang Sahabat berdatangan. Om Jonis Jo, Om Sandi San, Om M.Guruh Hanafia, dan Om Haho Iki Susanto. Setelah berdoa demi kelancaran perjalanan Touring Sambang Sahabat, bergeraklah kita kearah tujuan, Batu Malang. Sampai di Tangulangin, rombongan kembali bertambah, Om Aris Rusdianto dan Om Ratna Tri Martono. Om Muhamad Arifin, balik kanan. Ber-dua belas, dengan Marshall Om Edi Zulkarnaen, semangat mengebu menuju Batu Malang.
Pemberhentian pertama adalah RM Mojorejo Pandaan. Sarapan bersama untuk peserta yang belum sarapan pas berangkat. Sementara yang sudah sarapan dengan setia menanti di Mushola setempat. Setelah sarapan, kembali kita melanjutkan perjalanan. Saking semangatnya. Om Marshall Edi Zulkarnaen sampai kelupaan membawa tas rangselnya. Untung ada Om Haho yang tanggap langsung di canklong sambil menggoda si empunya tas rangsel.
Perjalanan semakin asyik. Mulai dengan tanjakan alus sampai tanjakan kasar. Menjelang Lawang Malang, otot paha Om Ridho mulai bermasalah. Maka, sebelum kram parah, Om Ridho mulai berhati-hati gowesnya. Dan karena gak mau kehilangan seperti kasus Touring Jolotundo, aku tetap setia menemani suami tercinta. (hahahaha). Tapi aku tidak hanya dengan Om Ridho. Kami juga di temani Om Haho dan Om Sapto. Sampai akhirnya tas rangsel yang berisi Tool Kit berpindah pundak, ke Om Haho. Di masjid Al Ihklas depan Rumah Bersalin Siti Miriam, kita beristirahat sambil sholat dhuhur. Selesai istirahat, perjalanan dilanjutkan. Sempat berhenti di sebuah warung makan sederhana dengan menu rumahan, Sop dan ayam goreng. Wuih… nyam-nyam…. Sayang Om Hanafi terlanjur ngebut. Jadi kelewatan dan gak ikut makan siang. Lumayan, perjalanan berikutnya ada bonus turunan yang lumayan panjang. Sampai pertigaan Bentoel, kami ambil jalan ke kanan. Langsung menuju Batu. Wuih sejenak jalanan datar, kembali kami dihajar tanjakan. Baik tanjakan mesra maupun tanjakan kurang ajar. Buat aku dan Om Ridho, tanjakan sangat-sangat menghajar kami. Kalau awalnya hanya om Ridho yang tepar, kali ini aq juga mulai ngos-ngosan. Gowes sedikit trus istirahat. Ada juga yang terpaksa nuntun. Sampai akhirnya sampai juga di pintu masuk Kota batu. Wuih….. Lega banget. Tapi ternyata kelegaan itu hanya sesaat. Tanjakan semakin mengila. Semakin berat rasanya kaki ku. Dengan terpaksa aku merelakan (meminta) Om Sapto dan Om Haho untuk meninggalkan kami berdua. Dengan tegas aku meyakinkan mereka bahwa kita akan ngumpul lagi di Alun-alun Batu. Ternyata keinginan ini, terpaksa harus kami, aku dan Om Ridho kubur. Dengan rasa malu yang ku pendam dalam-dalam, aku sms Om Bonnie Meidianto yang saat itu sudah berada di Finish karena berangkat Loding dengan nTe Santy, Om Dimaz Zamid dan Om Paulus Djoko, untuk mengevakuasi kami berdua. Di pikiranku terngiang kuat pesan Om Sapto, ‘jangan memaksakan diri. Jika memang yakin harus di evakuasi, ndak papa di evakuasi. Harus bisa mengukur kemampuan diri sendiri’
Setelah beberapa waktu menunggu, tim evakuasi datang. Om Bonnie dan Om Dimaz senyum melihat aku yang ndosor di pinggir jalan. Ndak terasa menangis aku melihat kedatangan dua sodara dari GTS mengevakuasi kami. Sambil terus membesarkan hatiku, Om Bonnie membawa kami ke Finish ( villanya di Batu). Saat melewati Rombongan Sambang Sahabat yang sudah sampai Alun-alun Batu, rasanya pengen turun dan bergabung dengan mereka. Tapi aku cuma sempat melihat Om Jonis memberi kode agar langsung saja menuju finish dan istirahat.
Setelah sampai di finish, senyum nTe Santy dan Om Djoko melegakan hati kami. Kurang dari satu jam, rombongan Sambang Sahabat nyampai finis. Om Sandi San yang terakhir datang karena kesasar.Maklum bujangan satu ini sekalian observasi.
Malam itu, kami gak bisa langsung tidur. Buka karena gak ngantuk atau gak ada tempat. Tempat sih buanyak. Ada enam kamar besar-besar. Ada sofa besar-besar juga. Kami juga sudah ngantuk. Tapi ngobrol sambil tukar cerita sambil saling gojlok membuat kami sedikit melupakan rasa capek dan njaremnya tanjakan yang baru saja tertaklukan. Akhirnya seakan masih kurang melahap tanjakan, diputuskan NR ke Alun-alun Batu sambil nyari makan malam. Trus bagaimana dengan aku dan Om Ridho ? hehehehehe ternyata ada dua sepeda motor yang bisa kami manfaatkan. Aku dan Om Ridho berboncengan. Di sepeda motor satunya ada Om Hanafi dan Om Sandi. Lainnya bersepeda. Setelah kenyang makan malam, kami langsung kembali ke Villa. Aku sempat nyeret Om Sapto. Suhuku ini juga ‘sedikit’ tepar. Kecapekan ngawal aku dan Om Ridho kali…. Maap ya Om Sapto.
Akhirnya, pagi-pagi seusai semalaman istirahat, kami mulai siap-siap meluncur ke CFD Kota Malang. Pasukan Sambang Sahabat siap berangkat. Ternyata satu orang tidak ada ditempat. Om Paulus Djoko. Selinya ada tapi orangnya gak ada. Tim SAR pun di terjunkan. Setelah menyisir seluruh areal Villa yang lumayan gede, akhirnya si Om yang imut ini ditemukan dalam kondisi tidur pulas. (hahahaha untung gak ilang beneran) Setelah narsis-nasis, meluncurlah Full Rombongan Sambang Sahabat. Nah pas pulang inilah satu dari anggota Sambang Sahabat, Om Haho pamit pulang lebih dulu karena ada kabar putranya sakit. Semoga adek sudah sehat lagi ya…..Suhu gowes dengan dengkul XTR inipun melenggang sendirian kembali ke Surabaya. Ketemu lagi di event berikutnya ya Om….
Ternyata benar. Setiap ada tanjakan pasti ada turunan. Werrrr….. nyampe jalan Ijen Kota Malang lokasi CFD hanya dalam waktu tak lebih dari 30 menit. Gak sumbut sama lama nanjaknya. Meski tidak banyak yang bersepeda dan lebih banyak yang jalan kaki, tapi suasananya asyik banget. Ketemu juga dengan sahabat dari alumni SMAN 16 Surabaya, teman-temannya Om Bonnie dan Om Jonis. Bukan Sahabat Sepeda kalo ngak bernarsis ria. Naik panggunglah kita. Bercerita tentang aktifitas bersepeda dan Touring Sambang Sahabat. Dan lagi dapat sahabat baru juga. Pasukan bersepeda dan Pasukan bersepatu roda dari jajaran Satlantas Polres Malang. Kembali berfoto bersama. Sampai akhir waktu di CFD Malang, kami hanya bertemu dengan Om Tito, Goweser dari Malang. Makasih ya udah nyempatin ketemu kita di CFD Malang. Bergerak wisata kuliner dengan sponsor sahabat dari alumni SMAN 16 Surabaya yang tinggal di Malang. Jalan Kawi menjadi tujuan. Nasi Bok khas Madura. Wuih Kenyang Jek. Makasih ya Om dan Tante alumni SMAN 16 Surabaya.
Perjalanan kembali dilanjutkan. Kembali ke Surabaya. Tapi insiden yang seharusnya bisa tak terjadi, harus terjadi. Sepedahku oleng ketika tidak dalam keadaan digowes. Lho kok ? saat menyebrang, mungkin karena bagasiku keberatan, ban belakang ngobit dan ban depan keangkat. Karena posisi kakiku juga gak stabil, ngulinglah aku kearah kiri. Gubrak….! Alhasil dengkul kiriku lecet-lecet. Gak parah sih lecetnya, tapi efeknya nyeri dan sakit buanget. Untung para Arjuna siap siaga. Om Aris langsung angkat bagasiku dan Om Jonis langsung memeriksa kondisi sepedahku. Om Sapto dengan obat-obatan. Mantap sekali kesiagaan para Arjuna ini. Setelah aman, perjalanan dilanjutkan kembali. Eh ternyata fisikku kembali menjadi penghambat perjalanan. Hanya tanjakan mesra yang tidak terlalu tajam di wilayah Lawang. Tapi ternyata tak mampu aku taklukan. Dengan tenang, Om Jonis memberikan dorongan. Itu juga belum memberi hasil maksimal. Aku sampai merasa malu banget sudah merepotkan. Tapi semua masih memberiku semangat dengan tulus. Akhirnya sepedahku di preteli sama Om Jonis. Bagasiku dipindahkan ke sepeda Om Jonis. Sebetulnya kasihan Om Jonis. Dengkul kanannya juga sudah njarem tapi dengan santai, Arjuna satu ini bilang ‘tenang aja nTe. Setelah ini, njenengan pasti lebih banter. Kalo saya masih kuat kok bawa bagasi ini’. Wuih…. Dengkul XTR Jek.
Ternyata benar. Begitu bagasiku berpindah, beban genjotan kakiku jadi ringan dan werrrr …. Aku bisa mengikuti irama bersepeda tim Sambang Sahabat. Tak terasa, saatnya berhenti di sebuah masjid yang masih dalam tahap pembangunan. Namanya Masjid 10 Nopember di wilayah Purworejo. Disini kami istirahat sak blengere. Sampai tidur-tidur segala. Sempat melahap semangkok bakso Granat. Wuih baksonya guede….. kenyang. Lanjut perjalanan…… Setelah turunan habis, saatnya jalanan datar. Tapi karena irama sudah ketemu… tetap saja kecepatan penuh. Tiba di masjid Cheng Ho. Bertemu lagi dengan Om Paulus Djoko. Istirahat dan narsis jaya lagi. Sayangnya Cakapid sudah meluncur ke Gempol Porong karena mampir kerumah keluarga. Om Bonnie juga belum bisa bergabung karena masih baru meluncur turun dengan mobil evakuasi. Alhasil foto narsis kami kurang lengkap personilnya. Lanjut, dengan irama gowes yang mulai seirama, akhirnya sampai di wilayah kekuasaan Om Aris, Tanggulangin. Istirahat minum es degan yang sudah jadi kelapa. Hahahaha… eh Om Dimaz dan Om Ridho saat pulang ini kayak jadi soulmate dech…. Saling tukar sepeda. Akhirnya berdua jadi juru kunci. Om Ridho lututnya agak nyeri dan Om Dimas keberatan sepeda. Sepedanya Om Ridho kan abot banget. Megap-megap dech si Om Dimaz. Tapi Tetap Semangat !
Setelah cukup istirahat, perjalanan dilanjutkan kembali. Om Aris belok kiri menuju rumah. Yang lain menuju finish Alun-alun Sidoarjo. Berikutnya di wilayah Candi, Om Ratna Tri Martono belok kanan, menuju kediaman. Si Om yang pendiam ini ternyata juga memiliki dengkul XTR. Diam-diam jago tanjakan juga. Tanpa megap-megap melahap habis setiap tanjakan. Mungkin karena bekal yang di siapkan nTe Tio ya Om Tri….. Salam buat keluarga ya……
Dengan irama yang semakin solid, tim Sambang Sahabat berhasil mencapai finish di Alun-alun Sidoarjo. KEREN !
Sambil beristirahat, akhirnya dimulailah proses loding untuk sahabat sepeda yang tinggal paling jauh. Om Edi Zulkarnaen, nTe Santy dan Om Paulus Djoko. Dengan didukung sponsor tunggal Om Bonnie. Makasih ya Om Bonnie…. Sampaikan juga ke nTe Lia dan anak-anak.
Setelah selesai evaluasi dan doa. Meluncurlah kami pulang. Om Jonis menuju kearah timur dari Alun-alun Sidoarjo Karena bagasi sudah kembali bertengger di sepedaku… lajuku mulai sedikit berkurang.ditambah kondisi yang sudah lumayan capek. Om Sapto, Om Hanafi, Om Dimaz, Om Riza dan Om Sandi meluncur di depan. Saya dan Om Ridho di belakang. Akhirnya tinggallah empat personil. Om Hanafi dan Om Sapto menunggu kami di depan Giant Waru. Setelah itu kita mulai berpencar. Om Sapto kearah timur menuju Rewwin. Om Hanafi kearah barat menuju Kletek. Aku dan Om Ridho tetap meluncur kearah Utara. Lepas bundaran Waru, kami memilih lewat jalur dalam..Dukuhmenanggal, masjid Agung Al-Akbar, Kebonsari, Jambangan dan finish di rumah Karah. Menjelang perempatan Pagesangan kami sempat berhenti, karena ada penjual boneka Shaun The Sheep. Hehehehe Om Ridho sengaja beliin buat pengobat capekku katanya. Sip. Buat nambahin koleksi bonekaku. Disini, kami juga jadi artis lagi. Si Penjual boneka tertarik dengan penampilan kami dan mulai bertanya-tanya soal harga sepeda yang dipake Om Ridho. Jadi tebar racun dech…. Alhasil dapet bonekanya jadi lebih murah. Lumayan. Setelah selesai ‘ramah tamah’ perjalanan dilanjutkan. Sempat juga mbungkus makan malam sebelum akhirnya sampai dirumah tepat pukul 17.40 menit. Bangga rasanya dengan total 198 kilometer, lengkap dengan tanjakan, turunan, nuntun, tepar, evakuasi dan indahnya persahabatan Sahabat Sepeda !
Senin, 30 Januari 2012
Jolotundo….Semakin Koplak Deh….
Event gowes akhir pekan kemarin memang diluar perkiraan. Berbekal informasi dari broussing internet dan cerita beberapa teman, ternyata medan tidak bersahabat seperti dalam bayangan. Jujur saya sulit menemukan kata atau kalimat yang tepat untuk menggambarkannya. Hanya ada satu keinginan di batin saya, semoga saya ndak semakin koplak saja.
Seperti yang sudah saya tulis di note terdahulu (sumber tetek..wow), minggu 29 Januari 2012 kemaren, aku dan banyak teman bergerak ke pemandian Jolotundo. Lokasi tepatnya, adalah di wilayah sisi barat daya lereng gunung Penanggungan. Pagi itu setelah bertemu teman-teman GTS dan B2C Unesa di Taman Pelangi Surabaya, kami berenam bergerak ke Alun-Alun Kabupaten Sidoarjo. Disini sudah berkumpul juga teman-teman dari B2W Sidoarjo, Distro, Albatros, B2S Candi dan sebagian B2C Unesa. Hampir 30 an orang siap meluncur ke Lokasi Pentirtan Prabu Airlangga. oh ya… di Touring Jolotundo ini aku ndak lagi perempuan semata wayang. Ada Simbok Poncokusumo dan nTe Rizka dari b2C Unesa yang bergabung. Duh senengnya da teman sejenis (hahaha…….) Setelah doa yang dipimpin om Pri dari Albatros, meluncurkah kami menuju lokasi.
Memilih melewati jalur dalam agar tidak banyak bertemu kendaraan besar. Lewat wilayah Krembung dan Ngoro sampai ke PPLH Seloliman. Pada awalnya medan memang sangat bersahabat, kami melalui kebun tebu dan pematang sawah yang hampir panen. Asyik banget.sampai akhirnya sampai jalanan yang terus menanjak. Belum ekstrim tanjakannya. Masih bisa ditaklukan dengan “kesabaran”. Tapi jalur panjang menanjak yang sebarengi kendaraan yang melaju sangat kencang, menjadikan kami harus ekstra hati-hati dan waspada. Di jalur yang seakan tiada habisnya inilah, Om Toni dari B2C Unesa harus menerima kenyataan di sruduk dari belakang pembalap nekat. Bagaimana gak nekat, wong masih usia smp. Wah RD sepeda om Toni patah. Terpaksa dimutilasi rantainya dan di jadikan single speed. Betis kana nom Toni juga mengalami luka robek. Untungnya tidak parah. Perjalanan bisa dilanjutkan kembali. Yang tak kalah menggagetkan, ketika sebagian dari kami beristirahat, ternyata di balik batu ada ulat yang sedang beranak. Waduh ada yang hampir ngigit om Bonnie.(ini cerita om Jonis Jo dan om Ridho. Soalnya aku berada jauh di depan rombongan ini) Di jalur yang belum menanjak ekstrim ini pun, dua sodara sejenis saya, simbok poncokusumo dan nTe Riska, harus menyerah pada alam. Terpaksa banyak nuntun karena gak kuat nanjak. Seandainya aku berbarengan kelompok dengan para Srikandi ini, aku bisa juga tepar. Untungnya aku bersama om Huda, om Edi Zul dan om Aries, menemani adik-adik dari B2S Candi Sidoarjo. Dengan nafas yang hanpir putus, aku tatap gowes meski tidak lebih cepat dari berjalan kaki. Om Aries bahkan sempat nyengir mengomentari statmenku…”Mosok gak nyampe tah mbasio kalem-kalem”. Doping semangat dari ketiga Arjuna inilah ( Om Huda, Om Aries dan om Edi Zul) yang terus memompa semangatku. Memang aku sempat berpisah jarak yang lumayan jauh dengan om Ridho, suamiku, jadinya ketika ada moment foto-foto, aku hanya dapat memphoto si blue sepedaku dan pemandangan alam yang sangat cantik.
Setelah sempat istirahat beberapa kali, sekitar pukul sebelas siang, aku, om Huda, om Aries dan om Edi Zul bersama adik-adik B2S Candi sampai juga di pintu masuk PPLH Seloliman. Dari Lokasi ini kurang lebih “hanya” 500 meter sampai di gerbang Candi Jolotundo.tapi Nanjak. Ekstim lagi. Di Lokasi inilah kami bertemu om Pri dan teman teman lain dari B2C Unesa. Hampir satu jam kami menunggu rombongan di belakang kami, tapi tidak datang juga. Karena tidak mendapat signal Hp. Akhirnya kami naik menuju ke Candi Jolotundo dengan harapan nantinya bisa berkumpul di atas. Sayangnya sampai dengan selesai berendam dan photo-photo, aku tidak menemukan om Ridho suamiku sampai finish. Akhirnya aku hanya bisa membawakan air dari sumber Jolotundo yang konon (jika percaya) bisa membuat orang awet muda buat om Ridho. Oh ya, di pemandian Jolotundo ini aku sempat berendan juga lho… meski tidak membawa baju ganti, akhirnya aku nekat pinjam sarungnya Om Sapto. Wuh sueger baget. Semoga bisa awet muda. Seperti mitosnya. (Amien)
Akhirnya pulang, turunan yang sangat ekstrim menjadikan kami tidak melakukan DownHill. Bisa-bisa pulang tinggal nama. Begitu sampai di gerbang masuk Candi, ternyata ada Simbok Poncokusumo dan Suami tercintaku menunggu di situ… weh leganya melihat semua aman. Setelah sempat berfoto bersama dan bahkan bikin foto prewed lagi dengan bantuan om Huda, meluncurlah kami pulang. Masih harus di tuntun lagi sepedahnya, karena medan masih sangat ekstrim. Setelah dirasa jalur sudah bisa di turuni, meluncur para pesepeda nekat ini. Sayangnya ditengah perjalanan, hujan yang sangat deras menemani perjalanan. Dengan berselimutkan jas hujan kami terus membela jalanan menuju rumah masing-masing. Rombonganku ( Om Huda, Om Edi Zul, Om Ridho (kali ini aku ndak melepaskan suamiku sendirian, bisa ilang dia. Wkwkwkwk…..) dan om Hanafi sempat berhenti di sebuah warung di wilayah Jasem. Sempat memberhentikan om Sapto dan seorang anggota b2C Unesa. Makanlah kita…. Luaper banget. Dan rejekinya, masya allah, sudah enak. Murah lagi. Sepiring makan porsi besar di tambah segelas teh manis panas, Cuma 6.000 rupiah. Joss dech.
Selesai makan-makan dan istirahat, masih di iringi hujan, kami bergerak pulang. Beriringan. Setelah berpisah dengan om Sapto karena harus menunggu rombongan B2C Unesa yang lain. Setelah hanya berlima dan menerobos jalan persawahan, aku jadi ingat sebuah kelompok detektif, lima sekawan. Tingkah kami berlima persis kayak petualangan lima sekawan. Setelah sampai di wilayah Puspa Agro, aku baru sadar om Ridho suamiku tertinggal jauh. Tanpa diketahui teman yang lain, aku berhenti dan menunggu. Ternyata om Ridho tepar. Kelelahan yang teramat sangat. Akhirnya hanya kami berdua berjalan pelan-pelan. Akhirnya pas bedug Isya, kami berdua sampai depan garasi rumah karena sempat berhenti dulu mbungkus makan malam.
Sampai rumah, mbersihkan sepeda, merendam baju yang penuh lumpur, mandi dan makan, trus istirahat. Total 97 kilomenter. Berangkat dari rumah jam 5 pagi pulang jam 18.30. wuih….. meski ‘Lulus’ Jolotundo, aku tidak keberatan untuk mengantar suamiku, om Ridho, buat ‘perbaikan nilai’. Bukan begitu pak dosen, Om Sapto Wibowo….?
Terima kasih GTS, terima kasih Distro, terima kasih B2W Sidoarjo, terima kasih Albatros, terima kasih B2S Candi, Specially Thanks to B2C Unesa. Petualangan Sehari yang Sangat Berkesan.
Seperti yang sudah saya tulis di note terdahulu (sumber tetek..wow), minggu 29 Januari 2012 kemaren, aku dan banyak teman bergerak ke pemandian Jolotundo. Lokasi tepatnya, adalah di wilayah sisi barat daya lereng gunung Penanggungan. Pagi itu setelah bertemu teman-teman GTS dan B2C Unesa di Taman Pelangi Surabaya, kami berenam bergerak ke Alun-Alun Kabupaten Sidoarjo. Disini sudah berkumpul juga teman-teman dari B2W Sidoarjo, Distro, Albatros, B2S Candi dan sebagian B2C Unesa. Hampir 30 an orang siap meluncur ke Lokasi Pentirtan Prabu Airlangga. oh ya… di Touring Jolotundo ini aku ndak lagi perempuan semata wayang. Ada Simbok Poncokusumo dan nTe Rizka dari b2C Unesa yang bergabung. Duh senengnya da teman sejenis (hahaha…….) Setelah doa yang dipimpin om Pri dari Albatros, meluncurkah kami menuju lokasi.
Memilih melewati jalur dalam agar tidak banyak bertemu kendaraan besar. Lewat wilayah Krembung dan Ngoro sampai ke PPLH Seloliman. Pada awalnya medan memang sangat bersahabat, kami melalui kebun tebu dan pematang sawah yang hampir panen. Asyik banget.sampai akhirnya sampai jalanan yang terus menanjak. Belum ekstrim tanjakannya. Masih bisa ditaklukan dengan “kesabaran”. Tapi jalur panjang menanjak yang sebarengi kendaraan yang melaju sangat kencang, menjadikan kami harus ekstra hati-hati dan waspada. Di jalur yang seakan tiada habisnya inilah, Om Toni dari B2C Unesa harus menerima kenyataan di sruduk dari belakang pembalap nekat. Bagaimana gak nekat, wong masih usia smp. Wah RD sepeda om Toni patah. Terpaksa dimutilasi rantainya dan di jadikan single speed. Betis kana nom Toni juga mengalami luka robek. Untungnya tidak parah. Perjalanan bisa dilanjutkan kembali. Yang tak kalah menggagetkan, ketika sebagian dari kami beristirahat, ternyata di balik batu ada ulat yang sedang beranak. Waduh ada yang hampir ngigit om Bonnie.(ini cerita om Jonis Jo dan om Ridho. Soalnya aku berada jauh di depan rombongan ini) Di jalur yang belum menanjak ekstrim ini pun, dua sodara sejenis saya, simbok poncokusumo dan nTe Riska, harus menyerah pada alam. Terpaksa banyak nuntun karena gak kuat nanjak. Seandainya aku berbarengan kelompok dengan para Srikandi ini, aku bisa juga tepar. Untungnya aku bersama om Huda, om Edi Zul dan om Aries, menemani adik-adik dari B2S Candi Sidoarjo. Dengan nafas yang hanpir putus, aku tatap gowes meski tidak lebih cepat dari berjalan kaki. Om Aries bahkan sempat nyengir mengomentari statmenku…”Mosok gak nyampe tah mbasio kalem-kalem”. Doping semangat dari ketiga Arjuna inilah ( Om Huda, Om Aries dan om Edi Zul) yang terus memompa semangatku. Memang aku sempat berpisah jarak yang lumayan jauh dengan om Ridho, suamiku, jadinya ketika ada moment foto-foto, aku hanya dapat memphoto si blue sepedaku dan pemandangan alam yang sangat cantik.
Setelah sempat istirahat beberapa kali, sekitar pukul sebelas siang, aku, om Huda, om Aries dan om Edi Zul bersama adik-adik B2S Candi sampai juga di pintu masuk PPLH Seloliman. Dari Lokasi ini kurang lebih “hanya” 500 meter sampai di gerbang Candi Jolotundo.tapi Nanjak. Ekstim lagi. Di Lokasi inilah kami bertemu om Pri dan teman teman lain dari B2C Unesa. Hampir satu jam kami menunggu rombongan di belakang kami, tapi tidak datang juga. Karena tidak mendapat signal Hp. Akhirnya kami naik menuju ke Candi Jolotundo dengan harapan nantinya bisa berkumpul di atas. Sayangnya sampai dengan selesai berendam dan photo-photo, aku tidak menemukan om Ridho suamiku sampai finish. Akhirnya aku hanya bisa membawakan air dari sumber Jolotundo yang konon (jika percaya) bisa membuat orang awet muda buat om Ridho. Oh ya, di pemandian Jolotundo ini aku sempat berendan juga lho… meski tidak membawa baju ganti, akhirnya aku nekat pinjam sarungnya Om Sapto. Wuh sueger baget. Semoga bisa awet muda. Seperti mitosnya. (Amien)
Akhirnya pulang, turunan yang sangat ekstrim menjadikan kami tidak melakukan DownHill. Bisa-bisa pulang tinggal nama. Begitu sampai di gerbang masuk Candi, ternyata ada Simbok Poncokusumo dan Suami tercintaku menunggu di situ… weh leganya melihat semua aman. Setelah sempat berfoto bersama dan bahkan bikin foto prewed lagi dengan bantuan om Huda, meluncurlah kami pulang. Masih harus di tuntun lagi sepedahnya, karena medan masih sangat ekstrim. Setelah dirasa jalur sudah bisa di turuni, meluncur para pesepeda nekat ini. Sayangnya ditengah perjalanan, hujan yang sangat deras menemani perjalanan. Dengan berselimutkan jas hujan kami terus membela jalanan menuju rumah masing-masing. Rombonganku ( Om Huda, Om Edi Zul, Om Ridho (kali ini aku ndak melepaskan suamiku sendirian, bisa ilang dia. Wkwkwkwk…..) dan om Hanafi sempat berhenti di sebuah warung di wilayah Jasem. Sempat memberhentikan om Sapto dan seorang anggota b2C Unesa. Makanlah kita…. Luaper banget. Dan rejekinya, masya allah, sudah enak. Murah lagi. Sepiring makan porsi besar di tambah segelas teh manis panas, Cuma 6.000 rupiah. Joss dech.
Selesai makan-makan dan istirahat, masih di iringi hujan, kami bergerak pulang. Beriringan. Setelah berpisah dengan om Sapto karena harus menunggu rombongan B2C Unesa yang lain. Setelah hanya berlima dan menerobos jalan persawahan, aku jadi ingat sebuah kelompok detektif, lima sekawan. Tingkah kami berlima persis kayak petualangan lima sekawan. Setelah sampai di wilayah Puspa Agro, aku baru sadar om Ridho suamiku tertinggal jauh. Tanpa diketahui teman yang lain, aku berhenti dan menunggu. Ternyata om Ridho tepar. Kelelahan yang teramat sangat. Akhirnya hanya kami berdua berjalan pelan-pelan. Akhirnya pas bedug Isya, kami berdua sampai depan garasi rumah karena sempat berhenti dulu mbungkus makan malam.
Sampai rumah, mbersihkan sepeda, merendam baju yang penuh lumpur, mandi dan makan, trus istirahat. Total 97 kilomenter. Berangkat dari rumah jam 5 pagi pulang jam 18.30. wuih….. meski ‘Lulus’ Jolotundo, aku tidak keberatan untuk mengantar suamiku, om Ridho, buat ‘perbaikan nilai’. Bukan begitu pak dosen, Om Sapto Wibowo….?
Terima kasih GTS, terima kasih Distro, terima kasih B2W Sidoarjo, terima kasih Albatros, terima kasih B2S Candi, Specially Thanks to B2C Unesa. Petualangan Sehari yang Sangat Berkesan.
Minggu, 22 Januari 2012
Sumber Tetek…..WOW
Lama banget aku gak nulis. Setiap kali aku pengen nulis, jagoan kecilku, Kresna, selalu bilang, “Bunda, kali ini biar Kresna yang tulis notenya ya…” Masak royokan ma bocahku sendiri…gak lucukan….(hehehe &hellip
Nah sekarang waktunya aku yang nulis, karena event kali ini, si Bocah gak ikutan.
Lama rasanya aku dan suamiku ndak gowes jarak jauh… ( sampai lupa rasanya….hehehe Setelah aku sampaikan ke teman-teman baik di GTS ( Gowes Tetap Semangat ) atau di DISTRO ( Distrik Ronggeng ), akhirnya ada beberapa pilihan. Candi Belahan/Sumber Tetek-Gempol Pasuruan, Jolotundo-Seloliman Trawas Mojokerto, Pantai Delegan-Panceng Gresik, dan lain sebagainya. Banyak juga teman-teman yang siap mengawal. ( hehehe ….begini lho enaknya jadi perempuan semata wayang ).Karena banyaknya pilihan, akhirnya aku dan suami putuskan melaksanakan banyaknya pilihan tujuan gowes tersebut secara bertahap. Dan minggu 22 Januari 2012, kami meluncur ke Sumber Tetek atau Candi Belahan di wilayah Gempol Kabupaten Pasuruan. Dari Surabaya sih estimasi jarak tempuhnya 47 kilometer. Jadi kemungkinan pulang pergi 94 kilometer.
Minggu 22 Januari, akhirnya kami berangkat dengan semangat mengebu. Dengan total sebelas personil (gabungan dari Distro, GTS, Arbatros (bener gini ejaannya ?) dan B2W Sidoarjo) kami berangkat dari titik kumpul Alun-Alun Sidoarjo sekitar pukul 6 pagi. Setelah doa bersama, langsung kita meluncur dengan marshall Om Ardimini Distro. Selama awal perjalanan sih asyik-asyik aja. Masuk Jalan Raya Porong/Tanggul Lapindo lumayan padat (maklum liburan). Lepas Jembatan Porong, ternyata Om Ardimini Distro belok kanan dan kami lurus. (hahaha ….terpisah dech..). untungnya ada Om Ilul dari Distro dan teman-teman dari Arbatros yang sudah pernah ke TKP. Jadi kami tetap meluncur ke tujuan. Terpisah dengan Om Ardimini Distro juga baru kita sadari, setelah kita akan belok kanan menuju TKP. Sempat ketemu Om Samsul Huda dari Mujahidin, yang nyusul kita karena telat ketemuan di titik kumpul. Tapi ternyata Om Samsul terlalu asyik sama musik di earphonenya. Jadi sekuat apa kita teriak manggil, Om Samsulnya ya gak denger. (wkwkwk….)
Begitu belok kanan masuk wilayah Dusun Jeruk Purut, aku sempat tanya, jalanannya mulai nanjak ya…. Eh semua pada koor menjawab “….TIDAK…” ternyata jalan paving semakin menanjak dan menanjak. Sampai pavingnya habis. Begitu sampai di jalanan berbatu baru kami sadar, anggota rombongan hilang dua orang lagi. Om Haho dan Om Jonis. Tapi biarlah…udah gede juga. Lagian mereka da senior banget. (hahaha …..). Sepanjang perjalanan, penuh dengan narsis-narsis, mancal dan nyurung/nuntun berjamaah. Hahaha ….. para seniorku mbohongi aku…medan menuju Candi Belahan sangat-sangat ektrim. Berbatu-batu lagi. Akhirnya di pertigaan habisnya jalan yang sedikit bagus dan harus melewati jalan berbatu yang hancur banget, disinilah tim ketemu dan lengkap kembali sebelas orang. Cuma Om Jonis dan Om Haho sempat sesasar tiga kilometer. Nanjak lagi. Mereka juga bilang jalur yang harus mereka lalui uedan tenan. Tebing curam yang sewaktu-waktu siap longsor karena pasirnya di tambang. Dan dua raja jalanan itupun harus menyerah pada alam. Nuntun di tanjakan yang mereka lewati. (hahaha ……..)
Di sini kembali aku bertanya, “…Om masih tajemnya nanjaknya…?” eh dijawab lagi…”TIDAK” “cuman dikit kok nTe, depan itu da nyampai..?” senyum manis om Pri dari Arbatros meluluhkan rasa capekku.
Eit, ternyata aku dibohongi lagi. Masih juauuuh banget !. Dan terjadilah nuntun berjamaah lagi. Di jalur hampir akhir ini, suami tercintaku, Om Ridho tepar juga. Paha kanannya kram. Sempat hampir jatuh menjelang finish di Candi Belahan. Tapi akhirnya nyampai dengan selamat semuanya.
Setelah cukup istirahat, cukup makan minum dan cukup narsis-narsis, akhirnya kita persiapan pulang. Eh beberapa teman menyarankan kita lewat jalur cocacola (karena lewat pabriknya).”….cuman nanjak dikit kok nTe…trus turun terus…”
Yo wes. Wong sudah sepakat kok… nancal lagi dan nuntun lagi. Tapi eits…. Tanjakanya gak cuma satu…..bertanjak-tanjak…. Waduh dibohongi lagi ni…..(sambil geleng-geleng). Sampai tanjakan habis-bis dan kita ada diujung paling atas dan bisa memandang jauh dibawah sana ada pemandangan yang subhanallah….. ciamik soro !
Nah saatnya turun, saatnya timbul masalah. Waduh….
Jujur diantara semua sapidah yang ikut touring kali ini, sepedaku salah satunya yang tidak pake rem cakram. Akhirnya dengan tekat membaja dan kedua tangan terus menekan rem sambil sesekali melepasnya, aku meluncur dengan sesekali berteriak kegirangan. Bayangkan, sekitar 50an km/jam kita meluncur turun dan berbelok-belok. Rombongan terpisah. Aku, Om Pri dan Om Sapto. Aman sampai akhir tanjakan setan itu. Nah rombongan berikutnya, harus mengevakuasi Om Wawan yang sedari awal sudah tidak safe !.
Bayangkan, kondisi rem sepeda om Wawan gak bagus blas. Gak pakem. Trus Om Wawan juga gak pake Helmet !. karena melaju turun dengan kencang, rem gak pakem, ndlosorlah si Om ini, mbabat ladang singkong lebih dari lima meter. Om Wawan mengalami “bocor tipis” dikepalanya dan si sebagian besar punggungnya lecet-lecet. Untung gak masuk jurang (kok masih untung ya…?) Si Om pun dinaikkan truck untuk dibawa ke lokasi pengobatan. Wuih….darah segar bok…! Untungnya aman. Om Wawan tidak sampai muntah dan maksa melanjutkan perjalanan pulang dengan tetep gowes. Dengan kondisi rem yang gak layak, roda yang sleat-sleot karena peleg bengkong dan gir depan hanya berfungsi yang paling kecil, pelan banget perjalanan pulang kita. Oalah alamat sampai sore nyampai rumah. Dan rombongan pun terpisah-pisah lagi. Om Pri sendirian karena tidak tau adanya musibah yang menimpah Om Wawan, rombongan kedua, Om Haho, Om Jonis Jo, Om Zul dan Om Arie. Trus terakhir rombongan ketiga, Om Sapto, aku, Om Ridho, Om Ardimini, Om Ilul dan Om Wawan. Jiah rombongan terakhir ini terseok-seok. Om Wawan kecelakaan dan Om Ridho kram kedua pahanya. Selama perjalanan sampai rumah hanya 15an kilometer perjam.
Wadah cuma 86 km perjalanan PP dari rumah dan Candi Belahan, tapi kondisi medannya benar-benar sensasional. Naik-turun dan ajrut-ajrutan. Dan edisi Sumber Tetek/Candi Belahan ini aku, nTe Arum serasa benar-benar jadi Om Umar. (hahaha ………….) Tapi tetap saja selalu ada afterwed, keren kan.....
Berikutnya tunggu note petualangan Jolotundo bersama B2C UNESA minggu depan, Minggu 29 Januari 2012.
Lama rasanya aku dan suamiku ndak gowes jarak jauh… ( sampai lupa rasanya….hehehe Setelah aku sampaikan ke teman-teman baik di GTS ( Gowes Tetap Semangat ) atau di DISTRO ( Distrik Ronggeng ), akhirnya ada beberapa pilihan. Candi Belahan/Sumber Tetek-Gempol Pasuruan, Jolotundo-Seloliman Trawas Mojokerto, Pantai Delegan-Panceng Gresik, dan lain sebagainya. Banyak juga teman-teman yang siap mengawal. ( hehehe ….begini lho enaknya jadi perempuan semata wayang ).Karena banyaknya pilihan, akhirnya aku dan suami putuskan melaksanakan banyaknya pilihan tujuan gowes tersebut secara bertahap. Dan minggu 22 Januari 2012, kami meluncur ke Sumber Tetek atau Candi Belahan di wilayah Gempol Kabupaten Pasuruan. Dari Surabaya sih estimasi jarak tempuhnya 47 kilometer. Jadi kemungkinan pulang pergi 94 kilometer.
Minggu 22 Januari, akhirnya kami berangkat dengan semangat mengebu. Dengan total sebelas personil (gabungan dari Distro, GTS, Arbatros (bener gini ejaannya ?) dan B2W Sidoarjo) kami berangkat dari titik kumpul Alun-Alun Sidoarjo sekitar pukul 6 pagi. Setelah doa bersama, langsung kita meluncur dengan marshall Om Ardimini Distro. Selama awal perjalanan sih asyik-asyik aja. Masuk Jalan Raya Porong/Tanggul Lapindo lumayan padat (maklum liburan). Lepas Jembatan Porong, ternyata Om Ardimini Distro belok kanan dan kami lurus. (hahaha ….terpisah dech..). untungnya ada Om Ilul dari Distro dan teman-teman dari Arbatros yang sudah pernah ke TKP. Jadi kami tetap meluncur ke tujuan. Terpisah dengan Om Ardimini Distro juga baru kita sadari, setelah kita akan belok kanan menuju TKP. Sempat ketemu Om Samsul Huda dari Mujahidin, yang nyusul kita karena telat ketemuan di titik kumpul. Tapi ternyata Om Samsul terlalu asyik sama musik di earphonenya. Jadi sekuat apa kita teriak manggil, Om Samsulnya ya gak denger. (wkwkwk….)
Begitu belok kanan masuk wilayah Dusun Jeruk Purut, aku sempat tanya, jalanannya mulai nanjak ya…. Eh semua pada koor menjawab “….TIDAK…” ternyata jalan paving semakin menanjak dan menanjak. Sampai pavingnya habis. Begitu sampai di jalanan berbatu baru kami sadar, anggota rombongan hilang dua orang lagi. Om Haho dan Om Jonis. Tapi biarlah…udah gede juga. Lagian mereka da senior banget. (hahaha …..). Sepanjang perjalanan, penuh dengan narsis-narsis, mancal dan nyurung/nuntun berjamaah. Hahaha ….. para seniorku mbohongi aku…medan menuju Candi Belahan sangat-sangat ektrim. Berbatu-batu lagi. Akhirnya di pertigaan habisnya jalan yang sedikit bagus dan harus melewati jalan berbatu yang hancur banget, disinilah tim ketemu dan lengkap kembali sebelas orang. Cuma Om Jonis dan Om Haho sempat sesasar tiga kilometer. Nanjak lagi. Mereka juga bilang jalur yang harus mereka lalui uedan tenan. Tebing curam yang sewaktu-waktu siap longsor karena pasirnya di tambang. Dan dua raja jalanan itupun harus menyerah pada alam. Nuntun di tanjakan yang mereka lewati. (hahaha ……..)
Di sini kembali aku bertanya, “…Om masih tajemnya nanjaknya…?” eh dijawab lagi…”TIDAK” “cuman dikit kok nTe, depan itu da nyampai..?” senyum manis om Pri dari Arbatros meluluhkan rasa capekku.
Eit, ternyata aku dibohongi lagi. Masih juauuuh banget !. Dan terjadilah nuntun berjamaah lagi. Di jalur hampir akhir ini, suami tercintaku, Om Ridho tepar juga. Paha kanannya kram. Sempat hampir jatuh menjelang finish di Candi Belahan. Tapi akhirnya nyampai dengan selamat semuanya.
Setelah cukup istirahat, cukup makan minum dan cukup narsis-narsis, akhirnya kita persiapan pulang. Eh beberapa teman menyarankan kita lewat jalur cocacola (karena lewat pabriknya).”….cuman nanjak dikit kok nTe…trus turun terus…”
Yo wes. Wong sudah sepakat kok… nancal lagi dan nuntun lagi. Tapi eits…. Tanjakanya gak cuma satu…..bertanjak-tanjak…. Waduh dibohongi lagi ni…..(sambil geleng-geleng). Sampai tanjakan habis-bis dan kita ada diujung paling atas dan bisa memandang jauh dibawah sana ada pemandangan yang subhanallah….. ciamik soro !
Nah saatnya turun, saatnya timbul masalah. Waduh….
Jujur diantara semua sapidah yang ikut touring kali ini, sepedaku salah satunya yang tidak pake rem cakram. Akhirnya dengan tekat membaja dan kedua tangan terus menekan rem sambil sesekali melepasnya, aku meluncur dengan sesekali berteriak kegirangan. Bayangkan, sekitar 50an km/jam kita meluncur turun dan berbelok-belok. Rombongan terpisah. Aku, Om Pri dan Om Sapto. Aman sampai akhir tanjakan setan itu. Nah rombongan berikutnya, harus mengevakuasi Om Wawan yang sedari awal sudah tidak safe !.
Bayangkan, kondisi rem sepeda om Wawan gak bagus blas. Gak pakem. Trus Om Wawan juga gak pake Helmet !. karena melaju turun dengan kencang, rem gak pakem, ndlosorlah si Om ini, mbabat ladang singkong lebih dari lima meter. Om Wawan mengalami “bocor tipis” dikepalanya dan si sebagian besar punggungnya lecet-lecet. Untung gak masuk jurang (kok masih untung ya…?) Si Om pun dinaikkan truck untuk dibawa ke lokasi pengobatan. Wuih….darah segar bok…! Untungnya aman. Om Wawan tidak sampai muntah dan maksa melanjutkan perjalanan pulang dengan tetep gowes. Dengan kondisi rem yang gak layak, roda yang sleat-sleot karena peleg bengkong dan gir depan hanya berfungsi yang paling kecil, pelan banget perjalanan pulang kita. Oalah alamat sampai sore nyampai rumah. Dan rombongan pun terpisah-pisah lagi. Om Pri sendirian karena tidak tau adanya musibah yang menimpah Om Wawan, rombongan kedua, Om Haho, Om Jonis Jo, Om Zul dan Om Arie. Trus terakhir rombongan ketiga, Om Sapto, aku, Om Ridho, Om Ardimini, Om Ilul dan Om Wawan. Jiah rombongan terakhir ini terseok-seok. Om Wawan kecelakaan dan Om Ridho kram kedua pahanya. Selama perjalanan sampai rumah hanya 15an kilometer perjam.
Wadah cuma 86 km perjalanan PP dari rumah dan Candi Belahan, tapi kondisi medannya benar-benar sensasional. Naik-turun dan ajrut-ajrutan. Dan edisi Sumber Tetek/Candi Belahan ini aku, nTe Arum serasa benar-benar jadi Om Umar. (hahaha ………….) Tapi tetap saja selalu ada afterwed, keren kan.....
Berikutnya tunggu note petualangan Jolotundo bersama B2C UNESA minggu depan, Minggu 29 Januari 2012.
Langganan:
Postingan (Atom)
















