Senin, 31 Oktober 2011

Ups…Malunya…..

Katanya orang pinter, kalo memulai sesuatu itu harus bener niatnya. Kalau gak bener, hasilnya juga ndak akan bagus.

Kalimat diatas ternyata berlaku untukku… begini ceritanya :
Sabtu malam 29 Oktober 2011, bundaku, bunda Arum bertanya apakah benar aku mau ikut ke Car Free Day Sidoarjo… aku jawab. Beneran Bunda. Nah masalahnya, Bundaku nggak tau kalo niatku cuma supaya aku dapet  pinnya edisi perdananya B2W Sidoarjo. Soalnya meski aku anaknya Bunda dan Bunda sendiri yang membawa pin itu, nggak bakalan Bunda kasih cuma-cuma. Kata Bunda, pin kegiatan itu bukan cuma buat gaya-gayahan. Harus ada perjuangan untuk mendapatkannya.

Akhirnya minggu pagi, 30 Oktober 2011, sebelum jam 5 pagi, aku, ayah Ridho dan bunda Arum berangkat ke CFD Sidoarjo. Nah niatku yang kurang jelas ini mengakibatkan aku kurang konsentrasi dijalan. Baru 3 kilometer dari rumah, GUBRAK. Aku jatuh. Nggak berdarah-darah sih.. tapi baju, kaki dan tanganku jadi hitam semua. Kotor karena semalam habis hujan.Jalanan jadi sedikit berlumpur. Ih malu dan perih rasanya. Bunda dan Ayah sudah nanya apakah aku masih kuat melanjutkan perjalanan. Soalnya perjalanan masih sangat jauh. Dari rumah ke CFD Sidoarjo kurang lebih 23 kilometer. PP jadi 46 kilometer. Wah aku sudah terlanjur pingen pinnya. Jadi  aku jawab terus aja Bunda, gak papa.(Nggak jujur lagi ni…)
Karena aku jalannya pelan banget, Bunda agak stress kali, karena Bunda bawa nasi bungkus buat om dan tante B2W Sidoarjo yang memberikan service sepeda gratis di area CFD, maka Bunda langsung memberi aku “dorongan”. Alhasil aku cuma duduk manis di sadel sepedaku dan bunda yang ngos-ngosan.(hihihi maaf Bunda).Pulangnya juga begitu, karena melihat Bunda sudah kecapekan “mendorong” aku pas berangkat, ayah Ridho yang menggantikan posisi bunda. Jadilah aku pulang pergi mendapatkan “dorongan”. Maap ya Ayah dan Bunda. Tapi terima kasih buat pinnya. Meski cuma gowes sedikit, Bunda tetep kasih aku pin B2W-Sidoarjo. Sayang aku nggak ketemu Om Jengkol (Om Gogiek) padahal aku juga pengen berteriak “ASOLOLE” (hahahahahahaha)

Stttt. Om dan Tante tau ngak….. aku gak mau ngulang lagi ! kasihan Bundaku. Pulang CFD langsung mandi, makan dan tidur. Tidurnya pules banget. Mungkin Bunda kecapekan “mendorong” aku. I Love You Bunda.

Senin, 24 Oktober 2011

Gunung Bajul. Ajrut-Ajrutan. Wow Ini Virus Keempat


Sejak menjadikan sepeda menjadi bagian dari aktifitas kami sekeluarga, kami sering mencari beragam bentuk bersepeda. Mulai dari ikut CFD sampai bersepeda jarak jauh. Nah bentuk lainnya ya mencoba medan offroad. Meski masih dalam kategori newbie, kami memasukan mental bonek untuk urusan ini.
Dengan mengandalkan skok hasil upgrade bulan lalu, kami berdua langsung menyatakan ikut ketika GTS (Gowes Tetap Semangat) mengshare kegiatan ajrut-ajrutan ke Gunung Bajul. Ohya, Gunung Bajul itu adalah sebuah wilayah pebukitan di wilayah Karangpilang Surabaya Selatan yang di sebagian wilayahnya digunakan kegiatan anggota marinir. Tak heran dalam perjalanan kami menemukan areal lapangan upacara dan lapangan tembak disana. Nah cerita lengkapnya begini.

Minggu pagi, 23 Oktober 2011. Dini hari setelah menyiapkan bekal sarapan dan makan siang buat Kresna jagoan kami, kami berangkat ke tengah kota. Ada teman kerja yang kasih tiket fun bike yang eman kalo jerseynya gak diambil (lumayan buat nambah koleksi, hahahahaha). Setelah jersey dan snack ditangan, dengan cueknya kami berdua meninggalkan lokasi funbike dan melenggang menuju tikum satu di depan BNI 46 Raya Darmo. Eh ternyata masih nomor satu. Kemudian Om Zul datang disusul Om Yan, nTe Ai, nTe Ryana, nTe Dini dan nTe Santy. Setelah cukup menunggu dan tidak ada yang datang lagi, bergeraklah kita menuju tikum dua (Jembatan Baru Karangpilang). Disana sudah menunggu Om Bonnie. Nah dedengkotnya GTS inilah yang didapuk jadi Marshallnya. Dan ternyata gak salah pilihan kami. Si Om yang satu ini, membawa kita ngetrek dengan “manis” di jalur offroad Gunung Bajul.

Dimulai dari menyusuri tanah retak karena musim kemarau berkepanjangan, sampai bertemu ular sebesar lengan orang dewasa. Wuih……tak terkatakan kagetnya. Tapi aman ularnya berbagi jalan dengan kami. Hahahahaha
Akhirnya melewati jalur teriak, bagaimana tidak berteriak, kami yang baru mencoba jalur offroad harus naik  tanjakan dan menuruni turunan curam.serasa terbang. Weeerrrrrr. Untung skok udah di upgrade. Meski rasanya kurang sip. (moga-mogaan ada rejeki lagi buat upgrade lagi. Xixixixi)

Akhirnya bertemu dengan lokasi aktivitas marinir. Setelah melewati lapangan yang kayaknya dipersiapkan untuk upacara (karena ada tiang bendera di tengah-tengahnya) kami juga melintasi lapangan tembak. Untung lagi tidak latihan menembak jadi kami bisa bernarsis ria di antara sasaran tembaknya.
Lanjut….
Nanjak lagi dan melewati ilalang. Waduh. Karena memakai celana pendek, betis ku sempat mendapat kenang-kenang kegores rumput liar. Begitu kena keringat, wadaow perihnya….

Terakhir, kami menuju perkampungan penduduk. Asyik… meski jalanan agak goyang karena tatanan batakonya gak padat. Di wilayah Sumur Welut, kami ketemu bagunan cantik dengan gaya klasik. Narsis dech…. Lihat tingkah pola para “Darma Wanita” GTS di albumku (Ajrut-ajrutan Gunung Bajul). Akhirnya perjalanan mengarah kerumah Om Huda di kawasan Kebonsari. Ini asyiknya, kami Nambang ! Naik perahu kayu yang menyebrangkan kami dari wilayah Kebraon ke wilayah Kebonsari,. Dan ternyata, Om Huda dan nTe Iin sudah menyiapkan es buah !!. Uih…. Sueger. Eh gado-gado juga muncul. Waduh enak tenan. Makasih Om dan Tante. Pangeran yang mbales ya…..hehehehehe

Kurang dari 40 km PP dari Rumah, tapi sensasinya….. Woooow…Lebih baik coba sendiri dech… Insya allah di ulang lagi….Sstttt, kata Om Yan napak tilas. (tapi lebih baik tidak ditulis kenapa)… Cuma peserta Ajrut-ajrutan Gunung bajul yang tau.hahahahahaha… Karena sudah “lulus” Gunung Bajul, kita tunggu pin nya. GTS Ajrut-Ajrutan Gunung Bajul.

Minggu, 09 Oktober 2011

Gowes Wisata Mangrove Wonorejo


Refresing bersepeda sepertinya sudah menjadi harga mati buat keluargaku. Ya, Aku dan suamiku, Om Ridho serta jagoan kami Kresna, selalu berusaha menjadikan sepeda untuk mengeratkan rasa cinta dan sayang diantara kami bertiga. Meski kadangkala Kresna terpaksa tidak ikut serta karena kesibukannya di sekolah. Maklum sudah kelas V SD. Mulai banyak tugas dan tambahan pelajaran.Seperti yang kami alami minggu 09 Oktober 2011 kemaren.Kresna terpaksa tidak ikut gowes karena ada latihan tambahan Paduan Suara untuk tampil di TVRI Surabaya.Akhirnya hanya aku dan suami yang brangkat gowes.

Minggu pagi itu sengaja, kami, aku dan suami tidak ikut mengawal CFD Sidoarjo karena ingin merasakan sensasi lain. Sahabat Sepeda dari Gowes Tetap Semangat menawarkan agenda Gowes ke Mangrove Wonorejo di kawasan Surabaya Timur. Gayung bersambut. Berangkatlah kami ajrut-ajrutan di kawasan Wanawisata Mangrove Wonorejo. Berangkat jam 6 pagi, memang tidak menjadikan kami bertemu matahari terbit. Tapi suasana hangat matahari pagi menjadikan kami sangat-sangat bersemangat.Tidak banyak anggota GTS yang ikut meramaikan Gowes pagi itu, tapi tetep saja suasana ruame banget. Maklum, sudah menjadi rahasia umum kalo goweser pada narsis semua. Setiap ada pemandangan yang indah, mejeng dulu. Cekrik-cekrik. Hahahahahaha.

Beruntungnya semalam tidak turun hujan, jadi jalur menuju Dermaga Wanawisata Mangrove tidak becek. Bayangkan kalau habis diguyur hujan, jalanan yang lebarnya kurang dari semeter itu pasti menjatuhkan banyak korban.masuk ke tambak.tapi kata Om Bonnie, Om Zul dan juga Om Yan,  pastinya lebih asyik kalo pas hujan atau habis hujan. Sensasi ajrut-ajrutannya lebih berasa.
Di sepanjang perjalanan banyak juga kita bertamu rombongan pesepeda lain, ada yang dari Surabaya ada juga yang dari luar kota.

Sensasi asyik muncul lagi ketika sampai di pintu masuk lokasi dermaga. Kita harus meniti bambu yag menjorok ke tengah kolam. Beruntung bambunya kuat. Bayangkan bagaimana malunya jika badan size besarku ini terjatuh karena bambunya gak kuat menahan berat badan ku. Belum habis sensasinya. Meski, para sapidah harus diparkir di pintu masuk dermaga, jalan kaki melintasi jembatan bamboo di tengah hutan mangrove gak kalah romantisnya. Ini yang membuat aku dan suami rodo nekat bernasis ria. Dengan bantuan Om Yan sang juru Sotretnya GTS, mulaikah kami bikim foto afterwedding. (hahahahaha) soalnya udah gak mungkin bikin prewedding kan…..hasilnya, wah sangat-sangat tidak mengecewakan.

Setelah puas menikmati Wanawisata Mangrove Wonorejo, ada keinginan kami untuk bikin Gathering di sana. Melibatkan semua keluarga besar GTS, semoga saja keinginan ini bisa terwujud dan semakin memesrakan hubungan keluarga kami secara individu juga.
Akhirnya, PP hanya 56 kilometer. Tapi sensasinya tak terkatakan.
Untuk gambar-gambarnya, bisa dilihat di album aku, Wanawisata Mangrove Wonorejo.

Kamis, 28 Juli 2011

Wah…. Koplak Dech…..


Beberapa hari lalu, aq dan kakak tertuaku, menjemput mama yang sakit di Kediri dan dibawa pulang ke Surabaya. Dengan harapan, proses penyembuhan mama akan lebih cepat, karena di Surabaya ada 3 anak-anaknya dan dekat juga dengan sebagian sodara kandungnya (juga dekat dengan makam almarhum Papa).Apalagi. sekarang juga sudah mendekati Ramadhan. Apa enaknya berlebaran tanpa Ibunda tercinta.
Sesuai perjanjian, aq dapet tugas melayani mama (mandi, makan, jalan2 dan sebagainya) pada pagi hari, karena jam kerjaku baru mulai jam 9 pagi. Lokasi kantorku juga gak jauh-jauh amat dari rumahku ato rumah mamaku.
Tugas pertama dimulai.
Seusai sholat subuh dan seusai menyiapkan kebutuhan si Kresna, jagoanku, mulailah aq nggowes ke rumah mama. Sampai di rumah mama, nyiapin sarapan, masak air buat mandiin mama dan sebagainya dan sebagainya. Selesai. Nggowes ke kantor… kring….kring….
Ealah begitu pulang mo balik ke rumah mama buat mandikan sore hari, ada yang hilang dari badan sapidahku… tagbike b2w-nya ilang…lho kok…?  Spontan mengumpatlah aq….”maling kurang ajar. Masak ada barang yang lebih berharga (senter dll) kok cum tagbike yang diambil”
Apa malingnya pengin sepedahan pake tagbike b2w ya…..?
Nah karena sibuk mikir gimana ngambilnya tagbike itu, (mungkin) aq kurang konsentrasi. Dari arah yang sama, ada becak muat galvanis yang muatannya tiba-tiba nylorot/jatuh. Gubrak kenalah aq. Hasilnya… tepar di tengah jalan dengan lengan kiri robek, jempol kaki kiri cuel, dan perut lebam biru-biru kehantan galvanis….!
Oalah… maaf ya om Maling…gara-gara nyumpahin sampeyan, aq jadi tepar di tengah jalan.
Dan bagaimana dengan Sapidahku ? (udah berdarah-darah masih mikir sapidahnya….hehehehehe)
Karena jatuh ato karena apa ya…. Ban depan dan belakang jadi koplak. Untung aja ada tukang service yang standby setiap saat. 24 jam nonstop. Tinggal telp dan buka service dech di ruang kerjaku.
Om Ridho…Tx ya….. ongkos service nya pas NR aja ya…hehehehehe

Rabu, 20 Juli 2011

Bisa Bongkar. Bisa Pasang Gak…?


“Sisa dana kemaren, masih cukup gak buat beli tool kit ?”
Wah pertanyaan si Bos bikin aq gak jadi nambah koleksi wadah dapur ku ni.
“emangnya mo beli tool kit ? harus ya ?”
“Paling tidak kalo kita da punya, kan kalo toring gak bingung peralatan standart. Emang bunda mau nuntun sepeda pas ban gembos, pas ditengah tambak lagi”
Hehehehe akhirnya, terbelilah Tool Kit. Pertanyaan berikutnya, makainya gimana ?
Wkwkwkwk…

Kayaknya keberuntungan berpihak pada kita dech.. pas ngumpul di selter Distro Sidoarjo, muncul ide bikin pelatihan buat adek-adek B2S. Cocok !
Selasa, 19 Juli 2011 agenda NR service sepeda. Tempatnya di rumah adek b2S di kawasan Candi Sidoarjo (Taman Delta Blok I no.6, rumah keluarga adek Denni). Ngumpul di Tikum Timur Alun2 Sidoarjo. Dari Distro punggawa senior dating kecuali Om Jengkol yang suibuk banget dengan kerjaannya. Trus dari GTS (Gowes tetap Semangat) juga datang. Wah OK ni… tapi tetep ! aku yang tercantik! Gak ada saingan.hahahaha
Semangat adek2 B2S kayaknya gak ada tandingannya dech….melihat kita blum nyampe2 di TKP (Candi) mereka nekat nyusul kita di Tikum. Akhirnya iring2an dech….asyik kayak konvoi. Kelap-kelip.Ngowas-ngowes.Kring-kring.

Di TKP, Ortu adek Denni welcome banget. Ternyata ayahnya Denni penggowes juga. Cuma sekarang lebih senang mancing. Dan tawarannya tanggal 30 juli nanti..nantang kita nggowes ke Jolotundo  buat karmas menjelang puasa (jauh banget karmas ke Jolotundo..Pulang da lepek lagi ne….hehehehehe) trus lebaran nanti ngajak bakar ikan juga. Wuih sedap bener…(kalo makan2 ma hayo aja Om…hehehehe)

Dosen pemateri kita malam itu, Om Arifin, orangnya diem banget tapi senyumnya bok….manis banget! (piss Om… Sttttt biar kalo sapidahku bermasalah, si Om mau bantu ngebenerin.hahahaha). Dengan sigap, Denni mengajukan sapidahnya buat jadi objek edel-edel. Lepas ban, stel rante, stel rem dan sebagainya.Trus, aku ngapain….? Hahahaha aku ngobrol ma ibunya Denni. Urusan belajar mbongkar sapidah, pasrah ma Om Ridho aja dech.
Selesai semua, sapidah juga udah sip. Kita trus pamit.da malem. Nah petualangan di mulai. Bersembilan kita ngowes pulang. Om Arifin mendahului. Berdelapan, kita menyusuri jalan pulang. Eh ide lewat jalur Lingkar Timur Sidoarjo muncul. Hayo dech…nyari kringat.
Sampai di pusat makanan khas Sidoarjo (Kupang) kita berhenti, Om Rudi ngidam Lontong Kupang. Nah di sini kita tinggal berenam, karena 2 rekan kita da misah/jalur beda.Kupang, kikil,gado2 dan es degan. Sip tenan.
Kenyang, pulang dech….. lumayan buat malam ini,PP 51 kilometer.
Hayo direalisasikan Jolotundo…. Siapa tau dapet Joko Tarub. hahahahahaha

Senin, 06 Juni 2011

Mencintai Alam... Siapa Takut ?



Hari Bumi Se-Dunia, 5 Juni 2011. Aku merasa ngak lengkap rasanya kalau aku tidak berbuat sesuatu. Pilihan utama adalah berbuat sesuatu dengan sepedaku. Acara Bersepeda Susur Sungai yang digelar komunitas pesepeda (Distro-Sidoarjo, B2Campus Unesa,dan B2W) sepertinya pilihan yang tepat. Selain ini event yang baru pertama ada, di event ini aku juga tetap bisa melibatkan keluargaku, suami khususnya, karena Kresna,jagoan kami menjelang UAS.

Hari H.
Berangkat dari rumah jam 5 pagi. Bertemu dengan para pesepeda lain di lapangan menjelang jembatan baru Karangpilang.Alhamdulillah meski baru ketemu, sambutan panitia dan peserta acara Bersepeda Susur Sungai, akrab banget. Serasa ketemu keluarga besar. (Ehem….). Suguhan pertama, Teh Rio (cie pesan Sponsor ne..) seger…..Suguhan kedua, jadwal kegiatan atau jadwal pelajaran. Karena oleh panitia, materi susur sungai disebut sekolah. Ya….acaranya aja Bersepeda Susur Sungai Edukasi.Ada 4 sekolah yang akan kami datangi dan kami HARUS belajar disana. Rugi dong sepedahan yang diestimasi panitia PP 44 kilometer, kita cuma dapet capek.

Tepat 06.30 WIB. Berangkat.
Awal perjalanan sih, biasa. Nyebrang jembatan Karangpilang Baru dan masuk desa Megare Ngelom Sidoarjo. Jalan aspal trus jalan paving..eh terus jalan makadam/tanah. Waduh…mulai asyiknya. Lewat barongan ! Tau barongan ? jalan setapak di antara tanaman bambu dan kawan-kawannya. Serem….. tapi dua (ato lebih…?) jempol buat panitia. Jalurnya buagus banget. Kita juga lewat jalan yang hanya cukup buat satu orang/sepeda. Gak bisa berbarengan. Dan kalo sepeda kita terpeleset, waduh….bisa dibayangkan bagaimana rasanya…. Tapi ada satu pemandangan yang merusak mata. Disepanjang sungai yang kami lewati, masih banyak wc terapung ? Please…. Jangan jadikan Kali/Sungai kita sebagai WC Umum dong…Menuju lokasi sekolah, kita juga naik tambangan. Itu lo..alat transportasi yang menyebrangkan kita  di sungai Brantas. Sensasinya asyik tenan, hiyut-hiyut… hahahahaha
Sekitar pukul 08.30, setelah 18 kilometer perjalanan, sampailah kita di sekolah pertama. Unit Pengolahan Limbah Pabrik Kertas Adhiprima Suraprinta. Dibenak aku, penggolahan limbah, pasti bau banget ! (hahaha&hellipwink ternyata beda banget. Limbah pabrik kertas ini terbagi dua kategori. Limbah cair dan limbah padat/kertas. Untuk pengolahan limbah padat, PT Adhiprima Suraprinta melibatkan rekanan yang menjadikan limbah padat itu menjadi pupuk dan semen. Sementara limbah cair, dikelola sendiri oleh Pabrik yang telah melakukan pengolahan limbahnya sendiri sejak tahun 1997 itu. Limbah cair yang sudah terpisah dengan limbah padat diberi bakteri. Gunanya untuk meminimalisir kadar limbahnya, karena limbah cair ini adalah makanan Bakteri. Limbah cair ini juga diberi oksigen. Hasil limbah yang sudah diolah ini memang masih berwarna coklat, tapi dari hasil penelitihan, sudah dalam kondisi aman untuk lingkungan.Nah menariknya lagi, kita juga diajak melihat dimana lokasi pembuangan limbah perusahaan yang mendapatkan predikat Biru untuk limbah hasil olahannya itu. Limbah yang biasanya dibuang dihilir, sejak tahun 1997 harus dibuang di hulu.dan akibatnya, perusahaan yang membuang limbah olahannya itu, harus mengkonsumsi  air yang bercampur dengan limbahnya sendiri. Lho kok gitu… ? tentu saja karena limbah di buang mengalir 15-20 meter dan di ambil lagi oleh perusahaan tersebut untuk dipakai produksi lagi.Dan ternyata, dengan mengolah limbahnya sendiri unit pengolahan limbah Pabrik Kertas Adhiprima Suraprinta ini berhasil menghemat pemakaian air untuk proses produksi. Kalau dulu pabrik ini mengunakan sekitar 30 ton meter kubik, kini hanya pada kisaran belasan ton meter kubik saja. Oh ya, unit pengolahan limbah ini sudah dibuka untuk umum sejak 1 januari 2009 dan insya allah pada bulan September 2011 nanti, akan masuk pada agenda tujuan wisata industri kabupaten Gresik. Hampir lupa, di Sekolah pertama ini, kita dapet sarapan sehat. Kolak kacang ijo, semangka dan air mineral. Tapi sayang, aku gak suka kacang ijo. Tapi semangkanya manis banget…..makasih ya…..

Lanjut.
Menuju Desa Lebaniwaras kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik. Kurang lebih 3 kilometer perjalanan. Pukul 09.10 WIB kita tiba di Sekolah kedua. Di Sekolah ini, kita mendapatkan juga suntikan tenaga. Kok …? Guru kita di sekolah kedua ini bernama pak Kasimin. Beliau adalah sosok yang sangat peduli dengan lingkungan. Tanah di sekitar bantaran sungai Brantas sejak tahun 1997, ditanaminya dengan tanaman obat (toga). Dari  hasil ‘kelayapan’ mencari beragam jenis toga di wilayah Trenggalek,Tulungagung,Malang, Situbonda dan wilayah lain, kini sudah ada 450 jenis toga yang dikoleksinya. Tingkah ‘gila’ si kakek ini, menjadikan dia mendapatkan pengahargaan tingkat nasional dari pemerintah.Di Padepokan pengobatan milik pak Kasimin ini kita disuguhi minuman sehat. Teh Rosella dan Sinom. Dan yang special, ada ‘anggur’ made in Pak Kasimin. Aku yang sedang batuk serasa menemukan obat dengan minum, minuman ini. Warnanya hitam. Sangar kayak temu ireng yang puahiiiit. Eh ternyata ‘anggur’ ini seger. Manis dan isis (mint). Di leher terasa hangat banget.batukku jadi mendingan. (sttttttt, aq juga.bawa sebotol kecil. Mumpung gratis….hahahahaha&hellipwink. Diakhir pertemuan, pak Kasimin menyarankan kita untuk membuat apotik hidup di rumah masing-masing. Tentu saja dengan jenis tanaman obat yang paling kita butuhkan.semacam: kunyit, jahe, laos, daun salam, sere dan sebagainya.  “Siap Komandan. Laksanakan “

Lanjut,
Ngowes lagi kurang lebih satu kilometer. Tepat pukul 10.00 WIB, sekolah ketiga, We’re coming…..Sekolah ketiga ini serba nyentrik. Tempatnya, perlengkapannya, juga gurunya. Kenapa aku bilang nyentrik…? Sekolahnya persis di bantaran sungai Brantas. Bentuk bangunannya alami banget.dindingnya terbuka. So, sueger banget. Perlengkapannya nyentrik karena masih pake alat tumbuk tradisional. Pake alu ! padahal sekarang kan ada blender buat menghaluskan daun yang akan dipake pewarna.Gurunya juga nyentrik. Kok masih ada anak muda mau bersusah-susah membuat batik dengan pewaran alami dari daun-daunan sementara di luar sana buanyak banget pewarna sintetis yang pasti juga mempercepat proses pembuatan batiknya.
Ya…sekolah kita ketiga ini adalah Sanggar Rumpoko Mulyo. Gurunya bernama Arifin.Mas Arifin ini sudah 3 tahun menekuni pembuatan batik dengan mengunakan pewarna alami.Mas Arifin ini memang pelaku batik. Muridnya sudah puluhan bahkan ratusan orang.Sementara bantaran sungai yang di gunakan sebagai sanggar itu, hanyalah workshop saja. Sebagian besar pengerjaannya di rumah masing-masing. Mas Arifin berpandanngan, meski bantaran sungai, tetap harus dijaga agar tidak kumuh. Sanggar Rumpoko mulyo ini berpandangan bahwa melalui budaya dan pendidikan akan menuju pada perubahan. Karenanya Mas Arifin selalu siap memberikan pembelajaran tentang pembuatan batik dengan pewarna alami. Kalau disekitar rumah kita daun-daunan bakal kita buang begitu saja, di sanggar Rumpoko Mulyo ini, hampir 40an jenis daun, bisa dimanfaatkan sari klorifilnya sebagai bahan pewarna batik kreasinya. Hasilnya… jelas lebih ramah lingkungan. Menariknya lagi, kalau di tempat lain batik tulis dengan pewarna alami pengerjaannya bisa memakan waktu 3-6 bulan, mas Arifin bisa melakukannya hanya dalam waktu 1 hari saja. Huebaaaat tenan to…..Di sanggar ini kita peserta Bersepeda Susur Sungai Edukasi membubuhkan pesan dan tanda tangan yang nantinya akan dibatik dengan pewarna alami. Cihuy….

Lanjut.
Ke sekolah keempat. Jaraknya hanya 0.5 kilometer. Tepat pukul 11.00 WIB nyampe kita di markasnya Ecoton dan bertemu dengan mas Prigi Arisandi, sosok yang mendapatkan penghargaan dari Amerika Serikat karena kepeduliannya atas kondisi air sungai. Sebelum mendengar cerita mas Prigi dan kawan-kawan, kita makan siang dulu. Waduh…enak tenan. Laper dan capek hilang setelah maem dengan menu nasi putih, ayam bumbu rujak, kothokan tempe tahu, dan sayur urap-urap. Kayak tumpengan ya…..Selesai makan, waktunya belajar. Ecoton itu sejak awal berdirinya (1996) selalu berusaha konsisten dengan usahanya  menjadikan sungai Brantas sebagai sungai yang bersih. Hanya dengan 9 orang anggota inti, Ecoton kini kekeuh di bidang penelitihan, pendidikan, dan advokasi. Karenanya sejak tahun 2007, Ecoton mengugat pemerintah agar menetapkan kelas/klasifikasi sungai atau kali. Kayak jalan aja ya.. ada kelas-kelasnya. Dan hasilnya Kali Surabaya adalah kali yang pertama memiliki kelas/daya tampung. Menariknya lagi, para punggawa Ecoton yang hanya berbekal ‘semangat’ ini akhirnya mendapatkan  pengakuan dari pemerintah, swasta dan juga dunia. Dulu, Ecoton hanya mendapatkan dana 18 juta dari Yayasan Keanekaragaman Hayati. Tapi kini, banyak badan-badan dunia yang mensupport dana operasional mereka. Kini, Ecoton telah memiliki Padepokan Wonosalam Lestari di kabupaten Jombang. Disana ada beragam pembelajaran tentang Alam.Ecoton kini juga sudah punya laboratorium yang bisa meneliti kondisi air sungai, seberapa parah tingkat pencemarannya. Dan sebagai bentuk kepedulian akan kelangsungan hidup aneka serangga sungai, Ecoton juga memperkenalkan kembali beberapa serangga yang mampu mendeteksi kondisi air sungai.tercemar atau tidak. Dan yang terakhir, benar, jangan menilai sesuatu hanya dari penampilannya saja. Para punggawa Ecoton sebagian besar sangar-sangar. Gondrong dan sebagainya, tapi ternyata mereka sangat perduli pada lingkungan,Sungai khususnya. Seperti motto mereka, Kali Surabaya Bukan WC Umum.
Di markas Ecoton ini, kegembiraan peserta bersepeda susur sungai serasa lengkap. Bagi-bagi door price. Mulai assesoris sepeda, helm dan juga sepeda lipat. Aku juga dapet lho 1 doorprice assesoris dan juga sovenier dari mas Prigi Arisandi. Duh..Senengnya.
Terakhir, pulang… tetep berkonvoi dan kembali lewat barongan dan merasakan asyiknya rute bersepeda. Pukul 14.29 WIB. Kami sudah nyampe lagi di lapangan dekat jembatan baru Karangpilang.
Terima kasih Om-Om Panitia.Terima kasih Om-om dan nTe peserta. Terima kasih juga suamiku tercinta, yang sudah mau mendampingi aku ikut memperingat Hari Bumi se-Dunia dengan bersepeda Susur Sungai Edukasi. Terima kasih juga si Biru, meski kamu satu-satunya sepeda emak-emak di acara bersepeda susur sungai, kamu huebat banget. Terakhir, kalo bikin acara ‘gila’ lagi jangan lupa ajak kita ya…….  Salam BERJUTA SEPEDA…….

Jumat, 03 Juni 2011

Touring Sayang. Ehem !



Hujan yang lumayan deres pagi itu, Kamis 2 Juni 2011, pukul 03.30 WIB, seakan menerbangkan rencana aku dan suami untuk ngowes jarak jauh/touring. Padahal rencana ini sudah kami susun sejak jauh-jauh hari. Tapi dengan lagak kayak dukun, Ridho suami aku bilang, “Sudah, bangun aja dulu. Siapin makanan buat Kresna. Nanti kalau sudah selesai semua, hujannya pasti reda”
Ya, sesuai rencana, touring kali ini jagoan kami si Kresna emang gak diajak. Selain jauh, dia juga mau UAS. Daripada resiko, mending milih yang aman-aman aja. Setelah menghangatkan lauk dan masak nasi, aku langsung mandi.  Setelah nyiapin perlengkapan ngowes (lampu, pompa ban, kunci2, bekal dll), ternyata benar omongan Ridho. Hujannya reda !!!!

Jam menunjukan pukul 04.20 WIB ketika kami mulai meninggalkan garasi rumah. Sambil melambai, Kresna yang udah bangun berteriak, “jangan lupa oleh-olehnya ya….” Touring kami mulai dari rute,  jalan Karah kearah Sepanjang. Tanjakan pertama adalah jembatan tol setelah percetakan Jawa Pos. Sepeda terus kami kayuh kearah barat, Krian Sidoarjo. Tapi sebelum nyampe Krian, tanjakan kedua di jembatan layang Trosobo.Berhasil. Jalur lurus sampe perempatan Krian belok kiri mengarah kota Mojosari Mojokerto. Di kilometer 23, kita ambil foto. Pemandangan bagus banget. Gunung Penanggungan dan Gunung Welirang.Cakep banget. Dua sosok raksasa itu masih dibalut kabut tipis. Terus lurus, ketemu dech Jembatan megah diatas Sungai Porong. Berhenti lagi. Foto lagi….hehehehe…. boleh dong sekali-sekali Narsis.com.
Lanjut, terus mengikuti arah ke wisata Pacet. Masya Allah, ternyata setelah melewati kota Mojosari, jalanan mulai nanjak. Si Biru, yang notabene sepeda emak-emak mulai terlihat ngos-ngosan. Di kilometer 45, kita berhenti lagi, foto lagi. Parahnya, karena dekat dengan makam cina, tingkah kami berdua jadi tontonan aneh bagi pengguna jalan laen. Mereka buka kaca mobil dan klik-klik. Mereka ikut ambil foto. Cuma modelnya aku dan suami dan sepeda kami….hahahahaha……mungkin buat sebagian orang kostum kami agak aneh. Celana sepedahan pendek, pake helm, pake deker, pake sarung tangan, pake masker juga, mungkin kami kayak teroris bondo nekat. Soalnya yang cewek, pake sepeda emak-emak.hahahaha…………..
Lanjut. Jalanan terus menanjak….sampe di wilayah Katidur, si biru dan emaknya bener-bener gak kuat. Dengan sedikit malu dengan seragam ngowes, aku turun dan jalan kaki 50 meteran. Si Ridho cuma senyum dan bilang “ gak papa Nda. Jangan dipaksa.kalo emang capek, istirahat dulu aja… jarak kita masih jauh lo…” Duh adem dengar kata-kata suami tersayang ini…(hiks..hiks..hiks..)
Lanjut. Lurus terus kearah Wisata Pacet. Tapi kita ternyata kita gak ke Pacet. Sampe di pertigaan Pesaggrahan, Ridho kasih tanda belok kanan kearah Dlanggu. Wah kejutan besar ne…. ternyata kita kearah rumah adek mama aku. Udah hampir lima tahunan aku gak maen ke rumah Om aku ini. Lumayan, jalanan agak menurun. Setelah melewati wilayah Kutorejo, sampelah kita di dusun Keputran. Waduh sueneng banget. 54,8 km sebanding dengan senengnya ketemu sama sodara.tepat pukul 7 pagi. Huah. Capek.
Setelah istirahat dan kangen-kangenan, jam 9.15 kami mulai pamit. Perjalanan di mulai lagi. Meski agak menanjak, Si biru aman. Sampe Pesanggrahan kearah pulang, jalanan nyaman banget. Menurun ciuy…. Ternyata Ridho bikin kejutan lagi, ketika kita sampe di tugu Mojosari, kita belok kanan ke arah Jasem. Ini arah menuju Gempol-Porong Sidoarjo juga. Sampe di pertigaan Jasem kita belok kiri. Nah ini… kita dihadapkan tantangan baru. Jalannya gak nanjak tapi anginnya kenceng banget. Kiri-kanan sawah. Ada yang ditanami lombok/cabe, jagung dan juga tebu. Nah kita sempat berhenti buat minum es tebu hijau…  Sueger Pollll. Pukul 10.20 WIB kita nyampe Krembung Sidoarjo. Rumah ayah angkat aku. Waduh senengnya…Ayah dan ibu angkat aku ketawa kepingkel-pingkel lihat kita datang ngegowes. Trus…panen Jambu dech….Kranjang si Biru sampe penuh. (ada yang mau…?)  Tapi buntutnya yang gak enak..kita dilarang pulang cepet-cepet. Harus makan siang dulu. Dan kebetulan matahari sedang panas-panasnya. “pulangnya nanti sore aja, biar gak tambah item….” Nah lo… kalo ayah udah bilang gitu, kita anaknya bisa bilang apa……Hayo aja dech.
Lanjut, pukul 14.15 WIB. Kita pamit dan di ijinkan. Rute kita, Krembung, Wonoayu, Sukodono. Waduh remek benar. Aku sempat berhenti 10 menit setelah ayam bakar Dunggus. Lagi-lagi Ridho senyum dan bilang “gak papa, istirahat dulu aja” (hemmmmm&hellipwink
Lanjut, mengarah ke pasar Sepanjang, beli oleh-oleh buat Kresna. Semangka dan Melon. Waduh semakin berat aja beban si Biru. Tapi buat Kresna, di tahan juga capeknya. Jalur pulang.Tanjakan terakhir, Jembatan Tol Jawa Pos. Meski cuapek, si Biru sukses melewatinya. (meski pake gigi 2 doang. Hehehehe)
Tepat   pukul 16.16 WIB. Kita nyampe depan garasi rumah lagi. Total 94 kilometer.  lengkap dengan tanjakan, angin kencang, panas dan sayang orang-orang terkasih.

Pamit upgrade tenaga dulu ya…. ZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ