Senin, 28 Mei 2012

Bersama Tanam mangrove di 917 tahun Surabaya


Kembali bersama GTS (Gowes Tetap Semangat), aku dan keluargaku belajar mencintai alam. Minggu itu, 27 Mei 2012, tiga hari menjelang hari H, Ulang Tahun Kota Surabaya tercinta, 30 Mei. Hari itu ada gelar rangkaian peringatan Ultah Surabaya. Tanam mangrove di areal bantaran sungai sekitar Ekowisata Mangrove Wonorejo. Ada sekitar 12 ribu pohon mangrove yang siap untuk kami tanam.

Karena acara tanam mangrove ini adalah event pemkot Surabaya, maka bisa dipastikan ibu walikota hadir. Meski terlambat karena padatnya rangkaian acara peringatan hari jadi kota Surabaya, akhirnya Bu Tri Risma Harini datang juga. Wah meski kami ini pesepeda tangguh karena sering kepanasan di jalan, namun kalo kepanasannya sambil diam mematung ya lumayan juga rasanya. 

Lepas apel pembukaan, mulailah acara tanam mangrove. Dengan diawali nyebang sungai dengan perahu karet tanam bibit mangrove yang sedemikian serunya menjadikan kami bahu membahu saling tolong menolong. Inilah bukti kebersamaan kami mendukung terciptanya alam yang hijau. 

Usai tanam mangrove, giliran makan siang. Wadah, panitianya minta di slentik ne…. masak peduli lingkungan tapi kotak makannya dari stereofoam. Please jangan di ulangi lagi ya….kan gak bisa di daur ulang. Membahayakan lingkungan tuh !

Eh ternyata ada rejeki lagi lo… kita bergeser ke sisi lebih dalam. Ada syukurannya Om Wawan Sumbawa dari Komunitas Nol Sampah. Tapi sebelumnya sempat juga istirahat diantara tambak dan rimbunnya tanaman mangrove. Wah keren abis. Makasih ya… udah ngajak kita tanam mangrove. Pengalaman yang tak kan kami lupakan.



Jumat, 18 Mei 2012

Gowes Nekat (Hutan Jati Dawar Blandong Mojokerto)



Hari itu, kamis 17 Mei 2012. Tanggal merah libur Kenaikan Isa Almasih. Sebetulnya buanyak agenda kegiatan namun aq terpaksa gak ikut karena ada rencana luar kota urusan kantor. Eh ternyata ditunda. Terpaksa bikin acara berdua saja. Karena gak punya tujuan pasti, akhirnya kami berdua memutuskan gowes kemana roda mengelinding. Maksudnya sih lebih pada bergerak aja toh kalo kesasar ‘kentongannya’ bisa dibunyiin.

Keluar dari garasi tepat pukul 05.30 (siangan kerena harus nyiapin masakan buat Jagoan kecilku yang ditinggal di rumah). Perjalanan dimulai dari arah Gunungsari Ke Wiyung. Lurus aja kearah barat sampai masuk wilayah Kecamatan Menganti Kabupaten Gresik. Notok tok pertigaan, belok kiri kearah Kedamean. Wah mulai bertemu banyak kendaraan besar, maklum didaerah ini banyak pabrik. Sampai akhirnya sebelum Polsek Kedamean, kami ambil jalur ke kanan. Waduh….. pemandangannya makin ciamik !

Belum berapa lama, pemandangan cantik waduh Kedamean menghadang. Walah, seger bener. Rasanya pengen cangrukan lama di situ. Apalagi ada warung kecil di dekatnya. Cuma karena masakannya belum mateng, terpaksa bergerak lagi sambil mencari tempat serapan. Baru 2 menitan dari Waduk Kedamean eh, ketemu lagi dengan waduk yang gak kalah cantiknya Waduk Tanjung. Nah disebelahnya ada lagi waduk. Namanya Waduk Belahanrejo. Total kami ketemu 3 waduk ciamik hanya dengan jarak yang relative dekat di wilayah Kedamean Gresik.

Berhenti hanya foto-foto saja, perjalanan kami lanjutkan kembali. Mulai asyik ketemu hutan jati. Sayangnya pohon jatinya relative masih muda. Nah…. Karena sepanjang perjalanan gak ketemu warung buat sarapan, akhirnya kami nekat berhenti di tengah hutan ini. Buka bekal roti manis dan alhamdulillah ternyata tempat kita berhenti ini tempat jualan es tebu hijau. Penjualnya baru datang. Jadi lumayan lama nunggu es tebunya siap di minum. Ah… segernya sepadan dengan lamanya menunggu.
Lanjut…..
Mulai perjalanan dengan bayak tanjakan dan turunan meski gak ekstrim. Asyik. Ketemu tegalan penuh dengan tanaman lombok. Juga petani yang memanen hasil ladang. Mulai dari ketela, labu, bengkuang dan lain-lain. Stttt…. Sambil bergaya seperti fotografer, aku juga sempat ngobrol dengan mereka. Banyak curhatan yang bikin sesek juga sih…. Bayangkan, saat panen melimpah jayak begini, harga lombok Cuma Rp. 3.000,- perkilonya. Akibatnya banyak hasil panen mereka yang dijemur saja. 

Sampai akhirnya sampai di perempatan pasar Dawar Blandong. Mulai agak kebinggungan. Lanjut atau balik ya….. akhirnya mampirlah ke Polsek Dawar Blandong yang kebetulan bersebelahan dengan kantor kecamatan Dawar Blandong. Alhamdulillah setelah ngobrol ngalor-ngidul dengan petugas SPK ada beberapa arah pulang dengan masing-masing konsekuensi rutenya. Kami memilih melintasi Hutan jati yang lebih eksotik. Pilihan itu dilakukan dengan pertimbangan jalur dalam dan tidak bertemu banyak kendaraan besar. Selain itu jalur ini juga ada hutan kayu putih termasuk pabrik penyulingan minyak kayu putih. Jiah…pasti pesonanya tak tergantikan. Selain keindahan jalur Hutan Jati, pak Nur petugas SPK Polsek Dawar Blandong ini juga mengambarkan kondisi jalanan yang rusak. Tapi ah… gak papa lah… anggap aja offroad. Hahahaha…..

Dan ternyata benar… jalananannya rusak dan sempit. Terpaksa kami bergantian dengan truck, mobil pribadi dan juga sepeda motor. Berkali-kali berhenti untuk foto-foto. Akibatnya pengguna jalan lainnya sempat bingung melihat tingkahku dan suami. Soalnya memfotonya juga sampe nungging-nungging juga. Hahahaha…..

Wah pemandangan dari atas bukit ternyata sangat indah, meski tidak setinggi Sumber Tetek Pasuruan. Jalur yang kami lalui untuk kembali ke Surabaya memang lebih jauh. Memutar. Tapi ndak apalah, yang penting nyampai rumah dengan pengalaman yang takkan terlupakan. Akhirnya jalur yang kami lalui adalah wilayah Wringin Anom Gresik yang tembus sampai Karangpilang Surabaya. Karena bawa lombok buanyak, kami sempat mampir di rumah nTe Iin untuk berbagi informasi. Saya dan suami bercerita Hutan Dawar Blandong, sementara nTe Iin dan suaminya om Huda, bercerita hasil survey di Nongkojajar-Pananjakan, yang insya allah menjadi target GTS berikutnya.
Wah total 85,75 km lengkap dengan teparnya suamiku tercinta. Hahahahahaha tepar lagi-tepar lagi….. kurang sepedahannya tuh Yang…..

Senin, 07 Mei 2012

Family Gathering GTS (Gowes Tetap Semangat)



Pagi itu masih jam 4 pagi. Tapi Bundaku sudah ribut banget. ‘Bangun…bangun… hayo  bangun semua …’. Wah pokoknya berisik banget. Aku masih ngantuk. “Na, jadi ikut gak…Bunda tinggal lo”. Suara Bunda melengking berbarengan pintu kamarku dibuka dari luar.

Eits,
“Ikutlah. GTS gitu lo…”
Langsung loncat dari tempat tidur, meraih handuk dan lari ke kamar mandi. Eh jangan salah, aq gak mandi. Masih dingin banget. Cuma cuci muka, sikat gigi dan pipis. Hahaha.
Setelah bantu Bunda memasukan bekal ke dalam bagasinya sepeda. Aq langsung siap-siap. Baju seragam GTS dan kaos ganti jika nanti dibutuhkan. La… lupa. Hari ini ada Family Gatheringnya GTS Om dan Tante. Acaranya di Delta Fishing Sidoarjo. Jaraknya dari Surabaya hanya sekitar 18 km saja. kita bersepeda ke sana. Dan agendanya banyak. Om-omnya (bapak-bapaknya) mancing. Tante-tantenya (ibu-ibunya) nyiapin sarapan dan rujakan. Anak-anaknya (kayak aku) main Outbond. Asyik khan…..

Berangkat ke Delta Fishing langsung menuju tikum di Taman Pelangi (Dolog). Menunggu sebentar datanglah keluarga Om Huda. Te Iin, kakak Inam dan adek Idos. Wah seru… sambil menunggu anggota GTS lainnya, aku langsung main dengan kakak In’am. Sayangnya adek Idos ndak diturunkan dari boncengan sepedanya Te I’in. Akhirnya lengkap dan kami bergerak ke Delta Fishing.

Sampai di Delta Fishing sudah rame banget. Setelah beli tiket masuk (Rp.3.000 /orang) kita langsung menvari tempat untuk basecamp-nya. Dapat 2 joglo yang berdekatan nomor 5-6. aku dan kakak In’am dan adek Idos langsung minta main Outbond. Tapi kami harus beli tiket terusan. Harganya Rp. 20.000/orang. Asyik. Main Flying Fox, Meniti Jembatan Gantung, Sepeda Air, Berenang dan buanyak mainan lainnya. Setelah capek main, kami bertiga langsung kembali  ke basecamp. Sarapan. Bunda Arum bawakan aku bekal nasi dengan lauk mie goreng, nugget, telur, sosis dan scallop. Pake saus sambal dan tomat lagi. Wuih kenyang. Trus makan rujak juga. Tapi aku gak pake sambel. Makan buahnya aja. Trus maen lagi. Mancing juga. Tapi aku dapetnya ikannya kueciiiiiil banget. Mungkin aku masih kecil ya… jadi dapatnya ikan kecil juga. Ayah Ridho dapat ikan besar seh. Lumayan kalo dibakar pasti enak.

Pas lagi asyik main, datang juga nTe Lia dan adek Malrvel dan adek Bagas. Ada juga adek Habil dan ibunya, Simbok Poncokusumo. Wuih ruame tenan. Setelah capek semua. Mulai siap-siap pulang. Ternyata setelah keluar dari Delta Fishing, kita gak langsung pulang. Berhenti dulu di warung dekat tempat parkir. Ikan hasil pancingannya dibakar disana. Wuih enaaaaak. Makan lagi. Setelah kenyang dan capeknya hilang, baru kami bersepeda kembali pulang. Wah pengalaman liburan bersepeda bersama keluarga yang tidak akan terlupakan. Terima kasih Ayah Ridho dan Bunda Arum. Terima kasih kakak In’am, adek Idos, om Huda dan tante I’in. Terima kasih juga om dan tante semua. Terima kasih GTS. Denger-denger Family gathering berikutnya sepedahan ke camping ground ya….. jangan lupa aku diajak ya… aku punya tenda dom, sleepingbag, nesting dan lampu darurat. Pasti gak ngerepotin kok. Asal sama kakak In’am dan adek Idos juga.