Senin, 30 Januari 2012

Jolotundo….Semakin Koplak Deh….

Event gowes akhir pekan kemarin memang diluar perkiraan. Berbekal informasi dari broussing internet dan cerita beberapa teman, ternyata medan tidak bersahabat seperti dalam bayangan. Jujur saya sulit menemukan kata atau kalimat yang tepat untuk menggambarkannya. Hanya ada satu keinginan di batin saya, semoga saya ndak semakin koplak saja.

Seperti yang sudah saya tulis di note terdahulu (sumber tetek..wow), minggu 29 Januari 2012 kemaren, aku dan banyak teman bergerak ke pemandian Jolotundo. Lokasi tepatnya, adalah di wilayah sisi barat daya lereng gunung Penanggungan. Pagi itu setelah bertemu teman-teman GTS dan B2C Unesa di Taman Pelangi Surabaya, kami berenam bergerak ke Alun-Alun Kabupaten Sidoarjo. Disini sudah berkumpul juga teman-teman dari B2W Sidoarjo, Distro, Albatros, B2S Candi dan sebagian B2C Unesa. Hampir 30 an orang siap meluncur ke Lokasi Pentirtan Prabu Airlangga. oh ya… di Touring Jolotundo ini aku ndak lagi perempuan semata wayang. Ada Simbok Poncokusumo dan nTe Rizka dari b2C Unesa yang bergabung. Duh senengnya da teman sejenis (hahaha…….) Setelah doa yang dipimpin om Pri dari Albatros, meluncurkah kami menuju lokasi.


Memilih melewati jalur dalam agar tidak banyak bertemu kendaraan besar. Lewat wilayah Krembung dan Ngoro sampai ke PPLH Seloliman. Pada awalnya medan memang sangat bersahabat, kami melalui kebun tebu dan pematang sawah yang hampir panen. Asyik banget.sampai akhirnya sampai jalanan yang terus menanjak. Belum ekstrim tanjakannya. Masih bisa ditaklukan dengan “kesabaran”. Tapi jalur panjang menanjak yang sebarengi kendaraan yang melaju sangat kencang, menjadikan kami harus ekstra hati-hati dan waspada. Di jalur yang seakan tiada habisnya inilah, Om Toni dari B2C Unesa harus menerima kenyataan di sruduk dari belakang pembalap nekat. Bagaimana gak nekat, wong masih usia smp. Wah RD sepeda om Toni patah. Terpaksa dimutilasi rantainya dan di jadikan single speed. Betis kana nom Toni juga mengalami luka robek. Untungnya tidak parah. Perjalanan bisa dilanjutkan kembali. Yang tak kalah menggagetkan, ketika sebagian dari kami beristirahat, ternyata di balik batu ada ulat yang sedang beranak. Waduh ada yang hampir ngigit om Bonnie.(ini cerita om Jonis Jo dan om Ridho. Soalnya aku berada jauh di depan rombongan ini) Di jalur yang belum menanjak ekstrim ini pun, dua sodara sejenis saya, simbok poncokusumo dan nTe Riska, harus menyerah pada alam. Terpaksa banyak nuntun karena gak kuat nanjak. Seandainya aku berbarengan kelompok dengan para Srikandi ini, aku bisa juga tepar. Untungnya aku bersama om Huda, om Edi Zul dan om Aries, menemani adik-adik dari B2S Candi Sidoarjo. Dengan nafas yang hanpir putus, aku tatap gowes  meski tidak lebih cepat dari berjalan kaki. Om Aries bahkan sempat nyengir mengomentari statmenku…”Mosok gak nyampe tah mbasio kalem-kalem”. Doping semangat dari ketiga Arjuna inilah ( Om Huda, Om Aries dan om Edi Zul) yang terus memompa semangatku.  Memang aku sempat berpisah jarak yang lumayan jauh dengan om Ridho, suamiku, jadinya ketika ada moment foto-foto, aku hanya dapat memphoto si blue sepedaku dan pemandangan alam yang sangat cantik.

Setelah sempat istirahat beberapa kali, sekitar pukul sebelas siang, aku, om Huda, om Aries dan om Edi Zul bersama adik-adik B2S Candi sampai juga di pintu masuk PPLH Seloliman. Dari Lokasi ini kurang lebih “hanya” 500 meter sampai di gerbang Candi Jolotundo.tapi Nanjak. Ekstim lagi. Di Lokasi inilah kami bertemu om Pri dan teman teman lain dari B2C Unesa. Hampir satu jam kami menunggu rombongan di belakang kami, tapi tidak datang juga. Karena tidak mendapat signal Hp. Akhirnya kami naik menuju ke Candi Jolotundo dengan harapan nantinya bisa berkumpul di atas. Sayangnya sampai dengan selesai berendam dan photo-photo, aku tidak menemukan om Ridho suamiku sampai finish. Akhirnya aku hanya bisa membawakan air dari sumber Jolotundo yang konon (jika percaya) bisa membuat orang awet muda buat om Ridho. Oh ya, di pemandian Jolotundo ini aku sempat berendan juga lho… meski tidak membawa baju ganti, akhirnya aku nekat pinjam sarungnya Om Sapto. Wuh sueger baget. Semoga bisa awet muda. Seperti mitosnya. (Amien)

Akhirnya pulang, turunan yang sangat ekstrim menjadikan kami tidak melakukan DownHill. Bisa-bisa pulang tinggal nama. Begitu sampai di gerbang masuk Candi, ternyata ada Simbok Poncokusumo dan Suami tercintaku menunggu di situ… weh leganya melihat semua aman. Setelah sempat berfoto bersama dan bahkan bikin foto prewed lagi dengan bantuan om Huda, meluncurlah kami pulang. Masih harus di tuntun lagi sepedahnya, karena medan masih sangat ekstrim. Setelah dirasa jalur sudah bisa di turuni, meluncur para pesepeda nekat ini. Sayangnya ditengah perjalanan, hujan yang sangat deras menemani perjalanan. Dengan berselimutkan jas hujan kami terus membela jalanan menuju rumah masing-masing. Rombonganku ( Om Huda, Om Edi Zul, Om Ridho (kali ini aku ndak melepaskan suamiku sendirian, bisa ilang dia. Wkwkwkwk…..) dan om Hanafi sempat berhenti di sebuah warung di wilayah Jasem. Sempat memberhentikan om Sapto dan seorang anggota b2C Unesa. Makanlah kita…. Luaper banget. Dan rejekinya, masya allah, sudah enak. Murah lagi. Sepiring makan porsi besar di tambah segelas teh manis panas, Cuma 6.000 rupiah. Joss dech.
Selesai makan-makan dan istirahat, masih di iringi hujan, kami bergerak pulang. Beriringan. Setelah berpisah dengan om Sapto karena harus menunggu rombongan B2C Unesa yang lain. Setelah hanya berlima dan menerobos jalan persawahan, aku jadi ingat sebuah kelompok detektif, lima sekawan. Tingkah kami berlima persis kayak petualangan lima sekawan. Setelah sampai di wilayah Puspa Agro, aku baru sadar om Ridho suamiku tertinggal jauh. Tanpa diketahui teman yang lain, aku berhenti dan menunggu. Ternyata om Ridho tepar. Kelelahan yang teramat sangat. Akhirnya hanya kami berdua berjalan pelan-pelan. Akhirnya pas bedug Isya, kami berdua sampai depan garasi rumah karena sempat berhenti dulu mbungkus makan malam.

Sampai rumah, mbersihkan sepeda, merendam baju yang penuh lumpur, mandi dan makan, trus istirahat. Total 97 kilomenter. Berangkat dari rumah jam 5 pagi pulang jam 18.30. wuih….. meski  ‘Lulus’ Jolotundo, aku  tidak keberatan untuk mengantar suamiku, om Ridho, buat ‘perbaikan nilai’. Bukan begitu pak dosen, Om Sapto Wibowo….?

Terima kasih GTS, terima kasih Distro, terima kasih B2W Sidoarjo, terima kasih Albatros, terima kasih B2S Candi, Specially Thanks to B2C Unesa. Petualangan Sehari yang Sangat Berkesan.

Minggu, 22 Januari 2012

Sumber Tetek…..WOW

Lama banget aku gak nulis. Setiap kali aku pengen nulis, jagoan kecilku, Kresna, selalu bilang,  “Bunda, kali ini biar Kresna yang tulis notenya ya…” Masak royokan ma bocahku sendiri…gak lucukan….(hehehe &hellipwink Nah sekarang waktunya aku yang nulis, karena event kali ini, si Bocah gak ikutan.

Lama rasanya aku dan suamiku ndak gowes jarak jauh… ( sampai lupa rasanya….hehehe  Setelah aku sampaikan ke teman-teman baik di GTS ( Gowes Tetap Semangat ) atau di DISTRO ( Distrik Ronggeng ), akhirnya ada beberapa pilihan. Candi Belahan/Sumber Tetek-Gempol Pasuruan, Jolotundo-Seloliman Trawas Mojokerto, Pantai Delegan-Panceng Gresik, dan lain sebagainya. Banyak juga teman-teman yang siap mengawal. ( hehehe  ….begini lho enaknya jadi perempuan semata wayang ).Karena banyaknya pilihan, akhirnya aku dan suami putuskan melaksanakan banyaknya pilihan tujuan gowes tersebut secara bertahap. Dan minggu 22 Januari 2012, kami meluncur ke Sumber Tetek atau Candi Belahan di wilayah Gempol Kabupaten Pasuruan. Dari Surabaya sih estimasi jarak tempuhnya 47 kilometer. Jadi kemungkinan pulang pergi 94 kilometer.

Minggu 22 Januari, akhirnya kami berangkat dengan semangat mengebu. Dengan total sebelas personil (gabungan dari Distro, GTS, Arbatros (bener gini ejaannya ?) dan B2W Sidoarjo) kami berangkat dari titik kumpul Alun-Alun Sidoarjo sekitar pukul 6 pagi. Setelah doa bersama, langsung kita meluncur dengan marshall Om Ardimini Distro. Selama awal perjalanan sih asyik-asyik aja. Masuk Jalan Raya Porong/Tanggul Lapindo lumayan padat (maklum liburan). Lepas Jembatan Porong, ternyata Om Ardimini Distro belok kanan dan kami lurus. (hahaha  ….terpisah dech..). untungnya ada Om Ilul dari Distro dan teman-teman dari Arbatros yang sudah pernah ke TKP. Jadi kami tetap meluncur ke tujuan. Terpisah dengan Om Ardimini Distro juga baru kita sadari, setelah kita akan belok kanan menuju TKP. Sempat ketemu Om Samsul Huda dari Mujahidin, yang nyusul kita karena telat ketemuan di titik kumpul. Tapi ternyata Om Samsul terlalu asyik sama musik di earphonenya. Jadi sekuat apa kita teriak manggil, Om Samsulnya ya gak denger. (wkwkwk….)
Begitu belok kanan masuk wilayah Dusun Jeruk Purut, aku sempat tanya, jalanannya mulai nanjak ya…. Eh semua pada koor menjawab “….TIDAK…” ternyata jalan paving semakin menanjak dan menanjak. Sampai pavingnya habis. Begitu sampai di jalanan berbatu baru kami sadar, anggota  rombongan hilang dua orang lagi. Om Haho dan Om Jonis. Tapi biarlah…udah gede juga. Lagian mereka da senior banget. (hahaha  …..). Sepanjang perjalanan, penuh dengan narsis-narsis, mancal dan nyurung/nuntun berjamaah. Hahaha  ….. para seniorku mbohongi aku…medan menuju Candi Belahan sangat-sangat ektrim. Berbatu-batu lagi. Akhirnya di pertigaan habisnya jalan yang sedikit  bagus dan harus melewati jalan berbatu yang hancur banget, disinilah tim ketemu dan lengkap kembali sebelas orang. Cuma Om Jonis dan Om Haho sempat sesasar tiga kilometer. Nanjak lagi. Mereka juga bilang jalur yang harus mereka lalui uedan tenan. Tebing curam yang sewaktu-waktu siap longsor karena pasirnya di tambang. Dan dua raja jalanan itupun harus menyerah pada alam. Nuntun di tanjakan yang mereka lewati. (hahaha  ……..)

Di sini kembali aku bertanya, “…Om masih tajemnya nanjaknya…?” eh dijawab lagi…”TIDAK” “cuman dikit kok nTe, depan itu da nyampai..?” senyum manis om Pri dari Arbatros meluluhkan rasa capekku.
Eit, ternyata aku dibohongi lagi. Masih juauuuh banget !. Dan terjadilah nuntun berjamaah lagi. Di jalur hampir akhir ini, suami tercintaku, Om Ridho tepar juga. Paha kanannya kram. Sempat hampir jatuh menjelang finish di Candi Belahan. Tapi akhirnya nyampai dengan selamat semuanya.
Setelah cukup istirahat, cukup makan minum dan cukup narsis-narsis, akhirnya kita persiapan pulang. Eh beberapa teman menyarankan kita lewat jalur cocacola (karena lewat pabriknya).”….cuman nanjak dikit kok nTe…trus turun terus…”
Yo wes. Wong sudah sepakat kok… nancal lagi dan nuntun lagi. Tapi eits…. Tanjakanya gak cuma satu…..bertanjak-tanjak…. Waduh dibohongi lagi ni…..(sambil geleng-geleng). Sampai tanjakan habis-bis dan kita ada diujung paling atas dan bisa memandang jauh dibawah sana ada pemandangan yang subhanallah….. ciamik soro !

Nah saatnya turun, saatnya timbul masalah. Waduh….
Jujur diantara semua sapidah yang ikut touring kali ini, sepedaku salah satunya yang tidak pake rem cakram. Akhirnya dengan tekat membaja dan kedua tangan terus menekan rem sambil sesekali melepasnya, aku meluncur dengan sesekali berteriak kegirangan. Bayangkan, sekitar 50an km/jam kita meluncur turun dan berbelok-belok. Rombongan terpisah. Aku, Om Pri dan Om Sapto. Aman sampai akhir tanjakan setan itu. Nah rombongan berikutnya, harus mengevakuasi Om Wawan yang sedari awal sudah tidak safe !.

Bayangkan, kondisi rem sepeda om Wawan gak bagus blas. Gak pakem. Trus Om Wawan juga gak pake Helmet !. karena melaju turun dengan kencang, rem gak pakem, ndlosorlah si Om ini, mbabat ladang singkong lebih dari lima meter. Om Wawan mengalami “bocor tipis” dikepalanya dan si sebagian besar punggungnya lecet-lecet. Untung gak masuk jurang (kok masih untung ya…?) Si Om pun dinaikkan truck untuk dibawa ke lokasi pengobatan. Wuih….darah segar bok…! Untungnya aman. Om Wawan tidak sampai muntah dan maksa melanjutkan perjalanan pulang dengan tetep gowes. Dengan kondisi rem yang gak layak, roda yang sleat-sleot karena peleg bengkong dan gir depan hanya berfungsi yang paling kecil, pelan banget perjalanan pulang kita. Oalah alamat sampai sore nyampai rumah. Dan rombongan pun terpisah-pisah lagi. Om Pri sendirian karena tidak tau adanya musibah yang menimpah Om Wawan, rombongan kedua, Om Haho, Om Jonis Jo, Om Zul dan Om Arie. Trus terakhir rombongan ketiga, Om Sapto, aku, Om Ridho, Om Ardimini, Om Ilul dan Om Wawan. Jiah rombongan terakhir ini terseok-seok. Om Wawan kecelakaan dan Om Ridho kram kedua pahanya. Selama perjalanan sampai rumah hanya 15an kilometer perjam.

Wadah cuma 86 km perjalanan PP dari rumah dan Candi Belahan, tapi kondisi medannya benar-benar sensasional. Naik-turun dan ajrut-ajrutan. Dan edisi Sumber Tetek/Candi Belahan ini aku, nTe Arum serasa benar-benar jadi Om Umar. (hahaha   ………….) Tapi tetap saja selalu ada afterwed, keren kan.....

Berikutnya tunggu note petualangan Jolotundo bersama B2C UNESA minggu depan, Minggu 29 Januari 2012.