Jumat, 16 Desember 2011

Mercusuar Socah

“Masya Allah…”
“Banyak perempuan yang buang duit buat mutihin kulit, kamu kok malah mbakar kulit toh nDuk-nduk. Lihat itu paha dan lenganmu… belang ! seperti iklan di TV itu…!’
Sore itu, tampilan ku emang kuyu banget !. Capek setelah seharian gowes Socah jilid 2 bersama GTS (Gowes Tetap Semangat).


Minggu pagi itu, aku dan suami (Om Ridho) memang dibakar semangat gowes ke Socah Madura. Disana ada mercusuar peninggalan jaman Belanda. Menurut foto-foto Gowes to Socah jilid 1 yang pernah di share di FB nya GTS, sepertinya jarak dan medan ke Socah cukup menarik hati. Meski sebetulnya kondisi tubuh kurang fit, karena semalaman nyelesaikan pesanan coklat yang lumayan banyak, bayang-bayang Socah seakan membuang rasa capek itu.
Sampai di titik kumpul, Masjid Mujahidin Perak, masih kepagian. Pukul 05.45 WIB. Padahal, menurut rencana, kita kumpul jam 6 pagi. Eh ternyata jam 7 pagi, baru semuanya lengkap. Tidak banyak yang ikut. Cuma berlima. Aku, Om Ridho, Om Jonis Jo, Om Bonnie dan Om Edy Zul.
Setelah persiapan selesai, meluncurlah kami berlima ke penyebrangan Ujung, dengan pelepasan dari Om Samsul Huda yang gak bisa ikut gowes karena baru sembuh dari sakit dan di iringi gerimis rapat. Ah biarlah hujan, pokoke Socah, We are coming !

Naik kapal penyebrangan. Banyak mata melirik aneh. Mungkin karena aku rada norak. Maklum terakhir naik kapal feri, saat aku masih smp. Jadi ya begitulah… narsis.com dengan camera hp, Om Ridho membantuku jeprat-jepret. Eh Om Jonis  bawa kamera digital. Tambah Narsis dech……(hahaha) sampai di Kamal, perjalanan sesunguhnya dimulai. Awal sedikit menanjak.  Tapi kemudian weeerrr. Meluncur ! dalam hati aku sudah berfikir, wah nanti pulangnya pasti ‘nanjak’ sedikit juga. Walah……!

Menjelang pertigaan patung pejuang Socah, medannya lumayan nanjak. Rodo ngos-ngosan juga seh….. tapi lumayanlah. Apalagi denger komentar om Bonnie, “ Kayaknya boleh ni berikutnya jalur Cangar jilid 3” (Waduh kuat gak ya…….) lanjut sampai pasar Socah….masih dengan pandangan aneh dari orang yang bertemu di jalan, tetep dengan pede yang yakin, ku gowes sepedahku…. Eh om Bonnie kasih semangat asyik lho….. “Kayaknya Tim ini  cocok ne….. 5 Om siap Cangar jilid 3” (stttt om Bonnie lupa kali ya ada satu tante di sini…..)
Medan berikutnya lumayan kotor. Tanah kapur yang abis diguyur hujan semalaman. Blethok sana blethok sini. Walah….nyiprat semua ! Tapi kata ‘iklan’, offroad itu semakin kotor semakin baik…hahaha
Nah disinilah rekor kembali diukir oleh om Jonis. Setelah awal berangkat selalu menjadi yang terdepan, di medan nyiprati ini, om Jonis menjadi yang paling belakang. Karena ban sepedanya jenis yang kecil kayak buat sepeda balap (ukuran 125), jadi nyepedanya ati-ati banget. Sementara om Bonnie, om Edy Zul, om Ridho nyantai aja karena ban sepedanya emang buat offroad. Kalo aku ? Cuek juga….mananya juga emak-emak narsis, melihat ada kubangan malah di lewati dengan harapan semakin kotor. Hahaha
Diperjalanan, tetap saja narsis.com. ketemu anak-anak mencari ikan, berhenti foto-foto. Tapi anehnya mereka takut lihat kita ! ato tepatnya lihat aku kali ya….. wong difoto kok malah dorong-dorongan.Takut ada Lemboek kali ya…..(Lemboek itu tokoh perempuan yang biasanya muncul bersama punokawan, Bagong,Petruk,Gareng dan Semar. Badannya besar kayak aku….hahaha)
Akhirnya, sampai di Mercusuar Socah. Wah om Jonis  langsung pesan rujak petis khas Madura. Dan kami bertiga, om Ridho, om Edy Zul dan aku ikut juga. Cuma om Bonnie yang pesan rujak manis…nyidam ya om….(xixixixi)
Setelah narsis-narsis sambil nungguin om Edy Zul “jualan” Durian… perjalanan wisata kuliner dimulai. Warung Matus menjadi sasaran kami. Tapi sebelum sampai di Matus, mata elang om Jonis mendapatkan objek foto yang asyik banget…. Kita berlima dan sepeda kita ‘turun’ ke laut.

Narsis abis…..perjalanan dilanjutkan. Bersepeda dan makan-makan. Ehmmmmmm Ikan gurame dan kakap bakar plus sambel pencit dengan minum es jeruk kelapa dan susu soda n mega mendung. Waduh…..kenyang dech……
Setelah cukup istirahat, perjalanan pulang dimulai. Beda dengan perjalanan berangkat yang ditemai mendung dan gerimis mengundang, perjanan pulang kita diiringi teriknya sinar mentari. Walah… capek, kenyang, panas….teparkah aku.
Kalo pada saat berangkat, aku masih bisa stabil bersepeda diantara 4 orang Arjuna-nya GTS, pulangnya terpaksa paling belakang dan hanya ditemai om Ridho. (mana berani ni om ninggalin bininya sendirian. Hehehe)
Tapi begitu sampai di pintu masuk penyerangan kamal, om Edy Zul juga terlihat pucat. Tepar juga ni Om…… (kekenyangan yang berakibat pada perut yang yang terasa perih.orang Jawa bilang Suduk-en)
Akhirnya, kembali naik feri pulang ke Surabaya dengan harapan bisa beristirahat di kapal. Eh ternyata gak kebagian tempat. Sepanjang perjalanan kita berdiri di samping sepeda masing-masing. Walah……capek tenan. Sampai-sampai Om Jonis merelakan kaos putihnya jadi alas duduk. Dan tertidur pulaslah dia di tengan cuaca panas….(kok bisa ya…..? xixixixi)

Sebetulnya sudah muncul keinginan untuk beristirahat sejenak di Basecamp-nya om Edy Zul (Mujahidin) tapi kayaknya kalo berhenti ngowes bakal semakin terasa capek. Akhirnya sepakat langsung pulang ke rumah masing-masing.
Om Jonis yang menuju ke Sidoarjo langsung nyepit…. Om Bonnie juga. Tinggallah aku dan om Ridho…nyantai aja ah….. lewat jalur yang sedikit sepi….(Perak, Tugu pahlawan, Pasar Turi, Semarang, Pasar kembag, Diponegoro, Dr.Soetomo, Indragiri, Kodam (berhenti beli es tebu dan siomay buat oleh-oleh Kresna) langsung Karah)
Eh iya, pas lewat jalan Pasar Kembang, ada om dan tante berkerudung yang membunyikan klakson mobil yang melambai-lambakan tangan. (siapa ya…kayaknya kenal dech…..xixixixi)

Akhirnya nyampai rumah…. Eh Cuma 68 kilometer. Tapi WOW….plus narsisnya heboh

 Kenangannya takkan terlupakan. Terima kasih GTS.

Kamis, 24 November 2011

Bukan “Cuma” Bersepeda


“Bisa mbongkar BB gak Om”
Walah…. Baru juga sepedahan, sudah ditanya yang sulit begini……”Kalau sekarang jawabannya pasti gak bisa. Tapi beri saya waktu belajar. Lain waktu saat kita ketemu lagi, insya allah saya bisa mbongkar BB”

Istriku cuma cengar-cengir mendengar ceritaku sepulang dari CFD di Sidoarjo hari minggu itu. Dan senyumnya berubah masam ketika mendengar rencanaku mencoba membongkar BB sepeda emak-emaknya. Tapi setelah ku pastikan bahwa apapun yang terjadi aku akan bertanggungjawab, spontan senyumnya berubah jadi manis. “gak papa Yah. Bongkar aja. Kudoakan gak bisa pasang lagi. Tapi boleh reques selli gak ya…..” Doeng ! Tekor dong !!!!

Semenjak aktif bersepeda, permintaan isriku memang semakin aneh-aneh saja. Saya yang notabene berlatarpendidikan akuntansi, diharuskan belajar jadi tukang service sepeda angin. Katanya, “Malu Yah, kalo sepedahannya jarak jauh, tapi sepeda bocor aja gak bisa nambal”. Tapi masalahnya bukan hanya bagaimana menambal ban bocor. Kini tuntutannya beralih pada seluruh perawatan dan perbaikan sepedah kami bertiga. Saya, istri saya dan Kresna, putra semata wayang kami. Tapi ini memang sebuah tantangan baru yang harus bisa saya taklukkan.
Setelah awalnya hanya memiliki pompa tangan ukuran kecil, ternyata istriku justru nekat membelikan toolkit sepeda yang lumayan lengkap. Satu tas kecil, tapi berisi alat buat bongkar ban, tip-top, kunci pas, kunci L, tang, obeng, pemotong rante dan kunci spoke. “Gak mahal ni Dek ?”  dengan serius dia menjawab, “ Diskon 50 persen Yah. Mumpung murah. Belum tentu kebeli kalau gak diskon”
Nah ini masalahnya, sejak punya toolkit, saya yang kelabakan belajar sana-sini. Maklum, istri dan anak saya langsung mendaulat saya sebagai penanggungjawab beres tidaknya sepeda kami. Alasannya, berbagi tugas !. Istri menyiapkan seragam dan bekalnya. Sementara si Kresna menyiapkan tenaga. Biasanya sambil cekikikan dengan Bundanya, Kresna bilang, “Tenang Yah. Kalau pulang sepedahan tak bantu nyuci sepedahnya. Aku yang nyemprot air, ayah yang nyabun”. Kalau sudah begini dengan terpaksa ya harus diterima. Tapi tetap dengan senyum.
Profesi baru saya menjadi “Tukang Service Tiban”, sedikit banyak menjadikan saya harus rajin “belajar”. Karena ilmu baru, kadangkala ketika bersepeda bersama GTS (Gowes Tetap Semangat) atau DISTRO (Distrik Ronggeng) saya bilang saya bawa toolkit tapi gak bisa menggunakannya. (Benar saya berusaha belajar, .kadang via video di internet. Tapi kalau harus memperbaiki sepeda orang lain, walah…. Saya sama sekali tidak berani)
Beruntungnya saya, di komunitas DISTRO ada beberapa pakarnya bongkar pasang sepeda. Ada Cak Arifin dan Cak Ardimini. Termasuk juga adanya kegiatan workshop bongkar-pasang sepeda yang pernah dilakukan bersama adik-adik B2S  Candi Sidoarjo. Saya jadi bisa belajar gratis bersama ahlinya.
Ternyata tidak itu saja, Om Huda Muhamad dari GTS juga sangat berperan dalam proses belajar saya. Ketika saya curhat susahnya bongkar BB, Om Huda langsung menunjukan alat khususnya untuk membuka crank. Dengan senyum om Huda berkata, “ Tanpa membuka crank, gak mungkin bisa buka BB Om”. Alhamdulillah banyak teman banyak manfaat. Nah setelah dapat alat buka crank dan BB, ternyata ada lagi alat yang harus disiapkan, kunci pas dan kunci inggris.
Dengan senyum nakalnya kembali Kresna menggodaku, “Garasinya masih longgar lo Yah…. Buka Bengkel sekalian aja”

Ketika event Mojosuro 2011 lalu, manfaat membawa toolkit dalam perjalanan panjang benar-benar terasa. Banyak teman PESERTA Mojosuro yang harus menyetel ulang sepedahnya karena terkena hujan atau juga penyebab lain. Atau juga melakukan tambal ban karena bocor. Sekarang, kalau kami bersepeda dengan jarak yang lumayan jauh, kami berbagi tugas. Saya bawa semua perlengkapan/toolkit dalam rangsel saya, istri bawa bekal dan sejenisnya dalam bagasinya, Kresna tetep, bawa tenaga dan semangat.

Apapun masalahnya kalau kita mau belajar dan benar-benar belajar, insya allah akan ‘dimudahkan”

Minggu, 20 November 2011

Bersama Sang Presiden

“Hormat Grak”
Tiba-tiba saja serentak enam orang pesepeda dari Distri Ronggeng (B2W Sidoarjo) mengangkat tangan memberi hormat kepada mereka yang berada diatas panggung pelepasan peserta Mojosuro 2011. Dengan sertamerta Om Toto Sugito, sang Presiden B2W-Indonesia, dengan senyum khasnya, menyambut pemberian hormat tersebut.

Hari itu, Sabtu, 19 Nopember 2011.
Pagi hari Om Susantomo menelponku untuk siaran live mensosialisasikan kegiatan Gowes PP Mojosuro di Sindo Radio (dulu Trijaya FM), dengan harapan para pengguna jalan tidak kaget melihat adanya pesepeda yang gowes menuju Mojokerto. Ya,hari itu memang ada jadwal gerak jalan Mojokerto-Surabaya. Dan kami dari B2W ikut serta meramaikan dengan gowes. Bukan hanya gowes dari Mojokerto ke Surabaya, tapi juga Surabaya ke Mojokerto. B2W Sidoarjo sepakat gowes PP Mojosuro. Narsis di radio selesai, selanjutnya  mengecek ulang barang bawaan, berangkatlah kami, Om Ridho, Om Zul dan aku ke titik kumpul Gowes PP Mojosuro (depan Komp Brimob K-9 Medaeng Waru Sidoarjo). Diperjalanan bergabung juga Om Tjahyo. Sampai di lokasi tikum masih sangat pagi. Belum ada sahabat sepeda yang datang. Berikutnya satu persatu peserta mulai berdatangan. Yang mengembirakan, Presiden dan Menteri Dalam Negeri B2W-Indonesia mampir dulu (sebelum menyimpan barang bawaan dan dilanjutkan gowes bareng ke lokasi start Mojosuro)

Beriring-iringan kami meninggalkan Sidoarjo menuju Mojokerto, karena beberapa alasan, terpaksa rombongan kami bagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah semua goweser yang berkumpul di tikum Medaeng. Dan yang kedua adalah kelompok Distroyer (Distro) yang memberikan pengawalan khusus kepada Presiden dan Menteri Dalam Negeri B2W Indonesia. Alhasil semua peserta gowes PP Mojosuro baru berkumpul lengkap di wilayah Krian Sidoarjo. Kasihan Om Toto, karena ulah sopir mikrolet yang ugal-ugalan, hampir saja presiden kita ini keserempet. Untungnya Aman-aman saja.Setelah menghilangkan kaget dengan minum es tebu hijau, perjalanan kami lanjutkan namun kali ini di iringi hujan yang lumayan lebat. Untungnya jas hujan sudah dipersiapkan. Lanjut sampai di Mojokerto. Sayangnya, kami sempat muter-muter menuju kantor Indosat (tikum sebelum ke lokasi pemberangkatan/start Mojosuro). Istirahat dan registrasi. Eh makan siang juga. Makasih Om Jay buat hidangan makan siangnya Cuma satu yang kurang, minumnya telat. Keselek aq. (Wkwkwkwkwk piss Om )

Registrasi selesai. Meluncurlah semua peserta gowes bareng Mojosuro ke titik pemberangkatan. Tumplek Blek. Mulai sepeda onthel, Fixie, BMX dan MTB. Pengaturan pemberangkatan dan werrrrr Surabaya We’re Coming…..
Peserta dilepas oleh Panitia dari atas panggung kehormatan, termasuk ada Om Toto Sugito (Presiden B2W) dan Om nDlahom (Mendagri B2W). dari atas panggung itulah Om Toto menerima penghormatan dari teman-teman B2W Sidoarjo yang mengawal perjalanan Om Toto dan om nDlahom dari Sidoarjo menuju Mojokerto.

Perjalanan panjang tahap 2 dimulai
Tidak lagi diguyur hujan. Cuaca bersahabat dan mulai ada penyuntik semangat. Masyarakat di sepanjang jalan/rute Mojosuro yang menonton perjalanan kami, (emangnya badut di tonton….?) menambah semangat kami untuk keep gowes.
Sayangnya, sponsor yang memberikan minuman ringan selama perjalanan menjadikan banyak diantara kami peserta mojosuro “terpaksa” meninggalkan sampah gelas minuman di sepanjang perjalanan. (semoga tahun depan tidak terjadi lagi)

Lepas by pass Krian, menjelang Magrib. Kamipun beristirahat di Masjid Darussalam. Di sini kami mendapatkan waktu sholat Magrib dan menyantap snack. Istirahat sebentar dan kembali melanjutkan perjalanan.
Waduh ….Setelah mendapatkan istirahat, ternyata menjadikan tenaga kami seperti kembali dari awal. Dan Werrrrrrrrrrrrdalam kondisi jalanan sepi, speedometer menunjukan angka 27 km/jam. Dan sampai di Finish/Tugu pahlawan Surabaya, sekitar jam 8 malam.
Setelah sempat joget sebentar (hehehehe) meluncurkan rombongan B2W ke lokasi yang lebih “Sepi”. Panitia menyiapkan lokasi depan kantor DPRD jalan Indrapura. Nah ini acara yang ditunggu-tunggu. Makan malam plus minum es susu kedelai. Dan satu plus lagi, Bagi-bagi Door Price.

Makan malam itu, di iringi banyak aktifitas menarik dari para goweser. Ada yang mencari suaminya karena terpisah dalam perjalanan, ada yang berebut beli es krim, ada yang berebut pijetan Om Hasan, dan ada juga yang berebut minyak Gondopuro. Hahahahahaha lengkap sudah kebahagian dan kecapekan. Selesai sudah Mojosuro 2011, para Distroyer dan anggota B2W Sidoarjo pulang dengan wajah puas. Gowes PP Mojosuro bersama Presiden dan Mendagri B2W Indonesia sukses. Sesukses banyaknya doorprice yang kami bawa pulang.(wkwkwkwkwkwk)
Malam itu kami istirahat dengan senyum kemenangan. Menang setelah menaklukan diri sendiri di event Mojosuro.

Terima kasih buat semua peserta Gowes PP Mojosuro, terima kasih buat panitia. Terima kasih juga buat Om Toto dan Om nDlahom. Suntikan semangat buat kami saat bersepeda bersama kalian berdua sangat berkesan. Total jarak tempuh 110,52 km. total dari rumah, 130 km. (lihat foto-fotonya di album Gowes PP Mojosuro)
Sampai jumpa di event deklarasi B2W Sidoarjo. Semoga bisa gowes di Tanggul Lapindo.

Senin, 31 Oktober 2011

Ups…Malunya…..

Katanya orang pinter, kalo memulai sesuatu itu harus bener niatnya. Kalau gak bener, hasilnya juga ndak akan bagus.

Kalimat diatas ternyata berlaku untukku… begini ceritanya :
Sabtu malam 29 Oktober 2011, bundaku, bunda Arum bertanya apakah benar aku mau ikut ke Car Free Day Sidoarjo… aku jawab. Beneran Bunda. Nah masalahnya, Bundaku nggak tau kalo niatku cuma supaya aku dapet  pinnya edisi perdananya B2W Sidoarjo. Soalnya meski aku anaknya Bunda dan Bunda sendiri yang membawa pin itu, nggak bakalan Bunda kasih cuma-cuma. Kata Bunda, pin kegiatan itu bukan cuma buat gaya-gayahan. Harus ada perjuangan untuk mendapatkannya.

Akhirnya minggu pagi, 30 Oktober 2011, sebelum jam 5 pagi, aku, ayah Ridho dan bunda Arum berangkat ke CFD Sidoarjo. Nah niatku yang kurang jelas ini mengakibatkan aku kurang konsentrasi dijalan. Baru 3 kilometer dari rumah, GUBRAK. Aku jatuh. Nggak berdarah-darah sih.. tapi baju, kaki dan tanganku jadi hitam semua. Kotor karena semalam habis hujan.Jalanan jadi sedikit berlumpur. Ih malu dan perih rasanya. Bunda dan Ayah sudah nanya apakah aku masih kuat melanjutkan perjalanan. Soalnya perjalanan masih sangat jauh. Dari rumah ke CFD Sidoarjo kurang lebih 23 kilometer. PP jadi 46 kilometer. Wah aku sudah terlanjur pingen pinnya. Jadi  aku jawab terus aja Bunda, gak papa.(Nggak jujur lagi ni…)
Karena aku jalannya pelan banget, Bunda agak stress kali, karena Bunda bawa nasi bungkus buat om dan tante B2W Sidoarjo yang memberikan service sepeda gratis di area CFD, maka Bunda langsung memberi aku “dorongan”. Alhasil aku cuma duduk manis di sadel sepedaku dan bunda yang ngos-ngosan.(hihihi maaf Bunda).Pulangnya juga begitu, karena melihat Bunda sudah kecapekan “mendorong” aku pas berangkat, ayah Ridho yang menggantikan posisi bunda. Jadilah aku pulang pergi mendapatkan “dorongan”. Maap ya Ayah dan Bunda. Tapi terima kasih buat pinnya. Meski cuma gowes sedikit, Bunda tetep kasih aku pin B2W-Sidoarjo. Sayang aku nggak ketemu Om Jengkol (Om Gogiek) padahal aku juga pengen berteriak “ASOLOLE” (hahahahahahaha)

Stttt. Om dan Tante tau ngak….. aku gak mau ngulang lagi ! kasihan Bundaku. Pulang CFD langsung mandi, makan dan tidur. Tidurnya pules banget. Mungkin Bunda kecapekan “mendorong” aku. I Love You Bunda.

Senin, 24 Oktober 2011

Gunung Bajul. Ajrut-Ajrutan. Wow Ini Virus Keempat


Sejak menjadikan sepeda menjadi bagian dari aktifitas kami sekeluarga, kami sering mencari beragam bentuk bersepeda. Mulai dari ikut CFD sampai bersepeda jarak jauh. Nah bentuk lainnya ya mencoba medan offroad. Meski masih dalam kategori newbie, kami memasukan mental bonek untuk urusan ini.
Dengan mengandalkan skok hasil upgrade bulan lalu, kami berdua langsung menyatakan ikut ketika GTS (Gowes Tetap Semangat) mengshare kegiatan ajrut-ajrutan ke Gunung Bajul. Ohya, Gunung Bajul itu adalah sebuah wilayah pebukitan di wilayah Karangpilang Surabaya Selatan yang di sebagian wilayahnya digunakan kegiatan anggota marinir. Tak heran dalam perjalanan kami menemukan areal lapangan upacara dan lapangan tembak disana. Nah cerita lengkapnya begini.

Minggu pagi, 23 Oktober 2011. Dini hari setelah menyiapkan bekal sarapan dan makan siang buat Kresna jagoan kami, kami berangkat ke tengah kota. Ada teman kerja yang kasih tiket fun bike yang eman kalo jerseynya gak diambil (lumayan buat nambah koleksi, hahahahaha). Setelah jersey dan snack ditangan, dengan cueknya kami berdua meninggalkan lokasi funbike dan melenggang menuju tikum satu di depan BNI 46 Raya Darmo. Eh ternyata masih nomor satu. Kemudian Om Zul datang disusul Om Yan, nTe Ai, nTe Ryana, nTe Dini dan nTe Santy. Setelah cukup menunggu dan tidak ada yang datang lagi, bergeraklah kita menuju tikum dua (Jembatan Baru Karangpilang). Disana sudah menunggu Om Bonnie. Nah dedengkotnya GTS inilah yang didapuk jadi Marshallnya. Dan ternyata gak salah pilihan kami. Si Om yang satu ini, membawa kita ngetrek dengan “manis” di jalur offroad Gunung Bajul.

Dimulai dari menyusuri tanah retak karena musim kemarau berkepanjangan, sampai bertemu ular sebesar lengan orang dewasa. Wuih……tak terkatakan kagetnya. Tapi aman ularnya berbagi jalan dengan kami. Hahahahaha
Akhirnya melewati jalur teriak, bagaimana tidak berteriak, kami yang baru mencoba jalur offroad harus naik  tanjakan dan menuruni turunan curam.serasa terbang. Weeerrrrrr. Untung skok udah di upgrade. Meski rasanya kurang sip. (moga-mogaan ada rejeki lagi buat upgrade lagi. Xixixixi)

Akhirnya bertemu dengan lokasi aktivitas marinir. Setelah melewati lapangan yang kayaknya dipersiapkan untuk upacara (karena ada tiang bendera di tengah-tengahnya) kami juga melintasi lapangan tembak. Untung lagi tidak latihan menembak jadi kami bisa bernarsis ria di antara sasaran tembaknya.
Lanjut….
Nanjak lagi dan melewati ilalang. Waduh. Karena memakai celana pendek, betis ku sempat mendapat kenang-kenang kegores rumput liar. Begitu kena keringat, wadaow perihnya….

Terakhir, kami menuju perkampungan penduduk. Asyik… meski jalanan agak goyang karena tatanan batakonya gak padat. Di wilayah Sumur Welut, kami ketemu bagunan cantik dengan gaya klasik. Narsis dech…. Lihat tingkah pola para “Darma Wanita” GTS di albumku (Ajrut-ajrutan Gunung Bajul). Akhirnya perjalanan mengarah kerumah Om Huda di kawasan Kebonsari. Ini asyiknya, kami Nambang ! Naik perahu kayu yang menyebrangkan kami dari wilayah Kebraon ke wilayah Kebonsari,. Dan ternyata, Om Huda dan nTe Iin sudah menyiapkan es buah !!. Uih…. Sueger. Eh gado-gado juga muncul. Waduh enak tenan. Makasih Om dan Tante. Pangeran yang mbales ya…..hehehehehe

Kurang dari 40 km PP dari Rumah, tapi sensasinya….. Woooow…Lebih baik coba sendiri dech… Insya allah di ulang lagi….Sstttt, kata Om Yan napak tilas. (tapi lebih baik tidak ditulis kenapa)… Cuma peserta Ajrut-ajrutan Gunung bajul yang tau.hahahahahaha… Karena sudah “lulus” Gunung Bajul, kita tunggu pin nya. GTS Ajrut-Ajrutan Gunung Bajul.

Minggu, 09 Oktober 2011

Gowes Wisata Mangrove Wonorejo


Refresing bersepeda sepertinya sudah menjadi harga mati buat keluargaku. Ya, Aku dan suamiku, Om Ridho serta jagoan kami Kresna, selalu berusaha menjadikan sepeda untuk mengeratkan rasa cinta dan sayang diantara kami bertiga. Meski kadangkala Kresna terpaksa tidak ikut serta karena kesibukannya di sekolah. Maklum sudah kelas V SD. Mulai banyak tugas dan tambahan pelajaran.Seperti yang kami alami minggu 09 Oktober 2011 kemaren.Kresna terpaksa tidak ikut gowes karena ada latihan tambahan Paduan Suara untuk tampil di TVRI Surabaya.Akhirnya hanya aku dan suami yang brangkat gowes.

Minggu pagi itu sengaja, kami, aku dan suami tidak ikut mengawal CFD Sidoarjo karena ingin merasakan sensasi lain. Sahabat Sepeda dari Gowes Tetap Semangat menawarkan agenda Gowes ke Mangrove Wonorejo di kawasan Surabaya Timur. Gayung bersambut. Berangkatlah kami ajrut-ajrutan di kawasan Wanawisata Mangrove Wonorejo. Berangkat jam 6 pagi, memang tidak menjadikan kami bertemu matahari terbit. Tapi suasana hangat matahari pagi menjadikan kami sangat-sangat bersemangat.Tidak banyak anggota GTS yang ikut meramaikan Gowes pagi itu, tapi tetep saja suasana ruame banget. Maklum, sudah menjadi rahasia umum kalo goweser pada narsis semua. Setiap ada pemandangan yang indah, mejeng dulu. Cekrik-cekrik. Hahahahahaha.

Beruntungnya semalam tidak turun hujan, jadi jalur menuju Dermaga Wanawisata Mangrove tidak becek. Bayangkan kalau habis diguyur hujan, jalanan yang lebarnya kurang dari semeter itu pasti menjatuhkan banyak korban.masuk ke tambak.tapi kata Om Bonnie, Om Zul dan juga Om Yan,  pastinya lebih asyik kalo pas hujan atau habis hujan. Sensasi ajrut-ajrutannya lebih berasa.
Di sepanjang perjalanan banyak juga kita bertamu rombongan pesepeda lain, ada yang dari Surabaya ada juga yang dari luar kota.

Sensasi asyik muncul lagi ketika sampai di pintu masuk lokasi dermaga. Kita harus meniti bambu yag menjorok ke tengah kolam. Beruntung bambunya kuat. Bayangkan bagaimana malunya jika badan size besarku ini terjatuh karena bambunya gak kuat menahan berat badan ku. Belum habis sensasinya. Meski, para sapidah harus diparkir di pintu masuk dermaga, jalan kaki melintasi jembatan bamboo di tengah hutan mangrove gak kalah romantisnya. Ini yang membuat aku dan suami rodo nekat bernasis ria. Dengan bantuan Om Yan sang juru Sotretnya GTS, mulaikah kami bikim foto afterwedding. (hahahahaha) soalnya udah gak mungkin bikin prewedding kan…..hasilnya, wah sangat-sangat tidak mengecewakan.

Setelah puas menikmati Wanawisata Mangrove Wonorejo, ada keinginan kami untuk bikin Gathering di sana. Melibatkan semua keluarga besar GTS, semoga saja keinginan ini bisa terwujud dan semakin memesrakan hubungan keluarga kami secara individu juga.
Akhirnya, PP hanya 56 kilometer. Tapi sensasinya tak terkatakan.
Untuk gambar-gambarnya, bisa dilihat di album aku, Wanawisata Mangrove Wonorejo.

Kamis, 28 Juli 2011

Wah…. Koplak Dech…..


Beberapa hari lalu, aq dan kakak tertuaku, menjemput mama yang sakit di Kediri dan dibawa pulang ke Surabaya. Dengan harapan, proses penyembuhan mama akan lebih cepat, karena di Surabaya ada 3 anak-anaknya dan dekat juga dengan sebagian sodara kandungnya (juga dekat dengan makam almarhum Papa).Apalagi. sekarang juga sudah mendekati Ramadhan. Apa enaknya berlebaran tanpa Ibunda tercinta.
Sesuai perjanjian, aq dapet tugas melayani mama (mandi, makan, jalan2 dan sebagainya) pada pagi hari, karena jam kerjaku baru mulai jam 9 pagi. Lokasi kantorku juga gak jauh-jauh amat dari rumahku ato rumah mamaku.
Tugas pertama dimulai.
Seusai sholat subuh dan seusai menyiapkan kebutuhan si Kresna, jagoanku, mulailah aq nggowes ke rumah mama. Sampai di rumah mama, nyiapin sarapan, masak air buat mandiin mama dan sebagainya dan sebagainya. Selesai. Nggowes ke kantor… kring….kring….
Ealah begitu pulang mo balik ke rumah mama buat mandikan sore hari, ada yang hilang dari badan sapidahku… tagbike b2w-nya ilang…lho kok…?  Spontan mengumpatlah aq….”maling kurang ajar. Masak ada barang yang lebih berharga (senter dll) kok cum tagbike yang diambil”
Apa malingnya pengin sepedahan pake tagbike b2w ya…..?
Nah karena sibuk mikir gimana ngambilnya tagbike itu, (mungkin) aq kurang konsentrasi. Dari arah yang sama, ada becak muat galvanis yang muatannya tiba-tiba nylorot/jatuh. Gubrak kenalah aq. Hasilnya… tepar di tengah jalan dengan lengan kiri robek, jempol kaki kiri cuel, dan perut lebam biru-biru kehantan galvanis….!
Oalah… maaf ya om Maling…gara-gara nyumpahin sampeyan, aq jadi tepar di tengah jalan.
Dan bagaimana dengan Sapidahku ? (udah berdarah-darah masih mikir sapidahnya….hehehehehe)
Karena jatuh ato karena apa ya…. Ban depan dan belakang jadi koplak. Untung aja ada tukang service yang standby setiap saat. 24 jam nonstop. Tinggal telp dan buka service dech di ruang kerjaku.
Om Ridho…Tx ya….. ongkos service nya pas NR aja ya…hehehehehe

Rabu, 20 Juli 2011

Bisa Bongkar. Bisa Pasang Gak…?


“Sisa dana kemaren, masih cukup gak buat beli tool kit ?”
Wah pertanyaan si Bos bikin aq gak jadi nambah koleksi wadah dapur ku ni.
“emangnya mo beli tool kit ? harus ya ?”
“Paling tidak kalo kita da punya, kan kalo toring gak bingung peralatan standart. Emang bunda mau nuntun sepeda pas ban gembos, pas ditengah tambak lagi”
Hehehehe akhirnya, terbelilah Tool Kit. Pertanyaan berikutnya, makainya gimana ?
Wkwkwkwk…

Kayaknya keberuntungan berpihak pada kita dech.. pas ngumpul di selter Distro Sidoarjo, muncul ide bikin pelatihan buat adek-adek B2S. Cocok !
Selasa, 19 Juli 2011 agenda NR service sepeda. Tempatnya di rumah adek b2S di kawasan Candi Sidoarjo (Taman Delta Blok I no.6, rumah keluarga adek Denni). Ngumpul di Tikum Timur Alun2 Sidoarjo. Dari Distro punggawa senior dating kecuali Om Jengkol yang suibuk banget dengan kerjaannya. Trus dari GTS (Gowes tetap Semangat) juga datang. Wah OK ni… tapi tetep ! aku yang tercantik! Gak ada saingan.hahahaha
Semangat adek2 B2S kayaknya gak ada tandingannya dech….melihat kita blum nyampe2 di TKP (Candi) mereka nekat nyusul kita di Tikum. Akhirnya iring2an dech….asyik kayak konvoi. Kelap-kelip.Ngowas-ngowes.Kring-kring.

Di TKP, Ortu adek Denni welcome banget. Ternyata ayahnya Denni penggowes juga. Cuma sekarang lebih senang mancing. Dan tawarannya tanggal 30 juli nanti..nantang kita nggowes ke Jolotundo  buat karmas menjelang puasa (jauh banget karmas ke Jolotundo..Pulang da lepek lagi ne….hehehehehe) trus lebaran nanti ngajak bakar ikan juga. Wuih sedap bener…(kalo makan2 ma hayo aja Om…hehehehe)

Dosen pemateri kita malam itu, Om Arifin, orangnya diem banget tapi senyumnya bok….manis banget! (piss Om… Sttttt biar kalo sapidahku bermasalah, si Om mau bantu ngebenerin.hahahaha). Dengan sigap, Denni mengajukan sapidahnya buat jadi objek edel-edel. Lepas ban, stel rante, stel rem dan sebagainya.Trus, aku ngapain….? Hahahaha aku ngobrol ma ibunya Denni. Urusan belajar mbongkar sapidah, pasrah ma Om Ridho aja dech.
Selesai semua, sapidah juga udah sip. Kita trus pamit.da malem. Nah petualangan di mulai. Bersembilan kita ngowes pulang. Om Arifin mendahului. Berdelapan, kita menyusuri jalan pulang. Eh ide lewat jalur Lingkar Timur Sidoarjo muncul. Hayo dech…nyari kringat.
Sampai di pusat makanan khas Sidoarjo (Kupang) kita berhenti, Om Rudi ngidam Lontong Kupang. Nah di sini kita tinggal berenam, karena 2 rekan kita da misah/jalur beda.Kupang, kikil,gado2 dan es degan. Sip tenan.
Kenyang, pulang dech….. lumayan buat malam ini,PP 51 kilometer.
Hayo direalisasikan Jolotundo…. Siapa tau dapet Joko Tarub. hahahahahaha