Selasa, 26 Juni 2012

Gowes to Bromo with GTS



Saat Om Bonnie memposting photo-photo daerah Nongkojajar sampai Pananjakan di wall GTS beberapa waktu lalu, mataku langsung terbelalak. Wah alangkah asyiknya jika bisa ikut mengekseskusi jalur tersebut.  Namun ada juga terselip keraguan, bisa ikut gak ya… apalagi saat itu, aku sedang mempersiapkan acara khitan untuk jagoan semata wayangku. Kresnanda. Pertimbangan lain lagi, si Blue yang selalu setia ku tunggangi, sudah di minta Kresna untuk mengantikan sepedanya yang sudah kekecilan. Dalam hati aku cuma berharap, emoga masih ada sisa dana dari acaranya Kresna. Jadi aku bisa beli sepeda buat ikut eksekusi Nongkojajar – Bromo with GTS. Hahahahahahaha
Begitu jadwal pasti eksekusi di posting, walah…. Kog Cuma berjarak 5 hari setelah acara khitannya Kresna toh…. Bisa ikut gak ya….. Meski penuh dengan keraguan, aku berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa aku bisa ikut touring ini. Dua hari setelah dikhitan, luka khitan Kresna sudah mengering sebagian. Akhirnya bersama Om Ridho, suamiku, aku mulai mempersiapkan segala tetek-bengek kebutuhan touring, termasuk didalamnya sepeda baru.(Alhamdulillah masih ada sisa dana.hahahahahahahaha)

Akhirnya hari H pun tiba. Sabtu, 23 Juni 2012. sejak jam 15.00 aku dan om Ridho sudah siap di kantor ORARI Lokal Surabaya Selatan. Di kantor ini semua tim eksekusi Bromo with GTS akan berkumpul dan berangkat sekitar pukul 17.00. Loding menuju penginapan di daerah Purwodadi Pasuruan dan esok harinya baru menuju sasaran.
Alhamdulillah, Om Dimaz bawa nasi kotak dengan menu ayam panggang, wah makan malam dulu sebelum berangkat, karena perjalanan terpaksa di mundurkan 2 jam menunggu mobil loading. Sekitar pukul 10.00 malam, kami sampai di penginapan. Langsung istirahat mempersiapkan diri untuk eksekusi esok hari.
Minggu, 24 Juni 2012. setelah berbenah dan sarapan nasi goreng sosis plus telur ceplok, minum the manis hangat, perjalanan dimulai. Masih loading lagi menuju titik awal gowes di daerah Krajan Lor. Jalanannya asyik sekali. Naik dan berkelok-kelok. Lumayan jauh sih, sekitar 20km-an. Sampai langsung rakit sepeda lagi dan Bromo we’ll be Coming !!

Bertujuhbelas kami mulai perjalanan.  Begitu start, kami langsung dihajar tanjakan. Agak keteteran juga sih. Tapi gak haram ka di tuntun. ( Om Aris bilang, kayak anggon E*****a, hahahahahahaha) Setelah cukup mengenal medan, perjalanan lancar jaya. Sayangnya kali ini, aku masih belum mampu menjadi pesepeda sejati ( karena pesepeda sejati adalah seberapa dekat ia dengan teman yang paling belakang). Bukan karena sok kuat sih tapi kali ini aku bersepeda dengan sepeda baru yang sama sekali belum aku kuasai sistemnya. Sepeda lamaku, si Blue menggunakan operan putar sementara yang baru, si Adek, pake tekan. Kemudian si Adek juga menggunakan megagir dan rangka alumunium. Jadi ringan banget. Aku yang biasa bawa sepeda berat jadi rada kaget. Alhasil suamiku, Om Ridho tertinggal jauh di belakang. Bersama nTe Siti, Om Ratna Tri, Om Haho dan Om Samsul Huda, aku melaju pelan-pelan. Jalanan penuh tantangan harus dihadapi. Mulai Aspal yang mengelupas, batu gunung yang tajam-tajam hingga jalanan berpasir yang membuat aku harus ektra konsentrasi. Bagaimana tidak, sisi jalan sebagian adalah tebing yang sangat curam. Meleng sedikit saja, wuuuuus bisa pulang tinggal nama. Menjelang turunan ke lautan pasir, kami sempat naik ke satu bukit kecil yang tanjakannya ciamik tenan. Tapi naiknya gak pake sepeda. Aku jalan kaki. Dan di puncaknya aku sempat foto lo… tapi pakai sepeda sang Suhu Om Haho. (foto-fotonya bisa lihat di album aku ya…) Alhadulillah setelah melahap 3-4 bukit yang sangat eksotik, sampai juga di padang pasir menjelang Gunung Batok yang bersebelahan dengan Gunung Bromo. Walah, Capek dan lapar terbayar sudah. Subhanalloh, Indah banget. Tak terkatakan betapa indah pemandangan gunung Batok dan lautan pasirnya. Sayangnya Bojoku, Om Ridho tertinggal jauuuuuuuuh banget. Semakin sedih rasanya, begitu datang lagi rombongan berikutnya, kekasih hati ini tak terlihat juga. Bahkan aku sempat terteguh saat om Bonnie bilang, “mungkin om Ridho gak sampai finish nTe. Soalnya tadi menemani nTe Siti dan om Yan yang kecapekan”. Walah, dalam hatiku rasanya ada yang hilang. Dulu sewaktu eksekusi Jolotundo, mantan pacarku ini juga tidak sampai finish. Jadi aq ditemani teman-teman Distro, Om Sapto, Cak Hanafi dsb. Sekarang harus terulang lagi. Tapi ya sudahlah, munkin foto-foto di lautan pasir bisa mengobati kekecewaannya nanti. Sebagai gantinya, aku sempat membuat foto dengan Om Haho, sang Suhu yang selalu menyemangatiku sepanjang perjalanan. Suwun ngih Om…..

Sempat hendak melanjutkan perjalanan ke gunung Bromo, namun sayangnya nafsu besar kami harus dimasukan kulkas. Badai pasir meski tidak terlalu besar terjadi. Dan Subhanallah, kami melihatnya dari kejauhan. Sungguh besar kuasa Allah. Indahnya tarian Pasir dengan koreografer Sang maha Kuasa.

Dengan rasa syukur yang tak berkurang sedikitpun, kami balik kanan kembali menyusuri jalan datang. Dan ternyata kejutan untukku menggema….Suara Om Huda menyibak dinginnya udara. “ nTe Arum, Yayangmu datang tuh……..”
Subhanallah, Suamiku nyampe juga di Finish. Bersama Om Yan dan nTe Dini, mereka bertiga dengan senyum kecapekan menyambut senyum kami. Ya allah, pelukan hangat sangat melegakan rasaku. Nte Dini spontan berkata, “makasih ya nTe… maaf Om Ridhonya tak paksa nemani aku…” Sueneng banget. Lengkaplah Tim GTS gowes ke Bromo. Langsung narsis-narsis. Dan seperti biasa, aku dan suamipun bikin foto afterwedding.

 Wah sueneng tenan. Setelah di rasa cukup. Kamipun kembali menyusuri jalur Midodareni. Dihajar tanjakan berpasir yang membuat sepeda kami selayaknya barang berdebu yang tidak terjamah bertahun lamanya. Penuh debu pasir. Kembali ke bace camp awal dan mulai menikmati jalanan menurun. Ini dia asyik dan nyamannya. Tapi tetap harus konsentrasi tingkat tinggi. Jalananan berbatu tajam dan menurun. Apalagi kabut mulai turun Wadau…. serasa ajrut-ajrutan yang akan merobek ban sepeda kami. Tak terasa telapak tanganku melepuh, padahal aku sudah memakai sarung tangan. Dan akhirnya sampai kembali di lokasi mobil loading terparkir. Total 20an kilometer dari titik awal sampai kembali. Dan kecepatan rata-rata hanya 5,81km/jam. Namun jalurnya… Alamaaaaak sesuatu banget !

GTS, terima kasih ya…. Om Bonnie makasih mobil loadingnya, Om Zul makasih penginapannya, Om Dimaz, makasih makan malamnya, Om Ratna Tri Martono dan Om Teuku Suwandi, terima kasih foto-foto ciamiknya. Nte Santy, nTe Siti, nTe Dini, Om Huda, Om Haho, Om Yan, Om Aries, Om Samsul, Om Djoko, Cakapid, suwun sanget ngeh. Special my hubby, Om Ridho, Love U Full Jek !.