Seperti yang pernah aq tulis bebarapa waktu lalu, ada bebarapa saran sahabat sepeda untuk sasaran bersepeda jarak jauh. Pemandian Sumber Tetek, Petilasan Jolotundo, Cangar dan Pantai Dalegan. Sumber Tetek dan Jolotundo sudah tertaklukan. Cangar masih dipikir-pikir dulu. Sasaran Cangar, sudah tergantikan dengan sasaran gowes ke Batu. Nah sekarang saatnya memaparkan agenda One Day Cycling at Dalegan Beach.
Pantai Dalegan. Terletak di wilayah Kabupaten Gresik yang berbatasan dengan Kabupaten Lamongan. Dari Surabaya, medan menuju pantai ini lumayan menantang. Panas, berdebu, angin dan jalanan dipenuhi kendaraan besar pengangkut material pabrik. Ya… wilayah Kabupaten Gresik memang identik dengan pabrik besar. Mulai dari Semen, Petrokimia, Maspion dan lain sebagainya. Tapi aq tidak akan memaparkan pabrik-pabrik itu. Aq akan coba mengambarkan bagaimana eksekusi One Day Cycling at Dalegan Beach.
Minggu pagi 15 April 2012.
Dengan persiapan semampu aq dan om Ridho, suami q, kami meluncur menuju titik kumpul eksekusi touring kami hari itu. Monumen SuraBaya. Masih lumayan pagi. Pukul 05.00. aq dan suami sengaja datang lebih awal karena menjalankan amanah sebagai koordinator event ini. Touring Pantai Dalegan ini memang bukan event pribadi kami, event ini pada awalnya disepakati sebagai event pemanasan sebelum eksekusi LDC (Long Distance Cycling) – nya Distro, sebuah komunitas bersepeda yang kami ikuti. LDC Distro sendiri rencana akan di gelar sebulan setelah Dalegan dan sasaran tembaknya adalah wilayah Lumajang. Sementara itu Eksekusi One Day Cycling at Dalegan Beach ini di dukung oleh Distro sendiri dan juga semua sahabat sepeda, khususnya dari Gowes Tetap Semangat (GTS). Jempol buat dukungan GTS.
Suasana mendung dengan udara segar menemani aq dan suami di Tikum KBS ini. Satu persatu peserta mulai berdatangan. Om Tjahja, Om Haho, Om Hanafia, Om Edy Zul, Om Dimaz, nTe Santy, Om Huda, Om Yoga, dan banyak lagi laennya. Simbok Poncokusumo juga datang menyemangati kami. Kali ini Simbok tidak ikut eksekusi Dalegan, karena harus mengikuti latihan gowes diwilayah pebukitan. Akhirnya sampai batas waktu yang ditentukan. Pukul 06.00 WIB. Ternyata masih banyak peserta yang belum datang. Dengan kesepakatan kelonggaran waktu 15 menit, akhirnya dimulai brefing peserta dan perjalanan dimulai. Terpaksa kami meninggalkan 6 peserta yang tidak berhasil kami hubungi via hp. Keputusan ini diambil juga karena kesepakatan mengingat sasaran touring kali ini lumayan jauh dan akan ditempuh PP dalam waktu sehari. Ohya, disaat breffing, juga disampaikan bahwa perjalanan pulangnya nanti tidak di pancal full. Sebagian akan di loding untuk menghemat waktu dengan harapan sampai kembali ke rumah sebelum larut malam.
Setelah berdoa dan penjelasan jalur yang akan kami tempuh, perjalanan dimulai. Om Huda Muhammad seperti biasa bertindak sebagai Marshall. Om Sapto swepper sekaligus pembawa obat-obatan. Jalan Diponegoro lanjut jalan Banyuurip. Di perjalanan bertemu Om Riza dan Om Erry. Masuk jalan Margomulyo. Di jalan ini seharusnya kami bergabung dengan Bike to Campus UNESA. Ada Srikandinya juga. Namanya nTe Lusi. Ternyata sampai akhir jalan Margomulyo kami tidak betemu rombongan ini. Perjalanan terus berlanjut. Jalan tambak Oso Wilangun dan masuk jalan Veteran Gresik. Mulai tanjakan. Sebagian mulai ngos-ngosan. Alhasil om Edi Zul yang biasanya 'giras', karena hari itu belum sembuh total, harus takluk pada alam. Si Om ini gowes paling belakang. Akhirnya jalan RA Kartini dan belok kanan menuju arah pasar Gresik. Di wilayah inilah kami berhenti untuk sarapan (nasi krawu khas Gresik). Disini pula kami bertemu dengan peserta yang tertinggal. Om Jonis, Om Bonnie, Om Ardimini dan juga Pasukan B2C UNESA. nTe Lusi, Om Toni,Om Ganis. Sementara satu lagi Om Lintang langsung lanjut bersama 4 orang temannya. Di sini juga, peserta terjauh kedua (dari wilayah candi) Om Ratna Tri Martono bertanya: ‘dari sini masih jauh ya nTe ?’
‘Wadah, masih juauh buanget Om’
(hahahahaha sekali-sekali ngerjain Om Tri. Kapan lagi…. Hahahaha)
Selesai sarapan, perjalanan dimulai lagi. Ini dia tantangan sesungguhnya. Jalanan panjang di hiasi debu dan angin kencang serta kendaraan besar pengangkut material. Wadah teriknya mentari tikam jiwaku…..hahahaha kayak lirik lagu aja.
Diperjalanan ini Om Edi Zul mulai terlihat pucat. Om 'Ademin' GTS ini mulai dibujuk Om Bonnie untuk bersedia naik mobil evakuasi. Alhamdulillah si Om mau juga di evakuasi. Jalanan tidak terlalu nanjak. Cenderung Flat. Hanya saja panas, debu dan angin kencang benar-benar menguras tenaga kami. Setelah sempat beberapa kali istirahat, sampailah kita di belokan UjungPangkah. Wuih disinilah kesenangan dan halusinasiku bereaksi. (….?.....) senangnya karena ini adalah daerah terakhir menuju Pantai Dalegan yang pemandangannya adalah tepian pantai. Halusinasi-nya, aq seakan melihat ada anggota rombongan yang ambil jalur lurus dan tidak belok kanan menuju Ujung Pangkah. Eh.. Halusinasi q disambar dengan kencang oleh Om Jonis Jo. Si Om dengkul XTR ini langsung tancap pedal mengejar peserta dalam halusinasiku. Setelah sekian lama tidak kembali, aq langsung telp om Jo. Jawabannya : ‘njenengan langsung brangkat aja nTe. Biar aq susur lewat jalur ini. Qt ketemu di Dalegan”
Wuih…. Mulai muncul rasa bersalah q. jangan-jangan tidak ada yang lewat jalur lurus itu. Waduh…. Om Jo maap ya….
Perjalanan dilanjutkan kembali
Setelah menikmati jalanan panjang di tengah panas menyengat dan angin pantai yang kencang sampai juga kami sepinggiran pantai. Wah ciamik banget. Air laut masih sangat biru kehijauan. Bukan coklat buthek kayak air laut di pantai Kenjeran. Sempat juga kita narsis di sini. Setelah dirasa cukup, kami kembali melanjutkan perjalanan. Dan weeeeer sampai juga di Pantai Dalegan yang keren banget. Meski tidak bisa bebas melahap indahnya pasir putihnya, karena berbarengan adanya event di sana, tetap saja asyik. Di Finish ini juga mulai berkumpul semua rombongan. Om Lintang yang membawa empat orang temannya, di tambah Om Alfan, Om Lutfi, Om Sandi dan pastinya Om Jonis Jo. Untungnya meski harus menempuh jalur lebih panjang Om Jo dengan senyum manisnya bilang : “ wah di bujuk-i nTe Arum aq. Terpaksa nanjak lewat gunung Penyu”. Waduh rasanya makin bersalah saja aq. Tapi karena Om Jo menyampaikannya dengan senyum, rasanya ‘dosa’ q da dimaafin dech. Makasih ya Om Jonis.

Di Pantai inilah, sisi liar sahabat sepeda muncul. Dengan telanjang dada, para goweser pria langsung nyebur dan narsis-narsis. Walah tak terkatakan hebohnya…. Sebuah rasa yang tak kan tergantikan meski touringnya di ulang. Terima Kasih Sahabat.
Oh ya.. di sini juga ada ‘tuan rumah’ yang buaik pollll. Om Bahrul dari B2C UNESA. Dia tinggal di Lamongan dan datang ke Pantai Dalegan dengan segepok buah tangan. Jeruk, Pisang dan juga air mineral. Wah…. Suip tenan.
Selesai istirahat dan narsis-narsis, akhirnya persiapan untuk loding pulang. Namun sebelumnya menyisir pantai mencari tempat makan siang. Karena kendaraan Loding tidak terlalu besar (truck engkel) maka eksekusi loding pulang dibagi dua bagian. Pertama khususnya untuk peserta yang benar-benar harus di dahulukan. Akhirnya 14 orang terpilih. Loding kedua untuk sisanya. Setelah Loding pertama berangkat, kami melanjutkan makan siang. Wuih menunya mantap Lontong Kare Ayam. Puedes tenan. Langsung melek. Tapi suamiku, om Ridho dapat menu yang lumayan rodo gak enak. Soto ayam, tapi kondisinya da dingin. Gak enak katanya. Maaf ya…sayang. Tapi foto afterwednya ok kog....

Istirahat dirasa cukup. Perjalanan dilanjutkan kembali. Lho kok gak menunggu mobil evakuasi. Nah ini juga pilihan. Kami sepakat gowes pelan-pelan sampai ketemu dengan mobil loding yang akan kembali menjemput rombongan kedua. Wuih sangar benar. Bersepeda dalam kondisi kenyang, capek dan dihajar panas serta angin yang kencang. Di wilayah Ujung Pangkah, ternyata terjadi insiden yang tidak mengenakkan. Ban belakang sepeda om Lutfi meletus. Terpaksa dievakuasi/ditarik sama sepeda motor om Bahrul. Baru diwilayah Bungah, kami bertemu mobil evakuasi yang siap mengangkut kami pulang. Nah disini kembali kebersamaan kami di uji. Ada beberapa sahabat sepeda yang memilih tetap mancal sampai rumah. Semoga perbedaan pilihan ini tidak dinilai sebagai sebuah tindakan tidak setia kawan dan mengurangi arti dari kebersamaan. Karena keputusan adanya loding untuk pulang adalah keputusan bersama.

Akhirnya yang mancal tetap dengan keputusannya dan yang loding juga tetap dengan keputusannya. Di mobil evakuasi kedua ini juga 14 orang. Sementara yang mancal pulang 6 orang. Dua jempol untuk para dengkul XTR ini. Sepanjang perjalanan pulang rasanya asyik banget. Kalau loding pertama di antar sampai Terminal Tambak Oso Wilangun, maka untuk loding kedua mengikuti arah truck pulang kearah wilayah Klampis Surabaya. Alhasil, ada yang turun di jalan Margomulyo, dan di Jalan Banyu Urip. Aq, Om Ridho suami q, Om Erry, Om Huda dan Om Sapto langsung tancap gas pulang. Melewati wilayah Dukuh Kupang Barat sampai tembus Villa Bukit Mas dan sampai di Gunungsari. Belok sedikit sampai sudah di rumah dikawasan Karah. Tepat 18.30 dengan lelah dan rasa gembira yang tak terhingga sampai rumah dan di sambut dengan senyum Kresna putra semata wayang kami.
Wow… total 104 km lebih bersama 33 orang Sahabat Sepeda. Sungguh kebersamaan yang tak terbantahkan.
Terima kasih sahabat.