Kamis, 24 November 2011

Bukan “Cuma” Bersepeda


“Bisa mbongkar BB gak Om”
Walah…. Baru juga sepedahan, sudah ditanya yang sulit begini……”Kalau sekarang jawabannya pasti gak bisa. Tapi beri saya waktu belajar. Lain waktu saat kita ketemu lagi, insya allah saya bisa mbongkar BB”

Istriku cuma cengar-cengir mendengar ceritaku sepulang dari CFD di Sidoarjo hari minggu itu. Dan senyumnya berubah masam ketika mendengar rencanaku mencoba membongkar BB sepeda emak-emaknya. Tapi setelah ku pastikan bahwa apapun yang terjadi aku akan bertanggungjawab, spontan senyumnya berubah jadi manis. “gak papa Yah. Bongkar aja. Kudoakan gak bisa pasang lagi. Tapi boleh reques selli gak ya…..” Doeng ! Tekor dong !!!!

Semenjak aktif bersepeda, permintaan isriku memang semakin aneh-aneh saja. Saya yang notabene berlatarpendidikan akuntansi, diharuskan belajar jadi tukang service sepeda angin. Katanya, “Malu Yah, kalo sepedahannya jarak jauh, tapi sepeda bocor aja gak bisa nambal”. Tapi masalahnya bukan hanya bagaimana menambal ban bocor. Kini tuntutannya beralih pada seluruh perawatan dan perbaikan sepedah kami bertiga. Saya, istri saya dan Kresna, putra semata wayang kami. Tapi ini memang sebuah tantangan baru yang harus bisa saya taklukkan.
Setelah awalnya hanya memiliki pompa tangan ukuran kecil, ternyata istriku justru nekat membelikan toolkit sepeda yang lumayan lengkap. Satu tas kecil, tapi berisi alat buat bongkar ban, tip-top, kunci pas, kunci L, tang, obeng, pemotong rante dan kunci spoke. “Gak mahal ni Dek ?”  dengan serius dia menjawab, “ Diskon 50 persen Yah. Mumpung murah. Belum tentu kebeli kalau gak diskon”
Nah ini masalahnya, sejak punya toolkit, saya yang kelabakan belajar sana-sini. Maklum, istri dan anak saya langsung mendaulat saya sebagai penanggungjawab beres tidaknya sepeda kami. Alasannya, berbagi tugas !. Istri menyiapkan seragam dan bekalnya. Sementara si Kresna menyiapkan tenaga. Biasanya sambil cekikikan dengan Bundanya, Kresna bilang, “Tenang Yah. Kalau pulang sepedahan tak bantu nyuci sepedahnya. Aku yang nyemprot air, ayah yang nyabun”. Kalau sudah begini dengan terpaksa ya harus diterima. Tapi tetap dengan senyum.
Profesi baru saya menjadi “Tukang Service Tiban”, sedikit banyak menjadikan saya harus rajin “belajar”. Karena ilmu baru, kadangkala ketika bersepeda bersama GTS (Gowes Tetap Semangat) atau DISTRO (Distrik Ronggeng) saya bilang saya bawa toolkit tapi gak bisa menggunakannya. (Benar saya berusaha belajar, .kadang via video di internet. Tapi kalau harus memperbaiki sepeda orang lain, walah…. Saya sama sekali tidak berani)
Beruntungnya saya, di komunitas DISTRO ada beberapa pakarnya bongkar pasang sepeda. Ada Cak Arifin dan Cak Ardimini. Termasuk juga adanya kegiatan workshop bongkar-pasang sepeda yang pernah dilakukan bersama adik-adik B2S  Candi Sidoarjo. Saya jadi bisa belajar gratis bersama ahlinya.
Ternyata tidak itu saja, Om Huda Muhamad dari GTS juga sangat berperan dalam proses belajar saya. Ketika saya curhat susahnya bongkar BB, Om Huda langsung menunjukan alat khususnya untuk membuka crank. Dengan senyum om Huda berkata, “ Tanpa membuka crank, gak mungkin bisa buka BB Om”. Alhamdulillah banyak teman banyak manfaat. Nah setelah dapat alat buka crank dan BB, ternyata ada lagi alat yang harus disiapkan, kunci pas dan kunci inggris.
Dengan senyum nakalnya kembali Kresna menggodaku, “Garasinya masih longgar lo Yah…. Buka Bengkel sekalian aja”

Ketika event Mojosuro 2011 lalu, manfaat membawa toolkit dalam perjalanan panjang benar-benar terasa. Banyak teman PESERTA Mojosuro yang harus menyetel ulang sepedahnya karena terkena hujan atau juga penyebab lain. Atau juga melakukan tambal ban karena bocor. Sekarang, kalau kami bersepeda dengan jarak yang lumayan jauh, kami berbagi tugas. Saya bawa semua perlengkapan/toolkit dalam rangsel saya, istri bawa bekal dan sejenisnya dalam bagasinya, Kresna tetep, bawa tenaga dan semangat.

Apapun masalahnya kalau kita mau belajar dan benar-benar belajar, insya allah akan ‘dimudahkan”

Minggu, 20 November 2011

Bersama Sang Presiden

“Hormat Grak”
Tiba-tiba saja serentak enam orang pesepeda dari Distri Ronggeng (B2W Sidoarjo) mengangkat tangan memberi hormat kepada mereka yang berada diatas panggung pelepasan peserta Mojosuro 2011. Dengan sertamerta Om Toto Sugito, sang Presiden B2W-Indonesia, dengan senyum khasnya, menyambut pemberian hormat tersebut.

Hari itu, Sabtu, 19 Nopember 2011.
Pagi hari Om Susantomo menelponku untuk siaran live mensosialisasikan kegiatan Gowes PP Mojosuro di Sindo Radio (dulu Trijaya FM), dengan harapan para pengguna jalan tidak kaget melihat adanya pesepeda yang gowes menuju Mojokerto. Ya,hari itu memang ada jadwal gerak jalan Mojokerto-Surabaya. Dan kami dari B2W ikut serta meramaikan dengan gowes. Bukan hanya gowes dari Mojokerto ke Surabaya, tapi juga Surabaya ke Mojokerto. B2W Sidoarjo sepakat gowes PP Mojosuro. Narsis di radio selesai, selanjutnya  mengecek ulang barang bawaan, berangkatlah kami, Om Ridho, Om Zul dan aku ke titik kumpul Gowes PP Mojosuro (depan Komp Brimob K-9 Medaeng Waru Sidoarjo). Diperjalanan bergabung juga Om Tjahyo. Sampai di lokasi tikum masih sangat pagi. Belum ada sahabat sepeda yang datang. Berikutnya satu persatu peserta mulai berdatangan. Yang mengembirakan, Presiden dan Menteri Dalam Negeri B2W-Indonesia mampir dulu (sebelum menyimpan barang bawaan dan dilanjutkan gowes bareng ke lokasi start Mojosuro)

Beriring-iringan kami meninggalkan Sidoarjo menuju Mojokerto, karena beberapa alasan, terpaksa rombongan kami bagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah semua goweser yang berkumpul di tikum Medaeng. Dan yang kedua adalah kelompok Distroyer (Distro) yang memberikan pengawalan khusus kepada Presiden dan Menteri Dalam Negeri B2W Indonesia. Alhasil semua peserta gowes PP Mojosuro baru berkumpul lengkap di wilayah Krian Sidoarjo. Kasihan Om Toto, karena ulah sopir mikrolet yang ugal-ugalan, hampir saja presiden kita ini keserempet. Untungnya Aman-aman saja.Setelah menghilangkan kaget dengan minum es tebu hijau, perjalanan kami lanjutkan namun kali ini di iringi hujan yang lumayan lebat. Untungnya jas hujan sudah dipersiapkan. Lanjut sampai di Mojokerto. Sayangnya, kami sempat muter-muter menuju kantor Indosat (tikum sebelum ke lokasi pemberangkatan/start Mojosuro). Istirahat dan registrasi. Eh makan siang juga. Makasih Om Jay buat hidangan makan siangnya Cuma satu yang kurang, minumnya telat. Keselek aq. (Wkwkwkwkwk piss Om )

Registrasi selesai. Meluncurlah semua peserta gowes bareng Mojosuro ke titik pemberangkatan. Tumplek Blek. Mulai sepeda onthel, Fixie, BMX dan MTB. Pengaturan pemberangkatan dan werrrrr Surabaya We’re Coming…..
Peserta dilepas oleh Panitia dari atas panggung kehormatan, termasuk ada Om Toto Sugito (Presiden B2W) dan Om nDlahom (Mendagri B2W). dari atas panggung itulah Om Toto menerima penghormatan dari teman-teman B2W Sidoarjo yang mengawal perjalanan Om Toto dan om nDlahom dari Sidoarjo menuju Mojokerto.

Perjalanan panjang tahap 2 dimulai
Tidak lagi diguyur hujan. Cuaca bersahabat dan mulai ada penyuntik semangat. Masyarakat di sepanjang jalan/rute Mojosuro yang menonton perjalanan kami, (emangnya badut di tonton….?) menambah semangat kami untuk keep gowes.
Sayangnya, sponsor yang memberikan minuman ringan selama perjalanan menjadikan banyak diantara kami peserta mojosuro “terpaksa” meninggalkan sampah gelas minuman di sepanjang perjalanan. (semoga tahun depan tidak terjadi lagi)

Lepas by pass Krian, menjelang Magrib. Kamipun beristirahat di Masjid Darussalam. Di sini kami mendapatkan waktu sholat Magrib dan menyantap snack. Istirahat sebentar dan kembali melanjutkan perjalanan.
Waduh ….Setelah mendapatkan istirahat, ternyata menjadikan tenaga kami seperti kembali dari awal. Dan Werrrrrrrrrrrrdalam kondisi jalanan sepi, speedometer menunjukan angka 27 km/jam. Dan sampai di Finish/Tugu pahlawan Surabaya, sekitar jam 8 malam.
Setelah sempat joget sebentar (hehehehe) meluncurkan rombongan B2W ke lokasi yang lebih “Sepi”. Panitia menyiapkan lokasi depan kantor DPRD jalan Indrapura. Nah ini acara yang ditunggu-tunggu. Makan malam plus minum es susu kedelai. Dan satu plus lagi, Bagi-bagi Door Price.

Makan malam itu, di iringi banyak aktifitas menarik dari para goweser. Ada yang mencari suaminya karena terpisah dalam perjalanan, ada yang berebut beli es krim, ada yang berebut pijetan Om Hasan, dan ada juga yang berebut minyak Gondopuro. Hahahahahaha lengkap sudah kebahagian dan kecapekan. Selesai sudah Mojosuro 2011, para Distroyer dan anggota B2W Sidoarjo pulang dengan wajah puas. Gowes PP Mojosuro bersama Presiden dan Mendagri B2W Indonesia sukses. Sesukses banyaknya doorprice yang kami bawa pulang.(wkwkwkwkwkwk)
Malam itu kami istirahat dengan senyum kemenangan. Menang setelah menaklukan diri sendiri di event Mojosuro.

Terima kasih buat semua peserta Gowes PP Mojosuro, terima kasih buat panitia. Terima kasih juga buat Om Toto dan Om nDlahom. Suntikan semangat buat kami saat bersepeda bersama kalian berdua sangat berkesan. Total jarak tempuh 110,52 km. total dari rumah, 130 km. (lihat foto-fotonya di album Gowes PP Mojosuro)
Sampai jumpa di event deklarasi B2W Sidoarjo. Semoga bisa gowes di Tanggul Lapindo.