“Bisa mbongkar BB gak Om”
Walah…. Baru juga sepedahan, sudah ditanya yang sulit begini……”Kalau sekarang jawabannya pasti gak bisa. Tapi beri saya waktu belajar. Lain waktu saat kita ketemu lagi, insya allah saya bisa mbongkar BB”
Istriku cuma cengar-cengir mendengar ceritaku sepulang dari CFD di Sidoarjo hari minggu itu. Dan senyumnya berubah masam ketika mendengar rencanaku mencoba membongkar BB sepeda emak-emaknya. Tapi setelah ku pastikan bahwa apapun yang terjadi aku akan bertanggungjawab, spontan senyumnya berubah jadi manis. “gak papa Yah. Bongkar aja. Kudoakan gak bisa pasang lagi. Tapi boleh reques selli gak ya…..” Doeng ! Tekor dong !!!!
Semenjak aktif bersepeda, permintaan isriku memang semakin aneh-aneh saja. Saya yang notabene berlatarpendidikan akuntansi, diharuskan belajar jadi tukang service sepeda angin. Katanya, “Malu Yah, kalo sepedahannya jarak jauh, tapi sepeda bocor aja gak bisa nambal”. Tapi masalahnya bukan hanya bagaimana menambal ban bocor. Kini tuntutannya beralih pada seluruh perawatan dan perbaikan sepedah kami bertiga. Saya, istri saya dan Kresna, putra semata wayang kami. Tapi ini memang sebuah tantangan baru yang harus bisa saya taklukkan.
Setelah awalnya hanya memiliki pompa tangan ukuran kecil, ternyata istriku justru nekat membelikan toolkit sepeda yang lumayan lengkap. Satu tas kecil, tapi berisi alat buat bongkar ban, tip-top, kunci pas, kunci L, tang, obeng, pemotong rante dan kunci spoke. “Gak mahal ni Dek ?” dengan serius dia menjawab, “ Diskon 50 persen Yah. Mumpung murah. Belum tentu kebeli kalau gak diskon”
Nah ini masalahnya, sejak punya toolkit, saya yang kelabakan belajar sana-sini. Maklum, istri dan anak saya langsung mendaulat saya sebagai penanggungjawab beres tidaknya sepeda kami. Alasannya, berbagi tugas !. Istri menyiapkan seragam dan bekalnya. Sementara si Kresna menyiapkan tenaga. Biasanya sambil cekikikan dengan Bundanya, Kresna bilang, “Tenang Yah. Kalau pulang sepedahan tak bantu nyuci sepedahnya. Aku yang nyemprot air, ayah yang nyabun”. Kalau sudah begini dengan terpaksa ya harus diterima. Tapi tetap dengan senyum.
Profesi baru saya menjadi “Tukang Service Tiban”, sedikit banyak menjadikan saya harus rajin “belajar”. Karena ilmu baru, kadangkala ketika bersepeda bersama GTS (Gowes Tetap Semangat) atau DISTRO (Distrik Ronggeng) saya bilang saya bawa toolkit tapi gak bisa menggunakannya. (Benar saya berusaha belajar, .kadang via video di internet. Tapi kalau harus memperbaiki sepeda orang lain, walah…. Saya sama sekali tidak berani)
Beruntungnya saya, di komunitas DISTRO ada beberapa pakarnya bongkar pasang sepeda. Ada Cak Arifin dan Cak Ardimini. Termasuk juga adanya kegiatan workshop bongkar-pasang sepeda yang pernah dilakukan bersama adik-adik B2S Candi Sidoarjo. Saya jadi bisa belajar gratis bersama ahlinya.
Ternyata tidak itu saja, Om Huda Muhamad dari GTS juga sangat berperan dalam proses belajar saya. Ketika saya curhat susahnya bongkar BB, Om Huda langsung menunjukan alat khususnya untuk membuka crank. Dengan senyum om Huda berkata, “ Tanpa membuka crank, gak mungkin bisa buka BB Om”. Alhamdulillah banyak teman banyak manfaat. Nah setelah dapat alat buka crank dan BB, ternyata ada lagi alat yang harus disiapkan, kunci pas dan kunci inggris.
Dengan senyum nakalnya kembali Kresna menggodaku, “Garasinya masih longgar lo Yah…. Buka Bengkel sekalian aja”
Ketika event Mojosuro 2011 lalu, manfaat membawa toolkit dalam perjalanan panjang benar-benar terasa. Banyak teman PESERTA Mojosuro yang harus menyetel ulang sepedahnya karena terkena hujan atau juga penyebab lain. Atau juga melakukan tambal ban karena bocor. Sekarang, kalau kami bersepeda dengan jarak yang lumayan jauh, kami berbagi tugas. Saya bawa semua perlengkapan/toolkit dalam rangsel saya, istri bawa bekal dan sejenisnya dalam bagasinya, Kresna tetep, bawa tenaga dan semangat.