Senin, 06 Juni 2011

Mencintai Alam... Siapa Takut ?



Hari Bumi Se-Dunia, 5 Juni 2011. Aku merasa ngak lengkap rasanya kalau aku tidak berbuat sesuatu. Pilihan utama adalah berbuat sesuatu dengan sepedaku. Acara Bersepeda Susur Sungai yang digelar komunitas pesepeda (Distro-Sidoarjo, B2Campus Unesa,dan B2W) sepertinya pilihan yang tepat. Selain ini event yang baru pertama ada, di event ini aku juga tetap bisa melibatkan keluargaku, suami khususnya, karena Kresna,jagoan kami menjelang UAS.

Hari H.
Berangkat dari rumah jam 5 pagi. Bertemu dengan para pesepeda lain di lapangan menjelang jembatan baru Karangpilang.Alhamdulillah meski baru ketemu, sambutan panitia dan peserta acara Bersepeda Susur Sungai, akrab banget. Serasa ketemu keluarga besar. (Ehem….). Suguhan pertama, Teh Rio (cie pesan Sponsor ne..) seger…..Suguhan kedua, jadwal kegiatan atau jadwal pelajaran. Karena oleh panitia, materi susur sungai disebut sekolah. Ya….acaranya aja Bersepeda Susur Sungai Edukasi.Ada 4 sekolah yang akan kami datangi dan kami HARUS belajar disana. Rugi dong sepedahan yang diestimasi panitia PP 44 kilometer, kita cuma dapet capek.

Tepat 06.30 WIB. Berangkat.
Awal perjalanan sih, biasa. Nyebrang jembatan Karangpilang Baru dan masuk desa Megare Ngelom Sidoarjo. Jalan aspal trus jalan paving..eh terus jalan makadam/tanah. Waduh…mulai asyiknya. Lewat barongan ! Tau barongan ? jalan setapak di antara tanaman bambu dan kawan-kawannya. Serem….. tapi dua (ato lebih…?) jempol buat panitia. Jalurnya buagus banget. Kita juga lewat jalan yang hanya cukup buat satu orang/sepeda. Gak bisa berbarengan. Dan kalo sepeda kita terpeleset, waduh….bisa dibayangkan bagaimana rasanya…. Tapi ada satu pemandangan yang merusak mata. Disepanjang sungai yang kami lewati, masih banyak wc terapung ? Please…. Jangan jadikan Kali/Sungai kita sebagai WC Umum dong…Menuju lokasi sekolah, kita juga naik tambangan. Itu lo..alat transportasi yang menyebrangkan kita  di sungai Brantas. Sensasinya asyik tenan, hiyut-hiyut… hahahahaha
Sekitar pukul 08.30, setelah 18 kilometer perjalanan, sampailah kita di sekolah pertama. Unit Pengolahan Limbah Pabrik Kertas Adhiprima Suraprinta. Dibenak aku, penggolahan limbah, pasti bau banget ! (hahaha&hellipwink ternyata beda banget. Limbah pabrik kertas ini terbagi dua kategori. Limbah cair dan limbah padat/kertas. Untuk pengolahan limbah padat, PT Adhiprima Suraprinta melibatkan rekanan yang menjadikan limbah padat itu menjadi pupuk dan semen. Sementara limbah cair, dikelola sendiri oleh Pabrik yang telah melakukan pengolahan limbahnya sendiri sejak tahun 1997 itu. Limbah cair yang sudah terpisah dengan limbah padat diberi bakteri. Gunanya untuk meminimalisir kadar limbahnya, karena limbah cair ini adalah makanan Bakteri. Limbah cair ini juga diberi oksigen. Hasil limbah yang sudah diolah ini memang masih berwarna coklat, tapi dari hasil penelitihan, sudah dalam kondisi aman untuk lingkungan.Nah menariknya lagi, kita juga diajak melihat dimana lokasi pembuangan limbah perusahaan yang mendapatkan predikat Biru untuk limbah hasil olahannya itu. Limbah yang biasanya dibuang dihilir, sejak tahun 1997 harus dibuang di hulu.dan akibatnya, perusahaan yang membuang limbah olahannya itu, harus mengkonsumsi  air yang bercampur dengan limbahnya sendiri. Lho kok gitu… ? tentu saja karena limbah di buang mengalir 15-20 meter dan di ambil lagi oleh perusahaan tersebut untuk dipakai produksi lagi.Dan ternyata, dengan mengolah limbahnya sendiri unit pengolahan limbah Pabrik Kertas Adhiprima Suraprinta ini berhasil menghemat pemakaian air untuk proses produksi. Kalau dulu pabrik ini mengunakan sekitar 30 ton meter kubik, kini hanya pada kisaran belasan ton meter kubik saja. Oh ya, unit pengolahan limbah ini sudah dibuka untuk umum sejak 1 januari 2009 dan insya allah pada bulan September 2011 nanti, akan masuk pada agenda tujuan wisata industri kabupaten Gresik. Hampir lupa, di Sekolah pertama ini, kita dapet sarapan sehat. Kolak kacang ijo, semangka dan air mineral. Tapi sayang, aku gak suka kacang ijo. Tapi semangkanya manis banget…..makasih ya…..

Lanjut.
Menuju Desa Lebaniwaras kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik. Kurang lebih 3 kilometer perjalanan. Pukul 09.10 WIB kita tiba di Sekolah kedua. Di Sekolah ini, kita mendapatkan juga suntikan tenaga. Kok …? Guru kita di sekolah kedua ini bernama pak Kasimin. Beliau adalah sosok yang sangat peduli dengan lingkungan. Tanah di sekitar bantaran sungai Brantas sejak tahun 1997, ditanaminya dengan tanaman obat (toga). Dari  hasil ‘kelayapan’ mencari beragam jenis toga di wilayah Trenggalek,Tulungagung,Malang, Situbonda dan wilayah lain, kini sudah ada 450 jenis toga yang dikoleksinya. Tingkah ‘gila’ si kakek ini, menjadikan dia mendapatkan pengahargaan tingkat nasional dari pemerintah.Di Padepokan pengobatan milik pak Kasimin ini kita disuguhi minuman sehat. Teh Rosella dan Sinom. Dan yang special, ada ‘anggur’ made in Pak Kasimin. Aku yang sedang batuk serasa menemukan obat dengan minum, minuman ini. Warnanya hitam. Sangar kayak temu ireng yang puahiiiit. Eh ternyata ‘anggur’ ini seger. Manis dan isis (mint). Di leher terasa hangat banget.batukku jadi mendingan. (sttttttt, aq juga.bawa sebotol kecil. Mumpung gratis….hahahahaha&hellipwink. Diakhir pertemuan, pak Kasimin menyarankan kita untuk membuat apotik hidup di rumah masing-masing. Tentu saja dengan jenis tanaman obat yang paling kita butuhkan.semacam: kunyit, jahe, laos, daun salam, sere dan sebagainya.  “Siap Komandan. Laksanakan “

Lanjut,
Ngowes lagi kurang lebih satu kilometer. Tepat pukul 10.00 WIB, sekolah ketiga, We’re coming…..Sekolah ketiga ini serba nyentrik. Tempatnya, perlengkapannya, juga gurunya. Kenapa aku bilang nyentrik…? Sekolahnya persis di bantaran sungai Brantas. Bentuk bangunannya alami banget.dindingnya terbuka. So, sueger banget. Perlengkapannya nyentrik karena masih pake alat tumbuk tradisional. Pake alu ! padahal sekarang kan ada blender buat menghaluskan daun yang akan dipake pewarna.Gurunya juga nyentrik. Kok masih ada anak muda mau bersusah-susah membuat batik dengan pewaran alami dari daun-daunan sementara di luar sana buanyak banget pewarna sintetis yang pasti juga mempercepat proses pembuatan batiknya.
Ya…sekolah kita ketiga ini adalah Sanggar Rumpoko Mulyo. Gurunya bernama Arifin.Mas Arifin ini sudah 3 tahun menekuni pembuatan batik dengan mengunakan pewarna alami.Mas Arifin ini memang pelaku batik. Muridnya sudah puluhan bahkan ratusan orang.Sementara bantaran sungai yang di gunakan sebagai sanggar itu, hanyalah workshop saja. Sebagian besar pengerjaannya di rumah masing-masing. Mas Arifin berpandanngan, meski bantaran sungai, tetap harus dijaga agar tidak kumuh. Sanggar Rumpoko mulyo ini berpandangan bahwa melalui budaya dan pendidikan akan menuju pada perubahan. Karenanya Mas Arifin selalu siap memberikan pembelajaran tentang pembuatan batik dengan pewarna alami. Kalau disekitar rumah kita daun-daunan bakal kita buang begitu saja, di sanggar Rumpoko Mulyo ini, hampir 40an jenis daun, bisa dimanfaatkan sari klorifilnya sebagai bahan pewarna batik kreasinya. Hasilnya… jelas lebih ramah lingkungan. Menariknya lagi, kalau di tempat lain batik tulis dengan pewarna alami pengerjaannya bisa memakan waktu 3-6 bulan, mas Arifin bisa melakukannya hanya dalam waktu 1 hari saja. Huebaaaat tenan to…..Di sanggar ini kita peserta Bersepeda Susur Sungai Edukasi membubuhkan pesan dan tanda tangan yang nantinya akan dibatik dengan pewarna alami. Cihuy….

Lanjut.
Ke sekolah keempat. Jaraknya hanya 0.5 kilometer. Tepat pukul 11.00 WIB nyampe kita di markasnya Ecoton dan bertemu dengan mas Prigi Arisandi, sosok yang mendapatkan penghargaan dari Amerika Serikat karena kepeduliannya atas kondisi air sungai. Sebelum mendengar cerita mas Prigi dan kawan-kawan, kita makan siang dulu. Waduh…enak tenan. Laper dan capek hilang setelah maem dengan menu nasi putih, ayam bumbu rujak, kothokan tempe tahu, dan sayur urap-urap. Kayak tumpengan ya…..Selesai makan, waktunya belajar. Ecoton itu sejak awal berdirinya (1996) selalu berusaha konsisten dengan usahanya  menjadikan sungai Brantas sebagai sungai yang bersih. Hanya dengan 9 orang anggota inti, Ecoton kini kekeuh di bidang penelitihan, pendidikan, dan advokasi. Karenanya sejak tahun 2007, Ecoton mengugat pemerintah agar menetapkan kelas/klasifikasi sungai atau kali. Kayak jalan aja ya.. ada kelas-kelasnya. Dan hasilnya Kali Surabaya adalah kali yang pertama memiliki kelas/daya tampung. Menariknya lagi, para punggawa Ecoton yang hanya berbekal ‘semangat’ ini akhirnya mendapatkan  pengakuan dari pemerintah, swasta dan juga dunia. Dulu, Ecoton hanya mendapatkan dana 18 juta dari Yayasan Keanekaragaman Hayati. Tapi kini, banyak badan-badan dunia yang mensupport dana operasional mereka. Kini, Ecoton telah memiliki Padepokan Wonosalam Lestari di kabupaten Jombang. Disana ada beragam pembelajaran tentang Alam.Ecoton kini juga sudah punya laboratorium yang bisa meneliti kondisi air sungai, seberapa parah tingkat pencemarannya. Dan sebagai bentuk kepedulian akan kelangsungan hidup aneka serangga sungai, Ecoton juga memperkenalkan kembali beberapa serangga yang mampu mendeteksi kondisi air sungai.tercemar atau tidak. Dan yang terakhir, benar, jangan menilai sesuatu hanya dari penampilannya saja. Para punggawa Ecoton sebagian besar sangar-sangar. Gondrong dan sebagainya, tapi ternyata mereka sangat perduli pada lingkungan,Sungai khususnya. Seperti motto mereka, Kali Surabaya Bukan WC Umum.
Di markas Ecoton ini, kegembiraan peserta bersepeda susur sungai serasa lengkap. Bagi-bagi door price. Mulai assesoris sepeda, helm dan juga sepeda lipat. Aku juga dapet lho 1 doorprice assesoris dan juga sovenier dari mas Prigi Arisandi. Duh..Senengnya.
Terakhir, pulang… tetep berkonvoi dan kembali lewat barongan dan merasakan asyiknya rute bersepeda. Pukul 14.29 WIB. Kami sudah nyampe lagi di lapangan dekat jembatan baru Karangpilang.
Terima kasih Om-Om Panitia.Terima kasih Om-om dan nTe peserta. Terima kasih juga suamiku tercinta, yang sudah mau mendampingi aku ikut memperingat Hari Bumi se-Dunia dengan bersepeda Susur Sungai Edukasi. Terima kasih juga si Biru, meski kamu satu-satunya sepeda emak-emak di acara bersepeda susur sungai, kamu huebat banget. Terakhir, kalo bikin acara ‘gila’ lagi jangan lupa ajak kita ya…….  Salam BERJUTA SEPEDA…….

Jumat, 03 Juni 2011

Touring Sayang. Ehem !



Hujan yang lumayan deres pagi itu, Kamis 2 Juni 2011, pukul 03.30 WIB, seakan menerbangkan rencana aku dan suami untuk ngowes jarak jauh/touring. Padahal rencana ini sudah kami susun sejak jauh-jauh hari. Tapi dengan lagak kayak dukun, Ridho suami aku bilang, “Sudah, bangun aja dulu. Siapin makanan buat Kresna. Nanti kalau sudah selesai semua, hujannya pasti reda”
Ya, sesuai rencana, touring kali ini jagoan kami si Kresna emang gak diajak. Selain jauh, dia juga mau UAS. Daripada resiko, mending milih yang aman-aman aja. Setelah menghangatkan lauk dan masak nasi, aku langsung mandi.  Setelah nyiapin perlengkapan ngowes (lampu, pompa ban, kunci2, bekal dll), ternyata benar omongan Ridho. Hujannya reda !!!!

Jam menunjukan pukul 04.20 WIB ketika kami mulai meninggalkan garasi rumah. Sambil melambai, Kresna yang udah bangun berteriak, “jangan lupa oleh-olehnya ya….” Touring kami mulai dari rute,  jalan Karah kearah Sepanjang. Tanjakan pertama adalah jembatan tol setelah percetakan Jawa Pos. Sepeda terus kami kayuh kearah barat, Krian Sidoarjo. Tapi sebelum nyampe Krian, tanjakan kedua di jembatan layang Trosobo.Berhasil. Jalur lurus sampe perempatan Krian belok kiri mengarah kota Mojosari Mojokerto. Di kilometer 23, kita ambil foto. Pemandangan bagus banget. Gunung Penanggungan dan Gunung Welirang.Cakep banget. Dua sosok raksasa itu masih dibalut kabut tipis. Terus lurus, ketemu dech Jembatan megah diatas Sungai Porong. Berhenti lagi. Foto lagi….hehehehe…. boleh dong sekali-sekali Narsis.com.
Lanjut, terus mengikuti arah ke wisata Pacet. Masya Allah, ternyata setelah melewati kota Mojosari, jalanan mulai nanjak. Si Biru, yang notabene sepeda emak-emak mulai terlihat ngos-ngosan. Di kilometer 45, kita berhenti lagi, foto lagi. Parahnya, karena dekat dengan makam cina, tingkah kami berdua jadi tontonan aneh bagi pengguna jalan laen. Mereka buka kaca mobil dan klik-klik. Mereka ikut ambil foto. Cuma modelnya aku dan suami dan sepeda kami….hahahahaha……mungkin buat sebagian orang kostum kami agak aneh. Celana sepedahan pendek, pake helm, pake deker, pake sarung tangan, pake masker juga, mungkin kami kayak teroris bondo nekat. Soalnya yang cewek, pake sepeda emak-emak.hahahaha…………..
Lanjut. Jalanan terus menanjak….sampe di wilayah Katidur, si biru dan emaknya bener-bener gak kuat. Dengan sedikit malu dengan seragam ngowes, aku turun dan jalan kaki 50 meteran. Si Ridho cuma senyum dan bilang “ gak papa Nda. Jangan dipaksa.kalo emang capek, istirahat dulu aja… jarak kita masih jauh lo…” Duh adem dengar kata-kata suami tersayang ini…(hiks..hiks..hiks..)
Lanjut. Lurus terus kearah Wisata Pacet. Tapi kita ternyata kita gak ke Pacet. Sampe di pertigaan Pesaggrahan, Ridho kasih tanda belok kanan kearah Dlanggu. Wah kejutan besar ne…. ternyata kita kearah rumah adek mama aku. Udah hampir lima tahunan aku gak maen ke rumah Om aku ini. Lumayan, jalanan agak menurun. Setelah melewati wilayah Kutorejo, sampelah kita di dusun Keputran. Waduh sueneng banget. 54,8 km sebanding dengan senengnya ketemu sama sodara.tepat pukul 7 pagi. Huah. Capek.
Setelah istirahat dan kangen-kangenan, jam 9.15 kami mulai pamit. Perjalanan di mulai lagi. Meski agak menanjak, Si biru aman. Sampe Pesanggrahan kearah pulang, jalanan nyaman banget. Menurun ciuy…. Ternyata Ridho bikin kejutan lagi, ketika kita sampe di tugu Mojosari, kita belok kanan ke arah Jasem. Ini arah menuju Gempol-Porong Sidoarjo juga. Sampe di pertigaan Jasem kita belok kiri. Nah ini… kita dihadapkan tantangan baru. Jalannya gak nanjak tapi anginnya kenceng banget. Kiri-kanan sawah. Ada yang ditanami lombok/cabe, jagung dan juga tebu. Nah kita sempat berhenti buat minum es tebu hijau…  Sueger Pollll. Pukul 10.20 WIB kita nyampe Krembung Sidoarjo. Rumah ayah angkat aku. Waduh senengnya…Ayah dan ibu angkat aku ketawa kepingkel-pingkel lihat kita datang ngegowes. Trus…panen Jambu dech….Kranjang si Biru sampe penuh. (ada yang mau…?)  Tapi buntutnya yang gak enak..kita dilarang pulang cepet-cepet. Harus makan siang dulu. Dan kebetulan matahari sedang panas-panasnya. “pulangnya nanti sore aja, biar gak tambah item….” Nah lo… kalo ayah udah bilang gitu, kita anaknya bisa bilang apa……Hayo aja dech.
Lanjut, pukul 14.15 WIB. Kita pamit dan di ijinkan. Rute kita, Krembung, Wonoayu, Sukodono. Waduh remek benar. Aku sempat berhenti 10 menit setelah ayam bakar Dunggus. Lagi-lagi Ridho senyum dan bilang “gak papa, istirahat dulu aja” (hemmmmm&hellipwink
Lanjut, mengarah ke pasar Sepanjang, beli oleh-oleh buat Kresna. Semangka dan Melon. Waduh semakin berat aja beban si Biru. Tapi buat Kresna, di tahan juga capeknya. Jalur pulang.Tanjakan terakhir, Jembatan Tol Jawa Pos. Meski cuapek, si Biru sukses melewatinya. (meski pake gigi 2 doang. Hehehehe)
Tepat   pukul 16.16 WIB. Kita nyampe depan garasi rumah lagi. Total 94 kilometer.  lengkap dengan tanjakan, angin kencang, panas dan sayang orang-orang terkasih.

Pamit upgrade tenaga dulu ya…. ZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ