Hari Bumi Se-Dunia, 5 Juni 2011. Aku merasa ngak lengkap rasanya kalau aku tidak berbuat sesuatu. Pilihan utama adalah berbuat sesuatu dengan sepedaku. Acara Bersepeda Susur Sungai yang digelar komunitas pesepeda (Distro-Sidoarjo, B2Campus Unesa,dan B2W) sepertinya pilihan yang tepat. Selain ini event yang baru pertama ada, di event ini aku juga tetap bisa melibatkan keluargaku, suami khususnya, karena Kresna,jagoan kami menjelang UAS.
Hari H.
Berangkat dari rumah jam 5 pagi. Bertemu dengan para pesepeda lain di lapangan menjelang jembatan baru Karangpilang.Alhamdulillah meski baru ketemu, sambutan panitia dan peserta acara Bersepeda Susur Sungai, akrab banget. Serasa ketemu keluarga besar. (Ehem….). Suguhan pertama, Teh Rio (cie pesan Sponsor ne..) seger…..Suguhan kedua, jadwal kegiatan atau jadwal pelajaran. Karena oleh panitia, materi susur sungai disebut sekolah. Ya….acaranya aja Bersepeda Susur Sungai Edukasi.Ada 4 sekolah yang akan kami datangi dan kami HARUS belajar disana. Rugi dong sepedahan yang diestimasi panitia PP 44 kilometer, kita cuma dapet capek.
Tepat 06.30 WIB. Berangkat.
Awal perjalanan sih, biasa. Nyebrang jembatan Karangpilang Baru dan masuk desa Megare Ngelom Sidoarjo. Jalan aspal trus jalan paving..eh terus jalan makadam/tanah. Waduh…mulai asyiknya. Lewat barongan ! Tau barongan ? jalan setapak di antara tanaman bambu dan kawan-kawannya. Serem….. tapi dua (ato lebih…?) jempol buat panitia. Jalurnya buagus banget. Kita juga lewat jalan yang hanya cukup buat satu orang/sepeda. Gak bisa berbarengan. Dan kalo sepeda kita terpeleset, waduh….bisa dibayangkan bagaimana rasanya…. Tapi ada satu pemandangan yang merusak mata. Disepanjang sungai yang kami lewati, masih banyak wc terapung ? Please…. Jangan jadikan Kali/Sungai kita sebagai WC Umum dong…Menuju lokasi sekolah, kita juga naik tambangan. Itu lo..alat transportasi yang menyebrangkan kita di sungai Brantas. Sensasinya asyik tenan, hiyut-hiyut… hahahahaha
Sekitar pukul 08.30, setelah 18 kilometer perjalanan, sampailah kita di sekolah pertama. Unit Pengolahan Limbah Pabrik Kertas Adhiprima Suraprinta. Dibenak aku, penggolahan limbah, pasti bau banget ! (hahaha&hellip

Lanjut.
Menuju Desa Lebaniwaras kecamatan Wringinanom Kabupaten Gresik. Kurang lebih 3 kilometer perjalanan. Pukul 09.10 WIB kita tiba di Sekolah kedua. Di Sekolah ini, kita mendapatkan juga suntikan tenaga. Kok …? Guru kita di sekolah kedua ini bernama pak Kasimin. Beliau adalah sosok yang sangat peduli dengan lingkungan. Tanah di sekitar bantaran sungai Brantas sejak tahun 1997, ditanaminya dengan tanaman obat (toga). Dari hasil ‘kelayapan’ mencari beragam jenis toga di wilayah Trenggalek,Tulungagung,Malang, Situbonda dan wilayah lain, kini sudah ada 450 jenis toga yang dikoleksinya. Tingkah ‘gila’ si kakek ini, menjadikan dia mendapatkan pengahargaan tingkat nasional dari pemerintah.Di Padepokan pengobatan milik pak Kasimin ini kita disuguhi minuman sehat. Teh Rosella dan Sinom. Dan yang special, ada ‘anggur’ made in Pak Kasimin. Aku yang sedang batuk serasa menemukan obat dengan minum, minuman ini. Warnanya hitam. Sangar kayak temu ireng yang puahiiiit. Eh ternyata ‘anggur’ ini seger. Manis dan isis (mint). Di leher terasa hangat banget.batukku jadi mendingan. (sttttttt, aq juga.bawa sebotol kecil. Mumpung gratis….hahahahaha&hellip

Lanjut,
Ngowes lagi kurang lebih satu kilometer. Tepat pukul 10.00 WIB, sekolah ketiga, We’re coming…..Sekolah ketiga ini serba nyentrik. Tempatnya, perlengkapannya, juga gurunya. Kenapa aku bilang nyentrik…? Sekolahnya persis di bantaran sungai Brantas. Bentuk bangunannya alami banget.dindingnya terbuka. So, sueger banget. Perlengkapannya nyentrik karena masih pake alat tumbuk tradisional. Pake alu ! padahal sekarang kan ada blender buat menghaluskan daun yang akan dipake pewarna.Gurunya juga nyentrik. Kok masih ada anak muda mau bersusah-susah membuat batik dengan pewaran alami dari daun-daunan sementara di luar sana buanyak banget pewarna sintetis yang pasti juga mempercepat proses pembuatan batiknya.
Ya…sekolah kita ketiga ini adalah Sanggar Rumpoko Mulyo. Gurunya bernama Arifin.Mas Arifin ini sudah 3 tahun menekuni pembuatan batik dengan mengunakan pewarna alami.Mas Arifin ini memang pelaku batik. Muridnya sudah puluhan bahkan ratusan orang.Sementara bantaran sungai yang di gunakan sebagai sanggar itu, hanyalah workshop saja. Sebagian besar pengerjaannya di rumah masing-masing. Mas Arifin berpandanngan, meski bantaran sungai, tetap harus dijaga agar tidak kumuh. Sanggar Rumpoko mulyo ini berpandangan bahwa melalui budaya dan pendidikan akan menuju pada perubahan. Karenanya Mas Arifin selalu siap memberikan pembelajaran tentang pembuatan batik dengan pewarna alami. Kalau disekitar rumah kita daun-daunan bakal kita buang begitu saja, di sanggar Rumpoko Mulyo ini, hampir 40an jenis daun, bisa dimanfaatkan sari klorifilnya sebagai bahan pewarna batik kreasinya. Hasilnya… jelas lebih ramah lingkungan. Menariknya lagi, kalau di tempat lain batik tulis dengan pewarna alami pengerjaannya bisa memakan waktu 3-6 bulan, mas Arifin bisa melakukannya hanya dalam waktu 1 hari saja. Huebaaaat tenan to…..Di sanggar ini kita peserta Bersepeda Susur Sungai Edukasi membubuhkan pesan dan tanda tangan yang nantinya akan dibatik dengan pewarna alami. Cihuy….
Lanjut.
Ke sekolah keempat. Jaraknya hanya 0.5 kilometer. Tepat pukul 11.00 WIB nyampe kita di markasnya Ecoton dan bertemu dengan mas Prigi Arisandi, sosok yang mendapatkan penghargaan dari Amerika Serikat karena kepeduliannya atas kondisi air sungai. Sebelum mendengar cerita mas Prigi dan kawan-kawan, kita makan siang dulu. Waduh…enak tenan. Laper dan capek hilang setelah maem dengan menu nasi putih, ayam bumbu rujak, kothokan tempe tahu, dan sayur urap-urap. Kayak tumpengan ya…..Selesai makan, waktunya belajar. Ecoton itu sejak awal berdirinya (1996) selalu berusaha konsisten dengan usahanya menjadikan sungai Brantas sebagai sungai yang bersih. Hanya dengan 9 orang anggota inti, Ecoton kini kekeuh di bidang penelitihan, pendidikan, dan advokasi. Karenanya sejak tahun 2007, Ecoton mengugat pemerintah agar menetapkan kelas/klasifikasi sungai atau kali. Kayak jalan aja ya.. ada kelas-kelasnya. Dan hasilnya Kali Surabaya adalah kali yang pertama memiliki kelas/daya tampung. Menariknya lagi, para punggawa Ecoton yang hanya berbekal ‘semangat’ ini akhirnya mendapatkan pengakuan dari pemerintah, swasta dan juga dunia. Dulu, Ecoton hanya mendapatkan dana 18 juta dari Yayasan Keanekaragaman Hayati. Tapi kini, banyak badan-badan dunia yang mensupport dana operasional mereka. Kini, Ecoton telah memiliki Padepokan Wonosalam Lestari di kabupaten Jombang. Disana ada beragam pembelajaran tentang Alam.Ecoton kini juga sudah punya laboratorium yang bisa meneliti kondisi air sungai, seberapa parah tingkat pencemarannya. Dan sebagai bentuk kepedulian akan kelangsungan hidup aneka serangga sungai, Ecoton juga memperkenalkan kembali beberapa serangga yang mampu mendeteksi kondisi air sungai.tercemar atau tidak. Dan yang terakhir, benar, jangan menilai sesuatu hanya dari penampilannya saja. Para punggawa Ecoton sebagian besar sangar-sangar. Gondrong dan sebagainya, tapi ternyata mereka sangat perduli pada lingkungan,Sungai khususnya. Seperti motto mereka, Kali Surabaya Bukan WC Umum.
Di markas Ecoton ini, kegembiraan peserta bersepeda susur sungai serasa lengkap. Bagi-bagi door price. Mulai assesoris sepeda, helm dan juga sepeda lipat. Aku juga dapet lho 1 doorprice assesoris dan juga sovenier dari mas Prigi Arisandi. Duh..Senengnya.
Terakhir, pulang… tetep berkonvoi dan kembali lewat barongan dan merasakan asyiknya rute bersepeda. Pukul 14.29 WIB. Kami sudah nyampe lagi di lapangan dekat jembatan baru Karangpilang.
Terima kasih Om-Om Panitia.Terima kasih Om-om dan nTe peserta. Terima kasih juga suamiku tercinta, yang sudah mau mendampingi aku ikut memperingat Hari Bumi se-Dunia dengan bersepeda Susur Sungai Edukasi. Terima kasih juga si Biru, meski kamu satu-satunya sepeda emak-emak di acara bersepeda susur sungai, kamu huebat banget. Terakhir, kalo bikin acara ‘gila’ lagi jangan lupa ajak kita ya……. Salam BERJUTA SEPEDA…….