Selama ini, aku dan keluarga belum pernah sekalipun mengikuti fun bike. Biasanya kami bikin fun bike sendiri. Ngowes sekeluarga. (meski cuma bertiga, aku, ayah Ridho dan Kresna, tetep aja sekelurga kan ? )
Nah, pagi kemaren. Minggu 22 Mei 2011, iseng, kami pingin nyoba rasanya ikut fun bike. Seneng sih. Soalnya rame. Bayangkan saja. Pesertanya 12 ribu lebih.
Berangkat jan 05.30 WIB kami sekeluarga berangkat bersama satu pasang/keluarga teman komunitas penggemar radio yang tertular ‘virus’ sepedahan, yang sama-sama belum pernah ikut fun bike. Di titik kumpul (Start-Finish) parkir timur Plasa Surabaya, ternyata sudah rame buanget. Setelah daftar dan lain-lain. Akhirnya di berangkatkan juga, meski waktunya molor. Rencana jan 06.00 WIB, ternyata jam 06.15 WIB. Sudah lumayan panas. Tapi karena ruame ( 12.000 an peserta) jadi ya… rame buanget…..
Nah sepanjang perjalanan yang kurang lebih 25 km itu, ada beberapa hal yang sangat menganggu ‘mata’ aku sebagai seorang ibu dan seorang pesepeda.
- Sepertinya, (semoga saya salah) panitia kurang koordinasi atau bahkan tidak koordinasi dengan polisi lalu lintas. Terbukti kemacetan puanjang terjadi. Keluar dari start, kita tidak ngegowes. Tapi nuntun sepeda. Trus jalan merambat. Disetiap persimpangan, ada 1-2 orang panitia, tapi tidak ada polantas. Sehingga panitia yang ‘bukan petugas lantas’ terlihat sulit mengurai kemacetan dan seperti lebih memilih diam menghadapi buanyaknya peserta dan pengguna jalan lain yang saling berebut saling mendahului dan melupakan kondisi traffic light yang sedang warna merah. Bahkan ada Om yang berkomentar “terus aja wong kita mbayar kok”. Kresna sampai berkata “ Bunda, enak ya.. kalo ikut fun bike bisa menangan. Ngak perlu antri”. Nah lo…..bagaimana ini ?
- Pada saat kemacetan di jalur yang lain, ada beberapa Om (mungkin dari komunitas pesepeda) yang menggunakan atribut bersepeda (helm dan jersey) bukannya sabar mengikuti antrian, tapi malah mengangkat sepeda mereka dan memindahkannya ke jalur yang berlawanan arah. Pertanyaan Kresna saat itu, “ Bunda, memangnya kalau sepeda boleh ya melawan arah ?” Nah lo…. Piye iki….
- Di jalur yang lain, kita melewati pintu perlintasan kereta api double track. Saat pintu perlintasan di tutup karena ada kereta yang melintas.Setelah sebuah kereta melintas, pintu perlintasan belum juga di buka. Ternyata ada satu kereta lagi yang melintas dari arah berlawanan. Mungkin karena kelamaan nunggu, ada juga beberapa Om (kayaknya juga dari komunitas pesepeda) yang nekat membuka pintu perlintasan, mungkin karena melihat kereta masih jauh. Dengan muka heran, jagoan saya juga berkata “ Lho jangan nekat. Ada kereta. Bunda kan gak boleh nerobos palang pintu kereta” untung saja ada Om yang di deket Kresna langsung jawab “ Bener Dek. Gak boleh. Jangan ditiru ya… Bahaya”
- Saya dan Kresna sempat menjumpai seorang ibu yang (mungkin) mengalami kecelakaan, karena di pelipis kanan mengucur darah dan seorang anak perempuannya menangis kesakitan sambil memegangi kakinya. Eh seorang panitia hanya terlihat mondar mandir kontak via HT sementara si korban di diamkan saja. Untung beberapa peserta ada yang sigap dan membawa obat untuk pertolongan dasar. Pertanyaannya, Tim kesehatan bagaimana ini ….. ?
- Selama perjalanan, ada sedikitnya 5 titik kemacetan yang membuat peserta harus menuntun sepedahnya dan berjalan perlahan atau bahkan diam jegreg. Sepertinya (maaf) panitia kurang mempertimbangkan kondisi jalan/rute yang dilalui. Sampai harus dialihkan masuk jalan perumahan yang berimbas warga protes karena jalan perumahan mereka macet total karena pesepeda. Nah Lo…..bagaimana ini ?
- Selesai acara, kita pulang. Eh masih ada catatan juga. Saat melewati TL di perempatan jalan Dr.Soetomo, saya sempat di potong dari arah kanan oleh seorang Om yang beratibut lengkap bersepeda.( pake helm dan sepedanya ada lampu sign). Karena mencoba untuk ‘mengamankan’ Kresna, yang persis di sebelah kiri saya, saya rem sekuat tenaga sampai ban belakang terangkat. Masya allah…. Kok bisa ya… si Om melenggang santai sementara dia hampir saja mencelakaan seorang ibu dan anaknya.
“Aku ngak mau ikut fun bike lagi. Banyak yang ngak sopan”
Sambil mendekat ke aku, kresna juga berkata “ lihat, Bunda sampai jatuh.Ayah harus cek sepeda Bunda.tadi ada suara ‘thek’ keras banget.mungkin ada yang patah”
“laen kali kita sepedahan sendiri aja.ngak usah ikut fun bike”
Aku dan ayahnya hanya saling lirik sambil mesam-mesem."ada tugas 'pencerahan' ne..."