Senin, 23 Mei 2011

Bukan Jaminan (Sebuah Catatan mengikuti Fun Bike)



Selama ini, aku dan keluarga belum pernah sekalipun mengikuti fun bike. Biasanya kami bikin fun bike sendiri. Ngowes sekeluarga. (meski cuma bertiga, aku, ayah Ridho dan Kresna, tetep aja sekelurga kan ? )
Nah, pagi kemaren. Minggu 22 Mei 2011, iseng, kami pingin nyoba rasanya ikut fun bike. Seneng sih. Soalnya rame. Bayangkan saja. Pesertanya 12 ribu lebih.
Berangkat jan 05.30 WIB kami sekeluarga berangkat bersama satu pasang/keluarga teman komunitas penggemar radio yang tertular ‘virus’ sepedahan, yang sama-sama belum pernah ikut fun bike. Di titik kumpul (Start-Finish) parkir timur Plasa Surabaya, ternyata sudah rame buanget. Setelah daftar dan lain-lain. Akhirnya di berangkatkan juga, meski waktunya molor. Rencana jan 06.00 WIB, ternyata jam 06.15 WIB. Sudah lumayan panas. Tapi karena ruame ( 12.000 an peserta) jadi ya… rame buanget…..
Nah sepanjang perjalanan yang kurang lebih 25 km itu, ada beberapa hal yang sangat menganggu ‘mata’ aku sebagai seorang ibu dan seorang pesepeda.
  1. Sepertinya, (semoga saya salah) panitia kurang koordinasi atau bahkan tidak koordinasi dengan polisi lalu lintas. Terbukti kemacetan puanjang terjadi. Keluar dari start, kita tidak ngegowes. Tapi nuntun sepeda. Trus jalan merambat. Disetiap persimpangan, ada 1-2 orang panitia, tapi tidak ada polantas. Sehingga panitia yang ‘bukan petugas lantas’ terlihat sulit mengurai kemacetan dan seperti lebih memilih diam menghadapi buanyaknya peserta dan pengguna jalan lain yang saling berebut saling mendahului dan melupakan kondisi traffic light yang sedang warna merah. Bahkan ada Om yang berkomentar “terus aja wong kita mbayar kok”. Kresna sampai berkata “ Bunda, enak ya.. kalo ikut fun bike bisa menangan. Ngak perlu antri”. Nah lo…..bagaimana ini ?
  2. Pada saat kemacetan di jalur yang lain, ada beberapa Om (mungkin dari komunitas pesepeda) yang menggunakan atribut bersepeda (helm dan jersey) bukannya sabar mengikuti antrian, tapi malah mengangkat sepeda mereka dan memindahkannya ke jalur yang berlawanan arah. Pertanyaan Kresna saat itu, “ Bunda, memangnya kalau sepeda boleh ya melawan arah ?” Nah lo…. Piye iki….
  3. Di jalur yang lain, kita melewati pintu perlintasan kereta api double track. Saat pintu perlintasan di tutup karena ada kereta yang melintas.Setelah sebuah kereta melintas, pintu perlintasan belum juga di buka. Ternyata ada satu kereta lagi yang melintas dari arah berlawanan. Mungkin karena kelamaan nunggu, ada juga beberapa Om (kayaknya juga dari komunitas pesepeda) yang nekat membuka pintu perlintasan, mungkin karena melihat kereta masih jauh. Dengan muka heran, jagoan saya juga berkata “ Lho jangan nekat. Ada kereta. Bunda kan gak boleh nerobos palang pintu kereta” untung saja ada Om yang di deket Kresna langsung jawab “ Bener Dek. Gak boleh. Jangan ditiru ya… Bahaya”
  4. Saya dan Kresna sempat menjumpai seorang ibu yang (mungkin) mengalami kecelakaan, karena di pelipis kanan mengucur darah dan seorang anak perempuannya menangis kesakitan sambil memegangi kakinya. Eh seorang panitia hanya terlihat mondar mandir kontak via HT sementara si korban di diamkan saja. Untung beberapa peserta ada yang sigap dan membawa obat untuk pertolongan dasar. Pertanyaannya, Tim kesehatan bagaimana ini ….. ?
  5. Selama perjalanan, ada sedikitnya 5 titik kemacetan yang membuat peserta harus menuntun sepedahnya dan berjalan perlahan atau bahkan diam jegreg. Sepertinya (maaf) panitia kurang mempertimbangkan kondisi jalan/rute yang dilalui.  Sampai harus dialihkan masuk jalan perumahan yang berimbas warga protes karena jalan perumahan mereka macet total karena pesepeda. Nah Lo…..bagaimana ini ?
  6. Selesai acara, kita pulang. Eh masih ada catatan juga. Saat melewati TL di perempatan jalan Dr.Soetomo, saya sempat di potong dari arah kanan oleh seorang Om yang beratibut lengkap bersepeda.( pake helm dan sepedanya ada lampu sign). Karena mencoba untuk ‘mengamankan’ Kresna, yang persis di sebelah kiri saya, saya rem sekuat tenaga  sampai ban belakang terangkat. Masya allah…. Kok bisa ya…  si Om melenggang santai sementara dia hampir saja mencelakaan seorang ibu dan anaknya.
Alhasil, nyampe rumah juga. Setelah bebersih. Sambil makan siang, kami coba evaluasi hasil ikut fun bike. Aku dan suami tanyakan pendapat Kresna. Jawabannya :
“Aku ngak mau ikut fun bike lagi. Banyak yang ngak sopan”
Sambil mendekat ke aku, kresna juga berkata “ lihat, Bunda sampai jatuh.Ayah harus cek sepeda Bunda.tadi ada suara ‘thek’ keras banget.mungkin ada yang patah”
“laen kali kita sepedahan sendiri aja.ngak usah ikut fun bike”
Aku dan ayahnya hanya saling lirik sambil mesam-mesem."ada tugas 'pencerahan' ne..."

Selasa, 17 Mei 2011

Tantangan Liburan Waisak



Seperti biasa, libur di luar minggu (jadwal CFD) sering aku dan keluarga maksimalkan. Touring misalnya. Touring kecil-kecilan seh…..  Nah, pas libur  Waisak, langsung  jadwal touring disiapkan. Sidoarjo jalur memutar. Secara kasat mata sih lumayan jauh. Jadi, sementara Kresna off dulu. Agak ‘remex’ setelah nyepeda libur hari ‘kecepit’ kemaren.
Setelah menyiapkan sarapan buat Kresna karena dia bakal ditinggal di rumah sendirian, mulailah aku dan suami menyiapkan perlengkapan Touring atau tepatnya Ngowes jarak jauh.
Masih pagi.5.00 WIB. Dari rumah di kawasan Gunungsari Surabaya, kita bergerak ke Selatan. Jalur pertama langsung naik Tol depan percetakan Jawa Pos. Lanjut menuju arah Selatan, arah jalur Sukodono atau jalur barat menjadi pilihan. Karena masih pagi, udara seger buanget.ketemu banyak komunitas sepeda, onthel khususnya. Saling tebar senyum dan kring-kring.
Setelah kurang lebih 13 km, di pom bensin sempat berhenti dulu. Ngetap..hehehehe….. si ayah harus buang air kecil dulu. Nah di pom bensin ini lah…kita jadi tontonan. Sepeda angin masuk pom bensin gak beli bensin tapi numpang pipis….. hahahaha
Beberapa supir tuck ada juga yang nyapa….” Olah raga bu….?”  Dengan senyum yang coba dibuat semanis mungkin,  jawabku  “….Nggih pak…monggo.”
Sampai di Alun-alun Kabupaten Sidoarjo, ternyata buanyak banget orang pada kumpul. Yang bersepeda sih gak seberapa banyak jika di banding pas CFD di Surabaya. Telisik punya telisik ada jalan sehat “Mengapai Mimpi” jalan sehat bareng Bupati Sidoarjo.
Karena sudah di Sidoarjo, kita mampir di rumah Saudara di Perum Magersari. Disinilah ternyata beban nyepedaku jadi berat. Sadel si Biru memang terasa kurang pas. Terus di betulkan.Setelah diukur pas datarnya (tanpa tes di naiki) di kencengi lah tuh sadel. Ngobrol sana-sini sebentar, kami pamitan.Perjalanan diteruskan. Mengarah ke Surabaya, di jalan Pahlawan sedikit menanjak (tol tengah kota depan museum Mpu Tantular).Wah di sini mulai terasa pantat aq gak nyaman banget. Usut punya usut,  pas membetulkan  sadel tadi aku lupa kalo sepedaku adalah sepeda emak-emak yang sadalnya ada pernya di bagian belakang. Jadi kalo pas di diduduki, justru njomplang ke belakang. Payah dech…! Di kuat-kuatin dech dengan kondisi pantat gak nyaman.
Begitu nyampai Surabaya lagi, langsung ambil jalur lewat Ketintang karena ada janji sama teman yang mau betulin wifi di tempat kerja. Karena nunggu agak lama, dengkul da kaku lagi. Begitu ngowes pulang yang hanya berjarak 2 km, masya allah beraaaaat banget. Mana naik jembatan Tol lagi. Nyampe rumah, lengkaplah sudah remex nya badan ini… tapi dengan santai suami aku bilang  “ kalo gak ada rasanya, gak ada kenangannya”    Masalahnya, emang bener begitu ?

Nb. Jangan tiru keteledoran aku ya….. sumpah. Jangan !!!!

Kamis, 05 Mei 2011

Stadium 2



‘Gowes kelap-kelip’ waduh sepedahan model apalagi itu…..buka direktori note..baca sana, baca sini. Oooooo gowes malam hari ! perlu dicoba ne….
Begitu dapet rejeki lebih….mulai hunting lampu depan dan belakang. DAPAT !!
Tapi, ya kapan nyobanya…setiap mentari tenggelam, rembulannya tetep aja gak mau bangun. Tetep berselimut mendung tebal. Trus nanggis dech….. wah kapan nyobanya ni lampu…..
Tadi sore langit terang bertabur cahaya bintang…(hehehehe)
Senyum sambil nyolek lengan suami, mataku mengarah ke langit. Dan terjadilah…….
Ternyata gowes malam hari enak juga… rada extra hati-hati sih karena kendaraan laen pada ngebut kenceng-kenceng. Mungkin da lelah kerja pingin cepet nyampe rumah trus istirahat.
Untuk ngowes kelap-kelip perdana, lumayan lah….gak panas kena matahari tapi lumayan dingin kena angin malam.
Dan ternyata, aq dan suamiku kini positif terkena virus stadium 2.

My Bike My Story


…………………………………..
1980
Gadis kecil itu hanya mampu diam sambil memandang lurus ke depan. Pandangan matanya nanar ke arah sepeda jengki cantik dengan rumbai pita di stang kanan dan kirinya. Pikiran gadis itu melayang membayangkan apa yang mungkin terjadi jika saja ayahnya tidak berkata: “bisa bersekolah saja alhamdulillah nDuk. Bersyukurlah”. Gadis kecil itu tersenyum kecut dan hanya mampu bilang: “ Nggih Pak.

Usianya baru 8 tahunan.tapi ia sudah harus ikut merasakan beratnya beban hidup keluarga mereka. Hanya lauk rebusan daun ketela plus sambel terasi teman makan setiap harinya.Tapi, Dia tetap tertawa.Tetap ceria.

…………………………………..
 
1987
Grubyak….
Bibir abg itu meringis menahan perih luka berdarah di lututnya….pikirannya langsung melayang membayangkan kemarahan yang bakal diterimanya. Sepeda reyot pinjaman itu, terlihat bengkok stirnya. Jalanan depan gang sempit rumahnya memang belum beraspal. Iapun menerawang jauh. Pikirannya melayang “entah sampai kapan bebatuan kecil tajam ini, menghias sepanjang jalan rutenya belajar sepeda” Apakah mungkin ia memang ditakdirkan tak bisa naik sepeda ?.

………………………………..

1988
Dukuh menanggal – pangesangan – bebekan sepanjang
Alhamdulillah sepeda balap milik tetangga yang baik hati,  sudah membuat mata gadis abg itu berpendar cahaya. Sambil terus tersenyum, ia kayuh pedal sepeda balap itu kembali menuju rumahnya. Semoga si empunya sepeda selalu baik hati meminjamkan sepeda untuknya, dihari – hari berikutnya.
Dukuh menanggal – pagesangan – bebekan sepanjang
Dukuh menanggal – pagesangan – bebekan sepanjang
…………..meski rutenya selalu sama….tetap saja, alhamdulillah………….

……………………………………….
 
1992
Dia sudah bukan lagi abg. Dia sudah menjelma menjadi gadis yang cantik. Tapi tetap saja dia gadis yang jauh dari assesoris mewah. Setiap sore, dia rela mengejar bis kota menuju kampusnya. Uang sakunya hanya 500 rupiah. Naik bis 250 rupiah sekali jalan. Meski seorang wanita dia tetap saja rela berlari mengejar mimpinya…
Pikirannya menerawang lagi : “Oh andaikan aq punya sepeda, aq juga ngak butuh 500 rupiah itu. Aq bisa naik sepeda ke kampusku…..” Dug ! telinganya seolah kembali mendengar suara tegas ayahnya “ Bersyukurlah nduk. Karena kamu bisa kuliah”

.....................................
2004
Bibir wanita muda itu tersunging senyuman. Matanya menatap takjup pada deretan angka yang tertulis di buku tabungan yang ada ditangannya. Meski pelan terdengar juga mulutnya berkata; “ alhamdulillah. Sepertinya cukup “ semangatnya semakin menguat.
Keesokan harinya, dengan bersenandung kecil, kaki-kakinya mengayuh pedal sepeda wanita menuju tempatnya bekerja. Semangatnya semakin membaja.


2011
Hai…
Namaku Arum. Umurku 38 tahun. Aku seorang ibu dengan satu orang putra.yang kini berusia hampir 9 tahun. Aku tinggal di kawasan Surabaya Selatan. Selain mengurus keluargaku, alhamdulillah aku juga punya kesempatan berkarya. Selain bekerja sebagai staff perijinan sebuah organisasi hobby, aku juga pernah bekerja sebagai penyiar radio berita di salah satu stasiun radio milik salah satu instansi di kawasan jalan A.Yani Surabaya. Beberapa tahun belakangan, aku juga mulai belajar membuat coklat praline yang biasanya banyak pesanan menjelang lebaran atau hari besar lainnya.

Sudah beberapa tahun ini aku sering melakukan aktifitas bersama sepedaku. Sepeda warna biru berkeranjang di bagian depan dan boncengan di belakang.. . Ya.. sepedaku adalah sepeda jenis sepedanya emak-emak. Tapi aku seneng banget. Sepeda yang sangat aku inginkan. Dan akhirnya aku dapatkan dengan keringatku sendiri. Maka mulailah aktifitas bersepedaku. Mulai dari belanja ke pasar, mengantar anak sekolah, menjenguk orang tua di desa sebelah, sampai berangkat dan pulang ke kantor yang juga kebetulan juga di wilayah Surabaya Selatan, Sempat sih beberapa orang memandang rendah padaku. Kesannya miskin banget. Saat orang lain berlomba saling berganti-ganti sepeda motor bermerk yang berharga belasan juta rupiah, aku hanya menggunakan sepeda angin, yang harganya nggak sampai sejuta. Tapi jujur, aku bangga bersepeda.

Sayangnya, ketika aku bisa membeli sepeda, bapak aku sudah meninggal. Padahal aku ingin menunjukkan kalau aku berhasil membeli sepeda impianku. Dulu  sewaktu kecil, aku ingin punya sepeda jengki seperti teman-teman semasa kecilku. Sampai saat menginjak bangku sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, aku juga hanya mampu bersepeda jika ada teman yang mau meminjamkan sepedanya untukku. Sampai aku lulus kuliahpun, aku belum mampu memiliki sepeda sendiri. Meski saat itu belum ada program bike to campus, rasanya pingin sekali bersepeda ke kampus. Apalagi kampusku juga sangat hijau…(dekat dengan sawah maksudnya hehehehe  )



Sepertinya sepeda adalah awal buat kesehatan aku dan keluargaku.
lho..kok begitu…..?
Ketika masih menjadi penyiar, aku sering tiba-tiba merasa sesak nafas. Bahkan ketika siaran, sesak di dada itu sering datang. Setelah sempat diperiksakan ke dokter, ternyata penyebabnya ada efek hormon KB dan kurang olahraga. Alhasil olahraga bersepedalah yang membuat aku sehat kembali.

Saking seringnya aku bersepeda, jagoan kecilku mulai tertarik punya sepeda juga. Mengingat bagaimana rasanya “ngidam” sepeda saat aku kecil, aku dan suami berusaha mewujudkan keinginanya. Bersepeda jenis MTB, membuat Kresna putraku, mulai rutin menemani aku bersepeda. Minimal seminggu sekali, kami berdua bersepeda dari rumah tempat tinggal kami ke rumah orang tuaku di seputaran bundaran waru.


Saat aku dan kresna anakku mulai senang bersepeda, Polwiltabes Surabaya (sebelum melebur menjadi polrestabes) meluncurkan program Car free day…..setiap minggu di jalan raya Darmo,  program itu berlangsung mulai pukul 06-00 sampai 09-00 WIB. Aku dan anakku mulai bertanya-tanya, Kapan ya bisa ikutan car free day …..?
Kayak mimpi dech…..(?)

Putraku belum berani bersepeda di jalan raya…..aku ? berani sih… tapi apa ya mungkin aku bersepeda sendirian ke wilayah car free day…… bisa diomeli keluarga, teman dan …..bagaimana caranya ya……..

Harapan dan impian bersepeda di kawasan car free day… membuat aku dan anakku mulai mengatur stategi….(hehehehe kayak mau perang saja )
Diam-diam. Kresna mulai belajar berani bersepeda di jalan raya.
Diawali dari jalan a yani jarak pendek. Menanggal – Injoko.
Minggu berikutnya dari Menanggal – PJB ketintang baru.
Minggu berikutnya dari Menanggal – Royal ketintang.
Akhirnya.
Car Free day……Kami datang !!   (hahahaha gokil yaa…..)

Dan hasilnya …………
Bla…bla….bla……
Omelan deras dari kiri dan kanan…..
Aku dan anakku……?    hehehehehe kami berdua serempak cengar-cengir saja.
Anakku bilang, buktinya kami baik-baik saja….. bahkan anakku dengan lantang mulai menantang ayahnya untuk ikut bersepeda dengan kami…..


Suami aku, Ridho berusia 40 tahun, agak tidak suka olahraga. Mendengar cerita aku dan kresna tentang nyamannya bersepeda, membuat dia diam-diam brousing tentang olahraga bersepeda. Beberapa situs tentang sepeda mulai dikunjungi. Bahkan Ridho juga mulai bertanya-tanya sepeda macam apa yang cocok untuk lelaki seusia dia dan berpostur tubuh kurus seperti dia. Alhasil, sebuah sepeda MTB nekat dibelinya untuk mendampingi kami, istri dan anaknya bersepeda.
Lalu bagaimana tanggapan jagoan kami, kresna ?

“….. hahahaha ayah pasti gak kuat ikut car free day…..ayahkan gak pernah latihan……”





Kini di 11 tahun usia perkawinan  kami, hampir setiap minggu pagi atau hari libur, kami bertiga selalu menjaga kekompakan dengan bersepeda. Kadangkala kami juga berenang atau bermain bola. Menuju ke lokasi latihan selalu ditempuh dengan bersepeda. Bahkan, dengan tiga sepeda dari merk yang sama, helmet yang sama dan bahkan seragam yang sama, harapan kami pun sama. Kami selalu sehat dan selalu harmonis sampai kapan pun.

Terimakasih sepeda biruku ……..
Setelah sepanjang hidupku aku mengharapkan kamu,
Sekarangpun aku juga tetap mengharapkanmu,
Menjadi jembatan pemersatu anggota keluarga ku……
Amien.