Kamis, 29 November 2001

Sepeda Sepanjang Masa

Siang itu, detak jantungku terasa berdentum lebih cepat dari biasanya. Maklum saja, siang itu gaji penuh pertamaku sebagai seorang penyiar berita sebuah radio swasta bakal aku terima. Pasti lebih banyak dibanding gaji tiga bulan lalu dimasa training.Bismillah.

“Bunda, kalo Bunda sudah punya uang, jangan lupa belikan perlengkapan sekolahku ya…”
Wadauw… Kerlingan mata jagoan kecilku, Kresna, membuyarkan konsentrasiku menatap sepeda emak-emak yang cantik berwarna biru. Ach…. Sabar ! suatu hari, kamu pasti aku bawa pulang Biru !

“Cie … Bunda lagi kaya ni….. beli sepeda besar sekali….. nanti antarkan aku sekolah ya Bunda !”
Alhamdulillah setelah sekian lama menabung, si Biru  berhasil juga aku bawa pulang. Sepeda emak-emak ini insya allah bisa menjadikan aku lebih sehat. Semoga dadaku tak lagi sesak.
Dan tujuh tahunpun berlalu…..

“Selamat Ulang Tahun ayah…. Sepedahnya jangan cuma dipajang ya….. sekarang ayah bisa sepedahan bareng sama aku dan bunda”
“Insya Allah keluarga kita akan semakin sehat”
‘Amien”
…………………………
.

Bersepeda bersama suami dan anak tercinta memang tak terkatakan sensasinya. Kadangkala bertiga kami keliling kota. Namun tak jarang, jika Kresna tak bisa ikut sepedahan karena kesibukannya di sekolah, aku dan suami nekat bersepeda ke luar kota. Banyak memang saudara dan teman yang memandang sinis kemampuan fisikku saat bersepeda. Maklum saja, aku tergolong perempuan dengan ukuran ekstra big. Bayangkan berat badanku saat itu, lebih dari 90 kilogram Saking “beratnya” saat si Biru aku rem mendadak atau kena lubang, sering kali spoke si Biru patah.. Tak jarang juga, mereka bilang, “terima nasib saja bertubuh gendut. Bersepeda tak akan membuatmu langsing !”. Namun buatku…. Biarlah mereka terus mengonggong. Aku akan terus gowes. Dan yang membuatku lega, suami tercinta selalu membesarkan hatiku. “Santai saja Dek, aku ndak minta kamu kurus kok. Yang penting olah raga. Biar sehat dan gak sesek lagi dadanya. Kalo nanti jadi sedikit kurus, itu bonus. Jadi kalo gak kurus ya gakpapa”
Duh senengnya punya suami kayak gini !

Dengan sepeda emak-emak aku memang sering nekat. Jalur naik turun di wilayah Driyorejo kearah Menganti Gresik, sudah aku dan suami taklukkan.  Seorang teman dari ARCC Tuban, bahkan bilang kalau jalur yang kami lalui itu masuk kategori offroad. Kasihan sepedanya. Kemudian yang tak kalah nekatnya, aku dan suami juga pernah bersepeda kearah Pacet. Wuih super nekat. Kali ini bukan cuma teman-teman yang menginggatkan, ayah angkatku juga protes.”wong wedok kok gak ileng wedoke” mbok yo dieman awak e” (permpuan kok gak ingat bagaimana bersikap perempuan. harus bisa jaga diri)
Reaksiku ?
Aku cuek aja. Lha wong punyanya cuma sepeda emak-emak gini. Mo gimana lagi…?. Yang penting aku hati-hati. Meski deg-degan, tapi aku yakin pasti terlampaui. Nanti kalau ada rejeki, pasti bisa dapet sepeda MTB. Dan ajrut-ajrutannya akan semakin ok.
Akhirnya kegiatan peringatan hari bumi 5 Juni 2011 lalu, menjadikan mimpiku terwujud. Saat itu, si Biru adalah sepeda emak-emak satu-satunya yang mengikuti susur sungai edukasi. Dan hasilnya, aku mendapatkan hadiah sepeda, si Blue MTB. Ajrut-ajrutan yang semakin ektrim pun membayang di depan mata.

Mengikuti komunitas bersepeda semacam Distrik Ronggeng (Distro) dan Gowes Tetap Semangat (GTS) menjadikan aku dan suamiku semakin KOPLAK. Wanawisata Mangrove membawaku merasakan sensasi bersepeda diantara tambak ikan. Gunung Bajul Karangpilang, memberikan sensasi downhill, meski jarak pendek. Dan yang tak kalah hebohnya perjalanan dari Taman Dayu Pandaan menuju Taman Safari Prigen II. Wuiiih, sensasinya tak terkatakan…..! Bukan berarti semua itu hanya senang-senang semata, banyak juga deg-degannya karena kondisi sepedahku. Bayangkan saja.. sewaktu perjalanan offroad di Menganti Gresik, headset sepedaku hampir copot karena stelan kuncinya gak kuat/gak rapat. Sewaktu perjalanan dari Taman Dayu ke Taman Safari Prigen II, rante sepedaku los dan kejepit karena settingan RDnya gak bener. Tidak bisa dipake ngoper gir.
Kadangkala memang ada perasaan minder melihat kondisi sepeda goweser lainnya. Mulai dari merk sepedanya, kelengkapan sepedahnya dan lain-lain. Tapi suamiku dengan santai bilang, “memangnya pake sepeda bermerek mahal tidak capek apa ? semuanya tergantung dengkulnya. Kalo dengkulnya gak XTR, pake sepeda apapun ya tetep aja capek. Yang penting tuh niatnya. Apapun sepedanya, yang penting sepedahan”.
Jiaaah… Love you Jek !

Bersepeda sudah aku lakukan sejak bertahun yang lalu, tapi bersepedah berdua dengan suami dan keluarga secara intens, baru sekitar lima bulan yang lalu. Namun sensasi yang di timbulkan tak terlukiskan. Semakin banyak saudara yang aku dapat, semakin banyak pengalaman yang aku kumpulkan, semakin banyak juga rejeki yang aku rasakan. Bahkan hal-hal yang tak terduga seringkali datang tanpa di duga-duga. Sebagai contoh, meski kondisi sepedaku dan sepeda suami pas-pasan, kami mampu mengawal perjalanan Om Yang Bambang Irianto. Om Yang melakukan perjalanan dari Probolinggo ke Jakarta. Bersama Distro, aku ‘hanya’ mampu mengawal dari pintu masuk Surabaya sampai menjelang masuk Lamongan. Selain itu, ada juga aktifitas lain yang membahagiakan. Suamiku, om Ridho, bukanlah tipe lelaki yang romantis.Tapi bersepeda bersama dengan GTS menjadikan dia lelaki yang ‘sedikit’ romantis.Bahkan dengan bantuan sodara-sodara dari GTS, kami mampu membuat foto berdua super romantis di tengah hutan mangrove. (monggo dibaca kumpulan note saya ya&hellipwink
Dari semua yang sudah terjadi, menjadikan aku semakin yakin, jika melakukan sesuatu dimulai dengan niat yang baik, hasilnya juga akan menjadi lebih baik. Minimal kebaikan buat diri sendiri dan keluarga.
Jangan pernah merasa kurang dengan apa yang kita miliki, karena sesungguhnya setiap dari kita memiliki kelebihan dan keistimewaan.

Salam Berjuta Sepeda !